Beranda / Romansa / Terjerat Cinta Dosen Baruku / Bab 7. Demi Nama Bukan Dusta

Share

Bab 7. Demi Nama Bukan Dusta

Penulis: Elwy Canopus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-10 13:07:56

“Permisi, Pak Dir.”

Leena masih mencoba mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali. Namun tak ada jawaban.

“Duh, apa Pak Dir belum dateng ya?” gumam Leena sambil melirik arlojinya. “Tapi ini udah jam 8, biasanya juga jam 7 udah di ruangan.” 

Leena gelisah, matanya terus melekat memandangi pintu yang masih tertutup rapat. 

“Apa nanti siang aja ya? Pas kelas udah kelar,” lagi, Leena bicara sendiri.

Leena sudah bersiap melangkah pergi dari depan ruangan itu, tapi terhenti. 

Terdengar suara tawa direktur dari dalam ruangan. Nada tawanya terdengar sangat lepas. 

Leena menoleh pelan, penasaran. Siapa orang yang sedang diajak bicara oleh Pak Dir? Biasanya pria itu selalu terlihat serius.

Leena meraih gagang pintu, dan membukanya sedikit. Ia bisa melihat kalau Direktur sedang menelpon seseorang. Wajahnya masih menyisakan senyuman, namun seketika nada bicaranya merendah.

“Pokoknya, pastikan semua akses aman! Saya nggak mau sampai ada masalah. Sisanya biar saya yang urus,” ucap direktur itu. 

Dahi Leena mengernyit sebentar, lalu mengetuk pelan.

Direktur spontan menoleh. Ekspresinya langsung berubah, dan segera mengakhiri telepon. 

“Kita lanjut nanti!” bisik direktur, sambil menekan tombol merah. Kemudian meletakkan ponselnya di meja. 

“Leena?” sapanya, dengan nada yang kembali biasa. “Pagi-pagi gini, ada perlu apa?”

Leena mengangguk pelan, sambil tersenyum formal, “Maaf Pak, saya jadi ganggu Pak Dir waktu lagi telepon tadi.”

Prof. Dawson Monroe, Direktur Yayasan  AASM. Di usia 67 tahun, dikenal sebagai sosok yang tegas dan berwibawa. Ia selalu jadi figur sentral yang ditakuti dan tak mudah goyah.

Dawson menggeleng pelan. Senyumnya tipis, tak sepenuhnya ramah. Ia menatap tajam, seolah memberi peringatan bahwa Leena seharusnya tidak mendengar apapun saat ia sedang menelepon tadi.

“Nggak kok. Obrolannya juga nggak begitu penting. Masuk aja, sini duduk!” kata Dawson, sambil memberi isyarat halus dengan tangannya. 

Leena melangkah masuk, lalu duduk di kursi yang ada di seberang meja Direktur. Matanya sempat melirik ke layar ponsel Dawson. Sayang, Dawson sudah mematikannya.

Kalimat terakhir yang kebetulan Leena dengar sebelum Dawson menutup teleponnya tadi, membuatnya tak yakin kalau itu cuman obrolan biasa.

‘Tapi, ya udahlah. Obrolan mereka juga pasti nggak ada hubungannya sama gue,’ batin Leena. 

Leena kembali fokus ke tujuan awal. Alasan kenapa ia datang menemui Dawson.

Dawson duduk tegak, menatap Leena dengan tenang dan penuh kendali. Seolah setiap kata yang keluar harus memiliki alasan pasti. 

“Jadi, kenapa Leena?” 

Leena menarik nafas pelan, mencoba menstabilkan suaranya. 

“Anu, Pak . Saya mau mengajukan kontrak magang di posisi yang sama seperti semester 5, untuk semester 7 nanti,” Leena menyodorkan berkas proposalnya.

Dawson tak langsung menjawab, ia memandang Leena beberapa detik seolah menimbang. 

“Lagi?” Dawson membuka tiap lembar proposal yang dibawa Leena. “Di posisi yang sama?”

"Iya Pak," jawab Leena cepat. Berusaha menunjukkan sikap percaya diri. 

"Waktu semester lima, banyak hal yang belum sempat dipelajari," ujarnya Leena dengan hati-hati.

"Selain itu, saya juga udah paham alur kerja dan jadwal Bapak, termasuk sistem dokumen disini. Jadi bisa langsung menyesuaikan tanpa perlu banyak arahan lagi," lanjutnya. Nada suaranya terdengar lebih mantap.

Dawson mengangguk pelan, jarinya mengetuk meja dan berkata, "Saya tau. Kemampuan kamu itu nggak perlu diragukan lagi!" 

Bersandar di kursinya, pandangan Dawson terlihat tenang tapi tajam, "Tapi saya butuh orang yang paling tepat ... bukan cuma yang terbaik."

Ekor mata Leena menangkap dokumen yang tergeletak di pinggir meja Dawson. Ia melihat ada proposal dan CV milik Arin disana. 

Leena tahu, Arin juga seorang brilian. Seketika jantungnya berpacu lebih cepat, tangannya berpaut di pangkuan. 

Ia menahan gugup, dan masih menunggu reaksi dari pria yang ada di depannya. 

"Saya harus pelajari lagi semuanya dan buat pertimbangan. Kalau udah diputuskan, saya info kamu."

Mendengar kalimat itu, Leena paham. Itu akhir percakapannya. Ia tidak bisa menuntut lebih jauh. Jadi, ia segera pamit dan keluar dengan sopan.

**

Di lorong koridor yang masih sunyi, Leena berjalan sambil menatap ujung sepatunya. Pikirannya kembali kalut.

Keadaan membuatnya harus bersaing dengan sahabatnya sendiri.

Tak lama kemudian, seseorang memanggil namanya dari arah belakang.

"Leena! Tunggu gue!"

Langkahnya langsung terhenti ketika mendengar suara yang terlalu familiar. Benar saja, itu Arin. Ia berlari ke arah Leena sambil melambai.

Leena refleks menarik nafas dan menormalkan ekspresinya, "Rusuh bgt sih Lo Rin."

"Heee." Arin nyengir sambil menggaruk tengkuknya. "Eh Lo dari mana by the way?"

"Ha! Gue dari—" Leena panik. Ia menunjuk ke sembarang arah. "Dari sana, anu—"

Belum sempat mencari alasan, Arin sudah nyeletuk duluan. "Eh iya, gue mau kasih tau Lo. Gue kemarin, udah ngajuin proposal buat magang jadi sekretaris Pak Dawson." 

"Oh ya?” tanya Leena sambil senyum kaku. “Terus gimana?"

"Belum ada kabar sih. Tapi semoga gue diterima lah ya. Secara kan nggak ada lagi yang ngajuin selain gue. Masa iya—"

Leena dengan spontan meraih lengan Arin. Tatapannya berubah serius.

"Rin ... Ada yang mau gue omongin."

Arin terdiam, menatap Leena heran. 

"Apaan sih? sok serius banget lo," katanya sambil menyeringai. "Ya udah nanti aja. Sekarang nggak ada waktu."

Lena pun mengangguk.

Diam-diam ekspresi Arin berubah. Sebenarnya tanpa Lena tahu, tadi Arin jelas melihat Lena keluar dari ruangan pak direktur.

Arin curiga ada yang tidak beres, tapi dia mencoba tetap santai. Batinnya berkecamuk. 'Lo ngapain di sana Len?'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 111. Kopi Spesial

    “Apa lagi, Pak? Saya udah telat loh ini!”Napas Leena tertahan, tangannya masih menggantung di gagang pintu mobil yang terbuka.Bukannya lepas, Zayn justru lagi-lagi mencondongkan tubuh, mengunci pergerakan Leena dalam ruang kabin yang seolah menyempit.Tangan panjang pria dingin itu terulur melewati bahu Leena, jemarinya hangat menyentuh tengkuk dengan gerakan sangat perlahan.Zayn merapikan kerah blazer Leena yang sedikit terlipat, sisa-sisa kekacauan kecil saat di apartemen tadi.“Apa nggak sebaiknya kamu resign aja?” tanya Zayn tiba-tiba dengan suara rendah yang sangat tenang.Leena mengerjap, manik matanya bergetar menatap wajah sang dosen yang begitu dekat. “Maksud Bapak?”“Biaya hidup kamu… saya yang tanggung,” timpal Zayn lagu tanpa ada kilat ragu sedikitpun di rautnya.Kening Leena mengernyit dalam, ia menarik kepalanya sedikit ke belakang untuk mencerna kalimat gila itu.“Ngurus biaya hidup saya? Emangnya Bapak siapa saya?” tanya Leena, nada bicaranya antara bingung dan tert

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 110. Minggir Pak!

    “Pak Zayn! Saya harus kerja!” teriak Leena mendadak panik setengah matiRefleks mendorong dada bidang Zayn agar menjauh, Leena langsung celingukan mencari tas dan blazer-nya yang tadi entah terlempar ke mana. “Minggir Pak! Saya bisa dipecat kalau telat lagi.”“Telat sedikit nggak akan bikin kamu miskin, Leena,” sanggah Zayn cepat.Zayn mencoba menahan bahu Leena, tapi gadis itu sudah melengos, memungut heels-nya di lantai. Tak peduli lagi dengan suasana romantis yang baru saja terbangun. Bagi Leena, urusan cuan lebih mendesak daripada urusan asmara.Sambil kembali memakai heels-nya dengan terhuyung-huyung, Leena sempat menoleh ke arah Zayn dengan tatapan yang memicing. “Bapak enak orang kaya! Saya kalau dipecat nggak bisa makan dan ngurus diri sendiri!” dengus Leena akhirnya.Zayn melangkah ke depan, lalu menyambar bahu Leena lagi. “Kalau sampai kamu dipecat…” sempat berhenti sejenak, Zayn menatap lekat manik mata Leena. “Saya yang bakal ngurus kamu.” Leena terdiam sepersekian det

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 109. Si Brengsek yang Mempertemukan

    “Ck! Bukan gitu, Pak.”Takut akan jadi salah paham, Leena cepat-cepat mengalihkan pembahasan. “Udahlah, kita nggak perlu bahas itu lagi,” ujar Leena sambil memakai kembali sepasang heels-nya dengan gerakan kikuk. Leena melangkah maju, lalu mendorong tubuh Zayn agar berbalik menuju lift penghuni. “Ayok Pak, kita langsung naik ke unit Bapak aja. Saya nggak punya banyak waktu karena jam part-time sanya tinggal setengah jam lagi.” Tak bergeming, tubuh Zayn terasa kaku layaknya patung saat Leena mencoba mendorongnya dengan sekuat tenaga, sebelum akhirnya pria itu mengalah dan berjalan masuk ke dalam lift bersama Leena. Di dalam lift, suasana mendadak jadi canggung, hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Zayn juga nampak masih menatap Leena lewat pantulan dinding lift, raut bersalahnya masih belum luntur sedikit pun.Merasa tak nyaman dengan tatapan sang dosen, Leena meringis kecil sambil mencetus, “Kenapa Bapak masih ngeliatin saya terus? Tadi kan saya nggak jadi n

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 108. Siapa Pria Asing Itu?

    “Lumayan catik Nona ini.”Tepat di depan pintu putar lobi. Leena terperanjat, kepalanya mendongak otomatis dan manik matanya bertatapan dengan sosok pria asing.Pria muda dengan setelan jas rapi yang nampak sangat mahal, tapi auranya jauh sari kata formal. Ada senyum miring yang terpatri di wajahnya, seolah baru saja menemukan hal menarik.Leena mengerjap, tanpa sadar mundur satu langkah karena merasa terintimidasi oleh tinggi badan pria di depannya.“Nona cantik ini, kalau boleh tau siapanya Zayn?” tanya pria itu lagi.Sorot matanya menelisik Leena dari ujung kepala sampai kaki, berhenti sejenak pada blazer yang membalut dress mahal pilihan Zayn. Di belakang pria itu, ada sekitar tiga atau empat orang pria lain yang nampak sama mewahnya, berdiri dengan gaya santai.Dengusan kecil lolos dari bibir Leena, rasa jengkelnya tadi bergeser target pada pria asik yang sok akrab itu.“Maaf, saya rasa nggak ada urusan sama anda, Pak,” ketus Leena sinis.Mendengar dirinya dipanggil ‘Pak’, raut

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 107. Tertahan di Lobi

    “Yakin kamu, Leena?” Suara bariton itu menggantung rendah. Sang direktur memicingkan mata, manik hitamnya menelisik tiap ekspresi Leena, seolah ingin menguliti kebohongan di sana.Tenggorokan Leena mendadak terasa kering, namun tak membiarkan sorot matanya lari. Dengan sisa ketenangan di bawah perlindungan Zayn, ia mengatur napasnya agar tetap teratur.“Sangat yakin, Pak,” kata Leena sambil memperlihatkan data absensi dari mesin fingerprint. . “Bukankah absensi saya ada di jam yang tepat?” Leena menimpali pertanyaan itu dengan nada yang stabil, meski dalam hatinya berdecih jijik. ‘Kenapa? Takut kalau kebusukan Bapak bakal terkuak, ya?’ batin Leena sinis.Dawson berhenti bergerak, ia menyandarkan pinggang pada bibir meja kayu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Pria itu tampak menimbang-nimbang ucapan sang sekretaris.“Bagus kalau gitu. Saya cuma nggak suka staf saya punya agenda pribadi di luar jam kerja,” tutur Dawson tajam.Sambil memasang raut sepolos mungkin, senyum tipi

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 106. Mendadak Ngambek

    “Maksud perkataan Bapak tadi apa…?”Suara Leena memecah sunyi di dalam lift yang sedang bergerak turun. Manik matanya masih menatap pantulan Zayn di dinding yang mengkilap, mencoba mencari sisa emosi di wajah sang dosen..Tak menoleh, Zayn hanya merapikan letak arlojinya dengan gerakan yang tampak begitu presisi.“Tadi yang mana? Pas kita jatuh dari kasur?” tanya Zayn tanpa beban sedikit pun.Bibir Leena tampang mengerucut, merasa pertanyaannya dianggap angin lalu. “Bukan itu… soal Pak Zayn bilang, batas—” Leena sempat ragu, pandangannya jatuh. Rasa penasaran mendesak, tapi ia sadar situasinya kurang tepat untuk membicarakan hal itu “Nggak jadi, Pak,” ucap Leena akhirnya sambil menarik napas dan tersenyum tipis.Zayn menghentikan gerakan sebelum akhirnya perlahan memutar tubuh sepenuhnya menghadap Leena.Langkah pria itu memangkas jarak formal, memojokkan Leena ke sudut lift. Zayn mencondongkan wajah, membuat manik mata Leena berkedip cepat karena intensitas tatapan yang begitu leka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status