Se connecter“Permisi, Pak Dir.”
Leena masih mencoba mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali. Namun tak ada jawaban.
“Duh, apa Pak Dir belum dateng ya?” gumam Leena sambil melirik arlojinya. “Tapi ini udah jam 8, biasanya juga jam 7 udah di ruangan.”
Leena gelisah, matanya terus melekat memandangi pintu yang masih tertutup rapat.
“Apa nanti siang aja ya? Pas kelas udah kelar,” lagi, Leena bicara sendiri.
Leena sudah bersiap melangkah pergi dari depan ruangan itu, tapi terhenti.
Terdengar suara tawa direktur dari dalam ruangan. Nada tawanya terdengar sangat lepas.
Leena menoleh pelan, penasaran. Siapa orang yang sedang diajak bicara oleh Pak Dir? Biasanya pria itu selalu terlihat serius.
Leena meraih gagang pintu, dan membukanya sedikit. Ia bisa melihat kalau Direktur sedang menelpon seseorang. Wajahnya masih menyisakan senyuman, namun seketika nada bicaranya merendah.
“Pokoknya, pastikan semua akses aman! Saya nggak mau sampai ada masalah. Sisanya biar saya yang urus,” ucap direktur itu.
Dahi Leena mengernyit sebentar, lalu mengetuk pelan.
Direktur spontan menoleh. Ekspresinya langsung berubah, dan segera mengakhiri telepon.
“Kita lanjut nanti!” bisik direktur, sambil menekan tombol merah. Kemudian meletakkan ponselnya di meja.
“Leena?” sapanya, dengan nada yang kembali biasa. “Pagi-pagi gini, ada perlu apa?”
Leena mengangguk pelan, sambil tersenyum formal, “Maaf Pak, saya jadi ganggu Pak Dir waktu lagi telepon tadi.”
Prof. Dawson Monroe, Direktur Yayasan AASM. Di usia 67 tahun, dikenal sebagai sosok yang tegas dan berwibawa. Ia selalu jadi figur sentral yang ditakuti dan tak mudah goyah.
Dawson menggeleng pelan. Senyumnya tipis, tak sepenuhnya ramah. Ia menatap tajam, seolah memberi peringatan bahwa Leena seharusnya tidak mendengar apapun saat ia sedang menelepon tadi.
“Nggak kok. Obrolannya juga nggak begitu penting. Masuk aja, sini duduk!” kata Dawson, sambil memberi isyarat halus dengan tangannya.
Leena melangkah masuk, lalu duduk di kursi yang ada di seberang meja Direktur. Matanya sempat melirik ke layar ponsel Dawson. Sayang, Dawson sudah mematikannya.
Kalimat terakhir yang kebetulan Leena dengar sebelum Dawson menutup teleponnya tadi, membuatnya tak yakin kalau itu cuman obrolan biasa.
‘Tapi, ya udahlah. Obrolan mereka juga pasti nggak ada hubungannya sama gue,’ batin Leena.
Leena kembali fokus ke tujuan awal. Alasan kenapa ia datang menemui Dawson.
Dawson duduk tegak, menatap Leena dengan tenang dan penuh kendali. Seolah setiap kata yang keluar harus memiliki alasan pasti.
“Jadi, kenapa Leena?”
Leena menarik nafas pelan, mencoba menstabilkan suaranya.
“Anu, Pak . Saya mau mengajukan kontrak magang di posisi yang sama seperti semester 5, untuk semester 7 nanti,” Leena menyodorkan berkas proposalnya.
Dawson tak langsung menjawab, ia memandang Leena beberapa detik seolah menimbang.
“Lagi?” Dawson membuka tiap lembar proposal yang dibawa Leena. “Di posisi yang sama?”
"Iya Pak," jawab Leena cepat. Berusaha menunjukkan sikap percaya diri.
"Waktu semester lima, banyak hal yang belum sempat dipelajari," ujarnya Leena dengan hati-hati.
"Selain itu, saya juga udah paham alur kerja dan jadwal Bapak, termasuk sistem dokumen disini. Jadi bisa langsung menyesuaikan tanpa perlu banyak arahan lagi," lanjutnya. Nada suaranya terdengar lebih mantap.
Dawson mengangguk pelan, jarinya mengetuk meja dan berkata, "Saya tau. Kemampuan kamu itu nggak perlu diragukan lagi!"
Bersandar di kursinya, pandangan Dawson terlihat tenang tapi tajam, "Tapi saya butuh orang yang paling tepat ... bukan cuma yang terbaik."
Ekor mata Leena menangkap dokumen yang tergeletak di pinggir meja Dawson. Ia melihat ada proposal dan CV milik Arin disana.
Leena tahu, Arin juga seorang brilian. Seketika jantungnya berpacu lebih cepat, tangannya berpaut di pangkuan.
Ia menahan gugup, dan masih menunggu reaksi dari pria yang ada di depannya.
"Saya harus pelajari lagi semuanya dan buat pertimbangan. Kalau udah diputuskan, saya info kamu."
Mendengar kalimat itu, Leena paham. Itu akhir percakapannya. Ia tidak bisa menuntut lebih jauh. Jadi, ia segera pamit dan keluar dengan sopan.
**
Di lorong koridor yang masih sunyi, Leena berjalan sambil menatap ujung sepatunya. Pikirannya kembali kalut.
Keadaan membuatnya harus bersaing dengan sahabatnya sendiri.
Tak lama kemudian, seseorang memanggil namanya dari arah belakang.
"Leena! Tunggu gue!"
Langkahnya langsung terhenti ketika mendengar suara yang terlalu familiar. Benar saja, itu Arin. Ia berlari ke arah Leena sambil melambai.
Leena refleks menarik nafas dan menormalkan ekspresinya, "Rusuh bgt sih Lo Rin."
"Heee." Arin nyengir sambil menggaruk tengkuknya. "Eh Lo dari mana by the way?"
"Ha! Gue dari—" Leena panik. Ia menunjuk ke sembarang arah. "Dari sana, anu—"
Belum sempat mencari alasan, Arin sudah nyeletuk duluan. "Eh iya, gue mau kasih tau Lo. Gue kemarin, udah ngajuin proposal buat magang jadi sekretaris Pak Dawson."
"Oh ya?” tanya Leena sambil senyum kaku. “Terus gimana?"
"Belum ada kabar sih. Tapi semoga gue diterima lah ya. Secara kan nggak ada lagi yang ngajuin selain gue. Masa iya—"
Leena dengan spontan meraih lengan Arin. Tatapannya berubah serius.
"Rin ... Ada yang mau gue omongin."
Arin terdiam, menatap Leena heran.
"Apaan sih? sok serius banget lo," katanya sambil menyeringai. "Ya udah nanti aja. Sekarang nggak ada waktu."
Lena pun mengangguk.
Diam-diam ekspresi Arin berubah. Sebenarnya tanpa Lena tahu, tadi Arin jelas melihat Lena keluar dari ruangan pak direktur.
Arin curiga ada yang tidak beres, tapi dia mencoba tetap santai. Batinnya berkecamuk. 'Lo ngapain di sana Len?'
‘Dasar otak sialan!’Leena membanting tubuhnya ke kasur asrama yang entah kenapa terasa jauh lebih keras dari biasanya. Ia memejamkan mata sejenak, merutuki diri sendiri yang bisa-bisanya memikirkan hal-hal yang jauh di luar batas urusan akademis hanya karena satu kata ‘puas’.Suasana kamar asrama lebih remang, kontras dengan gemerlap lampu di resto Saga yang baru saja ia tinggalkan.Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tubuhnya pegal, tapi otaknya malah masih berputar kencang, memutar ulang setiap adegan di ruang Saga siang itu.“Fokus, Na. Fokus. Dia itu dosen lo, nggak lebih,” gumamnya sambil menepuk-nepuk pelan pipi yang masih terasa panas.Manik mata Leena seketika tertuju pada flashdisk hitam milik Zayn yang kini ada di genggaman.Sebelum pulang dari resto, Zayn melemparkan benda itu padanya disertai satu instruksi tajam: “Jangan sampai ada yang kelewat. Pelajari semuanya.”Lalu kemudian, Leena bangkit, menyeret kaki ke kursi belajar. Dengan gerakan terbata, ia menautk
“Ni orang tenangnya kalau lagi tidur aja. Kalau melek kerjaannya ngancem mulu...’ suara batin Leena mengomel, tapi bibirnya tetap terkunci.Zayn tak menanggapi. Pria itu hanya merapikan setelan kemejanya yang sedikit kusut, baru kemudian melangkah ke meja kerja Saga. Dari saku kemeja, ia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam.Gerakannya tenang, seolah langkahnya sudah tak memiliki canggung lagi ketika menggunakan area kerja Saga.Leena hanya mengawasi dengan mata, tak beranjak dari tempat. Hanya manik matanya yang bergerak mengikuti setiap gerak Zayn.“Pindah ke sini.” Suara Zayn singkat, sambil menarik kursi kerja yang biasa dipakai Saga.Dengan spontan Leena menolak, “Lah, nggak sopan dong, Pak. Masa iya saya duduk di kursi bos sendiri.”Bukan lagi suara Zayn yang jadi jawaban, tapi tatapannya yang tajam dan menusuk, membuat Leena akhirnya menurut meski hatinya masih penuh tanda tanya. Leena menjatuhkan diri, tubuhnya terasa kaku.Layar monitor menyala, dan folder terenkripsi dibuka.
“Cih!” Leena ikut mendengus ketika Zayn tiba-tiba terdengar mengumpat. Dan untuk yang kedua kalinya, suara berat itu kembali jatuh, “...Bangsat!.”Otomatis Leena terperangah. Manik matanya membelalak, tak habis pikir kalau Zayn bisa semarah itu sampai mengucap kata kasar. Kedua tangan Leena refleks berkacak di pinggang, sambil dada naik turun menahan emosi. “Pak, saya tau saya salah. Tapi omongan bapak barusan—”Kalimat makian yang tertahan di ujung lidah Leena mendadak terputus, setelah langkahnya menyingkap sisi depan sofa. Dan disanalah ia melihat sesuatu yang membuatnya diam. Pria yang biasanya tampil dengan aura otoritas yang menindas itu ternyata sedang terlelap. Zayn tampak menyandarkan kepala di bantalan sofa dengan posisi duduk yang miring dan terlihat tak nyaman. Rambutnya kusut, beberapa helai jatuh menutupi kening, menambah kesan lelah yang jelas di rautnya.Tak ada tatapan tajam yang menghakimi, tak ada suara dingin yang menusuk. Yang ada hanya helaan napas sedikit
"Di mana kamu?"Nada suara Zayn terdengar sedikit lantang dari seberang telepon, tajam dan tanpa basa-basi. Leena yang baru saja setengah duduk di ranjang langsung mengernyit heran, matanya masih berat oleh sisa kantuk.ia melirik ke arah ponsel sekali lagi. Nama Zayn tertera jelas.‘Pagi-pagi gini… ngapain dia nelpon, sih?’ tukasnya dalam hati.“Saya di asrama, Pak,” jawab Leena akhirnya dengan nada sedikit kaku. “Kenapa, emangnya?”Hari itu hari selasa, tepat lima hari sebelum ia kembali ke rutinitas kampus dan memulai semester baru dengan magang chapter dua.Libur masih berjalan, dan selama libur itu, Zayn bukan sepenuhnya menghilang, tapi juga bukan sosok yang rutin muncul.Leena masih bertemu pria dingin itu sesekali kalau dirinya mampir ke resto Saga. Itupun sebatas profesional. Hanya ada sapaan singkat, dingin dan seperlunya saja. Tak lebih. Bahkan semingguan terakhir, Zayn sama sekali tak muncul.Lalu, sekarang, tiba-tiba saja pria itu menelpon Leena.“Kamu kesini sekarang!”
“Ni anak, akhir-akhir ini kenapa jadi makin rewel sih?”Leena mengumpat dalam hati. Terkadang selalu dibuat heran akan perubahan sikap Evan yang tiba-tiba terlihat posesif.Evan masih mengangkat telepon. Alisnya tampak mengerut tipis seolah isi percakapan di layar bukan hal sepele. Padahal, sebelum ponsel itu bergetar, Evan masih sibuk menanyai ini-itu ke Leena dengan nada setengah curiga dan setengah khawatir.Leena menggaruk tengkuknya pelan. Ringisan kecil tersungging di wajahnya. Lebih terlihat heran daripada geli. “Sejak kapan dia jadi kayak gini?” gumamnya lirih, hanya cukup untuk didengar sendiri.Padahal, Evan adalah tipe yang santai. Cerewet iya, kepo juga iya, tapi tak sampai seperti saat ini. Sekarang ia bersikap seolah setiap gerak Leena perlu dipastikan.Tak lama, Evan menutup telepon dan menjauhkan layar dari daun telinganya, lalu menghela napas pendek.“Kayaknya... gue juga harus pergi sekarang, Na,” ucap Evan dengan nada pasrah.Leena mengerjap seketika. “Hah?”“Boka
“Bentar, deh… ?” Langkah Evan mendadak tercekat. Tubuhnya mematung tepat di tengah tarikan Leena yang sedari tadi sudah setengah menyeretnya. Alis pria itu mengernyit dalam. Sorot mataya masih terkunci ke arah mobil yang terparkir di bahu jalan seberang. “Na, kok… kayaknya gue pernah liat mobil itu,” ucap Evan pelan. Nada suaranya tampak diturunkan, seperti sedang memaksa ingatan yang belum sepenuhnya menyatu. Jarak antara gedung asrama Leena dan bahu jalan seberang tepat Leena berhenti, untung saja cukup lebar. Dari titik mereka berdiri, cukup mustahil bagi Evan untuk bisa melihat dengan jelas. Apalagi dengan kaca mobil yang gelap, tak mungkin mudah untuk ditembus pandang dari jarak yang segitu jauh. Logikanya jelas.Namun justru karena itu, jantung Leena berdegup semakin tak beraturan. “Lo ngeyel banget sih, Van,” ketus Leena pada akhirnya. Lagi, Leena mendorong kuat-kuat tubuh Evan. Namun, percuma. Tubuh Evan tetap tak bergeming sedikit pun, seakan kakinya sudah men







