Se connecter“Saya—”
Leena menunda kalimatnya. Tiba-tiba otaknya seolah memproses ulang dan menimbang kondisi mereka berdua. Ia memicingkan matanya menatap Zayn.
“Tunggu, tunggu!” Otak cerdas Leena seolah menimbang ulang keadaan. “Bukannya reputasi Bapak juga bakal hancur kalau semuanya kebongkar?”
Lagi, Leena menambahkan, “Bapak bisa aja kan dikeluarin kalau ketahuan tidur sama mahasiswinya sendiri!”
Zayn menatap datar ke arah Leena. Membatin kesal. ‘Cih! Dia pinter juga ternyata!’
Seketika amarah dingin menggantikan tangis Leena. Ia menatap Zayn dengan pandangan yang semakin tajam. ‘Ha! Enak aja nuntut harga buat bungkam mulut dia!’
Walaupun Leena bilang begitu, kendali tetap ada di tangan Zayn. Kehancuran reputasi akademik Leena lebih mudah diwujudkan daripada skandalnya sendiri.
Zayn tertawa kecil. Ia menganggap remeh ucapan Leena.
“Kamu pikir mereka bakal percaya sama mahasiswi yang mabuk, Leena?” tegas Zayn, sambil melipat tangan di dada. “Kamu cuman bakal keliatan kayak perempuan yang frustrasi.”
Pernyataan Zayn terlalu logis dan kejam. Dada Leena terasa sesak, amarahnya bercampur dengan kenyataan pahit.
Taruhannya terlalu besar. Reputasi akademik dan nilai adalah aset terakhirnya. Dia tidak bisa memenangkan pertarungan reputasi ini. Jika terus melawan, sama saja dengan bunuh diri.
Apalagi, kenyataan malam itu, Leena sendiri yang terlalu mabuk dan tanpa sadar membangkitkan hasrat Zayn yang sedang berada di bawah pengaruh obat.
“Oke, oke. Saya tau, saya nggak akan menang. Jadi … gimana kalau kita buat kesepakatan aja, Pak?”
Zayn tersenyum kecil, bukan karena Leena yang akhirnya ‘tunduk’, melainkan karena kendali kini mutlak di tangannya.
Senyum Zayn yang dingin, mencoba mengukur sejauh mana Leena bisa didorong.
“Kamu sendiri yang minta, Leena. Jadi, saya yang bakal nentuin aturannya!” Nada bicara Zayn terdengar serius. “Tapi nggak di tempat terbuka kayak gini!”
Leena menelan ludah. Ia bisa merasakan kalau kali ini Zayn menuntutnya tidak main-main. Rasa takut dan penasaran Leena semakin meronta. Ia berpikir, sejauh mana Zayn akan menuntutnya.
Leena mengangkat dagunya. Ia berusaha keras agar terlihat yakin, meskipun tatapannya masih dipenuhi kecemasan.
“Ja—jadi … uhm … Bapak mau saya ngelakuin apa?” Leena bertanya dengan ragu.
Sebelum Zayn meminta hal aneh, Leena menambahkan, “Saya harap, Bapak nggak akan berfikir buat melampaui batas profesionalisme! Saya cuman bisa menebus semuanya pake jasa, bukan yang lain! ”
Mata Zayn menyipit ke arah Leena. Keberanian Leena untuk menetapkan batasan justru memberinya ide. Ia tidak membutuhkan pena dan kertas resmi.
Syarat yang akan ia berikan, mungkin akan lebih bersifat pribadi dan jauh melampaui batas profesional yang dibayangkan Leena.
Zayn tiba-tiba mendekat dengan tatapan lekat. “Gampang kok!" katanya, sambil menyeringai tipis. "Saya bakal tutup mulut kalau di semester 7 nanti kamu tetap magang jadi Sekretaris Direktur!”
Persyaratan itu lebih terasa seperti benturan keras di kepala Leena.
Mata Leena mengerjap cepat. “Sekretaris direktur?! T-tapi Pak, Arin—”
Dahi Zayn mengernyit, “Kenapa jadi Arin?”
Kampus Leena menganjurkan mahasiswanya untuk melaksanakan program magang di semester lima dan tujuh.
Saat magang pertama di semester 5, Leena beruntung. Karena mendapat nilai terbaik, ia ditarik langsung oleh kampus agar menjadi sekretaris Direktur Yayasan.
Tahu Leena mendapat kesempatan emas itu, Arin pun menawarkan untuk bertukar tempat dengannya saat semester 7. Leena pun setuju dan berjanji.
Leena menggigit bibirnya. Ragu sejenak sebelum akhirnya bicara.
“Posisi itu nantinya bakal jadi punya Arin Pak,” elak Leena, bicaranya pelan dengan nada tak yakin. “Saya udah janji sama dia. Jadi—”
“Kamu tinggal pilih,” potong Zayn tak peduli. “Mau ingkar sama yang mana? Resikonya juga kamu sendiri kan yang tau.”
Leena berada di antara 2 pilihan sulit. Ia sudah janji akan memberi kesempatan posisi magang menjadi Sekretaris Direktur di semester 7 ke Arin, tapi masalahnya dengan Zayn jauh lebih rumit.
Pikirannya semakin kacau. Leena tidak yakin bisa langsung memutuskan detik itu juga.
Leena bangkit dari duduknya, sorot matanya masih goyang. Ia membungkuk tipis ke arah Zayn.
“Kayaknya, saya butuh waktu buat ini Pak,” kata Leena, dengan nada tak yakin.
Tanpa menunggu jawaban, Leena langsung beranjak pergi. Langkahnya cepat, nafasnya berat. Rasanya seperti ada tali yang melilit lehernya.
Zayn menatap Leena pergi, ekspresinya setengah heran. Ia tau, tekanan Leena lebih besar dari kelihatannya.
Namun, alih-alih mendapat solusi, justru reaksi Leena terasa seperti menunda ledakan.
‘Udah gini, masih harus mikir?’ batin Zayn, jarinya mengusap tengkuk. ‘Padahal masalahnya udah jelas. Kenapa malah mempersulit diri?
**
Keesokan harinya, sebelum kelas pagi mulai, Leena sudah terpaku di depan pintu ruang Direktur. Kepalanya terasa berat karena semalam susah tidur.
Perasaannya gelisah. Tangannya terangkat ragu saat hendak mengetuk pintu.
"Masuk nggak ya?" gumamnya ragu, menoleh ke belakang. "Gue nggak tahu ... langkah gue ini udah bener apa belum," sambil menggigit ujung jarinya.
Resah!
Matanya terpejam, ini waktunya Leena mengambil keputusan. Baru setelah mempertimbangkan matang -matang, ia berbalik lagi dan langsung mengetuk dengan mantap.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pelan itu menggetarkan seluruh keberanian yang tersisa dalam dirinya.
‘Maafin gue Rin! Gue bener-bener nggak punya pilihan lain,’ batin Leena.
Ternyata, Zayn sedari tadi berdiri di ujung lorong. Satu tangannya dimasukkan ke saku celana. Bahunya sedikit menegang.
Ia memperhatikan Leena dari jauh. Sorot matanya tajam tak berkedip.
Zayn tau, bagi Leena, Reputasi Akademik adalah segalanya. Sementara Zayn, ia hanya memberikan kesepakatan yang membuat mereka sama-sama untung.
‘Saya tau, kamu nggak rela kalau reputasi akademik kamu benar-benar ancur,' batin Zayn sambil menyeringai lega.
‘Dasar otak sialan!’Leena membanting tubuhnya ke kasur asrama yang entah kenapa terasa jauh lebih keras dari biasanya. Ia memejamkan mata sejenak, merutuki diri sendiri yang bisa-bisanya memikirkan hal-hal yang jauh di luar batas urusan akademis hanya karena satu kata ‘puas’.Suasana kamar asrama lebih remang, kontras dengan gemerlap lampu di resto Saga yang baru saja ia tinggalkan.Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tubuhnya pegal, tapi otaknya malah masih berputar kencang, memutar ulang setiap adegan di ruang Saga siang itu.“Fokus, Na. Fokus. Dia itu dosen lo, nggak lebih,” gumamnya sambil menepuk-nepuk pelan pipi yang masih terasa panas.Manik mata Leena seketika tertuju pada flashdisk hitam milik Zayn yang kini ada di genggaman.Sebelum pulang dari resto, Zayn melemparkan benda itu padanya disertai satu instruksi tajam: “Jangan sampai ada yang kelewat. Pelajari semuanya.”Lalu kemudian, Leena bangkit, menyeret kaki ke kursi belajar. Dengan gerakan terbata, ia menautk
“Ni orang tenangnya kalau lagi tidur aja. Kalau melek kerjaannya ngancem mulu...’ suara batin Leena mengomel, tapi bibirnya tetap terkunci.Zayn tak menanggapi. Pria itu hanya merapikan setelan kemejanya yang sedikit kusut, baru kemudian melangkah ke meja kerja Saga. Dari saku kemeja, ia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam.Gerakannya tenang, seolah langkahnya sudah tak memiliki canggung lagi ketika menggunakan area kerja Saga.Leena hanya mengawasi dengan mata, tak beranjak dari tempat. Hanya manik matanya yang bergerak mengikuti setiap gerak Zayn.“Pindah ke sini.” Suara Zayn singkat, sambil menarik kursi kerja yang biasa dipakai Saga.Dengan spontan Leena menolak, “Lah, nggak sopan dong, Pak. Masa iya saya duduk di kursi bos sendiri.”Bukan lagi suara Zayn yang jadi jawaban, tapi tatapannya yang tajam dan menusuk, membuat Leena akhirnya menurut meski hatinya masih penuh tanda tanya. Leena menjatuhkan diri, tubuhnya terasa kaku.Layar monitor menyala, dan folder terenkripsi dibuka.
“Cih!” Leena ikut mendengus ketika Zayn tiba-tiba terdengar mengumpat. Dan untuk yang kedua kalinya, suara berat itu kembali jatuh, “...Bangsat!.”Otomatis Leena terperangah. Manik matanya membelalak, tak habis pikir kalau Zayn bisa semarah itu sampai mengucap kata kasar. Kedua tangan Leena refleks berkacak di pinggang, sambil dada naik turun menahan emosi. “Pak, saya tau saya salah. Tapi omongan bapak barusan—”Kalimat makian yang tertahan di ujung lidah Leena mendadak terputus, setelah langkahnya menyingkap sisi depan sofa. Dan disanalah ia melihat sesuatu yang membuatnya diam. Pria yang biasanya tampil dengan aura otoritas yang menindas itu ternyata sedang terlelap. Zayn tampak menyandarkan kepala di bantalan sofa dengan posisi duduk yang miring dan terlihat tak nyaman. Rambutnya kusut, beberapa helai jatuh menutupi kening, menambah kesan lelah yang jelas di rautnya.Tak ada tatapan tajam yang menghakimi, tak ada suara dingin yang menusuk. Yang ada hanya helaan napas sedikit
"Di mana kamu?"Nada suara Zayn terdengar sedikit lantang dari seberang telepon, tajam dan tanpa basa-basi. Leena yang baru saja setengah duduk di ranjang langsung mengernyit heran, matanya masih berat oleh sisa kantuk.ia melirik ke arah ponsel sekali lagi. Nama Zayn tertera jelas.‘Pagi-pagi gini… ngapain dia nelpon, sih?’ tukasnya dalam hati.“Saya di asrama, Pak,” jawab Leena akhirnya dengan nada sedikit kaku. “Kenapa, emangnya?”Hari itu hari selasa, tepat lima hari sebelum ia kembali ke rutinitas kampus dan memulai semester baru dengan magang chapter dua.Libur masih berjalan, dan selama libur itu, Zayn bukan sepenuhnya menghilang, tapi juga bukan sosok yang rutin muncul.Leena masih bertemu pria dingin itu sesekali kalau dirinya mampir ke resto Saga. Itupun sebatas profesional. Hanya ada sapaan singkat, dingin dan seperlunya saja. Tak lebih. Bahkan semingguan terakhir, Zayn sama sekali tak muncul.Lalu, sekarang, tiba-tiba saja pria itu menelpon Leena.“Kamu kesini sekarang!”
“Ni anak, akhir-akhir ini kenapa jadi makin rewel sih?”Leena mengumpat dalam hati. Terkadang selalu dibuat heran akan perubahan sikap Evan yang tiba-tiba terlihat posesif.Evan masih mengangkat telepon. Alisnya tampak mengerut tipis seolah isi percakapan di layar bukan hal sepele. Padahal, sebelum ponsel itu bergetar, Evan masih sibuk menanyai ini-itu ke Leena dengan nada setengah curiga dan setengah khawatir.Leena menggaruk tengkuknya pelan. Ringisan kecil tersungging di wajahnya. Lebih terlihat heran daripada geli. “Sejak kapan dia jadi kayak gini?” gumamnya lirih, hanya cukup untuk didengar sendiri.Padahal, Evan adalah tipe yang santai. Cerewet iya, kepo juga iya, tapi tak sampai seperti saat ini. Sekarang ia bersikap seolah setiap gerak Leena perlu dipastikan.Tak lama, Evan menutup telepon dan menjauhkan layar dari daun telinganya, lalu menghela napas pendek.“Kayaknya... gue juga harus pergi sekarang, Na,” ucap Evan dengan nada pasrah.Leena mengerjap seketika. “Hah?”“Boka
“Bentar, deh… ?” Langkah Evan mendadak tercekat. Tubuhnya mematung tepat di tengah tarikan Leena yang sedari tadi sudah setengah menyeretnya. Alis pria itu mengernyit dalam. Sorot mataya masih terkunci ke arah mobil yang terparkir di bahu jalan seberang. “Na, kok… kayaknya gue pernah liat mobil itu,” ucap Evan pelan. Nada suaranya tampak diturunkan, seperti sedang memaksa ingatan yang belum sepenuhnya menyatu. Jarak antara gedung asrama Leena dan bahu jalan seberang tepat Leena berhenti, untung saja cukup lebar. Dari titik mereka berdiri, cukup mustahil bagi Evan untuk bisa melihat dengan jelas. Apalagi dengan kaca mobil yang gelap, tak mungkin mudah untuk ditembus pandang dari jarak yang segitu jauh. Logikanya jelas.Namun justru karena itu, jantung Leena berdegup semakin tak beraturan. “Lo ngeyel banget sih, Van,” ketus Leena pada akhirnya. Lagi, Leena mendorong kuat-kuat tubuh Evan. Namun, percuma. Tubuh Evan tetap tak bergeming sedikit pun, seakan kakinya sudah men







