Beranda / Romansa / Terjerat Cinta Dosen Baruku / Bab 6. Kesepakatan di Tempat Sunyi

Share

Bab 6. Kesepakatan di Tempat Sunyi

Penulis: Elwy Canopus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-10 13:06:45

“Saya—”

Leena menunda kalimatnya. Tiba-tiba otaknya seolah memproses ulang dan menimbang kondisi mereka berdua. Ia memicingkan matanya menatap Zayn.

“Tunggu, tunggu!” Otak cerdas Leena seolah menimbang ulang keadaan. “Bukannya reputasi Bapak juga bakal hancur kalau semuanya kebongkar?”

Lagi, Leena menambahkan, “Bapak bisa aja kan dikeluarin kalau ketahuan tidur sama mahasiswinya sendiri!”

Zayn menatap datar ke arah Leena. Membatin kesal. ‘Cih! Dia pinter juga ternyata!’

Seketika amarah dingin menggantikan tangis Leena. Ia menatap Zayn dengan pandangan yang semakin tajam. ‘Ha! Enak aja nuntut harga buat bungkam mulut dia!’

Walaupun Leena bilang begitu, kendali tetap ada di tangan Zayn. Kehancuran reputasi akademik Leena lebih mudah diwujudkan daripada skandalnya sendiri.

Zayn tertawa kecil. Ia menganggap remeh ucapan Leena.

“Kamu pikir mereka bakal percaya sama mahasiswi yang mabuk, Leena?” tegas Zayn, sambil melipat tangan di dada. “Kamu cuman bakal keliatan kayak perempuan yang frustrasi.”

Pernyataan Zayn terlalu logis dan kejam. Dada Leena terasa sesak, amarahnya bercampur dengan kenyataan pahit.

Taruhannya terlalu besar. Reputasi akademik dan nilai adalah aset terakhirnya. Dia tidak bisa memenangkan pertarungan reputasi ini. Jika terus melawan, sama saja dengan bunuh diri.

Apalagi, kenyataan malam itu, Leena sendiri yang terlalu mabuk dan tanpa sadar membangkitkan hasrat Zayn yang sedang berada di bawah pengaruh obat.

“Oke, oke. Saya tau, saya nggak akan menang. Jadi … gimana kalau kita buat kesepakatan aja, Pak?”

Zayn tersenyum kecil, bukan karena Leena yang akhirnya ‘tunduk’, melainkan karena kendali kini mutlak di tangannya.

Senyum Zayn yang dingin, mencoba mengukur sejauh mana Leena bisa didorong.

“Kamu sendiri yang minta, Leena. Jadi, saya yang bakal nentuin aturannya!” Nada bicara Zayn terdengar serius. “Tapi nggak di tempat terbuka kayak gini!”

Leena menelan ludah. Ia bisa merasakan kalau kali ini Zayn menuntutnya tidak main-main. Rasa takut dan penasaran Leena semakin meronta. Ia berpikir, sejauh mana Zayn akan menuntutnya.

Leena mengangkat dagunya. Ia berusaha keras agar terlihat yakin, meskipun tatapannya masih dipenuhi kecemasan.

“Ja—jadi … uhm … Bapak mau saya ngelakuin apa?” Leena bertanya dengan ragu.

Sebelum Zayn meminta hal aneh, Leena menambahkan, “Saya harap, Bapak nggak akan berfikir buat melampaui batas profesionalisme! Saya cuman bisa menebus semuanya pake jasa, bukan yang lain! ”

Mata Zayn menyipit ke arah Leena. Keberanian Leena untuk menetapkan batasan justru memberinya ide. Ia tidak membutuhkan pena dan kertas resmi.

Syarat yang akan ia berikan, mungkin akan lebih bersifat pribadi dan jauh melampaui batas profesional yang dibayangkan Leena.

Zayn tiba-tiba mendekat dengan tatapan lekat. “Gampang kok!" katanya, sambil menyeringai tipis. "Saya bakal tutup mulut kalau di semester 7 nanti kamu tetap magang jadi Sekretaris Direktur!”

Persyaratan itu lebih terasa seperti benturan keras di kepala Leena.

Mata Leena mengerjap cepat. “Sekretaris direktur?! T-tapi Pak, Arin—”

Dahi Zayn mengernyit, “Kenapa jadi Arin?”

Kampus Leena menganjurkan mahasiswanya untuk melaksanakan program magang di semester lima dan tujuh.

Saat magang pertama di semester 5, Leena beruntung. Karena mendapat nilai terbaik, ia ditarik langsung oleh kampus agar menjadi sekretaris Direktur Yayasan.

Tahu Leena mendapat kesempatan emas itu, Arin pun menawarkan untuk bertukar tempat dengannya saat semester 7. Leena pun setuju dan berjanji.

Leena menggigit bibirnya. Ragu sejenak sebelum akhirnya bicara.

“Posisi itu nantinya bakal jadi punya Arin Pak,” elak Leena, bicaranya pelan dengan nada tak yakin. “Saya udah janji sama dia. Jadi—”

“Kamu tinggal pilih,” potong Zayn tak peduli. “Mau ingkar sama yang mana? Resikonya juga kamu sendiri kan yang tau.”

Leena berada di antara 2 pilihan sulit. Ia sudah janji akan memberi kesempatan posisi magang menjadi Sekretaris Direktur di semester 7 ke Arin, tapi masalahnya dengan Zayn jauh lebih rumit.

Pikirannya semakin kacau. Leena tidak yakin bisa langsung memutuskan detik itu juga.

Leena bangkit dari duduknya, sorot matanya masih goyang. Ia membungkuk tipis ke arah Zayn.

“Kayaknya, saya butuh waktu buat ini Pak,” kata Leena, dengan nada tak yakin.

Tanpa menunggu jawaban, Leena langsung beranjak pergi. Langkahnya cepat, nafasnya berat. Rasanya seperti ada tali yang melilit lehernya.

Zayn menatap Leena pergi, ekspresinya setengah heran. Ia tau, tekanan Leena lebih besar dari kelihatannya.

Namun, alih-alih mendapat solusi, justru reaksi Leena terasa seperti menunda ledakan.

‘Udah gini, masih harus mikir?’ batin Zayn, jarinya mengusap tengkuk. ‘Padahal masalahnya udah jelas. Kenapa malah mempersulit diri? 

**

Keesokan harinya, sebelum kelas pagi mulai, Leena sudah terpaku di depan pintu ruang Direktur. Kepalanya terasa berat karena semalam susah tidur. 

Perasaannya gelisah. Tangannya terangkat ragu saat hendak mengetuk pintu.

"Masuk nggak ya?" gumamnya ragu, menoleh ke belakang. "Gue nggak tahu ... langkah gue ini udah bener apa belum," sambil menggigit ujung jarinya.

Resah!

Matanya terpejam, ini waktunya Leena mengambil keputusan. Baru setelah mempertimbangkan matang -matang, ia berbalik lagi dan langsung mengetuk dengan mantap.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pelan itu menggetarkan seluruh keberanian yang tersisa dalam dirinya.

‘Maafin gue Rin! Gue bener-bener nggak punya pilihan lain,’ batin Leena.

Ternyata, Zayn sedari tadi berdiri di ujung lorong. Satu tangannya dimasukkan ke saku celana. Bahunya sedikit menegang.

Ia memperhatikan Leena dari jauh. Sorot matanya tajam tak berkedip.

Zayn tau, bagi Leena, Reputasi Akademik adalah segalanya. Sementara Zayn, ia hanya memberikan kesepakatan yang membuat mereka sama-sama untung.

‘Saya tau, kamu nggak rela kalau reputasi akademik kamu benar-benar ancur,' batin Zayn sambil menyeringai lega.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 111. Kopi Spesial

    “Apa lagi, Pak? Saya udah telat loh ini!”Napas Leena tertahan, tangannya masih menggantung di gagang pintu mobil yang terbuka.Bukannya lepas, Zayn justru lagi-lagi mencondongkan tubuh, mengunci pergerakan Leena dalam ruang kabin yang seolah menyempit.Tangan panjang pria dingin itu terulur melewati bahu Leena, jemarinya hangat menyentuh tengkuk dengan gerakan sangat perlahan.Zayn merapikan kerah blazer Leena yang sedikit terlipat, sisa-sisa kekacauan kecil saat di apartemen tadi.“Apa nggak sebaiknya kamu resign aja?” tanya Zayn tiba-tiba dengan suara rendah yang sangat tenang.Leena mengerjap, manik matanya bergetar menatap wajah sang dosen yang begitu dekat. “Maksud Bapak?”“Biaya hidup kamu… saya yang tanggung,” timpal Zayn lagu tanpa ada kilat ragu sedikitpun di rautnya.Kening Leena mengernyit dalam, ia menarik kepalanya sedikit ke belakang untuk mencerna kalimat gila itu.“Ngurus biaya hidup saya? Emangnya Bapak siapa saya?” tanya Leena, nada bicaranya antara bingung dan tert

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 110. Minggir Pak!

    “Pak Zayn! Saya harus kerja!” teriak Leena mendadak panik setengah matiRefleks mendorong dada bidang Zayn agar menjauh, Leena langsung celingukan mencari tas dan blazer-nya yang tadi entah terlempar ke mana. “Minggir Pak! Saya bisa dipecat kalau telat lagi.”“Telat sedikit nggak akan bikin kamu miskin, Leena,” sanggah Zayn cepat.Zayn mencoba menahan bahu Leena, tapi gadis itu sudah melengos, memungut heels-nya di lantai. Tak peduli lagi dengan suasana romantis yang baru saja terbangun. Bagi Leena, urusan cuan lebih mendesak daripada urusan asmara.Sambil kembali memakai heels-nya dengan terhuyung-huyung, Leena sempat menoleh ke arah Zayn dengan tatapan yang memicing. “Bapak enak orang kaya! Saya kalau dipecat nggak bisa makan dan ngurus diri sendiri!” dengus Leena akhirnya.Zayn melangkah ke depan, lalu menyambar bahu Leena lagi. “Kalau sampai kamu dipecat…” sempat berhenti sejenak, Zayn menatap lekat manik mata Leena. “Saya yang bakal ngurus kamu.” Leena terdiam sepersekian det

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 109. Si Brengsek yang Mempertemukan

    “Ck! Bukan gitu, Pak.”Takut akan jadi salah paham, Leena cepat-cepat mengalihkan pembahasan. “Udahlah, kita nggak perlu bahas itu lagi,” ujar Leena sambil memakai kembali sepasang heels-nya dengan gerakan kikuk. Leena melangkah maju, lalu mendorong tubuh Zayn agar berbalik menuju lift penghuni. “Ayok Pak, kita langsung naik ke unit Bapak aja. Saya nggak punya banyak waktu karena jam part-time sanya tinggal setengah jam lagi.” Tak bergeming, tubuh Zayn terasa kaku layaknya patung saat Leena mencoba mendorongnya dengan sekuat tenaga, sebelum akhirnya pria itu mengalah dan berjalan masuk ke dalam lift bersama Leena. Di dalam lift, suasana mendadak jadi canggung, hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Zayn juga nampak masih menatap Leena lewat pantulan dinding lift, raut bersalahnya masih belum luntur sedikit pun.Merasa tak nyaman dengan tatapan sang dosen, Leena meringis kecil sambil mencetus, “Kenapa Bapak masih ngeliatin saya terus? Tadi kan saya nggak jadi n

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 108. Siapa Pria Asing Itu?

    “Lumayan catik Nona ini.”Tepat di depan pintu putar lobi. Leena terperanjat, kepalanya mendongak otomatis dan manik matanya bertatapan dengan sosok pria asing.Pria muda dengan setelan jas rapi yang nampak sangat mahal, tapi auranya jauh sari kata formal. Ada senyum miring yang terpatri di wajahnya, seolah baru saja menemukan hal menarik.Leena mengerjap, tanpa sadar mundur satu langkah karena merasa terintimidasi oleh tinggi badan pria di depannya.“Nona cantik ini, kalau boleh tau siapanya Zayn?” tanya pria itu lagi.Sorot matanya menelisik Leena dari ujung kepala sampai kaki, berhenti sejenak pada blazer yang membalut dress mahal pilihan Zayn. Di belakang pria itu, ada sekitar tiga atau empat orang pria lain yang nampak sama mewahnya, berdiri dengan gaya santai.Dengusan kecil lolos dari bibir Leena, rasa jengkelnya tadi bergeser target pada pria asik yang sok akrab itu.“Maaf, saya rasa nggak ada urusan sama anda, Pak,” ketus Leena sinis.Mendengar dirinya dipanggil ‘Pak’, raut

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 107. Tertahan di Lobi

    “Yakin kamu, Leena?” Suara bariton itu menggantung rendah. Sang direktur memicingkan mata, manik hitamnya menelisik tiap ekspresi Leena, seolah ingin menguliti kebohongan di sana.Tenggorokan Leena mendadak terasa kering, namun tak membiarkan sorot matanya lari. Dengan sisa ketenangan di bawah perlindungan Zayn, ia mengatur napasnya agar tetap teratur.“Sangat yakin, Pak,” kata Leena sambil memperlihatkan data absensi dari mesin fingerprint. . “Bukankah absensi saya ada di jam yang tepat?” Leena menimpali pertanyaan itu dengan nada yang stabil, meski dalam hatinya berdecih jijik. ‘Kenapa? Takut kalau kebusukan Bapak bakal terkuak, ya?’ batin Leena sinis.Dawson berhenti bergerak, ia menyandarkan pinggang pada bibir meja kayu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Pria itu tampak menimbang-nimbang ucapan sang sekretaris.“Bagus kalau gitu. Saya cuma nggak suka staf saya punya agenda pribadi di luar jam kerja,” tutur Dawson tajam.Sambil memasang raut sepolos mungkin, senyum tipi

  • Terjerat Cinta Dosen Baruku   Bab 106. Mendadak Ngambek

    “Maksud perkataan Bapak tadi apa…?”Suara Leena memecah sunyi di dalam lift yang sedang bergerak turun. Manik matanya masih menatap pantulan Zayn di dinding yang mengkilap, mencoba mencari sisa emosi di wajah sang dosen..Tak menoleh, Zayn hanya merapikan letak arlojinya dengan gerakan yang tampak begitu presisi.“Tadi yang mana? Pas kita jatuh dari kasur?” tanya Zayn tanpa beban sedikit pun.Bibir Leena tampang mengerucut, merasa pertanyaannya dianggap angin lalu. “Bukan itu… soal Pak Zayn bilang, batas—” Leena sempat ragu, pandangannya jatuh. Rasa penasaran mendesak, tapi ia sadar situasinya kurang tepat untuk membicarakan hal itu “Nggak jadi, Pak,” ucap Leena akhirnya sambil menarik napas dan tersenyum tipis.Zayn menghentikan gerakan sebelum akhirnya perlahan memutar tubuh sepenuhnya menghadap Leena.Langkah pria itu memangkas jarak formal, memojokkan Leena ke sudut lift. Zayn mencondongkan wajah, membuat manik mata Leena berkedip cepat karena intensitas tatapan yang begitu leka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status