Pesan di layar telepon membuat Alvian segera kembali fokus. Huruf-huruf hitam di layar sentuh itu tampak menusuk hingga ke dalam hati: “Kita belum selesai, Alvian. Ada banyak rahasia lain yang belum kamu ketahui tentang perusahaan mu dan tentang Indah. Jangan berpikir bahwa kamu sudah menang.”
Dia menyimpan telepon dengan hati-hati ke dalam kantong jasnya, lalu melihat Maya yang sedang menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Wanita muda itu sedang membersihkan buku-buku di rak ruang tamu, tapi matanya selalu terpaku pada Alvian setiap kali dia melihat tanda-tanda kesusahan pada wajahnya.
“Semua baik-baik saja kan, mas Alvian?” tanya Maya dengan suara lembut, meletakkan kain lap di atas meja samping sofa. Matanya yang berwarna coklat tua memancarkan kehangatan yang membuat Alvian merasa sedikit lega.
Alvian mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan ketegangan yang muncul seperti gelombang besar di dalam dirinya. “Ya, cukup baik saja. Cuma pesan yang tidak penting – mungkin salah nomor atau pesan promosi yang salah kirim.”
Namun Maya sepertinya tidak percaya dengan alasan itu. Wanita muda itu mendekat perlahan dan memberikan tangannya yang kecil untuk dipegang. “Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, saya selalu siap membantu, mas. Indah pernah bilang padaku bahwa kamu adalah orang yang kuat tapi juga perlu didukung dengan baik. Dia sangat mencintaimu dan selalu berbicara tentangmu dengan penuh cinta.”
Kata-kata itu membuat hati Alvian terasa hangat seperti terkena sinar matahari di pagi hari. Ia memegang tangan Maya dengan lembut, merasakan kehangatan yang belum ia rasakan sejak Indah pergi. Kulit Maya yang lembut dan hangat membuatnya merasa bahwa mungkin saja ada cahaya di ujung terowongan kesedihan yang telah menghantui dirinya selama ini. “Terima kasih, Maya. Kamu sangat baik padaku dan keluarga Indah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku akan menghadapi semua ini tanpa bantuanmu.”
“Sama-sama, mas Alvian,” jawab Maya dengan senyum lembut yang membuat wajahnya semakin cantik. “Indah adalah orang yang sangat baik dan baik hati. Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk membantu orang yang dia cintai – termasuk kamu.”
Setelah beberapa saat berbincang santai, Alvian memutuskan untuk menghubungi Rania dan Dr. Reza untuk memberitahu mereka tentang pesan ancaman baru itu. Mereka sepakat untuk bertemu di kedai kopi kecil yang sama tempat mereka dulu membahas tentang penyebab sakitnya Indah – tempat yang menjadi saksi dari banyak peristiwa penting dalam hidup Alvian setelah kehilangan istri tercintanya.
Ketika Alvian tiba di kedai kopi, Rania dan Dr. Reza sudah menunggunya di sudut yang biasa mereka tempati. Wajah mereka terlihat serius dan penuh kekhawatiran. Meja depan mereka sudah ada dua gelas teh hangat dan satu gelas kopi hitam yang masih mengeluarkan asap tipis.
“Saya sudah menyelidiki lagi tentang perusahaan kosmetik yang menyebabkan sakitnya Indah selama beberapa hari terakhir,” ujar Dr. Reza saat Alvian duduk di depan mereka. Pria itu mengeluarkan seberkas kertas dari tasnya dan menyebarkannya di atas meja. “Ternyata ada orang lain yang terlibat dalam kasus ini – seseorang yang memiliki pengaruh besar di dunia bisnis lokal dan bahkan memiliki hubungan dengan beberapa pejabat penting. Saya belum bisa mengetahuinya dengan pasti siapa orang itu, tapi bukti yang saya kumpulkan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bertanggung jawab atas penggunaan zat berbahaya di produk kosmetik, tapi juga mungkin tahu tentang kondisi Indah jauh sebelum dia datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan pertama kalinya.”
Rania mengerutkan kening dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia menjepit bibir bawahnya dengan kuat, seolah sedang berusaha menahan rasa marah dan kesedihan yang muncul kembali. “Apa maksudnya dokter? Apakah mereka sengaja membuat Indah terpapar zat itu? Apakah mereka sengaja menyakiti adikku?”
Dr. Reza menghela nafas dalam-dalam, matanya penuh dengan rasa kasihan. “Saya belum bisa memastikannya dengan 100%, Rania. Tapi ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa mereka sengaja menargetkan beberapa orang tertentu untuk menguji efek produk mereka sebelum memasarkannya ke pasar luas. Indah mungkin salah satu dari korban tersebut. Saya akan terus menyelidiki sampai menemukan kebenarannya – itu adalah janji saya untuk Indah dan semua korban lainnya.”
Alvian merasa darahnya mendidih dan jantungnya berdebar kencang. Jika benar ada orang yang sengaja menyakiti Indah hanya untuk keuntungan bisnis, dia akan melakukan apa saja untuk memastikan mereka mendapatkan hukuman yang layak. “Saya akan membantu dalam penyelidikan ini, dokter. Saya punya akses ke banyak informasi tentang dunia bisnis lokal yang mungkin bisa membantu kamu. Saya tidak akan membiarkan orang yang menyakiti Indah tetap bebas dan melanjutkan kejahatan mereka.”
Setelah pertemuan selesai dan mereka masing-masing mendapatkan tugas untuk menyelidiki lebih lanjut, Alvian pulang ke rumah dan langsung masuk ke ruang kerjaannya yang terletak di bagian belakang rumah. Ruangan itu dulu digunakan sebagai ruang baca oleh Indah, namun setelah dia pergi, Alvian mengubahnya menjadi ruang kerja untuk menyimpan semua berkas perusahaan dan dokumen penting lainnya.
Ia mulai mencari informasi tentang orang-orang yang pernah berhubungan dengan perusahaan kosmetik tersebut – mulai dari pemilik hingga orang yang memiliki saham di dalamnya. Ia menghabiskan seluruh malam untuk membaca berkas demi berkas, membandingkan data, dan menghubungi beberapa teman bisnisnya untuk mendapatkan informasi tambahan. Sampai larut malam, ketika matahari mulai menunjukkan sinarnya di balik jendela, dia akhirnya menemukan sesuatu yang mengejutkannya hingga membuat tubuhnya menjadi kaku.
Di dalam berkas lama yang dia temukan di bagian paling bawah lemari bawah meja kerjanya – berkas yang tampaknya sengaja disembunyikan – ada foto lama berwarna kecoklatan yang menunjukkan Bapak Herman sedang berbincang dengan seorang pria yang sangat ia kenal. Pria itu adalah Rio Pratama, pengusaha muda yang kini menjadi salah satu orang terkaya di kota dan juga tunangan yang pernah dipaksakan padanya oleh orang tuanya beberapa tahun yang lalu sebelum ia bertemu Indah.
“Kenapa mereka bisa bersama?” bisik Alvian dengan suara penuh kebingungan, mata tidak bisa lepas dari foto itu. Di belakang mereka terlihat logo perusahaan kosmetik yang menjadi sumber masalah itu, seolah memberikan bukti bahwa mereka telah bekerja sama jauh sebelum kasus zat berbahaya itu terungkap.
Tanpa berpikir panjang, Alvian mulai mencari informasi lebih lanjut tentang Rio Pratama. Ia membuka laptopnya dan mengakses berbagai database bisnis yang ia miliki aksesnya. Dalam beberapa jam, ia menemukan banyak hal yang membuatnya semakin terkejut. Rio tidak hanya memiliki saham tersembunyi di perusahaan kosmetik yang menyebabkan sakitnya Indah, tapi juga ternyata pernah bekerja di anak perusahaan Alvian beberapa tahun yang lalu sebelum mendirikan bisnisnya sendiri. Bahkan ada bukti bahwa Rio pernah mencoba menghubungi Indah beberapa kali melalui telepon dan pesan sebelum dia sakit, namun semuanya ditolak oleh wanita itu.
Pada hari berikutnya, setelah sarapan pagi dan memberi kabar pada Maya bahwa dia akan keluar untuk beberapa waktu, Alvian mendatangi kantor Rio secara langsung tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia tidak bisa menunggu lagi untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya dan memastikan bahwa orang yang bersalah mendapatkan hukuman yang layak.
Kantor Rio terletak di gedung pencakar langit terbaru di pusat kota, dengan interior yang mewah dan penuh dengan peralatan modern. Ketika Alvian masuk ke ruang kerjaan Rio yang luas dan memiliki pemandangan kota yang indah, pria itu sedang duduk di belakang meja besar yang terbuat dari kayu mahkota, seolah sudah menunggunya datang.
“Sudah lama tidak bertemu, Alvian,” ujar Rio dengan suara yang dingin dan penuh dengan kesombongan. Ia berdiri dan memberikan tangan untuk bersalaman, tapi Alvian hanya menatapnya dengan pandangan penuh kemarahan. “Aku tahu kamu akan datang ke sini setelah menemukan foto itu. Seperti biasa, kamu selalu sedikit terlambat untuk mengetahui kebenaran.”
“Kenapa kamu melakukan semua ini, Rio?” tanya Alvian dengan suara tegas yang membuat seluruh ruangan terasa lebih dingin. “Apa yang kamu dapatkan dengan menyakiti Indah dan banyak orang lain?”
Rio hanya tersenyum dingin dan kembali duduk di kursinya. Ia menyilangkan kaki dan menatap Alvian dengan mata yang penuh dendam. “Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, Alvian. Perusahaan ayahmu seharusnya menjadi milikku – bukan kamu. Ayahku adalah teman bisnis ayahmu yang paling setia dan bahkan membantu mendirikan perusahaan itu dari awal. Tapi ketika ayahmu meninggal, dia tidak memberikan apa-apa padaku dan keluargaku, hanya memberikan segalanya padamu yang masih muda dan tidak berpengalaman.”
Alvian merasa tubuhnya menjadi lebih kaku. Ia tidak pernah tahu tentang hubungan ayahnya dengan keluarga Rio. “Itu bukan alasan untuk menyakiti orang tidak bersalah, Rio. Indah tidak melakukan apa-apa padamu.”
“Indah adalah penghalang bagiku,” jawab Rio dengan suara yang dingin dan tidak merasa bersalah sama sekali. “Jika dia tidak ada, kamu akan menikahiku seperti yang diinginkan orang tua kita, dan perusahaan itu akan menjadi milikku. Aku sudah merencanakan segalanya dengan matang – mulai dari membuat produk kosmetik yang berbahaya hingga memastikan bahwa Indah akan menggunakan produk itu. Tapi sayangnya, dia terlalu kuat dan kamu mencintainya terlalu dalam. Kamu bahkan bersedia mengorbankan perusahaan untuknya.”
Sebelum Alvian bisa melakukan apa-apa atau memberikan balasan yang pedas, pintu kantor terbuka dengan keras dan beberapa petugas polisi masuk bersama dengan Dr. Reza dan Rania. Mereka membawa tas yang penuh dengan berkas dan peralatan penyitaan bukti.
“Rio Pratama, kamu dituduh melakukan kejahatan terhadap manusia dan penyalahgunaan kekuasaan dalam bisnis,” ujar seorang inspektur polisi dengan suara tegas, menunjukkan surat perintah penangkapan. “Kita sudah mengumpulkan semua bukti yang diperlukan tentang kejahatan yang kamu lakukan – mulai dari penggunaan zat berbahaya hingga pemaksaan terhadap beberapa orang untuk menjadi objek uji coba produkmu. Kamu akan diadili dan mendapatkan hukuman yang layak.”
Rio mencoba berdiri dan melarikan diri melalui pintu belakang, tapi dua petugas polisi segera menghalanginya dan menangkapnya dengan kuat. Saat dia dibawa pergi keluar dari kantor, dia melihat ke arah Alvian dengan mata penuh dendam dan mengeluarkan kata-kata yang membuat Alvian merasa geli di punggungnya. “Kamu salah kaprah, Alvian. Rio bukanlah dalang sebenarnya. Dalangnya adalah orang yang sangat dekat denganmu – seseorang yang kamu percayai sepenuhnya. Dan rahasia tentang Indah yang sebenarnya akan segera terbongkar. Kamu akan tahu bahwa semua yang kamu yakini selama ini adalah kebohongan besar.”
Setelah Rio ditangkap dan dibawa pergi oleh polisi, Alvian merasa lega tapi juga sedikit khawatir dengan kata-kata terakhir pria itu. Apa lagi yang bisa menjadi rahasia tentang keluarganya? Dan apakah benar ada hal lain yang belum ia ketahui tentang Indah – tentang siapa dia sebenarnya atau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?
Saat ia pulang ke rumah menjelang sore hari, Maya sedang menunggunya di halaman depan rumah dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Di tangannya ada sebuah bungkus makanan yang terlihat masih hangat dan secangkir jus jeruk segar.
“Bagaimana kabarmu, mas? Saya khawatir karena kamu keluar sejak pagi dan tidak memberi kabar,” ujar Maya dengan suara lembut, memberikan makanan dan jus kepada Alvian. Matanya penuh dengan perhatian yang tulus.
Alvian mengangguk dan menerima makanan dengan rasa terima kasih yang mendalam. “Semua sudah selesai untuk sekarang, Maya. Rio sudah ditangkap oleh polisi. Tapi ada beberapa hal yang masih belum jelas dan mungkin akan menjadi masalah di masa depan.”
Maya mendekat dan menepuk bahu Alvian dengan lembut. “Kalau kamu perlu berbicara atau ada sesuatu yang bisa saya bantu, saya selalu ada di sini untukmu, mas. Kita bisa menghadapinya bersama – seperti yang Indah mau kan?”
Alvian melihat mata Maya yang penuh dengan cinta dan perhatian. Ia menyadari bahwa saatnya sudah tiba untuk menerima cinta baru dalam hidupnya – cinta yang diizinkan bahkan diharapkan oleh Indah sendiri melalui surat terakhir yang dia baca. Tanpa berpikir panjang, ia menarik Maya lebih dekat dan mencium bibirnya dengan lembut namun penuh dengan makna. Rasanya seperti menemukan tempat tinggal baru setelah lama berkeliaran di jalanan yang sepi dan suram. Di dalam hatinya, ia merasakan bahwa Indah sedang tersenyum dari surga dan merestui apa yang mereka lakukan.
Namun saat mereka sedang menikmati momen kehangatan itu dan merencanakan untuk makan malam bersama di rumah, telepon Alvian yang ada di kantong jasnya tiba-tiba berbunyi dengan keras. Suaranya terdengar sangat nyaring di tengah keheningan halaman rumah yang sunyi. Alvian mengambil teleponnya dan melihat layar sentuh yang menyala terang. Di sana muncul pesan baru dari nomor yang sama yang mengirim pesan ancaman sebelumnya:
“Kamu masih belum mengerti apa-apa, Alvian. Indah bukanlah orang yang kamu pikirkan selama ini. Semua cerita tentang keluarganya, penyakitnya, bahkan cinta dia padamu – semuanya adalah bagian dari rencana yang sudah direncanakan dengan matang. Dan aku akan membuktikannya padamu besok sore di tempat pertama kamu bertemu dengannya. Jangan datang sendirian jika kamu tidak ingin kehilangan yang terakhir kali kamu miliki.”
Alvian merasa tubuhnya membeku dan jantungnya berhenti sejenak. Siapa lagi yang bisa melakukan semua ini? Dan apa rahasia tentang Indah yang belum ia ketahui hingga sekarang? Jawaban atas semua pertanyaan itu akan mengubah hidupnya selamanya dan mungkin akan menghancurkan semua kenangan indah yang pernah ia miliki bersama wanita yang dicintainya.
****