Compartilhar

51.

Autor: Shaveera
last update Data de publicação: 2026-03-10 21:46:56

Akhirnya senopati itu duduk satu meja denganku, dia ingin ikut aku sarapan dan bodohnya dayangku justru mempersilakan pria itu untuk sarapan bersamaku. Aku melotot ringan pada pelayanku itu.

'Maaf, Putri,' kata pelayanku dengan nada sangat rendah.

Aku hanya menyeringai tipis, "Tinggalkan kami!"

Dayang Sani merendahkan tubuhnya menyamping, sikap hormat ala pelayan yang pamit undur diri pada majikannya. Aku mengangguk.

"Silakan dimulai sarapannya, Tuan Ranggalawe," ucap ku sedikit canggung.

Dia t
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   76.

    Malam belum benar-benar larut, ketika semuanya berubah. Kurebahkan tubuhku, semua terasa sangat melelahkan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan hidupku, mengapa jadi serumit ini. Kepingan demi kepingan kisah masa silam kembali berputar di ujung mataku. Saat pertama kali aku dibawa ke istana ini. Aura ibu Suri begitu mendominasi, dan suamiku—dia sama sekali tidak inginkan pernikahan ini karena kebisuanku. Kemudian malam itu, saat semua sedang terlelap dalam mimpi. Tubuhku melesat meninggalkan istana dan masuk ke dalam tubub seorang gadis bisu. Nahasnya, di dunia yang berbeda itu nasibku masih sama. Bisu dan memiliki nama yang sama yaitu Gendhis. Hanya saja, di dunia itu nasibku sedikit lebih baik. Sosok pria dewasa yang hangat dan ramah selalu membuatku nyaman—Samuel Ortega. Sementara di istana ini—Ranggalawe, meskipun dia juga pria dewasa tetapi watak dan pribadinya sangat jauh berbeda. Bila di sini, dalam kerajaan aku selalu sembunyi di runag kerja Ranggalawe dan membantunya untuk

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   75.

    Sunyi itu belum sepenuhnya reda, ketika sesuatu berubah. Bukan di sekitar ku, melainkan pada Ranggalawe. Aku bisa merasakannya. Cara dia menatap dan menyentuh, tidak lagi sama.Bukan sekadar memperhatikan. Ini lebih pada cara dia mengawasi. Seolah ada sesuatu yang kini perlu dia jaga dengan sangat hati-hati.Dan sesuatu itu ada di dalam diriku. Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri. Namun, sebelum aku sempat berkata apa pun, Ranggalawe sudah bergerak lebih dulu.Ia berdiri. Lalu, tanpa banyak bicara, tangannya kembali terulur. Kali ini bukan ke bahuku, melainkan ke pergelangan tanganku. Genggamannya hangat dan mantap, sangat alami.“Ayo,” ucapnya singkat.Aku mengernyit. “Ke mana?”“Kau butuh istirahat.”Nada itu tidak tinggi. Justru pelan, tetapi tidak memberiku ruang untuk menolak. Aku menatapnya, mencoba membaca maksud di balik sikapnya yang tiba-tiba berubah ini.“Kau terdengar seperti memerintah,” sindirku pelan.Biasanya dia akan membalas dengan dingin. Atau setidakn

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   74.

    “Dua jiwa… satu tubuh.”Kalimat itu masih menggantung di kepalaku.Berat.Menghantam tanpa ampun.Aku menarik napas, tapi terasa sesak. Seolah udara di ruangan ini tidak lagi cukup untuk paru-paruku. Tanganku masih berada di perutku, tepat di bawah sentuhan Ranggalawe yang perlahan menjauh. Seolah ia sadar, batas itu kini bukan lagi sekadar fisik.Melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit. Aku menunduk. Menatap perutku sendiri. Hanya sesaat, lalu kembali menatap wajah itu, pria yang sudah membuatku berkelana dalam mimpi. “Siapa kau?” bisikku lirih. Bukan pada diriku. Bukan pula untuk Ranggalawe.Tapi pada kehidupan kecil yang kini tumbuh di dalamku. Seketika, bayangan itu datang.Sentuhan yang berbeda dan sama-sama nyata.Anusapati—kasar, penuh kuasa, menyentuhku seolah aku adalah miliknya sejak awal. Tidak memberi ruang. Tidak memberi pilihan. Lalu—Samuel, dia lembut, hangat.Seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimiliki. Jantungku berdebar lebih keras.Dua pria.Dua ra

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   73.

    Duniaku berputar saat kata itu kembali kudengar. Satu kata yang mampu melambungkan anganku dengan ketegasan yang begitu mirip akan sosok Samuel Ortega. Iya, pria itu sedikit banyak telah mempengaruhi hidupku. Jiwanya yang tenang dan bergerak tanpa rencana, tetapi mampu menguasai seluruh masalahku tanpa sisa. Tubuhku masih terasa lemah. Namun, sebelum lututku benar-benar menyerah, sebuah tangan lebih dulu menahan lenganku.Hangat.Kokoh. Dan … hati-hati.Aku sedikit terkejut.Ranggalawe.Biasanya sentuhannya tegas, hampir selalu mengandung kontrol—seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga jaraknya. Tapi kali ini … berbeda. Sentuhan ini lebih mirip pada sosok itu—Samuel Ortega. Ranggalawe berbeda, caranya menyentuhku sangat jauh berbeda. Netapi, kali ini sepertinya buka miliknya. Dia tidak mencengkeram lenganku lalu menopang lembut. “Duduklah,” ucapnya pelan.Bukan perintah. Kalimatnya sangat lembut dan dominan, tetapi ini lebih seperti permintaan yang disertai cinta kasih tulus.

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   72.

    Aku menarik napas panjang. Dalam. Menahan semua gemuruh yang hampir pecah di dadaku.“Cukup.”Suaraku tidak keras, tapi cukup untuk memotong ketegangan di antara kami. Kedua pria itu terdiam—untuk sesaat—seolah memberi ruang pada kata yang baru saja keluar dari bibirku.Aku membuka mata, menatap lurus ke arah Anusapati.“Pergi.”Hanya satu kata. Namun kali ini, tidak ada keraguan di dalamnya.Sorot mata Anusapati berubah. Ada sesuatu yang retak di sana—amarah, keterkejutan, mungkin juga luka yang tak sempat ia sembunyikan. Tapi aku tidak lagi goyah.“Aku tidak akan ikut denganmu,” lanjutku, lebih tenang. “Apa pun yang kau janjikan… sudah terlambat.”Rahangnya mengeras. “Gendhis—”“Aku sudah memilih,” potongku.Meski, jauh di dalam hati… aku tahu pilihanku belum sepenuhnya jelas.Di sampingku, Ranggalawe bergerak sedikit. Kehadirannya terasa—tenang, kokoh, seperti tembok yang tak mudah runtuh. Tangannya kembali menyentuh bahuku, bukan menahan, tapi seolah memastikan aku tidak berdiri s

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   71.

    Dia bergeming, masih menatapku penuh tanya. Hingga akhirnya kalimat itu terucap, jelas dan singkat. “Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?”Nada itu tajam.Penuh tuduhan.Membuatku menutup mata sesaat. Anusapati. Mantan suamiku.Aku menatap lurus ke depan. Ke arah pria yang dulu pernah menjadi pusat hidupku. Kini … hanya bagian dari masa lalu.“Tidak ada yang kami sembunyikan,” ucapku tenang.Tatapan Anusapati menajam. “Jangan bohong, Gendhis.”Aku tidak menghindar. Tidak juga menunduk seperti dulu. Sebaliknya, aku menahan tatapannya—mantap, tanpa ragu.Ada jeda sejenak. Cukup untuk membuat udara di sekitar kami terasa lebih berat.Lalu, tanpa berputar-putar lagi, aku berkata, “Aku hamil.”Sunyi. Benar-benar sunyi.Bahkan angin seolah berhenti berembus. Aku bisa melihat perubahan itu di wajah Anusapati—kejutan, ketidakpercayaan, lalu sesuatu yang lebih gelap yang perlahan muncul ke permukaan. Namun, kali ini … aku tidak mundur.Tanganku terangkat perlahan, menyentuh perutku sendiri—

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   23. Akhirnya Tumbang

    Begitu tubuhku berbalik, tubuh Ortega luruh perlahan. Tubuhnya jatuh ke bawah, terkulai lemas. Hal ini membuatku terkejut, pria yang dingin dan dominan ternyata bisa tumbang juga.Untuk sesaat otakku berhenti berpikir hingga akhirnya tersadar saat kudengar langkah kaki mendekat. Gegas aku meraih tu

    last updateÚltima atualização : 2026-03-22
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   24. Ada apa dengan jantungku

    "Jangan terlalu dipikirkan apa yang aku lakukan." Suara ini membuyarkan lamunan ku dan kepalaku langsung menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya aku saat mendapati kedua mata biru itu terbuka dengan senyum khas terukir di wajah tampan Ortega. "Kau sudah sadar, Ortega?"Tidak kusadari panggilan

    last updateÚltima atualização : 2026-03-22
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   20. Apa Lagi Ini

    Tanpa bersuara, Ranggalawe terus menatap semua yang hadir. Auranya dapat kurasakan begitu kuat seakan ingin menelan semua yang ada. Aku masih diam menunggu. Perlahan tapi pasti nyali semua yang hadir menghilang, aku termangu. "Baiklah, kami pergi, tetapi ingat satu hal. Satu hari kami datang menun

    last updateÚltima atualização : 2026-03-21
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   19. Menghilang

    Apa yang terjadi dengan suaraku, kemana perginya? berbagai pertanyaan muncul di otakku. Baru saja kuungkap suaraku, kini sudah menghilang lagi. Aku menekan leherku dan melihat ke arah gelas yang tadi sempat kureguk airnya. Lalu melihat ke arah Siska yang duduk di samping kananku.Tatapanku membawa

    last updateÚltima atualização : 2026-03-21
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status