Mag-log inSial, wanita tua itu mulai berani menekanku. Apakah dia lupa bahwa tanpa ku tidak akan ada status permaisuri yang tersemat di belakang namanya. Sungguh ini bukan seperti inginku saat pertama kali memasuki istana Balai Kambang, apalagi saat ini suami yang seharusnya membelaku justru membawaku dalam jurang."Kau harus ingat semua pesan dari ibu suri."Aku menatap jengah pada suamiku itu, apakah selama ini dia tidak merasa pusat perkara ada di dirinya? Aku sama sekali tidak mengerti, akhirnya kubiarkan saja pria tersebut duduk di kursi itu. Aku berdiri, bersiap untuk melangkah meninggalkan Anusapati. Namun, dengan cepat lengannya bergerak meraih pergelangan tanganku dan menyentaknya hingga aku terduduk di pahanya."Lihat aku, Gendhis!"Sesuai perintahnya, kuangkat kepalaku dan menatap Anusapati tanpa tanya.Lelakiku bungkam, hanya tatapannya yang mulai melembut. Ini justru sinyal buatku, pikiranku melayang bukan karena terbawa oleh kelembutannya itu melainkan ketakutan akan munculnya
Suara lantang sang Senopati seketika menghentikan gerakan Anusapati hingga membuat tubuhku terpental pelan. Dapat kudengar dengusan lirih dari Anusapati, aku menunduk.Ternyata, lelakiku hanya sesaat menahan emosinya selanjutnya dia kembali ke mode takut. Cih, apapun keadaannya jika terdesak pasti kembali menjadi pengecut."Apa yang Paman inginkan, ini adalah rumah istriku. Mau aku gimanakan juga dia adalah kekuasaanku," ucap Anusapati.Kalimat itu membuatku heran, darimana dia mendapatkan keberanian sedemikian rupa. Meskipun suamiku membelaku, aku tetap tidak bersuara. Hanya menunggu kisah selanjutnya dari mereka berdua." Aku masih di sini, mana kesopananmu, Pangeran?" Angin terasa bertiup sedikit lebih kencang dari sebelumnya, bahkan aroma masakan di depanku menguap tanpa sisa. Aku terpaku menatap wajah Ranggalawe-dingin dan datar. Namun, sekilas kulihat bibirnya melengkung tipis sangat ringan."Coba kau tanya istrimu itu, Pangeran?""Apalagi yang aku tanyakan, dia adalah kewaji
Akhirnya senopati itu duduk satu meja denganku, dia ingin ikut aku sarapan dan bodohnya dayangku justru mempersilakan pria itu untuk sarapan bersamaku. Aku melotot ringan pada pelayanku itu.'Maaf, Putri,' kata pelayanku dengan nada sangat rendah.Aku hanya menyeringai tipis, "Tinggalkan kami!"Dayang Sani merendahkan tubuhnya menyamping, sikap hormat ala pelayan yang pamit undur diri pada majikannya. Aku mengangguk."Silakan dimulai sarapannya, Tuan Ranggalawe," ucap ku sedikit canggung.Dia tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya. Berjalan menuju ke arahku, berdiri diam tepat di samping kepalaku. Kemudian membungkuk hingga hembusan napasnya menyentuh ujung kepalaku.Aroma khas ini seperti pernah kucium di dunia modern, seperti milik Samuel Ortega. Aku menggelang, menolak indera penciumanku."Apa kau melupakan kisah kita malam itu, Putri?"Kalimat mematikan itu keluar, jantungku seketika berhenti. Aku mendongak, menatap pada sosok dingin dan sungguh ini di luar dugaanku. Kedua ma
"Nona, kau tidak apa?"Saat kubuka kedua mataku, pertama yang kulihat adalah wajah Siska. Wanita itu terlihat sangat khawatir dengan keadaanku. Kutatap dia tanpa mengeluarkan suara, lalu kualihkan pandanganku ke tempat lain."Aku dimana?"Telapak tangan Siska bergerak menempel pada dahi ku, aku menggeleng ringan. Tempat ini sangat aku kenal, tetapi bukan di kamarku sendiri melainkan di kamar Ortega. Rupanya aku sudah dibawa ke rumahnya."Dimana pria itu, Sis?"Siska mengerutkan dahinya, bibirnya tertutup rapat. Namun, sangat jelas di sorot matanya bahwa dia terlihat bingung."Nona, pria mana lagi yang kau maksud?""Bukankah ini rumah Samuel Ortega, lalu dimana dia sekarang?"Siska menggelengkan kepalanya dengan bahu terangkat membuatku meneleng ke kiri. Aneh, bagaimana bisa aku sudah berada di rumah Samuel Ortega tetapi dia tidak ada. "Apa yang terjadi beberapa menit yang lalu, Sis. Tolong jelaskan secara detail?"Siska menghembuskan napas panjang, tetapi bibirnya tetap bungkam. Sika
'Selamat untuk Putri, pintu portal masuk sudah terbuka sepenuhnya!'Seketika aku terdiam, sistem ini tiba-tiba masuk memberiku informasi di saat yang sangat krusial. Beberapa pria berseragam datang tepat saat aku dalam ancaman senjata Sagara.Sementara Ortega masih berdiri tegap di depan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada tanpa senyum, bahkan tatapannya pun sama sekali tidak berubah-dingin dan datar.Beberapa pria berseragam itu datang bersama Siska, asistenku yang sedikit Somplak cara berpikirnya. Sungguh aku tidak mengerti dengan pola pikir ya, tetapi kulihat ada senyum kemenangan yang tersirat di wajahnya.Kualihkan pandanganku pada dua wanita yang berdiri tak jauh dari Sagara-Nyonya Lauren dan anaknya. Mereka berdua menjadi saling peluk, menatapku dalam tanpa tanya."Kami dari pihak berwajib, datang ke villa Tuan Sagara dengan surat penangkapan resmi. Segera lepaskan Nona Gendhis!""Jangan mendekat jika ingin nyawa wanita ini selamat! Atas tuduhan apa kalian menangkap?" t
Akhirnya apa yang aku tunggu datang juga, kabar bahwa nona Gendhis sadar dari koma selama pasca kecelakaan itu. Gadis pewaris utama group Wirabumi mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari villa dandalion, anehnya hanya Nona saja yang terluka sedangkan Tuan Sagara sama sekali tidak terluka."Bagaimana kondisi Anda, Nona?" tanyaku saat sudah berada di depannya."Aku baik, kamu?""Selama ini dalam keadaan baik meskipun sedikit drama," jawabku sedikit memberinya clue.Kulihat dahi atasanku berkerut, meskipun dia bisu dan selalu menggunakan bahasa isyarat otaknya tidak bisu. Bahkan terlalu peka untuk satu kata yang terselip."Aku tidak bisu, Sis. Jujurlah, apa yang terjadi selama aku koma. Termasuk sikap Sagara pada kalian?"Saat itu juga aku melonjak kaget bercampur bahagia, tanpa sadar bibirku bersuara lantang. Berteriak, lalu saat pandanganku bertemu dengan mata hazel itu seketika kubekap mulutku sendiri sambil membungkuk meminta maaf."Ingat ini rahasia, tugasmu selidiki seluru
Apa yang aku pesankan telah sampai, setelan pakaian santai datang dengan ukuran yang sesuai yang diucapkan Ranggalawe. Segera kubawa pria itu ke ruang ganti khusus dalam ruanganku.Beberapa saat pria itu keluar membuatku menatapnya tidak percaya, sosoknya terlihat begitu wibawa dan sangat tampan. M
Kutatap lebih intens pada semua pemegang saham satu per satu, masih terlihat jelas wajah kaget dan aku hanya menyeringai tipis. Asistenku pun mengulum senyum sinis."Bagaimana?" Suara asistenku mengalun penuh ketegasan. "Kita lakukan polling saja, siapa yang ikut di kubu Nona Gendhis?" lanjutnya.A
Aku mendengus kasar, ingin rasanya bersuara lantang untuk mengusir wanita jalang itu. Wanita yang kuperkirakan adalah pembunuh ibu pemilik tubuh dan merebut semua perhatian ayahku. "Aku tidak peduli apa yang telah kau perbuat di masa lalu, saat ini perusahaan tidak menginginkan seorang pelakor," u
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan Tuan Anton, "Semua bisa diatur asal kita lihat dulu sejauh mana keberhasilan dengan pemikiran saya. Yang utama kalian yakin dulu, baru kita jalankan program ini. Bagaimana?"Secara serempak 75% yang hadir mengikuti resume yang aku ajukan, bahkan ada yang investas







