INICIAR SESIÓNSunyi itu belum sepenuhnya reda, ketika sesuatu berubah. Bukan di sekitar ku, melainkan pada Ranggalawe. Aku bisa merasakannya. Cara dia menatap dan menyentuh, tidak lagi sama.Bukan sekadar memperhatikan. Ini lebih pada cara dia mengawasi. Seolah ada sesuatu yang kini perlu dia jaga dengan sangat hati-hati.Dan sesuatu itu ada di dalam diriku. Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri. Namun, sebelum aku sempat berkata apa pun, Ranggalawe sudah bergerak lebih dulu.Ia berdiri. Lalu, tanpa banyak bicara, tangannya kembali terulur. Kali ini bukan ke bahuku, melainkan ke pergelangan tanganku. Genggamannya hangat dan mantap, sangat alami.“Ayo,” ucapnya singkat.Aku mengernyit. “Ke mana?”“Kau butuh istirahat.”Nada itu tidak tinggi. Justru pelan, tetapi tidak memberiku ruang untuk menolak. Aku menatapnya, mencoba membaca maksud di balik sikapnya yang tiba-tiba berubah ini.“Kau terdengar seperti memerintah,” sindirku pelan.Biasanya dia akan membalas dengan dingin. Atau setidakn
“Dua jiwa… satu tubuh.”Kalimat itu masih menggantung di kepalaku.Berat.Menghantam tanpa ampun.Aku menarik napas, tapi terasa sesak. Seolah udara di ruangan ini tidak lagi cukup untuk paru-paruku. Tanganku masih berada di perutku, tepat di bawah sentuhan Ranggalawe yang perlahan menjauh. Seolah ia sadar, batas itu kini bukan lagi sekadar fisik.Melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit. Aku menunduk. Menatap perutku sendiri. Hanya sesaat, lalu kembali menatap wajah itu, pria yang sudah membuatku berkelana dalam mimpi. “Siapa kau?” bisikku lirih. Bukan pada diriku. Bukan pula untuk Ranggalawe.Tapi pada kehidupan kecil yang kini tumbuh di dalamku. Seketika, bayangan itu datang.Sentuhan yang berbeda dan sama-sama nyata.Anusapati—kasar, penuh kuasa, menyentuhku seolah aku adalah miliknya sejak awal. Tidak memberi ruang. Tidak memberi pilihan. Lalu—Samuel, dia lembut, hangat.Seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimiliki. Jantungku berdebar lebih keras.Dua pria.Dua ra
Duniaku berputar saat kata itu kembali kudengar. Satu kata yang mampu melambungkan anganku dengan ketegasan yang begitu mirip akan sosok Samuel Ortega. Iya, pria itu sedikit banyak telah mempengaruhi hidupku. Jiwanya yang tenang dan bergerak tanpa rencana, tetapi mampu menguasai seluruh masalahku tanpa sisa. Tubuhku masih terasa lemah. Namun, sebelum lututku benar-benar menyerah, sebuah tangan lebih dulu menahan lenganku.Hangat.Kokoh. Dan … hati-hati.Aku sedikit terkejut.Ranggalawe.Biasanya sentuhannya tegas, hampir selalu mengandung kontrol—seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga jaraknya. Tapi kali ini … berbeda. Sentuhan ini lebih mirip pada sosok itu—Samuel Ortega. Ranggalawe berbeda, caranya menyentuhku sangat jauh berbeda. Netapi, kali ini sepertinya buka miliknya. Dia tidak mencengkeram lenganku lalu menopang lembut. “Duduklah,” ucapnya pelan.Bukan perintah. Kalimatnya sangat lembut dan dominan, tetapi ini lebih seperti permintaan yang disertai cinta kasih tulus.
Aku menarik napas panjang. Dalam. Menahan semua gemuruh yang hampir pecah di dadaku.“Cukup.”Suaraku tidak keras, tapi cukup untuk memotong ketegangan di antara kami. Kedua pria itu terdiam—untuk sesaat—seolah memberi ruang pada kata yang baru saja keluar dari bibirku.Aku membuka mata, menatap lurus ke arah Anusapati.“Pergi.”Hanya satu kata. Namun kali ini, tidak ada keraguan di dalamnya.Sorot mata Anusapati berubah. Ada sesuatu yang retak di sana—amarah, keterkejutan, mungkin juga luka yang tak sempat ia sembunyikan. Tapi aku tidak lagi goyah.“Aku tidak akan ikut denganmu,” lanjutku, lebih tenang. “Apa pun yang kau janjikan… sudah terlambat.”Rahangnya mengeras. “Gendhis—”“Aku sudah memilih,” potongku.Meski, jauh di dalam hati… aku tahu pilihanku belum sepenuhnya jelas.Di sampingku, Ranggalawe bergerak sedikit. Kehadirannya terasa—tenang, kokoh, seperti tembok yang tak mudah runtuh. Tangannya kembali menyentuh bahuku, bukan menahan, tapi seolah memastikan aku tidak berdiri s
Dia bergeming, masih menatapku penuh tanya. Hingga akhirnya kalimat itu terucap, jelas dan singkat. “Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?”Nada itu tajam.Penuh tuduhan.Membuatku menutup mata sesaat. Anusapati. Mantan suamiku.Aku menatap lurus ke depan. Ke arah pria yang dulu pernah menjadi pusat hidupku. Kini … hanya bagian dari masa lalu.“Tidak ada yang kami sembunyikan,” ucapku tenang.Tatapan Anusapati menajam. “Jangan bohong, Gendhis.”Aku tidak menghindar. Tidak juga menunduk seperti dulu. Sebaliknya, aku menahan tatapannya—mantap, tanpa ragu.Ada jeda sejenak. Cukup untuk membuat udara di sekitar kami terasa lebih berat.Lalu, tanpa berputar-putar lagi, aku berkata, “Aku hamil.”Sunyi. Benar-benar sunyi.Bahkan angin seolah berhenti berembus. Aku bisa melihat perubahan itu di wajah Anusapati—kejutan, ketidakpercayaan, lalu sesuatu yang lebih gelap yang perlahan muncul ke permukaan. Namun, kali ini … aku tidak mundur.Tanganku terangkat perlahan, menyentuh perutku sendiri—
Aku terdiam cukup lama, menunggu jawaban dari pria ini. Hening, tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.Ada sesuatu yang sejak tadi mengusik pikiranku—lebih dalam dari sekadar sidang, lebih tajam dari sekadar bisikan istana. Dan kali ini … aku tidak ingin menghindarinya lagi.Langkah itu sangat jelas siapa pemiliknya. Langkah yang semakin dekat, tetapi terhenti di sana. Di balik pilar yang ke sekian, dan cukup terjangkau untuk pria itu melihat seluruh aktifitasku di sini, bersama pamannya. “Ranggalawe,” panggilku pelan, namun nadanya berbeda. Lebih tegas.Ia menatapku, menyadari perubahan itu.“Ada yang ingin kutanyakan.”Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil. “Tanyakan.”Aku menarik napas panjang. Lalu langsung menatap matanya. “Dunia modern itu.”Hening.Untuk pertama kalinya sejak ia duduk di hadapanku, sorot mata Ranggalawe berubah. Tipis.Hampir tak terlihat. Namun, aku menangkapnya. "Apakah kau juga di sana?" “Kau tahu tentang itu, bukan?” lanjutku, kal
'Selamat pintu portal melebar hingga 75%!'Aku seketika tersentak, berita ini bagai angin segar menerpa wajahku yang lelah. Satu keajaiban datang secara bertubi masih dalam satu waktu. Ini keberuntungan atau kebuntungan?Peristiwa pertentangan dan perebutan justru membawa manfaat buatku, sungguh di
Angin dingin menembus jantungku, suara yang mengudara sampai ke telingaku bak pisau tajam yang menggores sisi hatiku yang lain. Untaian kisah di masa kerajaan memutar kembali, suara itu, bahu itu bahkan aroma yang menusuk hidungku sangat familiar. Mungkinkah?"Jangan sampai berhenti bernapas, Putri
Apa yang aku pesankan telah sampai, setelan pakaian santai datang dengan ukuran yang sesuai yang diucapkan Ranggalawe. Segera kubawa pria itu ke ruang ganti khusus dalam ruanganku.Beberapa saat pria itu keluar membuatku menatapnya tidak percaya, sosoknya terlihat begitu wibawa dan sangat tampan. M
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan Tuan Anton, "Semua bisa diatur asal kita lihat dulu sejauh mana keberhasilan dengan pemikiran saya. Yang utama kalian yakin dulu, baru kita jalankan program ini. Bagaimana?"Secara serempak 75% yang hadir mengikuti resume yang aku ajukan, bahkan ada yang investas







