Share

19. Menghilang

Author: Shaveera
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-26 21:19:19

Apa yang terjadi dengan suaraku, kemana perginya? berbagai pertanyaan muncul di otakku. Baru saja kuungkap suaraku, kini sudah menghilang lagi. Aku menekan leherku dan melihat ke arah gelas yang tadi sempat kureguk airnya. Lalu melihat ke arah Siska yang duduk di samping kananku.

Tatapanku membawa arti siapa yang memberiku air dalam gelas itu tadi. Siska diam tidak ada reaksi berlebih, tetapi jarinya sibuk mengetik di gawai hitam miliknya. Beberapa saat aku merasakan getaran di saku celanaku, s
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   75.

    Sunyi itu belum sepenuhnya reda, ketika sesuatu berubah. Bukan di sekitar ku, melainkan pada Ranggalawe. Aku bisa merasakannya. Cara dia menatap dan menyentuh, tidak lagi sama.Bukan sekadar memperhatikan. Ini lebih pada cara dia mengawasi. Seolah ada sesuatu yang kini perlu dia jaga dengan sangat hati-hati.Dan sesuatu itu ada di dalam diriku. Aku menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri. Namun, sebelum aku sempat berkata apa pun, Ranggalawe sudah bergerak lebih dulu.Ia berdiri. Lalu, tanpa banyak bicara, tangannya kembali terulur. Kali ini bukan ke bahuku, melainkan ke pergelangan tanganku. Genggamannya hangat dan mantap, sangat alami.“Ayo,” ucapnya singkat.Aku mengernyit. “Ke mana?”“Kau butuh istirahat.”Nada itu tidak tinggi. Justru pelan, tetapi tidak memberiku ruang untuk menolak. Aku menatapnya, mencoba membaca maksud di balik sikapnya yang tiba-tiba berubah ini.“Kau terdengar seperti memerintah,” sindirku pelan.Biasanya dia akan membalas dengan dingin. Atau setidakn

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   74.

    “Dua jiwa… satu tubuh.”Kalimat itu masih menggantung di kepalaku.Berat.Menghantam tanpa ampun.Aku menarik napas, tapi terasa sesak. Seolah udara di ruangan ini tidak lagi cukup untuk paru-paruku. Tanganku masih berada di perutku, tepat di bawah sentuhan Ranggalawe yang perlahan menjauh. Seolah ia sadar, batas itu kini bukan lagi sekadar fisik.Melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit. Aku menunduk. Menatap perutku sendiri. Hanya sesaat, lalu kembali menatap wajah itu, pria yang sudah membuatku berkelana dalam mimpi. “Siapa kau?” bisikku lirih. Bukan pada diriku. Bukan pula untuk Ranggalawe.Tapi pada kehidupan kecil yang kini tumbuh di dalamku. Seketika, bayangan itu datang.Sentuhan yang berbeda dan sama-sama nyata.Anusapati—kasar, penuh kuasa, menyentuhku seolah aku adalah miliknya sejak awal. Tidak memberi ruang. Tidak memberi pilihan. Lalu—Samuel, dia lembut, hangat.Seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimiliki. Jantungku berdebar lebih keras.Dua pria.Dua ra

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   73.

    Duniaku berputar saat kata itu kembali kudengar. Satu kata yang mampu melambungkan anganku dengan ketegasan yang begitu mirip akan sosok Samuel Ortega. Iya, pria itu sedikit banyak telah mempengaruhi hidupku. Jiwanya yang tenang dan bergerak tanpa rencana, tetapi mampu menguasai seluruh masalahku tanpa sisa. Tubuhku masih terasa lemah. Namun, sebelum lututku benar-benar menyerah, sebuah tangan lebih dulu menahan lenganku.Hangat.Kokoh. Dan … hati-hati.Aku sedikit terkejut.Ranggalawe.Biasanya sentuhannya tegas, hampir selalu mengandung kontrol—seolah aku adalah sesuatu yang harus dijaga jaraknya. Tapi kali ini … berbeda. Sentuhan ini lebih mirip pada sosok itu—Samuel Ortega. Ranggalawe berbeda, caranya menyentuhku sangat jauh berbeda. Netapi, kali ini sepertinya buka miliknya. Dia tidak mencengkeram lenganku lalu menopang lembut. “Duduklah,” ucapnya pelan.Bukan perintah. Kalimatnya sangat lembut dan dominan, tetapi ini lebih seperti permintaan yang disertai cinta kasih tulus.

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   72.

    Aku menarik napas panjang. Dalam. Menahan semua gemuruh yang hampir pecah di dadaku.“Cukup.”Suaraku tidak keras, tapi cukup untuk memotong ketegangan di antara kami. Kedua pria itu terdiam—untuk sesaat—seolah memberi ruang pada kata yang baru saja keluar dari bibirku.Aku membuka mata, menatap lurus ke arah Anusapati.“Pergi.”Hanya satu kata. Namun kali ini, tidak ada keraguan di dalamnya.Sorot mata Anusapati berubah. Ada sesuatu yang retak di sana—amarah, keterkejutan, mungkin juga luka yang tak sempat ia sembunyikan. Tapi aku tidak lagi goyah.“Aku tidak akan ikut denganmu,” lanjutku, lebih tenang. “Apa pun yang kau janjikan… sudah terlambat.”Rahangnya mengeras. “Gendhis—”“Aku sudah memilih,” potongku.Meski, jauh di dalam hati… aku tahu pilihanku belum sepenuhnya jelas.Di sampingku, Ranggalawe bergerak sedikit. Kehadirannya terasa—tenang, kokoh, seperti tembok yang tak mudah runtuh. Tangannya kembali menyentuh bahuku, bukan menahan, tapi seolah memastikan aku tidak berdiri s

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   71.

    Dia bergeming, masih menatapku penuh tanya. Hingga akhirnya kalimat itu terucap, jelas dan singkat. “Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?”Nada itu tajam.Penuh tuduhan.Membuatku menutup mata sesaat. Anusapati. Mantan suamiku.Aku menatap lurus ke depan. Ke arah pria yang dulu pernah menjadi pusat hidupku. Kini … hanya bagian dari masa lalu.“Tidak ada yang kami sembunyikan,” ucapku tenang.Tatapan Anusapati menajam. “Jangan bohong, Gendhis.”Aku tidak menghindar. Tidak juga menunduk seperti dulu. Sebaliknya, aku menahan tatapannya—mantap, tanpa ragu.Ada jeda sejenak. Cukup untuk membuat udara di sekitar kami terasa lebih berat.Lalu, tanpa berputar-putar lagi, aku berkata, “Aku hamil.”Sunyi. Benar-benar sunyi.Bahkan angin seolah berhenti berembus. Aku bisa melihat perubahan itu di wajah Anusapati—kejutan, ketidakpercayaan, lalu sesuatu yang lebih gelap yang perlahan muncul ke permukaan. Namun, kali ini … aku tidak mundur.Tanganku terangkat perlahan, menyentuh perutku sendiri—

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   70.

    Aku terdiam cukup lama, menunggu jawaban dari pria ini. Hening, tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.Ada sesuatu yang sejak tadi mengusik pikiranku—lebih dalam dari sekadar sidang, lebih tajam dari sekadar bisikan istana. Dan kali ini … aku tidak ingin menghindarinya lagi.Langkah itu sangat jelas siapa pemiliknya. Langkah yang semakin dekat, tetapi terhenti di sana. Di balik pilar yang ke sekian, dan cukup terjangkau untuk pria itu melihat seluruh aktifitasku di sini, bersama pamannya. “Ranggalawe,” panggilku pelan, namun nadanya berbeda. Lebih tegas.Ia menatapku, menyadari perubahan itu.“Ada yang ingin kutanyakan.”Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil. “Tanyakan.”Aku menarik napas panjang. Lalu langsung menatap matanya. “Dunia modern itu.”Hening.Untuk pertama kalinya sejak ia duduk di hadapanku, sorot mata Ranggalawe berubah. Tipis.Hampir tak terlihat. Namun, aku menangkapnya. "Apakah kau juga di sana?" “Kau tahu tentang itu, bukan?” lanjutku, kal

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   28. Satu Keyakinan

    Tanpa berkata lagi aku bangkit dari kursi itu, lalu berjalan menuju ke mej a kecil di sudut ruangan. Berdiri menatap ke luar di mana terlihat kesibukan kota yang begitu padat."Apa tujuanmu mengundang aku dan Siska?" "Akhirnya dapat kudengar dengan jelas suaramu, Sayang," ujar Sagara sesaat sebelu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   29. Akhirnya Sedikit Beban Hilang

    Setelah urusanku dengan Siska selesai, aku pun keluar dari cafe tersebut, Langkahku y ang awalnya semangat tiba-tiba harus berhenti di tengah jalan. Dari jauh kulihat sosok Ranggalawe berjalan menuju ke cafe Ini juga. Rasa penasaranku muncul, maka kuikuti segera langkahnya dalam senyap.Pria itu te

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   27. Sesuatu yang membuatku pilu

    Seluruh duniaku seketika bungkam, sungguh satu kenyataan yang sulit kupahami. Apa yang ada padaku hingga mereka saling berebut untuk mendapatkan perhatianmu kembali. Dulu, saat masih bisu tidak satu pun pria yang mendekat bahkan mereka sering menghina kekuranganku itu meskipun ada aku berusaha menu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   25. terbangun di tempat berbeda

    Cukup lama aku tertidur hingga suara kicau burung terdengar membangunkan aku. Sesaat kulihat sekitar, ada yang berbeda dengan lingkungan sekitar. Kuedarkan pandanganku ke sekitar, ada yang aneh."Kau sudah bangun, Putri. Syukurlah." Suara ini mengapa sangat familiar, sebutan putri membuat daku ber

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status