Share

Terjerat Cinta Kakak Ipar
Terjerat Cinta Kakak Ipar
Penulis: Cacavip

1). Lamaran Mendadak

"Aku nggak mau nikah sama Mas Juan, Ayah!" seru Senja dengan suara bergetar. Gadis itu menatap orang tuanya nanar. "Dia kakak ipar aku, mana mungkin aku menikah dengannya?"

Pasangan paruh baya itu saling melempar tatapan gelisah. Sebelum Senja sempat melontarkan protes lebih lanjut, Juan tiba-tiba bersuara.

"Jadi kamu nolak gitu aja lamaran Mas tanpa mau mikirin dulu semuanya, Nja?" tanyanya. Pria itu duduk persis di depan Senja. "Ini amanat dari kakak kamu. Dia bakalan sedih kalau amanatnya enggak kita lakuin."

Senja bergerak tak nyaman di kursinya mendengar kakak sekaligus istri Juan yang meninggal tiga bulan yang lalu dibawa-bawa dalam pembicaraan mereka.

Juan memang sudah menjelaskan bahwa lamaran itu dilandasi amanat dari Mentari, kakak yang paling Senja sayangi. Alih-alih menentang, kedua orang tua Senja justru menerima dengan baik niat tersebut karena menurut mereka turun ranjang bukan sesuatu yang buruk.

"Terus Mas pikir dengan kita menikah, Kakak aku nggak bakalan sedih gitu?" tanya Senja sinis, masih bersikeras menolak ajakan Juan yang menurutnya gila.

"Seikhlas apa pun seorang perempuan membiarkan suaminya menikah lagi, rasa sedih pasti ada. Harusnya Mas mengerti hal itu," kata Senja sambil menatap tajam pada Juan yang terdiam dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Senja." Ayahnya menegur.

Tapi Senja sudah terlalu kalut untuk mendengar. Ia masih menatap Juan lamat-lamat, menunjukkan keseriusan yang tak terbantah.

"Aku nggak cinta sama Mas dan harusnya Mas Juan nggak maksa!" Senja menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Kalau Mas Juan mau nikah lagi karena butuh sosok Ibu buat anak-anak, di luaran sana masih banyak perempuan yang bisa Mas nikahin dan—"

"Nja, kok kamu ngomongnya gitu sih, Nak?" Kali ini, sang bunda ikut buka suara, menyela segala bentuk protes Senja. "Di luaran sana memang banyak perempuan yang bisa Juan nikahi, tapi kakak kamu maunya kamu yang nikah sama suaminya. Kamu harus kabulin apa yang kakak kamu minta karena selama ini dia selalu kasih apa yang kamu mau."

Senja terdiam mendengar kalimat panjang ibunya.

"Kamu harus tahu balas budi, Senja." Ayahnya ikut menimpali. "Kamu dibesarkan di keluarga ini dengan penuh kasih sayang meskipun bukan siapa-siapa. Kamu hanya anak angkat, seharusnya kamu mengerti posisimu."

DEG!

Jantung Senja mencelos mendengar kalimat tajam ayahnya. Sepasang matanya langsung berkaca-kaca, tak menduga posisinya sebagai anak angkat di rumah ini menjadikan dirinya tak punya hak untuk berpendapat.

"Kakak kamu yang dulu bawa kamu ke sini. Dia sayangin kamu seperti adik sendiri. Seharusnya ketika dia minta sesuatu sama kamu, kamu kabulin. Ini bukan cuman masalah Juan, tapi Mentari nggak mau ada orang lain yang masuk ke dalam hidup anak-anaknya. Paham kamu?"

Senja mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya dengan gusar. Napasnya mulai terdengar patah-patah. Gadis itu merasa tertekan karena didesak dari berbagai arah.

"Cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, Senja," ucap sang bunda—membujuk dengan suara dan kalimat yang lebih lembut. "Tinggal serumah sama Juan dan berinteraksi setiap hari, kamu pasti bisa jatuh cinta dan perlahan kamu pasti bahagia sama Juan. Percaya sama bunda."

Masalahnya, Senja sudah punya kekasih yang sangat dicintainya. Tidak akan mudah baginya untuk berpaling, apalagi pada kakak iparnya sendiri.

"Enggak. Senja tetap nggak bisa menikah dengan Mas Juan," putus Senja bersikukuh.

Gadis 22 tahun itu mengepalkan tangan, berusaha menekan perasaan kesal, kecewa, juga sedih yang campur aduk. Meskipun hubungan dengan kekasihnya tidak direstui, tapi Senja tetap tidak mau meninggalkannya.

Senja berdiri dari kursinya, hendak meninggalkan pembicaraan yang belum usai itu.

Tapi baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba suasana di ruang keluarga itu mendadak panik.

"Ayah!"

"Ayah?!"

Mendengar suara ibu dan Juan yang saling bersahutan, juga suara kursi yang berderak ricuh membuat Senja segera berbalik. Matanya membulat sempurna kala melihat ayahnya memegangi dada dengan raut kesakitan.

Senja berlari dan menghampiri ayahnya yang tergolek di kursi. "Ayah, tolong jangan kaya gini Ayah..." ucap Senja dengan suara bergetar. Pipinya sudah basah lagi oleh air mata. "Jangan bikin aku khawatir."

"Kamu sayang sama ayah?" Pria paruh baya itu bertanya dengan suara serak.

"Sayang," ucap Senja cepat, sambil mengangguk. "Aku sayang sama Ayah dan Bunda, bahkan—"

"Terima lamaran Juan. Jadilah istrinya dan jaga kedua cucu Ayah kalau kamu memang sayang sama Ayah dan Bunda."

"Ayah..." Senja menghela napas panjang, merasa serba salah. "Aku—"

"Jangan egois, Senja," potong Juan, sengaja memotong ucapan Senja dengan raut wajah seriusnya. "Ini juga sulit untuk Mas, tapi Mas nurunin ego demi kebaikan bersama. Seharusnya kamu lakuin itu juga karena terus menolak hanya akan menyakiti semua orang. Kamu mau ayah kenapa-napa?"

"Bunda mohon sama kamu, Nja."

Senja terdiam dengan perasaan dilema. Tapi ia tahu tak akan bisa menyanggah lagi.

"Aku mau nikah sama Mas Juan. Aku akan berusaha buat jagain cucu Ayah sama Bunda di Bandung."

"Kamu serius?" tanya Juan yang membuat Senja memberikan tatapan tajamnya pada sang kakak ipar.

"Apa aku kelihatan bercan—"

Belum selesai bicara, ponsel di saku baju Senja lebih dulu berdering, mengalihkan atensi semua orang. Gadis itu segera mengambil benda pipih tersebut dengan tergesa.

Detik berikutnya, kedua mata Senja membulat setelah nama sang kekasih terpampang di layar. Alih-alih menjawab panggilan, yang dilakukan Senja justru diam dengan perasaan gelisah dan hal tersebut disadari Juan.

"Telepon dari siapa, Nja?"

Spontan mengangkat pandangan dengan perasaan yang kaget, Senja bertanya, "Hah?"

"Itu telepon dari siapa? Kenapa nggak diangkat?"

Senja menelan ludah gugup. Tangan yang memegang ponsel itu berkeringat dingin. Ia tak berani menatap ayah dan ibu yang menatapnya penasaran, apalagi Juan juga melemparkan tatapan tajam yang membuat Senja merasa terintimidasi. 

Tapi tidak mungkin ia menjawab dengan jujur. Orang tuanya bisa marah besar jika mengetahui kekasihnya lah yang menelepon. 

"A-aku..." 

Komen (19)
goodnovel comment avatar
Hamid Ahmad
senja anak angkat,,tapi kyak GK ikhlas ibu dan ayahnya masak harus balas budi
goodnovel comment avatar
Srie Rahayu
apalagi orang tua nya tidak setuju sama orang yang senja cintai
goodnovel comment avatar
Srie Rahayu
kasian senja, dia harus meninggalkan orang yang dia cintai karena dipaksa menikah dengan kakak ipar nya...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status