Share

Gelang Nenek

Author: Suharni
last update Huling Na-update: 2024-05-21 14:18:02

Selain mengabadikan momen, para wartawan juga mengajukan beberapa pertanyaan secara bertubi-tubi. Menuntut penjelasan kepada kami.

Sementara Yumi terlihat panik sekaligus tak suka. Dia berusaha untuk melarikan diri, tapi aku mencegahnya.

"Sekarang bukan waktunya untuk pergi. Bantu aku menyelesaikan masalah yang telah kita mulai sebelumnya," bisikku kepada Yumi.

"Apa kau sudah gila? Mengapa aku harus membantumu?"

Sepertinya Yumi tidak mau memahami situasiku kali ini. Aku harus membuatnya mengerti apapun yang terjadi.

"Teman-teman media, dengar... Malam ini, selain kami merayakan pesta ulang tahun pernikahan, kami pun akan mengumumkan hal penting yang lain. Yaitu tentang pertunanganku bersama gadis ini. Bukankah kalian selalu bertanya-tanya kapan aku memperkenalkan kekasihku? Kapan kami akan melangsungkan pernikahan, dan lain sebagaimana... Nah, pada kesempatan inilah aku secara resmi mengumumkan pertunangan kami berdua."

Mata Yumi semakin membeliak sempurnah ketika aku dengan percaya diri mengumumkan pertunangan di depan semua orang.

"Kau..."

"Tolong jangan dipotret lagi, dia masih belum terbiasa dengan kamera... Ayo Sayang, kita temui Papa dan Mama."

Aku tidak memberi kesempatan Yumi untuk bicara. Atau dia akan mengacaukan segalanya.

"Kak Yoga."

Nindia, gadis bar-bar yang tiap hari mengejarku. Selalu merayuku dengan berbagai macam ide.

Jujur saja, aku tidak menyukai gadis agresif seperti Nindia. Dia terlalu ekstrim untuk dijadikan istri.

Sekarang dia datang memprotesku atas pengumuman yang baru saja ku lakukan. Nindia merupakan salah satu tamu undangan kami malam ini.

"Kau tega sekali! Padahal kau tahu betul, selama ini aku selalu mengejarmu. Tapi kau... Kau benar-benar keterlaluan! Aku membencimu!"

Nindia mengataiku berapi-api. Sayang, aku tidak peduli pada ucapannya. Lagi pula, aku tidak sedang mengkhianati wanita itu. Kami tak memiliki hubungan apapun.

"Sayang, ayo kita pergi. Jangan pedulikan gadis itu. Dia hanya terobsesi padaku. Tentu kau tahu, hanya kau lah satu-satunya gadis yang ku cinta."

Mulut nakal ini, entah mengapa tiba-tiba mencium pipi Yumi. Hingga menimbulkan rona merah di wajahnya.

Bisa ku pastikan, bahwa itu bukan hanya karena malu, melainkan marah.

Ya, Yumi pasti marah padaku, karena lagi-lagi tanpa seizinnya, aku melayangkan kecupan singkat.

Setelah ini Yumi pasti akan menamparku.

"Kau..."

"Ayo kita temui Mama dan Papa." Sengaja aku membawa Yumi untuk bertemu Mama. Atau dia akan membuat keributan.

"Ma, Pa. Perkenalkan, ini Yumi. Kekasihku."

Setibanya kami, aku pun langsung memperkenalkan Yumi kepada kedua orang tuaku.

Aku bisa melihat senyuman merekah di bibir mama dan papa. Sepertinya mereka menyukai gadis ini. Tampaknya aku tidak salah memilih orang.

"Kemarilah." Bahkan Mama memeluk Yumi dengan hangatnya. Sungguh sambutan tak terduga.

"Mengapa baru datang sekarang? Kami sudah menunggumu cukup lama," ucap Mama dengan mata berbinar.

Seketika itu juga hatiku merasa bersalah kepada papa dan mama, karena telah menipu mereka. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, aku tak menemukan ide apapun untuk membungkam mulut orang-orang itu.

"Tante, sebenarnya aku..."

"Ah Ma, Pa. Sepertinya kami harus segera pergi dari sini. Yumi masih belum terbiasa dengan keramaian. Nanti kami akan kembali lagi setelah acara ini selesai."

Sebelum Yumi mengatakan yang sebenarnya, buru-buru aku mencegah gadis itu. Takut rahasiaku terbongkar. Bukan hanya aku yang malu nantinya, melainkan Papa dan Mama.

"Baiklah, sampai ketemu lagi, ya?"

Untungnya kali ini Mama tidak banyak tuntutan. Dia hanya membiarkan kami meninggalkan pesta itu.

"Yoga, jaga calon menantu Papa. Jangan sembarang memperlakukan dia," pesan Papa sebelum akhirnya kami meninggalkan mereka.

"Beres..."

Akhirnya aku membawa Yumi pergi dari pesta yang membosankan itu. Mengajaknya ke taman belakang rumah.

"Lepaskan aku!"

Plak!

Sudah ku duga, Yumi pasti akan menamparku begitu mendapat kesempatan. Namun,, tidak masalah. Yang penting Yumi tidak membuat keributan di pesta.

"Menjijikan!" serunya dengan tatapan marah.

"Apa maksudmu mengumumkan pertunangan kepada semua orang? Kau bahkan tak segan menciumku di depan umum. Apa kau tidak punya rasa malu?" imbuh Yumi berapi-api.

Aku tidak ingin membenarkan diri, tapi tidak juga mengatakan apa-apa. Aku sadar telah salah memperlakukan Yumi. Namun, yang aku lakukan barusan murni hanya ingin melindungi gadis itu dari incaran paparazi. Ya... meski sebagian besar demi menyelamatkan reputarisku di mata khalayak ramai.

"Satu lagi, bukankah sandiwara kita telah berakhir tadi pagi? Mengapa kau justru melanjutkannya? Kau bahkan memperburuk situasi. Apa yang harus aku lakukan jika orang-orang itu mengejarku?"

Yumi mencercaku secara bertubi-tubi. Aku paham, dia masih marah. Namun, aku bisa apa? Sementara di sana ada mama dan papa yang sewaktu-waktu bisa menjadi sasaran empuk paparazi.

Aku sangat paham cara kerja para pencari berita itu. Bahkan diantara mereka ada mata-mata dari saingan bisnis.

Biasa, dunia bisnis memang selalu seperti itu. Pasti akan menemukan saingan yang tak ingin kalah. Bersaing secara tak sehat.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa aku salah telah menyeret Yumi dalam masalahku. Sedangkan dia hanyalah gadis asing yang berniat membalas mantan pacarnya melalui bantuanku. Dia tidak berencana untuk melanjutkan akting kami.

Namun, siapa sangka bila aku justru semakin bergantung padanya.

"Aku mau pulang! Aku tidak ingin melihat wajahmu. Menyebalkan!"

Aku hanya diam mendengarkan Yumi. Sebab, membenarkan kemarahannya. Aku pun tak ingin membela diri. Menghadapi wanita yang sedang berapi-api sudah pasti akan berujung sia-sia. Ibarat mengisi air dalam kerangjang. Tak akan pernah penuh.

"Hei, kau mau kemana? Biar aku antar," ucapku, menawarkan bantuan.

"Tidak perlu! Aku tidak butuh bantuanmu," tolak Yumi.

Inilah alasan aku malas berkomitmen dengan wanita. Bila mereka marah, pasti maunya dirayu. Sementara aku tak suka melakukan hal memalukan itu.

Aku bukanlah tipe pria bermulut manis. Aku lebih suka langsung ke inti ketimbang harus basa-basi.

"Hei, kau mau kemana, Nak? Sudah mau pergi? Di luar masih banyak wartawan. Apa kau tidak keberatan bertemu mereka?"

Tiba-tiba mama datang menemui kami.

"Tante, aku..."

"Mama..."

Buru-buru aku menghampiri dua wanita beda generasi itu. Berniat tak memberi Yumi kesempatan untuk membuka mulutnya kepada mama. Atau mama akan menamparku lebih keras dari sebelumnya.

"Ma, mengapa kemari? Bukankah diluar masih banyak tamu? Mereka pasti mau berbincang-bincang sama Mama," ucapku, seolah tak terjadi apa-apa antara aku dan Yumi.

"Mama capek. Lebih baik Mama menemui calon menantu Mama yang cantik ini." Mama bahkan tak segan memuji kecantikan Yumi.

Ya, Yumi memang terlihat cukup cantik. Wajahnya yang oval oriental, persis seperti keturunan china. Belum lagi hidungnya yang mungil, tapi mancung. Bibir Yumi tipis, tapi padat. Berambut hitam lebat. Sementara mata gadis ini sangat bulat, serasi dengan alisnya yang terukir tebal alami. Tak ada sentulan cila sama sekali.

Untuk ukuran seorang wanita, fisik Yumi cukup sempurnah. Apa lagi bentuk tubuhnya yang tinggi ramping, seakan melengkapi kecantikan gadis tersebut.

Sayang, perangainya tak secantik wajahnya. Yumi memiliki sifat berani, lagi badas. Dan aku tak suka wanita jenis itu. Sialnya, takdir justru melibatkan kami berdua.

"Tante, ada yang ingin aku sampaikan kepada Tante."

Aku terkesiap ketika mendengar apa yang baru saja Yumi katakan.

"Apakah Yumi akan memberitahu Mama yang sebenarnya? Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Mungkin nanti, tapi tidak untuk saat ini. Mama pasti akan kecewa padaku. Terlebih lagi malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka. Aku tidak ingin merusak momen bahagia itu. Kalau bisa, biarkan aku egois sekali lagi," pikirku kala itu.

"Mama..."

"Sebelum kau memberitahuku apa itu, aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ikutlah denganku..."

Mama membawa pergi Yumi. Entah mau dibawa kemana gadis itu.

"Gawat, mengapa jadi seperti ini? Aku kan hanya bersandiwara, tapi mengapa jadi kacau. Sial!" seruku seorang diri.

Lalu aku menyusul Yumi dan Mama di dalam rumah. Ternyata Mama membawa gadis itu ke kamarnya.

"Yumi, lihatlah. Bukankah gelang ini sangat cantik?" tanya Mama kepada Yumi.

Aku mengintip mereka dari balik pintu kamar mama. Tak ingin mengganggu privasi mereka. Mungkin mama mau mengajak Yumi bicara sesama wanita.

"Wow, ini sangat cantik, Tante. Jika dilihat dari ukiran serta batu permata yang digunakan, seperti berusia cukup lama... enam puluh tahun?" tebak Yumi antusias.

"Kau benar, Nak. Bagaimana kau bisa tahu usia gelang ini?"

Aku juga penasaran bagaimana bisa Yumi tahu usia gelang Mama. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu. Apakah Yumi seorang peramal?

"Kebetulan aku berprofesi sebagai perancang perhiasan, Tante. Jadi, sedikit tahu tentang gelang itu."

Jadi, begitu rupanya. Yumi adalah seorang desainer perhiasan. Pantas saja dia tahu banyak tentang gelang Mama.

"Oh, begitu, ya."

Kemudian mama memasang gelang itu ke tangan Yumi.

"Wah, ternyata ukurannya pas di tanganmu... Cantik," ucap Mama sangat bahagia. Aku pun turut merasakan kebahagiaannya. Sudah lama aku tidak melihat senyuman itu di wajah Mama. Sepertinya aku harus berterimakasih kepada Yumi kali ini.

"Tante, ini..."

"Gelang ini untukmu, Nak."

Aku tak percaya ini, Mama memberikan gelang wasiat itu kepada Yumi yang baru saja ia temui. Padahal gelang itu pemberian mendiang nenek untuk mama sewaktu melangsungkan pernikahan.

katanya dulu Nenek sengaja memberi gelang itu kepada Mama sebagai hadiah mertua kepada menantunya. Apakah itu artinya Mama... Sial! Sepertinya sandiwara ini sudah terlalu jauh. Akan tetapi, bagaimana cara untuk menghentikannya? Sementara mama baru saja merasakan kebahagiaan setelah sekian lama.

"Ini gelang pemberian Nenek Yoga untukku sebagai hadiah mertua kepada menantunya. Karena sebentar lagi kau akan menjadi menantuku, maka gelang ini aku berikan padamu."

Oh Tuhan, sekali ini saja tolong bantu aku. Aku tak ingin membuat senyum bahagia di wajah mama seketika pudar. Namun, bagaimana caraku menghentikan Yumi? gadis itu pasti tak terima pada apa yang diberikan mama barusan.

"Maaf, Tante. Aku tidak bisa menerima gelang ini."

Sudah ku duga, Yumi pasti akan menolak gelang itu. Yumi memang sedikit bar-bar, tapi sepertinya dia tidak serakah.

"Tapi mengapa, Nak? Kau berhak memakai gelang ini. Kau adalah calon menantuku," kata Mama sekali lagi.

"Karena aku bukan kekasih Putra Anda, Tante. Hubungan kami tidak seperti yang dipamerkan kepada orang-orang barusan."

Hancur sudah harapan dan perasaan mama. Yumi telah mengakui segalanya. Senyuman yang tadinya merekah, mendadak sirna. Berubah dengan kemuraman serta kekecewaan.

"Tapi..."

"Maafkan aku, Tante. Aku tidak bisa berbohong lebih lama lagi."

Akhirnya Yumi meninggalkan mama yang patah hati tanpa menoleh ke belakang. Bahkan gadis itu tidak melirikku sama sekali.

"Mama!"

Dan akhirnya Mama jatuh pingsan.

"Mama, bangun, Ma. Tolong buka mata Mama," ucapku mulai ketakutan.

"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" Tak lama papa pun datang dengan perasaan cemas.

Akhirnya kami membaringkan mama ke atas tempat tidur. Sementara aku mengejar Yumi yang begitu tega menyakiti hati mama tanpa berpikir dua kali.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Cinta Milyader    Dekapan Hangat

    "Aku ingin menuntut balas Paman Hartanto." Ucapan itu ibarat jarum menusuk kalbu Yoga. Parasnya yang tampan mendadak suram."Apa maksudmu?" Kening pria itu mengernyit penasaran."Kau tidak akan mengerti." Aku tidak berani menatap mata suamiku. Nalusirku seolah menahan agar tidak memberitahunya."Kalau begitu beritahu aku agar aku mengerti. Jika ceritanya panjang, maka buat lebih singkat, padat, dan jelas. Kau bukan anak kecil yang tak pandai menyusun paragraf." Siapa sangka bila Yoga justru mengatakan banyak hal.Sontak aku berpaling, menatap dalam netra suamiku. Di sinilah aku bisa menangkap kesungguhannya. Yoga bisa dipercaya."Paman Hartanto adalah penyebab Ayah meninggal." Suaraku bergetar ketika memoriku tertuju kepada mendiang ayah.Semua peristiwa menyakitkan dulu, kembali menari-nari di pelupuk mata. Seolah tengah mengejek."Dia merebut semua yang kami miliki. Aset, rumah, mobil, perhiasan, hingga beberapa lahan hasil kerja keras ayah. Namun, yang tak kalah menyakitkan adalah.

  • Terjerat Cinta Milyader    Mintalah Bantuan Yoga

    "Apa?" Bahkan suaraku nyaris tercekat. Duaniaku seketika runtuh."Ibu dilecehkan?" Aku tak kuasa mendengar semua cerita Uti. Jika hanya berbicara soal harta, aku masih bisa merelakan. Namun, ini menyangkut ibu. Wanita yang telah melahirkanku. Bukankah aku tidak berguna sebagai anak?"Aku tahu kau pasti terkejut begitu mendengar ceritaku. Itulah sebabnya aku sempat mengurung niat untuk memberitahumu, tapi sepertinya kau berhak tahu. Walau bagaimanapun juga dia adalah ibumu.""Uti, apa kau yakin dengan apa yang ditemukan Papimu?" Aku berdiri, memegang kedua lengan Uti. Menatap wanita itu dengan derai air mata.Aku terkulai lemah ketika tahu kehormatan ibu dilecehkan. Apa yang harus aku katakan padanya nanti? Haruskan aku mempertanyakan kejadian memalukan itu?"Yumi, aku tahu kau terkejut mendengar ini. Bukan hanya kamu, aku dan papi juga masih belum percaya. Mengingat hubungan ayahmu dengannya. Pria itu menutup rapat cerita. Bahkan orang di sekitarnya pun tidak tahu apa-apa saja. Namun,

  • Terjerat Cinta Milyader    Fakta Baru

    Aku tidak ingat part mana melakukan kesalahan. Menurutku, mengunjungi ibu bukanlah sebuah dosa. Aku sungguh membutuhkan sandaran setelah melalui beberapa peristiwa menyesakkan dada."Apa maksudmu melanggar kontrak? Aku tidak mengerti.""Jelas saja kau tidak mengerti, karena kau tidak pernah memikirkan perjanjian kita. Kau hanya sibuk menyusun rencana balikan sama mantan!"Aku rasa kali ini Yoga sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal buruk tentangku. Sedangkan semalam aku sudah mengatakan, bahwa tidak ada hubungan apapun antara aku dan Aditya. Apa bercinta membuatnya hilang ingatan?"Yoga, aku rasa kau sudah melewati batas," ujarku masih menguasai diri."Aku tidak melakukan kesalahan apapun.""Kau--""Jika kau masih menemui ibu di sana tanpa sepengetahuanku, maka aku tidak akan segan-segan membatalkan semua perjanjian kita. Dan orang-orang pasar itu--""Cukup!"Aku sudah tak tahan lagi mendengar semua ocehan Yoga. Dia sudah terlalu jauh melangkah."Yoga, apa aku pernah mel

  • Terjerat Cinta Milyader    Anggap Kesalahan

    Tujuan pernikahan adalah membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, warohma. Setidaknya itulah salah satu ajaran agama yang kami anut.Tuhan sangat membenci perceraian. Pun mempermainkan pernikahan atas dasar kontrak. Manusia tidak boleh semena-mena memperlakukan sebuah hubungan sebagai simbol simbiosis mutualis.Selayaknya cerita drama korea ataupun china. Kisah kami hampir sama. Menikah secara kontrak, seolah mengenyampingkan perintah agama. Padahal sudah jelas tertera dalam kitab suci kami, bahwa tidak lengkap agama seseorang bila tidak menikah. Dalam hal ini yang berarti usia sudah mencapai baligh.Haruskah aku memperjelas urusan agama ini bersama Yoga? Bagaimana jika pria itu bertanya mengapa aku tidak mempersoalkan sedari awal?Mengapa setelah semua yang terjadi, aku justru berubah pikiran. Bagaimana jika Yoga mengira aku memanfaatkan dirinya. Atau hanya karena kami telah tidur bersama."Aakk--"Aku membekap mulutku setelah berteriak kencang. "Apa yang aku lakukan? Mengapa aku

  • Terjerat Cinta Milyader    Hasrat Otot Perut

    "Bukankah kau lebih suka dipaksa? Baiklah, aku akan memaksamu untuk bicara."Cup!Yoga membekap mulutku dengan kedua bibir tipisnya. Pria itu mencium, hingga membuatku terpaku."Aakk--"Harus ku akui, untuk sesaat aku terperangkap dalam dekapan Yoga. Ciuman itu serasa meniup ubun-ubun.Setelahnya kesadaranku kembali menyapa. Aku menggigit bibir pria itu hingga menyisakan luka.Yoga berdiri menarik diri. Akhirnya dadaku kembali lega. "Mengapa kau menggigitku?""Apa menurutmu aku harus diam saja ketika kau menindihku?" sarkasku tak terima."Kau--"Aku memalingkan wajah. Menggigit bibir bawah, tempat Yoga menciumnya. Sekali lagi deru jantungku kembali berdegup. Apakah aku telah jatuh cinta pada pria brengsek ini?Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Aku tidak boleh jadi perebut cinta wanita lain. Masih ada Mawar diantara kami.Wanita itu telah kembali. Mungkin sebentar lagi hubungan mereka berkembang. Sedang aku harus melanjutkan hidup seperti biasa.Untuk sesaat keheningan menyap

  • Terjerat Cinta Milyader    Yoga di Ujung Jalan

    Pukul lima sore aku menyelesaikan semua desai pesanan orang. Meski diterpa masalah, aku tetap profesional memperhatikan pekerjaan.Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi ibu. Lama tak bersua dengannya, membuatku rindu. Di sisi lain, aku ingin merasakan nikmatnya sambal pete buatan wanita yang telah melahirkanku itu.Aku masih belum siap bertemu Yoga. Walau bagaimanapun juga pria itu telah membuatku terluka.Dalam perjalanan menuju rumah ibu, ponselku terus berdering. Aku menepi untuk memastikan siapa yang menghubungiku."Yoga." Adalah suamiku, orang yang membuat perjalananku terhambat.Aku menolak panggilan itu. Namun, ponselku kembali berdering. Lagi-lagi aku tidak bersedia bicara dengannya. Aku berencana ingin menenangkan diri di kediangan ibu."Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai rumah.Pukul setengah delapan malam, akhirnya aku menyambangi kediaman ibu. "Yumi? sedang apa kau kemari, Nak? Apa kau datang sendirian? Mana suamimu?"Bisa dipastikan ibu menanyakan Yoga. Mengingat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status