Beranda / Romansa / Terjerat Cinta Milyader / Di Pesta Ulang Tahun Itu

Share

Di Pesta Ulang Tahun Itu

Penulis: Suharni
last update Terakhir Diperbarui: 2024-05-02 21:45:39

Pipiku masih terasa nyeri malam ini. Tamparan mama sungguh menyakitkan, hingga bekasnya masih terlihat jelas.

"Aww... Sstt, sakit. Aku harus bagaimana sekarang? Masa iya harus keluar dengan kondisi seperti ini?" gumamku. Memperhatikan wajah lebam di depan cermin.

"Kau masih belum siap juga?" Tiba-tiba papa masuk ke kamar.

"Belum," jawabku sedikit kesal.

Hubunganku bersama papa memang tak terlalu akur. Sebab, papa selalu mendesakku untuk menikah dan menikah terus. Tak beda jauh dari mama yang menginginkan cucu.

Bedanya, papa kerap menghasut mama bila aku tak mengindahkan ucapannya. Sedangkan mama, ibu berapi-api yang siap memarahi putranya kapan saja. Benar-benar memabuatku gila.

Meski begitu, aku sangat menyayangi mereka. Merekalah satu-satunya alasanku semangat mencari nafkah.

"Kau masih marah sama Papa, ya?"

"Kali ini apa lagi rencana Papa? Mau menjodohkanku dengan salah satu anak kerabat kita seperti yang sudah-sudah?"

Dari ekspresi Papa, aku bisa menebak apa isi otaknya. Pasti tak jauh dari topik pernikahan. Papa dan mama selalu memperlakukanku selayaknya pria tak laku, karena tak pernah menunjukkan pasangan kepada mereka.

Ditambah lagi media kerap menyebar berita palsu tentangku, bahwa aku mengalami penyimpangan seksual.

Alasan orang-orang itu berspekulasi demikian, karena beberapa bulan lalu seorang ibu memergokiku tengah menindih pria yang tak ku kenal.

Sialnya, aku menindih pria tersebut tepat mengenai burungnya. Alhasil ibu itu pun berteriak ketakutan sekaligus jijik.

Padahal insiden itu murni kecelakaan. Aku tak sengaja menabrak pria itu saat keluar dari toilet hotel ketika usai bertemu klien.

Aku yang memang sering diikuti wartawan kemanapun, akhirnya memuat berita memalukan itu. Ditambah lagi mereka tak pernah melihatku menggandeng seorang wanita. Kemana-mana selalu sendirian.

Maklum saja, hidupku sudah seperti selebriti. Tak ada ruang privasi untukku. Selalu paparazi mengekoriku kemanapun itu. Bahkan jenis celana dalam yang ku gunakan, sebagian besar orang pasti tahu.

Beruntungnya, aku memiliki koneksi untuk dimintai bantuan agar berita tak mendasar itu segera dihapus dari seluruh media. Akan tetapi, semua orang sudah terlanjur percaya, bahwa aku berasal dari kaum pelangi. Walau dari mereka masih ada yang meragukan kebenaran berita tersebut.

Aku juga tidak berniat untuk melakukan jumpa pers demi mengklarifikasi hal tak mendasar itu. Sebab, hanya akan menimbulkan masalah baru.

Jadi, aku memutuskan untuk diam. Sayang, masyarakat justru semakin mendesakku untuk membuktikan diri sebagai pria normal, yakni menikahi seorang gadis.

"Papa dan Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak. Tidak lebih. Jika gadis tadi pagi dapat membuatmu bahagia, maka bawa dia kepada kami. Perkenalkan secara baik-baik. Kami pasti akan mendukung hubungan kalian," jelas Papa.

"Astaga, Pa. Harus berapa kali sih aku jelaskan? Gadis itu hanya orang asing yang kebetulan meminta bantuanku. Dan karena aku juga sedang membutuhkan bantuan seseorang. Maka kami pun saling bekerjasama. Simbiosis mutualis, Pa. Masa sih Papa tidak tahu?" tukasku bernada kesal.

"Baiklah, terserah kau saja. Mulai sekarang Papa hanya ngikut."

Entah ucapan Papa bisa dipercaya atau tidak. Kedengarannya seperti bersungguh-sungguh.

***

Di pesta, ada banyak tamu undangan yang datang. Semuanya terlihat elegan dan menawan.

Para gadis berdandan sesuai dengan trend yang disukai. Pun para pria yang lain.

Para kolega, kerabat, sahabat, dan tetangga. Semuanya berdatangan memberi ucapan doa dan selamat kepada papa dan mama.

Namun, yang tak kalah mencengangkan adalah ketika mataku menangkap sosok tak asing diantara kerumunan para tamu undangan.

"Gadis itu? Apakah dia termasuk tamu undangan Papa dan Mama?" gumamku.

Mata ini terus mengawasi. Entah siapa yang membawanya kemari. Apakah dia salah satu anak kolega papa? Entahlah.

"Yumi, ayo kemari... Perkenalkan, ini adalah sahabat sekaligus atasan tempatku bekerja."

Ya, dia adalah Yumi. Tunangan palsuku.

Sayup-sayup ku mendengar seseorang memperkenalkan gadis itu kepada teman prianya.

"Aiman."

"Yumi."

Aku bisa menangkap senyuman manis keluar dari kedua garis bibir tipis Yumi. Sepertinya wanita itu tampak bahagia begitu diperkenalkan kepada seorang pria.

"Dasar wanita murahan. Tadi pagi dia memintaku jadi kekasihnya. Malam ini dia justru berkenalan dengan pria lain."

Entah apa yang membuatku kesal hingga menggerutu tak jelas seperti ini. Bahkan suhu tubuhku mulai panas. Padahal cuaca sedang dingin.

"Hahaha."

Suara tawa Yumi menggelegar diantara para tamu.

"Apakah dia tidak bisa menahan diri? Suaranya seperti ayam kampung yang nyaris terlindas mobil truk!" umpatku seorang diri.

Kemudian mataku tertuju pada seseorang yang berdiri di ujung pintu masuk. Jika dilihat dari wajah dan gelagatnya, sepertinya dia bukan tamu undangan. Melainkan...

"Paparazi? Sial! Orang itu pasti sedang mengincar Yumi. Mengapa aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya? Bagaimana jika pria itu mengajak Yumi berkencan? Lalu Yumi mengiyakan. Aku bisa ketahuan sedang membohongi media... Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera mencegah pria itu."

Tanpa berpikir banyak lagi, akhirnya aku pun segera menghampiri Yumi. Lantas memeluk pinggang gadis itu.

"Hai, Sayang? Kau sudah datang?"

"Ha?"

Yumi terperangah begitu melihatku mendadak merangkul tubuh rampingnya.

"Teman-teman sekalian, mohon perhatiannya sebentar... Perkenalkan, gadis ini adalah tunanganku, Yumi."

Tanpa meminta persetujuan gadis itu, aku pun mengumumkan pertunangan kami di depan khalayak ramai.

"Eh, itu Tuan Yoga Iskandar bersama tunangannya... Ayo ambil gambar mereka."

Dan semua mata tertuju kepada kami. Para wartawan yang menjadi tamu undangan malam itu, seolah mendapat berita gratis. Mereka pun mengabadikan momen dengan mengambil beberapa gambar kami berdua.

Sementara mata Yumi justru menatapku marah sekaligus tak percaya. Aku tahu, gadis ini pasti menganggapku gila. Sebab, memeluknya tanpa memberi aba-aba.

Bukan hanya Yumi, tapi aku pun sepertinya merasa demikian. Namun tidak masalah, asal media itu tidak menyebar berita hoax lagi dan lagi.

Aku tahu lambat laun hal ini pasti akan terjadi. Dimana Yumi menjadi incaran para media untuk mencari tahu kebenaran hubungan kami berdua.

Aku tidak ingin gadis ini membuka rahasia. Kami sudah memulainya, dan kami pula yang harus menyelesaikannya.

Jika Yumi berani membuka suara sekarang juga, maka bisa dipastikan aku dan kedua orang tuaku dipermalukan di pesta ulang tahunnya yang ketiga puluh dua tahun.

Para media akan mencetak berita sesuka hati mereka. Menulis artikel dengan menyudutkanku. Kali ini bisa dipastikan, bahwa aku hanya menyewa seorang gadis untuk dijadikan tunangan palsu.

Tajuk ini akan diletakkan di halaman paling depan. Agar semua orang bisa melihatnya dengan mudah sembari mengumpat serta merendahkan martabatku.

Akan tetapi, , bukan itu masalahnya sekarang. Masalahnya adalah bagaimana caraku menjelaskan kepada mama dan papa terkait apa yang terjadi saat ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Milyader    Dekapan Hangat

    "Aku ingin menuntut balas Paman Hartanto." Ucapan itu ibarat jarum menusuk kalbu Yoga. Parasnya yang tampan mendadak suram."Apa maksudmu?" Kening pria itu mengernyit penasaran."Kau tidak akan mengerti." Aku tidak berani menatap mata suamiku. Nalusirku seolah menahan agar tidak memberitahunya."Kalau begitu beritahu aku agar aku mengerti. Jika ceritanya panjang, maka buat lebih singkat, padat, dan jelas. Kau bukan anak kecil yang tak pandai menyusun paragraf." Siapa sangka bila Yoga justru mengatakan banyak hal.Sontak aku berpaling, menatap dalam netra suamiku. Di sinilah aku bisa menangkap kesungguhannya. Yoga bisa dipercaya."Paman Hartanto adalah penyebab Ayah meninggal." Suaraku bergetar ketika memoriku tertuju kepada mendiang ayah.Semua peristiwa menyakitkan dulu, kembali menari-nari di pelupuk mata. Seolah tengah mengejek."Dia merebut semua yang kami miliki. Aset, rumah, mobil, perhiasan, hingga beberapa lahan hasil kerja keras ayah. Namun, yang tak kalah menyakitkan adalah.

  • Terjerat Cinta Milyader    Mintalah Bantuan Yoga

    "Apa?" Bahkan suaraku nyaris tercekat. Duaniaku seketika runtuh."Ibu dilecehkan?" Aku tak kuasa mendengar semua cerita Uti. Jika hanya berbicara soal harta, aku masih bisa merelakan. Namun, ini menyangkut ibu. Wanita yang telah melahirkanku. Bukankah aku tidak berguna sebagai anak?"Aku tahu kau pasti terkejut begitu mendengar ceritaku. Itulah sebabnya aku sempat mengurung niat untuk memberitahumu, tapi sepertinya kau berhak tahu. Walau bagaimanapun juga dia adalah ibumu.""Uti, apa kau yakin dengan apa yang ditemukan Papimu?" Aku berdiri, memegang kedua lengan Uti. Menatap wanita itu dengan derai air mata.Aku terkulai lemah ketika tahu kehormatan ibu dilecehkan. Apa yang harus aku katakan padanya nanti? Haruskan aku mempertanyakan kejadian memalukan itu?"Yumi, aku tahu kau terkejut mendengar ini. Bukan hanya kamu, aku dan papi juga masih belum percaya. Mengingat hubungan ayahmu dengannya. Pria itu menutup rapat cerita. Bahkan orang di sekitarnya pun tidak tahu apa-apa saja. Namun,

  • Terjerat Cinta Milyader    Fakta Baru

    Aku tidak ingat part mana melakukan kesalahan. Menurutku, mengunjungi ibu bukanlah sebuah dosa. Aku sungguh membutuhkan sandaran setelah melalui beberapa peristiwa menyesakkan dada."Apa maksudmu melanggar kontrak? Aku tidak mengerti.""Jelas saja kau tidak mengerti, karena kau tidak pernah memikirkan perjanjian kita. Kau hanya sibuk menyusun rencana balikan sama mantan!"Aku rasa kali ini Yoga sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal buruk tentangku. Sedangkan semalam aku sudah mengatakan, bahwa tidak ada hubungan apapun antara aku dan Aditya. Apa bercinta membuatnya hilang ingatan?"Yoga, aku rasa kau sudah melewati batas," ujarku masih menguasai diri."Aku tidak melakukan kesalahan apapun.""Kau--""Jika kau masih menemui ibu di sana tanpa sepengetahuanku, maka aku tidak akan segan-segan membatalkan semua perjanjian kita. Dan orang-orang pasar itu--""Cukup!"Aku sudah tak tahan lagi mendengar semua ocehan Yoga. Dia sudah terlalu jauh melangkah."Yoga, apa aku pernah mel

  • Terjerat Cinta Milyader    Anggap Kesalahan

    Tujuan pernikahan adalah membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, warohma. Setidaknya itulah salah satu ajaran agama yang kami anut.Tuhan sangat membenci perceraian. Pun mempermainkan pernikahan atas dasar kontrak. Manusia tidak boleh semena-mena memperlakukan sebuah hubungan sebagai simbol simbiosis mutualis.Selayaknya cerita drama korea ataupun china. Kisah kami hampir sama. Menikah secara kontrak, seolah mengenyampingkan perintah agama. Padahal sudah jelas tertera dalam kitab suci kami, bahwa tidak lengkap agama seseorang bila tidak menikah. Dalam hal ini yang berarti usia sudah mencapai baligh.Haruskah aku memperjelas urusan agama ini bersama Yoga? Bagaimana jika pria itu bertanya mengapa aku tidak mempersoalkan sedari awal?Mengapa setelah semua yang terjadi, aku justru berubah pikiran. Bagaimana jika Yoga mengira aku memanfaatkan dirinya. Atau hanya karena kami telah tidur bersama."Aakk--"Aku membekap mulutku setelah berteriak kencang. "Apa yang aku lakukan? Mengapa aku

  • Terjerat Cinta Milyader    Hasrat Otot Perut

    "Bukankah kau lebih suka dipaksa? Baiklah, aku akan memaksamu untuk bicara."Cup!Yoga membekap mulutku dengan kedua bibir tipisnya. Pria itu mencium, hingga membuatku terpaku."Aakk--"Harus ku akui, untuk sesaat aku terperangkap dalam dekapan Yoga. Ciuman itu serasa meniup ubun-ubun.Setelahnya kesadaranku kembali menyapa. Aku menggigit bibir pria itu hingga menyisakan luka.Yoga berdiri menarik diri. Akhirnya dadaku kembali lega. "Mengapa kau menggigitku?""Apa menurutmu aku harus diam saja ketika kau menindihku?" sarkasku tak terima."Kau--"Aku memalingkan wajah. Menggigit bibir bawah, tempat Yoga menciumnya. Sekali lagi deru jantungku kembali berdegup. Apakah aku telah jatuh cinta pada pria brengsek ini?Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Aku tidak boleh jadi perebut cinta wanita lain. Masih ada Mawar diantara kami.Wanita itu telah kembali. Mungkin sebentar lagi hubungan mereka berkembang. Sedang aku harus melanjutkan hidup seperti biasa.Untuk sesaat keheningan menyap

  • Terjerat Cinta Milyader    Yoga di Ujung Jalan

    Pukul lima sore aku menyelesaikan semua desai pesanan orang. Meski diterpa masalah, aku tetap profesional memperhatikan pekerjaan.Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi ibu. Lama tak bersua dengannya, membuatku rindu. Di sisi lain, aku ingin merasakan nikmatnya sambal pete buatan wanita yang telah melahirkanku itu.Aku masih belum siap bertemu Yoga. Walau bagaimanapun juga pria itu telah membuatku terluka.Dalam perjalanan menuju rumah ibu, ponselku terus berdering. Aku menepi untuk memastikan siapa yang menghubungiku."Yoga." Adalah suamiku, orang yang membuat perjalananku terhambat.Aku menolak panggilan itu. Namun, ponselku kembali berdering. Lagi-lagi aku tidak bersedia bicara dengannya. Aku berencana ingin menenangkan diri di kediangan ibu."Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai rumah.Pukul setengah delapan malam, akhirnya aku menyambangi kediaman ibu. "Yumi? sedang apa kau kemari, Nak? Apa kau datang sendirian? Mana suamimu?"Bisa dipastikan ibu menanyakan Yoga. Mengingat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status