Share

Pertengkaran Itu

Author: Suharni
last update Last Updated: 2024-05-22 19:12:24

Aku mengejar Yumi yang sudah keterlaluan menyakiti hati mama. Kemarahanku telah memuncak, hingga tak sadar menarik tangan gadis itu setelah menemukannya yang masih berada di ambang pintu pagar rumah.

"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?" sarkas Yumi. Berusaha untuk melepas tanganku.

"Tidak! Sebelum kau meminta maaf kepada Mamaku."

Sikapku sudah seperti seorang suami yang marah terhadap istrinya. Didukung dengan mata membulat.

Aku sungguh marah terhadap gadis ini. Padahal kalau dipikir-pikir akulah yang bersalah. Bahkan hubungan kami tak sedekat rumah dan atapnya. Namun, egoku telah menguasai logika.

"Lepas, kataku!" seru Yumi. Berhasil melepas cengkraman.

"Siapa kau? Menyuruhku minta maaf kepada Ibumu. Apakah kau adalah pacarku yang sesungguhnya? Ku rasa hubungan kita tak sedekat itu."

Ucapan Yumi seperti menghempasku ke dalam danau. Aku sungguh malu, tapi hati ini masih sakit ketika mengingat mama yang jatuh pingsan, karena wanita gila ini.

"Aku tidak perduli sedekat apa hubungan kita. Aku juga tidak butuh kau wajib dekat denganku. Yang aku tahu adalah kau harus minta maaf kepada Mama sekarang juga! Karena egomu, Mama jatuh pingsan. Apa kau tidak bisa menahan diri sedikit saja? Malam ini adalah perayaan ulang tahun pernikahannya. Tidak bisakah kau memahami situasi kami?"

Aku menuntut begitu banyak hal kepada Yumi tanpa tahu malu. Sungguh egois.

"Lagi pula, bukankah kita sudah sepakat untuk saling membantu?" imbuhku, semakin menuntut tanggung jawab Yumi.

"Hei, bukankah kesepakatan kita sudah berakhir saat itu juga? Mengapa kau masih mengungkitnya? Aku juga telah menjalankan kewajibanku. Menghadapi orang-orang itu. Lalu mengapa sekarang kau justru meminta lebih dariku? Aku tidak mau meminta maaf kepada Ibumu. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Seharusnya kaulah yang minta maaf padanya, karena telah berbohong soal hubungn kita. Kau yang telah memulai kekacauan ini, bukan aku!"

Sekali lagi Yumi menamparku dengan kenyataan. Memang benar, bahwa aku yang telah memulai kekacauan ini, tapi bukankah Yumi yang memberiku jalan sebelum semua ini terjadi sangat jauh?

Ya, Yumi lah penyebab aku melakukan hal bodoh ini. Dia harus bertanggung jawab untuk itu.

"Tidak! Kau harus minta maaf kepada Mama... Harus!"

Aku pun menarik paksa tangan Yumi untuk segera menemui Mama. Aku tidak ingin Mama jatuh sakit hanya karena gadis tak tahu diuntung ini.

"Yoga, hentikan!" Tiba-tiba Papa datang bersama mama. Papa memapah mama yang masih terlihat lemas.

"Mama..." Aku pun menghampiri mama dan papa.

"Masuklah sebentar, Mama ingin bicara." Ternyata mama tidak memukulku. Mama mengajaku masuk ke dalam rumah.

"Kau juga, masuklah." Termasuk Yumi.

Mungkin Yumi merasa tertekan karena mama. Aku telah menyeret gadis ini ke dalam masalah kami.

"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya mama begitu kami masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruang tamu.

"Mama, aku..."

"Mama tidak sedang bicara denganmu!" seru Mama, tidak mengizinkanku mengatakan apa-apa.

"Katakan, sebenarnya apa hubunganmu dengan Putraku? Benarkah kalian tidak memiliki hubungan apapun?"

Sumpah, jantungku berdegup kencang seiring dengan rasa takut yang ku alami. Aku menyesal telah membohongi mama.

Kali ini pasti mama tidak akan memaafkanku.

"Sebelumnya aku minta maaf, Tante. Karena tidak bisa mencegah masalah ini... Aku dan Putra Tante tidak memiliki hubungan apapun. Bahkan kami baru saling mengenal tadi pagi," papar Yumi mulai bercerita.

Aku bisa melihat mimik kecewa di wajah mama. Semuanya begitu jelas. Sayang, aku hanya bisa menyaksikan tanpa melakukan pembelaan.

"Lalu?"

"Namun, sejujurnya ini bukan salah Putra Tante sepenuhnya. Akulah yang pertama kali meminta bantuan dia untuk menjadi kekasih palsu demi membalas mantan pacarku. Aku tahu ini sedikit aneh, tapi aku memiliki sedikit masalah yang tidak bisa ku jelaskan kepada kalian. Tolong maafkan aku."

Sungguh tidak ku duga. Yumi justru mengakui kesalahannya kepada Mama. Apakah wanita itu sedang membelaku?

"Baiklah, aku paham sekarang... Kau boleh pergi."

Ha? Hanya itu saja? Mama tidak marah padanya? Aku pikir Mama akan menjambak rambut Yumi. Atau paling tidak menampar wajah gadis itu, karena telah turut membantuku mengusung ide gila.

"Mama..."

Plak!

Baru saja aku menghampiri mama, satu tamparan keras mendarat cantik di pipi ini. Lagi-lagi mama memukulku.

"Anak kurang ajar! Tidak tahu malu! Bagaimana bisa kau membohongi Mama seperti ini? Kau bahkan menyeret gadis asing itu ke dalam masalah kita. Apa kau tidak punya harga diri sama sekali? Bagaimana caramu menghadapi media jika mereka sampai tahu yang sebenarnya? Keluarga kita pasti akan dipermalukan, Ga!"

Kali ini Mama benar-benar marah padaku. Sehingga membuatku takut. Lebih baik mama menamparku, dari pada mengecewakannya. Hal yang paling aku hindari selama hidup ini.

"Ma, tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongi Mama. Aku hanya ingin membungkam media yang terus menyebar berita tak mendasar," jelasku kepada mama.

"Lalu, apa menurutmu kau telah berhasil membungkam mereka? Kau justru membuat masalah baru. Dasar bodoh!" seru mama berapi-api.

Aku hanya bisa menunduk, membenarkan perkataan mama. Soal Yumi, aku justru menimbulkan masalah baru, alih-alih membungkam mereka.

Aku pikir dengan memperkenalkan Yumi kepada media, orang-orang itu tak akan membuat berita yang tidak-tidak tentangku. Mereka tak akan lagi meragukan orientasi seksualku.

Namun, sepertinya aku telah melakukan kesalahan besar.

"Yoga, mengapa kau tidak memikirkan akibatnya sebelum melakukan kebohongan? Sekarang apa yang akan kau lakukan untuk membungkam media bila sampai tahu kebenaran itu? Apa kau yakin gadis tadi tidak akan membeberkan masalah kita kepada mereka?" Kali ini papa yang bicara.

Sedang aku masih dalam posisi diam. Menunduk penuh sesal. Jujur, otakku terasa mati untuk sekedar memikirkan ide.

"Mau bagaimana lagi? Dia harus segera menikah dengan gadis pilihan Mama. Suka tidak suka, kau harus segera menikahi Magdalena, Putri Ibu Sumi."

Oh Tuhan, tamat sudah riwayatku. Aku harus menikahi gadis setengah gila yang setiap hari membawa celana dalam pria kemana-mana. Apakah mama tidak salah memilih menantu?

Lebih baik aku memaksa Yumi untuk menjadi istriku ketimbang harus menjadi suami orang tak waras. Bisa-bisa aku juga ikutan gila.

"Tapi, Ma. Mengapa harus Anak Ibu Sumi? Memangnya tidak ada gadis lain untuk dijadikan istri? Aku tidak setuju dengan ide Mama," tolakku mentah-mentah.

Apa kata Indra bila akhirnya aku menikahi Magdalena? Gadis gila yang setiap hari menjadi bahan pergunjingan kami bila sedang merasa bosan di kantor.

"Kalau begitu Mama akan memberimu waktu tiga bulan untuk mencari calon istri. Jika selama itu kau tidak berhasil juga, maka kau harus menuruti semua perintah Mama. Suka tidak suka, kau tetap harus menikahi Magdalena!"

Tampaknya kali ini Mama bersungguh-sungguh memberiku tantangan. Hanya saja ku rasa tiga bulan cukup berat. Dari mana aku harus mendapatkan calon istri sesingkat itu?

Tantangan ini seperti sedang mengikuti kompetisi menanam jagung. Tiga bulan harus segera panen.

"Enam bulan, aku pasti akan mempertemukan Mama dengan calon istriku." Akhirnya aku membuat tawaran bersama mama dengan penuh percaya diri. Padahal dalam hati terus waspada.

"Baiklah, Mama setuju. Namun, jika kau gagal. Kau harus menikahi Putri Ibu Sumi," ucap mama penuh penekanan.

"Beres..." balasku penuh percaya diri.

"Ingat, kau harus menepati janjimu. Mama tidak pernah main-main dengan ucapan Mama."

"Iya."

Akhirnya kami pun mengakhiri percakapan malam itu dengan sebuah kesepakatan.

"Selamat berusaha."

"Iya."

Aku memutar bola mata, sangat malas melihat mimik papa yang seolah mengejekku.

Inilah awal pertarunganku dengan mama. Seharusnya aku menolak syarat mama kali ini. Namun, entah mengapa lidahku justru mengatakan hal berbeda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Milyader    Dekapan Hangat

    "Aku ingin menuntut balas Paman Hartanto." Ucapan itu ibarat jarum menusuk kalbu Yoga. Parasnya yang tampan mendadak suram."Apa maksudmu?" Kening pria itu mengernyit penasaran."Kau tidak akan mengerti." Aku tidak berani menatap mata suamiku. Nalusirku seolah menahan agar tidak memberitahunya."Kalau begitu beritahu aku agar aku mengerti. Jika ceritanya panjang, maka buat lebih singkat, padat, dan jelas. Kau bukan anak kecil yang tak pandai menyusun paragraf." Siapa sangka bila Yoga justru mengatakan banyak hal.Sontak aku berpaling, menatap dalam netra suamiku. Di sinilah aku bisa menangkap kesungguhannya. Yoga bisa dipercaya."Paman Hartanto adalah penyebab Ayah meninggal." Suaraku bergetar ketika memoriku tertuju kepada mendiang ayah.Semua peristiwa menyakitkan dulu, kembali menari-nari di pelupuk mata. Seolah tengah mengejek."Dia merebut semua yang kami miliki. Aset, rumah, mobil, perhiasan, hingga beberapa lahan hasil kerja keras ayah. Namun, yang tak kalah menyakitkan adalah.

  • Terjerat Cinta Milyader    Mintalah Bantuan Yoga

    "Apa?" Bahkan suaraku nyaris tercekat. Duaniaku seketika runtuh."Ibu dilecehkan?" Aku tak kuasa mendengar semua cerita Uti. Jika hanya berbicara soal harta, aku masih bisa merelakan. Namun, ini menyangkut ibu. Wanita yang telah melahirkanku. Bukankah aku tidak berguna sebagai anak?"Aku tahu kau pasti terkejut begitu mendengar ceritaku. Itulah sebabnya aku sempat mengurung niat untuk memberitahumu, tapi sepertinya kau berhak tahu. Walau bagaimanapun juga dia adalah ibumu.""Uti, apa kau yakin dengan apa yang ditemukan Papimu?" Aku berdiri, memegang kedua lengan Uti. Menatap wanita itu dengan derai air mata.Aku terkulai lemah ketika tahu kehormatan ibu dilecehkan. Apa yang harus aku katakan padanya nanti? Haruskan aku mempertanyakan kejadian memalukan itu?"Yumi, aku tahu kau terkejut mendengar ini. Bukan hanya kamu, aku dan papi juga masih belum percaya. Mengingat hubungan ayahmu dengannya. Pria itu menutup rapat cerita. Bahkan orang di sekitarnya pun tidak tahu apa-apa saja. Namun,

  • Terjerat Cinta Milyader    Fakta Baru

    Aku tidak ingat part mana melakukan kesalahan. Menurutku, mengunjungi ibu bukanlah sebuah dosa. Aku sungguh membutuhkan sandaran setelah melalui beberapa peristiwa menyesakkan dada."Apa maksudmu melanggar kontrak? Aku tidak mengerti.""Jelas saja kau tidak mengerti, karena kau tidak pernah memikirkan perjanjian kita. Kau hanya sibuk menyusun rencana balikan sama mantan!"Aku rasa kali ini Yoga sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal buruk tentangku. Sedangkan semalam aku sudah mengatakan, bahwa tidak ada hubungan apapun antara aku dan Aditya. Apa bercinta membuatnya hilang ingatan?"Yoga, aku rasa kau sudah melewati batas," ujarku masih menguasai diri."Aku tidak melakukan kesalahan apapun.""Kau--""Jika kau masih menemui ibu di sana tanpa sepengetahuanku, maka aku tidak akan segan-segan membatalkan semua perjanjian kita. Dan orang-orang pasar itu--""Cukup!"Aku sudah tak tahan lagi mendengar semua ocehan Yoga. Dia sudah terlalu jauh melangkah."Yoga, apa aku pernah mel

  • Terjerat Cinta Milyader    Anggap Kesalahan

    Tujuan pernikahan adalah membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, warohma. Setidaknya itulah salah satu ajaran agama yang kami anut.Tuhan sangat membenci perceraian. Pun mempermainkan pernikahan atas dasar kontrak. Manusia tidak boleh semena-mena memperlakukan sebuah hubungan sebagai simbol simbiosis mutualis.Selayaknya cerita drama korea ataupun china. Kisah kami hampir sama. Menikah secara kontrak, seolah mengenyampingkan perintah agama. Padahal sudah jelas tertera dalam kitab suci kami, bahwa tidak lengkap agama seseorang bila tidak menikah. Dalam hal ini yang berarti usia sudah mencapai baligh.Haruskah aku memperjelas urusan agama ini bersama Yoga? Bagaimana jika pria itu bertanya mengapa aku tidak mempersoalkan sedari awal?Mengapa setelah semua yang terjadi, aku justru berubah pikiran. Bagaimana jika Yoga mengira aku memanfaatkan dirinya. Atau hanya karena kami telah tidur bersama."Aakk--"Aku membekap mulutku setelah berteriak kencang. "Apa yang aku lakukan? Mengapa aku

  • Terjerat Cinta Milyader    Hasrat Otot Perut

    "Bukankah kau lebih suka dipaksa? Baiklah, aku akan memaksamu untuk bicara."Cup!Yoga membekap mulutku dengan kedua bibir tipisnya. Pria itu mencium, hingga membuatku terpaku."Aakk--"Harus ku akui, untuk sesaat aku terperangkap dalam dekapan Yoga. Ciuman itu serasa meniup ubun-ubun.Setelahnya kesadaranku kembali menyapa. Aku menggigit bibir pria itu hingga menyisakan luka.Yoga berdiri menarik diri. Akhirnya dadaku kembali lega. "Mengapa kau menggigitku?""Apa menurutmu aku harus diam saja ketika kau menindihku?" sarkasku tak terima."Kau--"Aku memalingkan wajah. Menggigit bibir bawah, tempat Yoga menciumnya. Sekali lagi deru jantungku kembali berdegup. Apakah aku telah jatuh cinta pada pria brengsek ini?Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Aku tidak boleh jadi perebut cinta wanita lain. Masih ada Mawar diantara kami.Wanita itu telah kembali. Mungkin sebentar lagi hubungan mereka berkembang. Sedang aku harus melanjutkan hidup seperti biasa.Untuk sesaat keheningan menyap

  • Terjerat Cinta Milyader    Yoga di Ujung Jalan

    Pukul lima sore aku menyelesaikan semua desai pesanan orang. Meski diterpa masalah, aku tetap profesional memperhatikan pekerjaan.Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi ibu. Lama tak bersua dengannya, membuatku rindu. Di sisi lain, aku ingin merasakan nikmatnya sambal pete buatan wanita yang telah melahirkanku itu.Aku masih belum siap bertemu Yoga. Walau bagaimanapun juga pria itu telah membuatku terluka.Dalam perjalanan menuju rumah ibu, ponselku terus berdering. Aku menepi untuk memastikan siapa yang menghubungiku."Yoga." Adalah suamiku, orang yang membuat perjalananku terhambat.Aku menolak panggilan itu. Namun, ponselku kembali berdering. Lagi-lagi aku tidak bersedia bicara dengannya. Aku berencana ingin menenangkan diri di kediangan ibu."Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai rumah.Pukul setengah delapan malam, akhirnya aku menyambangi kediaman ibu. "Yumi? sedang apa kau kemari, Nak? Apa kau datang sendirian? Mana suamimu?"Bisa dipastikan ibu menanyakan Yoga. Mengingat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status