Share

Bab. 5

Penulis: AuthorS
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-13 18:11:52

Aku tidak mempedulikan ucapan Kak Lita. Sembari membungkus makanan catering aku membuka pesan yang baru masuk melalui ponselku. 

— Ar, bisa ke resto sebentar gak? Ada yang mau aku bicarakan. Ini penting. —

Begitulah isi pesan darinya. Aku tak langsung menjawab. Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. 

Setelah tiga puluh menit berlalu, barulah aku bangkit. Semua pekerjaan sudah selesai. Aku bergegas pergi, sambil berpamitan pada Kak Lita. 

"Tolong bilang sama ibu, aku pergi ke rumah temen." Kataku pada Kak Lita yang asik memainkan handphonenya. 

"Sama temen apa sama pacar?" tanyanya.

 "Temen!" jawabku singkat sambil pergi. 

                         **********

Sengaja aku memesan taxi online menuju restaurant Riko agar lebih cepat sampai ketimbang berjalan kaki meski jaraknya cukup dekat dengan rumah. 

Langsung saja aku masuk ke restaurant itu menuju ruangan khusus karena Riko sudah menungguku disana. Baru saja hendak membuka pintu, sebuah suara perempuan terdengar. 

"Aku harap kamu bisa membantu aku agar bisa mendapatkan hati Devan. Dengan begitu, anak yang di kandungku akan mendapatkan sosok Ayah." Kata perempuan itu. 

"Lebih baik Mbak pergi dulu sekarang, aku lagi ada janji sama seseorang, kita bicarakan tentang itu nanti yang pastinya bukan disini." Jawab Riko, sepetinya dia tidak ingin aku mengetahui hal yang baru saja mereka bicarakan. 

"Tapi kamu harus janji sama aku ya Riko, kamu harus bantu aku menemukan siapa perempuan yang sudah menjadi pacarnya Devan agar aku bisa bicara sama dia juga." Kata perempuan itu lagi yang seketika membuatku terkejut. 

Karena tidak ingin ketahuan oleh mereka aku segera pergi keluar dari restauran. Bersembunyi di balik tembok karena ingin melihat wajah asli perempuan tadi. Tapi sialnya perempuan itu memakai masker serta kacamata hitam yang membuatku sulit menebak wajahnya. 

"Siapa dia? Apa dia istri Pak Devan?" kataku bertanya-tanya pada diriku sendiri. 

Setelah mobil itu hilang dari pandanganku, suara panggilan dari ponselku berbunyi. Aku segera mengangkatnya. 

"Hallo?" 

"Ar, kamu udah sampai?" tanya Riko. 

"Eu...iya, aku udah sampai di restauran kamu, aku baru aja sampai." Jawabku, terpaksa berbohong. 

"Oke, langsung masuk aja ke ruangan aku ya!" kata Riko lagi. 

"Oke," jawabku. Lalu aku berjalan kembali memasuki restauran itu. 

Saat aku membuka pintu, Riko sudah berdiri di hadapanku. Dia langsung memelukku. 

"Ar, aku kangen banget sama kamu," ucapnya yang membuat aku merasa heran. 

"Riko, kamu apa-apaan sih!" aku berusaha melepaskan pelukkannya. Tapi Riko tetap memelukku semakin eurat. 

"Ar, maaf ya atas sikap aku di kampus tadi," ucapnya kini memandang ke arahku tanpa melepas pelukannya.

Karena tubuhnya yang tinggi aku mendongak memandangnya. "Tolong lepaskan aku dulu Riko, gak enak di lihat orang!" pintaku. 

"Oh, oke," jawab Riko menurut lalu kami duduk di atas sofa. 

Riko membawakan aku sepiring potongan kue beserta satu gelas jus mangga kesukaanku. Dia menaruhnya di atas meja. 

"Ini kue buatan aku loh, cobain deh," ucapnya. 

Entah kenapa aku merasa ragu ketika akan memakannya. "Makanan ini gak di taruh apapun kan?" tanyaku yang membuatnya tertawa. 

"Hahaha... kamu ini, mikirnya kemana-kemana, gak mungkinlah aku menaruh sesuatu di makanan itu, lihat nih aku makan ya!" katanya sambil memakan kue itu. 

Setelah melihat Riko baik-baik saja memakan kue itu, aku berusaha memakannya. "Emm...enak," ucapku. 

"Enak kan? aku sengaja buatkan kue ini buat kamu, karena pas waktu kamu ultah aku gak sempat bikinnya. Maklum, sibuk, he..." katanya sambil nyengir memperlihatkan giginya yang putih bersih. 

Meski aku merasa kagum tetap saja aku sembunyikan rasa itu. Aku merasa tidak pantas untuk Riko. Dia anak orang kaya dan lagi, aku adalah mantan kekasih gelap Kakaknya. 

"Nih, aku suapin ya," Riko menyuapi aku sepotong kue. Kami tertawa bersama sambil menikmati kue buatannya. 

Riko termasuk orang yang hambel. Dia baik kepada siapapun. Jadi tidak ada yang harus di baperin darinya karena dia memang baik kepada setiap orang. 

Meski populer dengan ketampanan juga kekayaan kedua ortunya tak lantas membuat dia merasa sombong. Hanya satu yang aku tidak menyangka derinya. Ternyata dia suka ke klub malam. 

"Kenapa lihat aku kayak gitu?" tanya Riko saat melihat ke arahku yang tengah memandangnya. 

Seketika aku teringat dengan Pak Devan yang bertanya hal yang sama tadi siang. Aku merasa dongkol sendiri. Kenapa juga harus kembali megingat Pak Devan di saat tengah bersama adiknya. Wajah mereka bahkan tidak mirip. 

"Enggak, katanya tadi kamu mau bicara sesuatu sama aku, emang kamu mau bicara apa?" tanyaku. 

Tanpa ragu Riko membaringkan kepalanya di atas pahaku yang tengah duduk di atas sofa. 

"Tadi siang kamu diapain sama Erista?" tanya Riko. 

"Enggak ada, aku gak di apa-apain sama pacar kamu!" jawabku berusaha santai. 

"Hah? pacar? hahaha...pacar siapa maksud kamu?" ucapnya sambil tertawa lalu duduk seperti biasa. 

"Kamu pacaran sama Erista kan? aku juga mau bicara sama kamu, kamu kan yang sudah menyebarkan foto itu?" tanyaku. 

Sejenak Riko terdiam. Sikapnya membuat aku merasa curiga. "Jawab Riko!" ucapku lagi dengan tegas. 

"Kalau iya kenapa dan kalau enggak ke napa?" jawabnya. 

"Kalau iya, apa alasannya? Kamu menyebarkan foto itu? Apa karena aku gak terima cinta kamu?" tanyaku lagi.

Hap! 

Kembali Riko malah memelukku lagi. Aku yang merasa tidak nyaman berontak padanya. "Riko, jangan begini! " ujarku mendorong tubuhnya. 

"Kenapa sih, kamu kan udah jadi pacarku?" ucapnya melepas sejenak lalu memelukku lagi. 

"Riko!" bentakku. Tapi Riko malah tertawa. 

"Apa sih Ar?" tanya dia santai. 

"Jangan ada sentuhan fisik di antara kita kalau kamu mau jadi pacar aku!" ujarku lagi sedikit mengancam. 

"Kalau cuma peluk boleh kan?" tanya dia. 

"Gak boleh!" 

"Hahaha... kamu ini Ar. O, iya, aku udah siapkan kostan buat kamu, mulai malam ini juga kamu boleh bekerja di restauran aku." Kata Riko, tiba-tiba saja dia berkata begitu. 

"Kamu tahu aku lagi cari pekerjaan daimana?" tanyaku penasaran, karena selama ini aku tidak pernah bercerita apapun padanya. 

"Dari saya!" jawab sebuah suara dari arah pintu. 

Lagi-lagi Pak Devan berdiri di depan pintu, sambil melipat kedua tangannya. 

"Lagi ngapain kalian berduaan di sini?" tanya dia, lalu duduk di antara aku dan Riko yang membuat Riko menghela nafas lelah dengan sikapnya. 

"Ganggu aja lu Bang, kita lagi mau ngerjain tugas iya kan Ar?" ujar Riko yang merasa kesal. 

Pak Devan melihat ke arahku yang diam saja. "Mana tugasnya?" tanya dia lagi. 

"Dahlah Bang, pergi sana lu, ganggu aja!" Riko mendorong punggung Kakaknya. 

"Riko! Kamu ini di tugaskan untuk kuliah, bukan untuk pacaran! Dan ingat, resto ini bukan tempat untuk pacaran!" ujarnya lalu menoleh ke arahku yang hanya menunduk. 

"Saya antar kamu pulang Ardila!" kata Pak Devan, sambil menarik tanganku. 

"Loh, apaan sih lu Bang, gue yang berhak bawa Ardila pulang karena Ardila itu pacar gue! Minggir!" Riko melepaskan tangan Pak Devan yang memegang tanganku. 

"Kamu ini masih bau kencur!  Gak baik bawa anak orang apalagi ngajak dia ke jalan yang tidak benar!" Pak Devan melepaskan tangan Riko yang memegang tanganku. 

Sedangkan aku merasa pusing sendiri harus melirik kesana-kemari dengan perdebatan yang tidak ada hentinya diantara mereka. 

"Stop! Cukup! Saya bisa pulang sendiri!" ujarku mengambil tas lalu pergi dari ruangan itu. 

Mereka berdua saling berlirikkan lalu mengejarku. "Ardila, tunggu, jangan pergi dulu biar saya yang antar kamu pulang, ini sudah malam!" cegah Pak Devan menghalangi jalanku. 

  

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Pak Dosen   Bab. 24

    "Riko, sepertinya aku gak bisa, kamu kan tahu sendiri aku cuma seorang waiters dan kamu itu keponakan Pak Adrian. Apa kata para karyawan lain kalau mereka melihat kita selalu bersama?" tolakku. "Tinggal bilang aja kita pacaran. Mudah 'kan?" jawabnya santai. Drt... Drt... Drt... Suara dring telpon yang ku senyapkan terdengar dari handphoneku. Aku segera mengambilnya. Ternyata Pak Devan, dia sudah berkali-kali mengirim pesan. Berniat memberikan aku sarapan. "Dari siapa?" tanya Riko. "Eu...bukan siapa-siapa, ini temen aku." Jawabku gelagapan sambil menyembunyikan handphoneku. "Oke, syukurlah. Kalau begitu kamu siap-siap, aku tunggu di luar, kita berangkat sekarang, oke?" katanya sok ngatur. Aku mengangguk membalasnya. Dia tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku, lalu pergi keluar sambil menutup pintu. Aku bernafas lega. Lalu segera membalas pesan dari Pak Devan. Menolaknya mengantar makanan dengan alasan aku terburu-buru sudah telat bekerja. Setelah selesai dandan dengan terpa

  • Terjerat Cinta Pak Dosen   Bab. 23

    "Apa maksud kamu bawa aku ke tempat ini?" tanyaku sinis pada Riko. Dia tertawa. "Loh, memangnya kenapa Ar? Villa ini tempat yang menenangkan. Bagi aku Villa ini adalah tempat yang bisa membuat suasana hati aku menjadi lebih tenang, rileks, pokoknya nanti kamu akan tahu sendiri apa tujuan aku sebenarnya bawa kamu ke tempat ini. Yuk, kita masuk!" kata Riko, dia menarik tanganku tanpa ragu. "Tunggu dulu Riko!" cegahku lagi yang membuatnya berhenti melangkah. "Apalagi sayang? Jangan grogi gitu dong, aku gak bermaksud apa-apa kok, aku cuma mau minta bantuan sama kamu." Bujuk Riko. Akhirnya hatiku luluh juga. Aku menurut, mulai memasuki villa itu mengikuti Riko yang tak lepas memegang tanganku. Tiba-tiba saja Riko mendorong tubuhku memasuki sebuah kamar. Dia menutup pintu dan menguncinya. "Riko! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu tutup pintunya?!" teriakku dengan ketakutan. Laki-laki itu hanya terdiam dalam emosi yang menggebu. Tatapannya seperti singa yang siap melahap mangsa. "Apa selama

  • Terjerat Cinta Pak Dosen   Bab. 22

    Aku menatap ke arah ibu yang masih memandangku dengan wajah pucatnya. Lalu dia melirik ke arah Pak Devan yang duduk di belakangku. "Ar... Apa kamu yakin dengan keputusanmu ini? Menikah secara siri itu tidak adil untuk seorang wanita. Dan ibu ingin memperingatkanmu, wanita akan sangat rugi jika menikah secara siri." Ucapnya lembut. Aku termenung mencoba mempertimbangkan setiap ucapan ibu. Aku rasa semua ucapan itu memang benar. Wanita hanya akan merugi jika menikah secara siri atau menikah secara agama. Tapi, disisi lain aku tidak ingin hubunganku dengan Pak Devan terombang ambing begitu saja. Dan lagi, kami sudah melakukan sebuah kesalahan besar. "Ar... Kamu dengar ucapan ibu 'kan?" tanya ibu menyadarkan lamunanku. "Eu... iya bu, Ardilla mendengar semuanya. Kalau boleh Ardilla tanya sama ibu, apa ibu merestui hubungan kita, kalau kita berniat ingin menikah?" tanyaku ragu tapi aku ucapkan begitu saja. Terlihat ibu masih begitu gelisah. Dari raut wajahnya dia masih belum ikhlas mel

  • Terjerat Cinta Pak Dosen   Bab. 21

    Dia terkekeh melihat sikapku yang gelagapan juga kesal mendapat perlakuan barusan. Riko memang jahil. Sengaja dia mengerjaiku. Setelah selesai mengganti baju dia menghadangku kembali. "Mau kemana lagi?" Riko kembali menahanku yang hendak pergi. "Aku harus kerja, aku bukan bos yang enak-enak bersantai ria!" jawabku kesal. "Malam ini anggap saja kamu itu seorang bos, aku udah pesan ramen pedas plus cake kesukaan kamu juga kopi hangat dan jus mangga. So, duduk lagi, dan tunggu dulu, sebentar lagi makanannya akan segera diantar." Katanya lagi, dia menggiring tubuhku kembali. "Tapi..." "Ardian itu sepupu aku, dan aku udah izin sama dia kalau kamu gak usah kerja lagi malam ini, lagipula jam kerja kamu cuma tinggal beberapa menit lagi 'kan?" sangkalnya memotong ucapanku. Karena tak ingin lelah berdebat dengannya. Aku memutuskan untuk pasrah saja. Menuruti apa yang dia katakan. Setelah salah satu temanku selesai menaruh semua pesanan di atas meja. Kami mulai menyantapnya. Aku jadi teri

  • Terjerat Cinta Pak Dosen   Bab 20

    "Nyaman juga tempatnya, enak, adem ya!" katanya sambil duduk di atas ranjangku. "Sekarang kita tetanggaan loh, aku ngekost disini juga," jelasnya yang membuat mataku terbelalak. "Ngekost disini juga?! Bukannya selama ini dia tinggal di apartemen?" ucap batinku. "Kenapa terkejut? Emangnya salah ya, kalau aku ngekost dekat kamu?" tanyanya. Aku tetap diam, menahan emosiku yang seakan ingin meledak. Ku rogoh ponselku dari dalam tas kecil. Lalu mengirimkan sebuah pesan singkat pada Pak Devan. "Aku boleh numpang tiduran disini ya?" tanya Clara. "Gak boleh!" jawabku tegas menatapnya sinis sambil melipat tangan. "Sombong banget sih, baru ngekost di tempat kayak gini aja udah sombong!" celetuknya sambil bangkit."Kostan kita sama, jadi bukan masalah sombong. Tapi, harus tahu adab ketika masuk ke dalam rumah orang lain. Seengaknya jika belum di izinkan masuk, jangan langsung masuk!" balasku lagi. Clara menatapku tajam. Dia seakan sedang mengibarkan bendera peperangan denganku. "Akan aku

  • Terjerat Cinta Pak Dosen   Bab 19

    Singkat cerita kami tidak pernah bertemu kembali. Aku memutuskan untuk pergi pindah kostan juga agar Pak Devan dan Riko tidak bisa menemuiku lagi. Aku juga sudah bekerja di salah satu restaurant memutuskan untuk berhenti kuliah yang aku anggap itu hanya akan menyusahkan ibu. "Ar, tolong kamu antar pesanan ini ke meja nomer 12!" Kata salah satu teman kerjaku. "Oke, Bang!" segera aku mengantar dua gelas kopi late pesanan itu ke arah yang di tuju. "Ini Mbak pesanannya, selamat menikmati," ucapku ramah padanya. Tapi baru saja aku hendak pergi, wanita berkacamata hitam itu menahan tanganku. "Kamu... Ardilla 'kan?" tanyanya. Aku mengernyitkan dahi, sambil mengangguk mencoba mengingat siapa wanita itu sebenarnya. Saat dia membuka kacamatanya barulah aku bisa mengenalinya. "Iya, saya Ardilla." Jawabku. "Siapa juga yang gak tahu sama kamu, jejak digital itu emang gak akan bisa terhapus. O, ya. Aku cuma mau kasih tahu aja sama kamu kalau semalam Riko ada di apartemen aku." Katanya seolah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status