LOGINLorong menuju ICU dipenuhi deru langkah kaki bergegas dan suara roda brankar yang beradu kasar dengan lantai mengilap. Lampu putih langit-langit terasa terlalu silau, menyayat pandang, sementara udara di sepanjang jalan itu makin dingin dan menyesakkan.
Di samping brankar, tangan Arven Laurent tak pernah sekalipun melepaskan genggamannya pada Elena. Cengkeramannya sempat melemah saat rasa sakit menyerang, tetapi dalam hitungan detik kembali mengencang erat, refleks bawah sadar, seolah ia sedang mempertahankan satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap waras di tengah kekacauan.
“Elena!” seru perawat di depan pintu, lalu mendorongnya terbuka lebar. “Ruangan sudah siap!”
Brankar didorong masuk cepat tapi hati-hati. Suasana ICU jauh lebih sunyi, hanya terdengar dengungan mesin medis dan detak ritmis monitor jantung. Kehadiran keluarga Laurent seolah menambah beban udara yang menyelimuti ruangan itu.
“Elena, ritme jantungnya turun lagi,” ucap Harris tegas tetapi terburu-buru sambil mengamati layar. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak tegang. Angka di layar menunjukkan aritmia makin kacau, tekanan darah dan saturasi oksigen terus merosot mendekati batas bahaya.
Elena segera sigap mendekati ranjang, menatap Arven yang terbaring lemah tapi penuh perjuangan.
“Tuan Muda Laurent, dengarkan saya,” ucapnya tenang tapi tegas sambil menopang bahu pria itu saat nafasnya tersendat berat. “Anda harus tetap tenang. Jangan melawan tubuh Anda sendiri.”
Ketenangan itu mulai runtuh saat dokter pribadi keluarga datang dan membuka kotak obat suntik. Pandangan Arven yang sempat redup seketika kembali tajam penuh kewaspadaan berlebihan.
“Tidak!” Suaranya pecah, bergetar menahan emosi meluap.
Tubuhnya menegang kaku, monitor jantung berbunyi nyaring dan liar. Meski tenaga habis, ia berusaha bangkit, tangan bergerak liar mencabut infus, mata menatap jarum suntik dengan penuh penolakan.
“Elena!” seru Arven penuh kepanikan.
“Cepat, pegang dia! Jangan sampai ia bergerak!” perintah dokter dengan alat suntik di tangannya. Dua pengawal segera maju, tapi sebelum tangan mereka menyentuh, Elena berteriak tegas, “Jangan sentuh pasien!”
Seluruh ruangan membeku. Tak ada yang berani bersuara di hadapan keluarga Laurent, tapi Elena tak peduli. Baginya, bukan sosok CEO atau pewaris konglomerat yang terbaring di sana, melainkan seseorang yang dilanda kepanikan luar biasa melawan ketakutan tersembunyi.
“Tuan Muda Laurent, lihat saya. Hanya ke arah saya,” ucapnya lembut tetapi tegas sambil memegang kedua sisi wajah Arven, memaksanya memusatkan pandangan padanya. Tatapan Arven kacau, nafas terengah, tubuh bergetar halus seolah melawan ingatan buruk yang muncul kembali.
“Jangan,” gumamnya parau. “Jangan bius saya, kumohon.”
Kalimat itu membuat Elena terpaku, bukan kemarahan, melainkan suara ketakutan murni, seolah obat itu akan mengambil alih kendali dirinya sepenuhnya.
“Kondisinya makin kritis. Harus segera disuntik penenang,” tegas dokter bertubuh tinggi itu. “Kalau tidak, ia bisa kelelahan jantung.”
“Tidak sekarang,” potong Elena cepat.
Pria itu menatap tak terima, tetapi Elena membalas tak kalah tajam, “Anda belum paham apa yang ia rasakan. Yang saya lihat adalah pasien dengan trauma berat terhadap tindakan medis, bukan sekadar sakit fisik, melainkan ketakutan mendalam.”
Ruangan kembali sunyi. Dokter terdiam menyadari kemungkinan itu. Di sudut ruangan, Nyonya Besar Laurent mengamati dengan wajah sulit dibaca, tetapi Elena menangkap samar ketegangan, seolah reaksi Arven membangkitkan kenangan masa lalu yang tak ingin diingatnya.
“Tak ada yang akan memaksa Anda, tak ada yang menyakiti Anda,” ucap Elena lembut pada Arven. “Ikuti irama nafas saya.”
Perlahan, tatapan liar Arven kembali terfokus pada Elena, kekakuan tubuhnya melemas, dan grafik monitor perlahan menurun ke angka lebih stabil. Semua orang menyadari perubahan itu, termasuk Nyonya Besar. Arven yang selama ini menolak disentuh dan mengamuk setiap sakit, kini tenang hanya karena kehadiran Elena.
Namun saat perawat berusaha mengganti posisi infus, Arven kembali bereaksi keras mendorongnya mundur. “Jangan sentuh saya!” Monitor kembali melengking. Elena sadar, ini bukan sekadar fobia rumah sakit. Seseorang pernah melakukan sesuatu yang sangat buruk padanya, hingga tubuh dan ingatannya masih menyimpan rasa sakit itu sampai kini.
Arven masih gemetar, nafas berat, tetapi setidaknya detak jantung tak lagi liar. Elena tetap menggenggam tangannya, mengusap lembut punggung tangan itu sambil berjanji, “Tak ada yang menyuntik apa pun tanpa izin Anda lebih dulu. Saya janji.”
Dokter hendak menyela, tetapi satu tatapan tajam Nyonya Besar menghentikannya. Elena melanjutkan pelan, “Saya perlu menstabilkan jantung Anda, tapi saya tak akan melakukan apa pun tanpa memberi tahu Anda duluan.”
Arven menatapnya lama, seolah menimbang apakah ia masih layak dipercaya. Perlahan genggamannya melemah, bukan karena lemas, melainkan karena ia sendiri yang melepaskannya. Nyonya Besar menyaksikan itu takjub, seumur hidup belum pernah ia melihat Arven setenang ini saat berhadapan dengan tindakan medis.
“Elena,” panggil Harris pelan. “Ritmenya mulai melambat.” Elena mengangguk, lalu berkata pada Arven, “Saya akan mengganti cairan infus dengan sangat pelan. Tak akan sakit.”
Arven takut pada hilangnya kendali, bukan rasa sakit fisik. Dan ketakutan sedalam itu pasti punya alasan kuat. “Elena,” suaranya makin lemah parau. “Jangan tinggalkan saya.”
Kalimat itu begitu rapuh, membuat Elena melihat sisi lain sosok yang selama ini dikenal dingin dan angkuh, seseorang yang terlalu lama berjuang sendirian memikul beban tak kasat mata. “Saya di sini,” jawabnya tegas meyakinkan.. Seolah kalimat itu mantra ampuh, grafik jantung kembali berirama teratur. Nafas Arven melambat, kelopak matanya tertutup bukan karena pingsan, melainkan karena tubuhnya akhirnya berhenti melawan.
Keheningan menyelimuti ruangan. Kondisi Arven stabil untuk pertama kalinya malam itu, tetapi semua orang sadar hal yang lebih mengejutkan, orang asing bernama Elena inilah yang mampu menembus benteng pertahanan Arven yang tak pernah bisa ditembus siapa pun.
Nyonya Besar melangkah mendekat menatap cucunya, lalu bertanya pada Elena, “Sudah berapa lama Anda menjadi dokter jantung?”
“Delapan tahun, Nyonya Besar.” jawab Elena dengan tenang.
“Sudah lama,” gumam wanita itu pelan, samar terlihat rasa lega yang tak sempat disembunyikan. “Saya tak pernah melihat dia setenang ini di rumah sakit. Dokter sebelumnya selalu memaksanya dengan obat atau kekuatan, dan hasilnya selalu gagal.”
Elena mengerti, masalah ini bukan sekadar penyakit, melainkan luka masa lalu yang bahkan keluarga Laurent sendiri enggan membahasnya. Saat dokter pribadi hendak protes, Nyonya Besar menghentikannya dengan satu isyarat tangan.
“Mulai malam ini,” ucapnya tegas tapi tenang, “Anda yang akan menangani dan memantau Tuan Muda Laurent.”
Semua orang terkejut, termasuk Harris. Nyonya Besar tak pernah membiarkan orang asing mendekat terlalu jauh pada Arven, akan tetapi malam ini ia memberikan kepercayaan penuh. Elena sendiri tak menyangka, akan tetapi pandangannya segera kembali pada Arven yang kini terlelap damai, jari-jarinya masih menyentuh ujung lengan jasnya seolah takut ditinggalkan.
Dada Elena terasa sesak. Arven bukan sekadar sakit fisik, ia hidup dalam bayang ketakutan yang tak pernah benar-benar hilang.
“Elena,” panggil Harris menyerahkan hasil pemeriksaan. Saat Elena membacanya, rahangnya perlahan menegang. Fungsi ventrikel turun drastis, aritmia masih menetap, kondisinya jauh lebih buruk dari dugaan awal.
“Kau curiga ini sudah stadium lanjut?” tanya Harris pelan.
Elena menatap Arven lama, lalu menjawab berat, “Saya curiga jantungnya sudah rusak sejak lama, dan selama itu pula tak pernah ditangani dengan benar.”
Nyonya Besar segera mendekat bertanya seberapa parah kondisinya. Untuk pertama kalinya, Elena melihat samar kecemasan di mata tua itu, ia mungkin tahu trauma apa yang dialami cucunya, akan tetapi tak menyadari seberapa besar kerusakan fisik yang telah terjadi.
“Saya belum bisa memastikan sebelum pemeriksaan lengkap,” jawab Elena jujur. “Tapi jika ia terus menolak penanganan, risikonya bisa fatal kapan saja.”
Nyonya Besar terdiam menatap Arven, jemarinya mencengkeram gagang tongkat erat menahan cemas. Tiba-tiba detak jantung di monitor kembali naik perlahan. Kelopak mata Arven bergerak, lalu terbuka samar. Begitu melihat alat medis dan hasil pemeriksaan di tangan Harris, ekspresinya berubah dingin penuh kecurigaan.
“Apa yang sebenarnya kalian lakukan?”
Pagi itu, Laurent Group mendadak menjadi pusat perhatian media. Sejak berita tentang Elena tersebar, para jurnalis terus berusaha mendapatkan pernyataan dari Arven, menunggu di lobi gedung dan menghubungi pihak perusahaan. Selama dua hari ia diam. Akan tetapi ketika tuduhan terhadap Elena semakin buruk, ia memutuskan untuk berbicara.“Siapkan konferensi pers,” perintahnya kepada Kael, matanya tertuju pada berkas berita di meja. “Hari ini.”Kael menatapnya serius. “Kau yakin? Begitu kau berbicara, perhatian media akan semakin besar dan bisa merugikan perusahaan.”“Aku tahu,” jawab Arven singkat. “Lalu kenapa?”Arven menutup berkasnya dengan bunyi lembut. “Kalau aku membiarkan mereka terus menyerang Elena hanya karena dia mengenalku, lalu apa bedanya aku dengan orang‑orang yang menggunakan kekuasaan untuk menekan orang lain?”Kael mengangguk pelan. “Baik. Aku akan mengaturnya.”Konferensi pers dimulai siang itu. Puluhan jurnalis memenuhi ruangan, kamera mengarah ke podium. Saat Arven mu
Elena kembali memenuhi berbagai pemberitaan. Akan tetapi kali ini, pemberitaan tersebut tidak lagi sekadar mempertanyakan kedekatannya dengan Arven. Tuduhannya jauh lebih tajam.“Dokter Elena Diduga Memanfaatkan Hubungan dengan Pewaris Laurent untuk Keuntungan Pribadi.”Judul itu muncul hampir bersamaan di berbagai portal berita. Beberapa artikel bahkan menampilkan foto-foto Elena saat pertama kali menangani Arven di rumah sakit. Percakapan profesional yang seharusnya menjadi bagian dari hubungan dokter dan pasien dipotong-potong, kemudian disusun seolah-olah Elena sejak awal sengaja mencari kesempatan untuk mendekati Arven.Ada pula narasi bahwa Elena mengetahui identitas Arven sebagai pewaris Laurent Group dan menggunakan posisinya sebagai dokter untuk mendapatkan akses lebih dekat kepadanya. Tidak ada bukti yang benar-benar mendukung tuduhan tersebut. Akan tetapi opini publik tidak selalu membutuhkan bukti untuk terbentuk.Di rumah sakit, suasana berubah. Beberapa staf memilih diam
Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa. Elena baru saja keluar dari ruang pemeriksaan ketika salah satu perawat menghampirinya dengan wajah yang berbeda dari biasanya.“Dokter Elena,” ucap perawat itu pelan, matanya tak lepas dari layar ponsel yang digenggam erat.Elena berhenti melangkah, menatapnya dengan dahi sedikit berkerut. “Ada apa?”Perawat itu terlihat ragu, menelan ludah sebelum akhirnya menyerahkan ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. “Sepertinya Dokter perlu melihat ini.”Elena menerima ponsel tersebut, jemarinya menyentuh layar yang masih menyala. Sebuah berita sedang menjadi perhatian publik. Judulnya membuat langkah Elena terhenti.“Dokter Muda Dekat dengan Pewaris Laurent Group, Ada Hubungan di Balik Perawatan?” Alis Elena langsung berkerut dalam. Ia menatap tulisan itu sejenak, seakan tak percaya apa yang dibacanya.Ia membaca artikel itu perlahan, baris demi baris. Awalnya hanya membahas hubungannya dengan Arven. Akan tetapi semakin jauh ia membaca, sema
Pagi itu, Kael tidak langsung datang ke ruang Arven. Ia memilih sebuah ruangan kecil di lantai bawah yang jarang digunakan. Tidak ada staf yang bekerja di sana, tidak ada rapat yang dijadwalkan, dan yang terpenting, tidak ada akses langsung ke sistem utama Laurent Group.Laptopnya terbuka. Di hadapannya terdapat beberapa laporan transaksi saham, catatan komunikasi internal, serta data yang berhasil ia kumpulkan secara terpisah dari sistem perusahaan. Semua terlihat biasa. Terlalu biasa.Kael kembali membuka daftar transaksi yang ia terima dari pihak ketiga. Ia mencocokkannya dengan waktu rapat dewan, perubahan kepemilikan saham, dan informasi yang sebelumnya hanya diketahui oleh Arven dan beberapa orang kepercayaannya.Satu pola mulai terlihat. Setiap kali ada keputusan penting yang belum diumumkan secara resmi, beberapa jam kemudian selalu muncul pergerakan tertentu pada saham.Kael menyipitkan mata. Itu bukan kebetulan. Ia membuka catatan lain. Tanggal rapat internal. Waktu keputusa
Sebenarnya, Claire telah datang ke gedung Laurent Group sejak pagi, ketika rapat dewan yang dipimpin Arven sedang berlangsung. Akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam ruang rapat. Ia memilih menunggu di luar, bergerak melalui jalur yang telah disiapkannya, dan memastikan semua rencananya berjalan tanpa menarik perhatian.Meskipun tidak hadir di dalam ruang rapat, bukan berarti Claire tidak terlibat. Semua telah diatur olehnya. Malam mulai turun ketika Claire meninggalkan gedung Laurent Group. Ia tidak langsung pulang.Mobilnya berhenti di sebuah restoran eksklusif yang cukup jauh dari pusat kota. Tempat itu tenang, tertutup, dan jarang dipenuhi wartawan. Claire memasuki ruangan privat di lantai atas tanpa pengawalan berlebihan.Di dalam, dua orang sudah menunggunya. Keduanya merupakan anggota dewan Laurent Group. Claire tersenyum tipis ketika menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.“Rapat tadi cukup melelahkan,” ucap salah satu dari mereka sambil menyandarkan punggung ke kursi, suaran
Sore itu, setelah ruang rapat kembali kosong, Arven masih berada di ruangannya. Dokumen hasil rapat dewan tergeletak di atas meja, tumpukan kertas itu tampak mengantongi beban berat. Akan tetapi bukan laporan keuangan yang sedang ia perhatikan. Sebuah laporan transaksi saham terbuka lebar di layar laptopnya.Arven menggeser perangkat itu ke arah Kael, tatapannya tetap terpaku pada deretan angka.“Lihat ini,” ucapnya pelan akan tetapi tegas. Kael mendekat, keraguan mulai muncul di wajahnya.“Apa?” tanyanya, menatap layar yang berkedip samar.“Perpindahan saham,” jawab Arven, jarinya menunjuk satu baris yang dicetak tebal.Kael membaca beberapa baris transaksi dengan saksama. Awalnya tidak ada yang terlihat aneh. Akan tetapi semakin lama ia memperhatikan, alisnya mulai berkerut rapat.“Ini terjadi beberapa minggu terakhir?” tanyanya, nada suaranya mulai berubah. Arven mengangguk pelan, akan tetapi wajahnya tak melemah sedikit pun.“Bukan hanya beberapa minggu,” bantahnya lembut akan tet







