Home / Romansa / Terjerat Cinta Pasien Tampan / Bab 58. Arven Menyadarinya

Share

Bab 58. Arven Menyadarinya

Author: Aireth
last update publish date: 2026-09-22 14:57:21

Sejak pagi itu, Arven mulai memperhatikan sesuatu. Elena berubah. Awalnya ia mencoba mengabaikannya. Mungkin Elena sedang sibuk. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir setelah percakapan mereka malam sebelumnya. Akan tetapi semakin hari, semakin sulit bagi Arven untuk menyangkalnya.

Elena memang menjauh. Ia tidak lagi datang sesering sebelumnya. Ketika datang, sikapnya lebih formal. Tidak ada lagi percakapan kecil, tidak ada lagi perhatian yang terasa personal. Bahkan cara Elena memanggilnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 59. Mengapa Kau Menghindariku?

    Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah tirai. Elena datang lebih awal dari biasanya. Langkah kakinya terdengar pelan di lantai, akan tetapi terdengar jelas di telinga Arven yang sudah terjaga sejak beberapa saat lalu. Ia mengetuk pintu sebelum masuk."Selamat pagi," sapanya, suaranya tenang dan teratur, akan tetapi ada jarak yang terasa di antara nada suaranya, seolah ia sengaja menempatkan tembok kecil di antara mereka sejak kalimat pertama terucap.Arven yang sedang duduk di tempat tidur mengangkat wajah perlahan, menatap wanita itu lekat-lekat, berusaha mencari sisa kehangatan yang dulu selalu ada di tatapan itu."Selamat pagi, Dokter," jawabnya pelan, hanya dua kata yang sederhana, akan tetapi entah mengapa terasa begitu jauh, seolah mereka bukan lagi dua orang yang pernah berbagi cerita rahasia di tengah malam, melainkan orang asing yang baru pertama kali berpapasan.Elena berjalan mendekat sambil memeluk tablet di d

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 58. Arven Menyadarinya

    Sejak pagi itu, Arven mulai memperhatikan sesuatu. Elena berubah. Awalnya ia mencoba mengabaikannya. Mungkin Elena sedang sibuk. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir setelah percakapan mereka malam sebelumnya. Akan tetapi semakin hari, semakin sulit bagi Arven untuk menyangkalnya.Elena memang menjauh. Ia tidak lagi datang sesering sebelumnya. Ketika datang, sikapnya lebih formal. Tidak ada lagi percakapan kecil, tidak ada lagi perhatian yang terasa personal. Bahkan cara Elena memanggilnya pun berubah.Dulu, "Arven."Sekarang, "Anda."Perubahan kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Akan tetapi entah mengapa, setiap kali mendengarnya, dada Arven terasa sesak.Pagi itu Elena masuk untuk melakukan pemeriksaan. Ia melangkah masuk dengan langkah yang rapi, akan tetapi matanya tidak lagi menatapnya lama seperti biasanya."Selamat pagi," sapa Elena, suaranya tenang akan tetapi terasa dingin, tanpa senyum yang biasa menyambutnya."Selamat pagi, Dokter," jawab Arven pelan, matanya ta

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 57. Jarak Profesional

    Sejak pagi itu, Elena telah mengambil keputusan. Ia harus menjaga jarak. Bukan karena Arven melakukan kesalahan, bukan pula karena ia menyesali percakapan semalam. Justru karena kata-kata yang terucap itu begitu berarti baginya. Arven telah mempercayainya, membuka luka yang dipendam sendirian selama lima tahun. Dan Elena menyadari, sejak saat itu, perasaannya mulai berubah. Ia tidak lagi melihatnya sekadar sebagai pasien. Itulah yang membuatnya takut. Seorang dokter boleh peduli, boleh khawatir, boleh merasa lega melihat pasiennya membaik. Akan tetapi Elena mulai merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tak seharusnya tumbuh di antara mereka. Maka ia memilih satu hal yang dianggapnya benar, menjaga jarak. Pagi itu, Elena masuk ke kamar Arven seperti biasa, akan tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu. "Selamat pagi," sapa Elena, senyum tipis menyungging di bibirnya. Arven yang duduk di tepi ranjang mendongak. "Dokter," jawabnya lembut. "Bagaimana ke

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 56. Bukan Sekadar Pasien

    Keesokan paginya, Elena kembali ke rumah sakit lebih awal dari biasanya. Entah mengapa, sejak membuka mata pagi itu, pikirannya tak pernah lepas dari percakapan semalam bersama Arven. Tentang masa lalu lima tahun silam. Tentang ketakutan yang selama ini ia pendam sendirian. Tentang bagaimana Arven pernah berada di titik paling tak berdaya, sementara orang yang seharusnya melindunginya justru membiarkannya menghadapi segalanya seorang diri.Elena masih teringat jelas tatapan Arven saat menceritakan semuanya, tatapan seseorang yang sudah terlalu lama memikul luka sendirian. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dirinya tidak sekadar mendengar kisah seorang pasien. Ia mendengar suara hati seorang manusia yang sedang berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri.Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Arven. Tangan terangkat perlahan, mengetuk permukaan kayu itu dua kali.Tidak ada jawaban. Elena mengerutkan kening, mengetuk sekali lagi."Arven?" panggilnya pelan.Masih s

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 55. Rahasia di Balik Kecelakaan

    Pagi itu, Kael tiba di gedung Laurent Group jauh lebih awal dari biasanya. Langkahnya tegas, akan tetapi matanya menyimpan kekhawatiran yang tak diungkapkan siapa pun.Kebanyakan ruangan masih gelap, lorong-lorong sepi, dan hanya suara langkah kakinya yang bergema di koridor luas. Ia sudah duduk di meja kerjanya sejak satu jam lalu, lampu meja menyinari tumpukan berkas yang tersusun rapi, laporan resmi kecelakaan Arven, data teknis kendaraan, catatan rute perjalanan, serta salinan arsip rekaman keamanan yang berhasil ia ambil.Ia membaca ulang lembar demi lembar. Secara tertulis, semuanya sempurna. Terlalu sempurna. Seolah disusun dengan cermat agar tidak ada yang terlihat keliru. Dan justru itulah yang membuat perut Kael terasa mual."Tidak mungkin sesederhana ini," gumamnya pelan, menyandarkan punggung ke kursi kulit, jari-jarinya mengetuk pelan tepian meja.Laporan menyatakan, kendaraan kehilangan cengkeraman di jalan basah, tidak ada kendaraan

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 54. Untuk Pertama Kalinya

    Malam itu, ruangan terasa lebih tenang dari biasanya. Hanya terdengar dengung lembut pendingin ruangan dan bunyi samar alat medis dari kejauhan. Elena tetap di dekat Arven, yang duduk diam dengan kedua tangan bertaut di pangkuan. Sudah beberapa menit ia tak bicara, tatapannya terpaku pada lantai, seolah mengumpulkan keberanian membuka sesuatu yang lama disimpan rapat.Elena tak mendesaknya. Ia tahu, jika Arven sudah ingin bercerita, yang dibutuhkan bukan pertanyaan, melainkan pendengar yang setia.Arven menarik nafas panjang. “Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan kepada siapa pun,” ucapnya pelan, mata masih tertuju ke bawah.Elena diam, menunggu.“Lima tahun lalu... setelah serangan jantung pertamaku, kondisiku sangat buruk,” lanjutnya, suaranya bergetar halus. “Claire bilang ada prosedur yang harus kulakukan.”“Dan kau menolak?” tanya Elena lembut, mendekat sedikit. Arven mengangguk pelan.“Aku takut,” akuinya, menunduk lebih dalam. “Aku bilang kepadanya aku ingin menunggu, be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status