LOGINSejak pagi itu, Arven mulai memperhatikan sesuatu. Elena berubah. Awalnya ia mencoba mengabaikannya. Mungkin Elena sedang sibuk. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir setelah percakapan mereka malam sebelumnya. Akan tetapi semakin hari, semakin sulit bagi Arven untuk menyangkalnya.Elena memang menjauh. Ia tidak lagi datang sesering sebelumnya. Ketika datang, sikapnya lebih formal. Tidak ada lagi percakapan kecil, tidak ada lagi perhatian yang terasa personal. Bahkan cara Elena memanggilnya pun berubah.Dulu, "Arven."Sekarang, "Anda."Perubahan kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Akan tetapi entah mengapa, setiap kali mendengarnya, dada Arven terasa sesak.Pagi itu Elena masuk untuk melakukan pemeriksaan. Ia melangkah masuk dengan langkah yang rapi, akan tetapi matanya tidak lagi menatapnya lama seperti biasanya."Selamat pagi," sapa Elena, suaranya tenang akan tetapi terasa dingin, tanpa senyum yang biasa menyambutnya."Selamat pagi, Dokter," jawab Arven pelan, matanya ta
Sejak pagi itu, Elena telah mengambil keputusan. Ia harus menjaga jarak. Bukan karena Arven melakukan kesalahan, bukan pula karena ia menyesali percakapan semalam. Justru karena kata-kata yang terucap itu begitu berarti baginya. Arven telah mempercayainya, membuka luka yang dipendam sendirian selama lima tahun. Dan Elena menyadari, sejak saat itu, perasaannya mulai berubah. Ia tidak lagi melihatnya sekadar sebagai pasien. Itulah yang membuatnya takut. Seorang dokter boleh peduli, boleh khawatir, boleh merasa lega melihat pasiennya membaik. Akan tetapi Elena mulai merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tak seharusnya tumbuh di antara mereka. Maka ia memilih satu hal yang dianggapnya benar, menjaga jarak. Pagi itu, Elena masuk ke kamar Arven seperti biasa, akan tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu. "Selamat pagi," sapa Elena, senyum tipis menyungging di bibirnya. Arven yang duduk di tepi ranjang mendongak. "Dokter," jawabnya lembut. "Bagaimana ke
Keesokan paginya, Elena kembali ke rumah sakit lebih awal dari biasanya. Entah mengapa, sejak membuka mata pagi itu, pikirannya tak pernah lepas dari percakapan semalam bersama Arven. Tentang masa lalu lima tahun silam. Tentang ketakutan yang selama ini ia pendam sendirian. Tentang bagaimana Arven pernah berada di titik paling tak berdaya, sementara orang yang seharusnya melindunginya justru membiarkannya menghadapi segalanya seorang diri.Elena masih teringat jelas tatapan Arven saat menceritakan semuanya, tatapan seseorang yang sudah terlalu lama memikul luka sendirian. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dirinya tidak sekadar mendengar kisah seorang pasien. Ia mendengar suara hati seorang manusia yang sedang berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri.Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Arven. Tangan terangkat perlahan, mengetuk permukaan kayu itu dua kali.Tidak ada jawaban. Elena mengerutkan kening, mengetuk sekali lagi."Arven?" panggilnya pelan.Masih s
Pagi itu, Kael tiba di gedung Laurent Group jauh lebih awal dari biasanya. Langkahnya tegas, akan tetapi matanya menyimpan kekhawatiran yang tak diungkapkan siapa pun.Kebanyakan ruangan masih gelap, lorong-lorong sepi, dan hanya suara langkah kakinya yang bergema di koridor luas. Ia sudah duduk di meja kerjanya sejak satu jam lalu, lampu meja menyinari tumpukan berkas yang tersusun rapi, laporan resmi kecelakaan Arven, data teknis kendaraan, catatan rute perjalanan, serta salinan arsip rekaman keamanan yang berhasil ia ambil.Ia membaca ulang lembar demi lembar. Secara tertulis, semuanya sempurna. Terlalu sempurna. Seolah disusun dengan cermat agar tidak ada yang terlihat keliru. Dan justru itulah yang membuat perut Kael terasa mual."Tidak mungkin sesederhana ini," gumamnya pelan, menyandarkan punggung ke kursi kulit, jari-jarinya mengetuk pelan tepian meja.Laporan menyatakan, kendaraan kehilangan cengkeraman di jalan basah, tidak ada kendaraan
Malam itu, ruangan terasa lebih tenang dari biasanya. Hanya terdengar dengung lembut pendingin ruangan dan bunyi samar alat medis dari kejauhan. Elena tetap di dekat Arven, yang duduk diam dengan kedua tangan bertaut di pangkuan. Sudah beberapa menit ia tak bicara, tatapannya terpaku pada lantai, seolah mengumpulkan keberanian membuka sesuatu yang lama disimpan rapat.Elena tak mendesaknya. Ia tahu, jika Arven sudah ingin bercerita, yang dibutuhkan bukan pertanyaan, melainkan pendengar yang setia.Arven menarik nafas panjang. “Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan kepada siapa pun,” ucapnya pelan, mata masih tertuju ke bawah.Elena diam, menunggu.“Lima tahun lalu... setelah serangan jantung pertamaku, kondisiku sangat buruk,” lanjutnya, suaranya bergetar halus. “Claire bilang ada prosedur yang harus kulakukan.”“Dan kau menolak?” tanya Elena lembut, mendekat sedikit. Arven mengangguk pelan.“Aku takut,” akuinya, menunduk lebih dalam. “Aku bilang kepadanya aku ingin menunggu, be
Cahaya sore memudar perlahan, menyisakan pita keemasan di lantai kamar yang hening. Arven duduk bersandar di tempat tidur, menahan beban yang ia pikul sendirian bertahun-tahun, meyakini lukanya adalah kelemahan yang tak boleh diketahui siapa pun. Hingga Elena duduk di sisinya, tanpa menghakimi, tanpa terburu-buru.“Kau tidak lemah, Arven.” Kalimat itu akhirnya keluar dari bibir Elena.Arven yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, ia tampak seolah baru mendengar sesuatu yang selama ini tak diizinkannya untuk percaya.“Apa?” tanyanya pelan, seakan takut kata itu lenyap jika diucapkan terlalu keras.Elena menarik kursi lalu duduk di samping tempat tidur, tak ingin berdiri seperti dokter yang menilai. Kali ini ia hanya ingin mendengarkan.“Aku bilang, kau tidak lemah,” ulangnya lembut akan tetapi tegas, tak berpaling. Arven tersenyum tipis, lebih tampak seperti upaya menghindari pembicaraan.“Kau tidak tahu se







