LOGINKirana mengekori ibu dan anak itu dari belakang. Wanita itu melangkah kakinya perlahan, meski bukan hal yang baru datang ke rumah mertuanya, tetapi bagi Kirana setiap langkah kakinya begitu asing.Tidak ada sapaan apa kabar atau lainnya, wanita paruh baya itu hanya fokus pada anak lelakinya. Meski ada rasa perih yang menjalar, tetapi Kirana berusaha untuk abai.Kirana meletakkan benda milik Puspa di atas meja, wanita itu bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun.“Bu, ini barang mbak Puspa. Waktu itu beli tapi dia pakai alamat rumah aku buat kirimnya,” jelas Raka yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Widya.Sebelumnya Puspa telah mengatakan pada Widya jika ia membeli tas bermerek dan sengaja ia kirimkan ke alamat Raka. Niat hati Puspa memang untuk membantu Kirana marah dan iri padanya.“Nyonya, makan malam sudah siap,” kata pelayan yang baru saja datang.“Ayo, Raka kita makan.” Widya menarik pergelangan tangan anaknya menuju meja makan.Terserah jika mereka menganggap Kirana t
Pakaian yang tadinya terlihat begitu rapi, kini telah kusut di semua bagian. Bahkan, beberapa bagian dari pakaian milik Kirana basah oleh air mata yang menetes dari kedua netranya. Wanita itu memang berhenti terisak, tetapi ia masih diam membeku mencerna semua yang baru saja terjadi. Brak. Suara pintu terbuka dengan nyaring, bukan hanya satu atau dua orang saja yang ada di sana. Mereka semua menatap penuh tanya. Suara sumbang memenuhi ruang kerja Raka. Pria itu mendesis marah sebab mereka semua membuang waktu Raka yang berharga. Tidak ingin menimbulkan keributan, Raka berjanji pada Kirana saat itu juga jika akan menikahinya. *** Dua orang yang sedang duduk di meja yang sama terlihat lebih asyik dengan makanan masing-masing. Suara sendok dan garpu menyapu keheningan dari dua anak manusia. Tidak ada yang bersuara, mereka lebih memilih untuk fokus dan menikmati makanan mereka. Namun meski begitu, pikiran Kirana melalang buana entah ke mana. Wanita itu sedari tadi hanya me
Sepasang mata bermanik hitam milik Raka menatap lekat wanita yang saat ini duduk di sebelahnya. Bukan tatapan kecemburuan atau semacamnya. Pria itu menatap Kirana dengan amaran yang membara dalam dada.“Sebenarnya aku bertanya-tanya, apakah kamu dan Gio punya hubungan yang dekat? Tapi aku mencoba mematahkan pemikiranku itu. Tidak mungkin Gio suka sama wanita yang sudah memiliki suami.” Tangan Kirana mencengkram selimut sprei yang ada di sana. Sprei yang tadinya rapi kini telah kusut akibat cengkraman kuat dari Kirana.Amarah yang memuncak itu tidak bisa dikendalikan oleh Raka. Pria itu mengulurkan tangan kirinya memegang leher jenjang milik Kirana. Awalnya memang hanya sentuhan biasa saja, tetapi lama-kelamaan sentuhan itu berubah menjadi cengkraman meski tidak kuat.“Aku tidak mau hubunganku dengan Gio hancur hanya kerena wanita rendah sepertimu!” desis Raka tepat di telinga Kirana.Cengkraman di leher Kirana membuat wanita itu mau tidak mau mendongakkan wajahnya. Dapat ia lihat rah
Pria yang dipanggil namanya itu tidak mendengarkan panggilan dari Kirana. Wanita itu berusaha untuk lepas dari pelukan Gio. Namun, seberapa kuat Kirana mencoba ia akan kalah pada tenaga si pria.“Nanti Raka lihat.”“Biar dia tahu ada yang lebih enak di sini dari pada kertas di atas meja itu.”Mendengar perkataan Gio yang terlalu frontal membuat kedua pipi Kirana merah bak kepiting rebus. “Gio, lepasin dulu aku mau ngomong.” Pelukan dari pinggang Kirana melemah, pria itu tidak melepaskannya, tetapi dengan sekali tarikan, wajah Kirana kini telah menghadap Gio. Wajah mereka kini sangat dekat bahkan keduanya seolah bisa merasakan napas masing-masing.“Gi-Gio,” gugup Kirana mencoba menggigit bibirnya menahan sebuah rasa yang sulit untuk ia jelaskan.“Biar aku bantu?” “A-apa?”“Bibirmu, biar aku bantu gigit, bagaimana?” ucap Gio seraya menatap bibir tipis milik Kirana.Kedua tangan Kirana mendorong bahu Gio dan berhasil membuat pria itu sedikit menjauh darinya. “Jangan begini. Ada Raka.”
Kirana mengerutkan dahinya ketika ia mendengar deru mobil Raka yang baru saja masuk ke halaman rumah. Wanita itu lantas melirik pada jam dinding dan bergumam, “Masih jam segini.”Bahkan jarum pendek belum sepenuhnya berada tepat di angka tujuh. Kepulangan Raka malam ini terlalu cepat dan tidak seperti biasanya. Raka akan pulang jika malam sudah benar-benar larut atau bahkan hampir tengah malam tiba. Dengan dalih seorang CEO di bidang properti akan sangat sibuk dengan pengembangan perusahaan dan lain sebagainya.Kirana masih duduk di atas sofa dengan ponsel yang ia mainkan. Wanita itu sibuk dengan media sosialnya yang sudah lama tidak ia buka. Jika mengingat masa mudanya sebelum menikah dengan Raka, wanita itu sangat aktif di sana.Meski Kirana fokus pada benda pipih miliknya, tetapi ia masih bisa mendengar suara pintu mobil ditutup. Jika tadi Kirana dibuat bingung dengan kepulangan Raka yang lebih awal, tetapi wanita itu kembali menautkan alisnya. Suara langkah kaki itu … bukan hanya
Meski Kirana harus bersusah payah bangun dari ranjang empuknya, tetapi wanita itu pada akhirnya berhasil juga. Namun, ia masih dapat merasakan nyeri pada tubuh bagian bawahnya atas perlakuan kasar Raka padanya semalam.Siapa yang menyangka jika Raka benar-benar melupakan hari ulang tahun pernikahan yang ke dua tahunnya bersama dengan Kirana. Bahkan tidak ada basa-basi permintaan maaf dari pria itu karena pulang terlambat.Kirana mendengus sebal, ia harus berterima kasih pada dirinya sendiri karena telah bertahan dalam pernikahan ini selama dua tahun lamanya.“Mana kopiku?” tanya sebuah suara yang baru saja datang dari belakang Kirana.Kirana yang baru saja memakai apron itu menoleh dan mendapati Raka yang sudah berdiri di sana dengan wajah khas bangun tidurnya.“Akan aku buatkan,” ucap Kirana lantas ia segera membuatkan kopi untuk suaminya itu.Raka duduk seraya membolak-balikkan lembaran demi lembaran yang Kirana yakini itu adalah dokumen kerja Raka. Jika biasanya Kirana akan cerewet







