แชร์

7. Pertengkaran Di Meja Makan

ผู้เขียน: Dwi Yuni Sulastri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-17 20:03:12

Meski Kirana harus bersusah payah bangun dari ranjang empuknya, tetapi wanita itu pada akhirnya berhasil juga. Namun, ia masih dapat merasakan nyeri pada tubuh bagian bawahnya atas perlakuan kasar Raka padanya semalam.

Siapa yang menyangka jika Raka benar-benar melupakan hari ulang tahun pernikahan yang ke dua tahunnya bersama dengan Kirana. Bahkan tidak ada basa-basi permintaan maaf dari pria itu karena pulang terlambat.

Kirana mendengus sebal, ia harus berterima kasih pada dirinya sendiri karena telah bertahan dalam pernikahan ini selama dua tahun lamanya.

“Mana kopiku?” tanya sebuah suara yang baru saja datang dari belakang Kirana.

Kirana yang baru saja memakai apron itu menoleh dan mendapati Raka yang sudah berdiri di sana dengan wajah khas bangun tidurnya.

“Akan aku buatkan,” ucap Kirana lantas ia segera membuatkan kopi untuk suaminya itu.

Raka duduk seraya membolak-balikkan lembaran demi lembaran yang Kirana yakini itu adalah dokumen kerja Raka. Jika biasanya Kirana akan cerewet dalam segala hal, wanita itu kini memilih lebih banyak diam.

Semua perlakuan Raka dapat ia maafkan, tetapi kejadian semalam membuat ia sudah diambang kecewa.

“Ini.” Tangan mungil itu meletakkan gelas berisikan kopi yang diminta Raka.

Raka yang sedari tadi sibuk membalikkan dokumen pun berhenti sejenak. Dahinya mengernyit bingung. Ia menatap istrinya yang kembali berkutat dengan pisau dapur.

Jika tidak salah ingat, semalam Raka sebelum masuk ke dalam kamar, ia tanpa sengaja melihat makanan yang ada di atas meja. Namun, sekarang ia tidak melihat makanan itu pagi ini.

“Kirana,” panggil Raka menutup dokumen miliknya.

“Hem,” jawab Kirana tanap menoleh sedikit pun.

“Semalam aku lihat banyak makanan di atas meja. Sekarang mana?”

“Udah basi, udah aku buang tadi.” Tangan Kirana masih lincah mengupas bawang merah.

Pagi ini, tidak ada yang spesial bagi Kirana. Jika biasanya wanita itu akan memasak makanan yang menjadi kesukaan suaminya, hari ini ia hanya akan membuat nasi goreng.

“Apa?” bentak Raka seraya kedua matanya membulat setelah mendengar jawaban dari istrinya.

Kirana menghentikan kegiatannya mengupas bawang merah, wanita itu membeku di tempat setelah mendengar teriakan suaminya.

“Kamu buang gitu aja?” Kembali Raka bersuara.

Pisau yang semula berada dalam genggaman Kirana kini ia letakkan begitu saja. Wanita itu menarik napas panjang lantas ia memutar tubuhnya dan menatap lekat sang suami.

Kedua manik berwarna hitam itu menyimpan sebuah rasa kecewa yang mendalam. Berjam-jam ia memasak makanan yang spesial untuk Raka dan lama sudah ia menunggu kepulangan suaminya, tetapi yang ia dapat hanyalah kabar jika ia lembur untuk semalam.

“Lalu harus aku apakan, Mas?” Suara itu sedikit bergetar. Kirana mencoba menyembunyikan luka dan kecewa yang ia rasa.

“Bisa kamu masukkan ke dalam kulkas dan kamu hangatkan untuk sarapan.” Raka mengusap rambutnya kasar.

“Kamu ini, susah payah aku lembur dan cari duit biar enggak ada yang kekurangan tapi kamu malah buang-buang makanan! Sama aja itu menghambur-hamburkan uang!” ketus Raka.

“Kamu itu emang jadi istri enggak pernah benar, ya! Udah dua tahun nikah masih gini-gini aja!” pelik Raka.

Tanpa menunggu penjelasan dari Kirana, Raka lekas berlalu begitu saja dari hadapan sang istri. Bahkan, kopi yang batu saja diminta pun tidak disentuh sama sekali.

Kirana menatap kepergian Raka dalam diam. Kedua matanya menyembunyikan rasa kecewa yang tidak terhingga. Air mata telah terbendung di pelupuk matanya. Kedua kaki wanita itu begitu lemas, jika saja Kirana tidak menopang tubuhnya dengan berpegangan pada kursi, sudah dapat dipastikan tubuhnya ambruk seketika.

Bibir Kirana bergetar, senyum tipis terukir di wajahnya. Bukan senyum senang atau bahagia, melainkan lengkungan tipis itu bak sebuah seringai.

“Menghamburkan uang katamu?” tanyanya pada angin lalu.

Kirana melepas apron yang ia gunakan dan meletakkan di atas meja makan. “Lalu ibumu yang minta uang untuk kesenangannya dan kakakmu yang minta uang untuk mengoleksi tas itu apa namanya?” Suaranya parau karena sesak di dalam dada.

Pada akhirnya buliran bening yang coba ia tahan luruh sudah. Pipinya yang mulus kini dibanjiri oleh air mata.

“Apa memang sudah tidak ada harapan untuk rumah tangga kita, Mas?” Bagaikan dihantam gada dengan berat puluhan kilo, dada Kirana terasa sesak.

Suasana hati yang sudah tidak karuan, membuat Kirana mengurungkan niatnya untuk membuat sarapan. Lagi pula Raka juga sudah berangkat sejak tadi.

Wanita itu memilih untuk merapikan dapur dan bergegas membersihkan diri. Jika dulu ia akan dengan tidak sabar untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya, kini Kirana mencoba acuh dan berusaha untuk tidak peduli.

Kirana yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya, bel rumah berbunyi. Kirana dengan tergesa berlari menuju pintu depan dan segera membukanya.

“Rumah pak Raka?” tanya pria yang memakai jaket dengan logo ekspedisi di dada dan helm yang masih bertengger di kepalanya. Tangan kanannya memegang sebuah benda yang siap untuk diberikan pada Kirana.

Kirana terdiam cukup lama, ia memiringkan kepala sebelum ia menjawab, “Benar.”

“Ada paket. Silahkan tanda tangan di sini.”

Kirana mengambil bolpoin yang disodorkan oleh pria di depannya dan memulai tanda tangan yang diminta.

Sepeninggalan petugas ekspedisi, Kirana membaca detail luar dari benda yang saat ini ia pegang. Sebuah brand ternama tertera di sana.

“Untuk apa mas Raka beli sesuatu dari brand terkenal dunia ini?” gumamnya pada diri sendiri.

Tidak berselang lama sebuah ingatan muncul begitu saja. Puspa, kakak iparnya meminta sebuah tas keluaran terbaru dari brand yang saat ini ia pegang.

“Mana mungkin untukku, kan? Dua tahun pernikahan kamu bahkan enggak pernah beliin aku barang mahal!” dengusnya meratapi nasib.

Kirana yang baru saja melangkahkan kakinya mendapati ponselnya bergetar. Wanita itu menyipitkan kedua matanya tatkala melihat nama penelepon di layar ponsel.

“Mbak Puspa?” gumamnya.

Kirana menggeser ikon tombol berwarna hijau lantas ia menempelkan ponsel di telinganya.

“Halo, Mbak.”

“Barang milikku udah sampai, kan? Kurirnya tadi kirim pesan ke aku soalnya.”

Hah … benar saja. Untuk apa Puspa menghubungi dirinya jika bukan untuk benda yang saat Ini Kirana bawa. Memang Puspa akan peduli dengan apa yang terjadi pada Kirana?

“Sudah,” jawab Kirana singkat.

“Hah … aku senang banget punya adik yang berbakti sama ibu dan kakaknya. Ya sudah, nanti aku ambil saja ke sana.”

Sambungan telepon terputus begitu saja. Kirana tidak peduli, ia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan meletakkan benda milik Puspa tadi.

Kirana terdiam sejenak, pandangannya tidak lepas dari benda yang baru saja ia letakkan di atas meja itu. “Jadi dia sengaja mengirimkannya ke alamat rumah ini agar aku cemburu karena suamiku lebih mementingkan keluarganya?”

Kirana mendecih dengan tatapan yang menohok.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   72. Masuk Rumah Sakit

    Matahari telah menampakkan sinarnya. Sinar itu menembus melalui celah-celah kamar. Pusing yang ia dera membuat Kirana begitu berat hanya sekedar bangun dari kasur.“Kenapa, sih, aku?” gumamnya seorang diri.Namun, Kirana tidak mau jika ia terus berada di dalam kamar. Ia harus segera beraktivitas agar pusing di kepala segera sembuh. Lagi pula beberapa novel menunggu dirinya untuk dikerjakan.Tiba-tiba tubuh Kirana limbung. Pandangannya mendadak berkunang-kunang saat kakinya baru melangkah beberapa langkah dari ranjang."Aw ...."Kirana mengaduh kesakitan.Wanita itu berusaha meraih ujung meja sebagai penopang, tetapi jemarinya gagal menggapainya.Bruk!Tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai kamar.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Sementara itu, sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah. Heni turun sambil membawa beberapa kantong belanja yang sengaja ia siapkan untuk menantu kesayangannya.Semalam Gio berulang kali mengingatkan agar dirinya datang pagi-pagi. Awalnya Heni mengangga

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   71. Ditinggal Sendiri

    Kirana menutup ritsleting koper dengan kedua tangannya lalu menghembuskan napas pelan. Semua kebutuhan Gio untuk perjalanan dinas malam ini sudah ia siapkan. Mulai dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, berkas yang harus dibawa, hingga obat-obatan yang biasa dikonsumsi suaminya saat mengalami sakit kepala akibat kelelahan bekerja.Ia menggeser koper itu ke dekat pintu kamar sebelum meluruskan punggungnya. "Harusnya cukup,” gumam Kirana menatap koper yang sudah rapi itu.Pandangan Kirana beralih ke jam dinding. Gio masih punya waktu dua jam berada di rumah. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengalir. Gio masih membersihkan diri setelah pulang bekerja.Kirana duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya perlahan. Entah kenapa tubuhnya terasa lebih cepat lelah akhir-akhir ini. Hanya memasukkan beberapa barang ke dalam koper saja ia merasa lelah.Pintu kamar mandi terbuka. Gio melangkah keluar sambil mengacak rambutnya yang masih basah dengan handuk. Aroma sabun yang segar l

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   79. Luar Kota

    Entah apa yang terjadi, tetapi sejak pagi tadi perasaan Gio tidak tenang. Meski tubuhnya duduk di ruang rapat, pikirannya terus kembali pada Kirana.Wajah istrinya tampak lebih pucat dari biasanya. Wanita itu juga beberapa kali terlihat mudah lelah dalam beberapa hari terakhir. Namun, setiap kali Gio mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, Kirana selalu menolak dengan alasan hanya kelelahan.Kekhawatiran itu membuat Gio sempat menceritakan kondisi Kirana kepada ibunya. "Mungkin saja Kirana sedang hamil.” Begitu jawaban Heni kala itu.Kalimat tersebut terus terngiang di kepala Gio. Bukan karena ia tidak menginginkan anak. Justru sebaliknya, ia akan sangat bahagia jika suatu hari dirinya dan Kirana dipercaya untuk menjadi orang tua.Namun, Gio tidak berani menyampaikan dugaan itu kepada istrinya. Ia terlalu mengenal Kirana.Wanita itu pernah melalui begitu banyak kekecewaan dalam hidupnya. Gio tidak ingin menambah satu lagi harapan yang berakhir menjadi luka.Bagaimana jika ia men

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   69. Hasrat Tersalurkan

    Kirana menundukkan pandangan. Entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Hembusan napas dari keduanya dapat mereka rasakan masing-masing.Ada semburat merah yang samar terlihat, sudah lama Kirana tidak melakukan hal seperti ini. Malam ini akan menjadi yang pertama setelah mereka menjadi sepasang suami istri.Gio mengangkat dagu Kirana perlahan agar wanita itu menatapnya. Tatapan mata sayu itu benar-benar menggoda Gio. Hasrat sang pria begitu menggebu untuk ia salurkan.“Kamu yakin?” tanya Gio menanyakan kesanggupan Kirana perihal malam yang akan mereka lakukan.Kirana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gio. "Bukan karena terpaksa?" Kali ini Kirana menggelengkan kepalanya cepat.Tidak, Kirana melakukan ini bukan karena terpaksa."Lalu kenapa?” Alih-alih segera menuntaskan hasratnya, Gio memilih untuk menggoda istrinya yang cantik lebih dulu.“A-aku ….”Seringai jelas terlihat di bibir penuh milik Gio. Pria itu sangat menyukai Kirana yang tersipu malu.“Ken

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   68. Tidak Bahagia

    Pertengkaran tidak terelakan terjadi antara Adhisti dan juga Raka. Pulang dari pernikahan Gio dan juga Kirana sepasang suami istri itu terlibat pertikaian yang hebat.Tidak ada lagi kerapian yang biasa menyambutnya. Berbagai botol parfum, kotak perhiasan, alat rias, hingga bingkai foto kecil berserakan di atas lantai. Beberapa lipstik terguling hingga kolong meja, sementara bedak yang pecah meninggalkan serbuk halus di keramik berwarna krem.Laci meja rias terbuka setengah, Adhisti menariknya dengan kasar. Cermin besar di atas meja masih berdiri utuh, tetapi permukaannya dipenuhi bekas sidik jari yang berantakan.Kemarahan dan kecemburuan Adhisti terjadi Raka datang ke pernikahan mantan istrinya itu. Semua emosi itu dilampiaskan pada benda-benda di kamar ini.Raka menatap kekacauan tersebut dalam diam. Di antara pecahan bedak dan perhiasan yang tercecer, ia bisa merasakan betapa besar amarah yang membakar hati Adhisti hingga membuat wanita itu kehilangan kendali.“Kenapa, Mas?” Amarah

  • Terjerat Cinta Sahabat Suami   67. Malam Pertama?

    Pintu kamar perlahan tertutup di belakang Kirana. Suara riuh para tamu yang sejak pagi memenuhi rumah keluarga Gio kini mulai menghilang satu per satu. Tinggal kesunyian yang membuat jantung Kirana berdetak semakin keras.Ia berdiri mematung di dekat pintu. Lalu Kirana berjalan mendekat ke arah cermin yang ada di kamar. Kamar dirinya dan Gio.Wanita itu kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Gaun putih masih menempel di tubuhnya dan juga olesan make up tipis urung luntur dari wajahnya.Matanya perlahan menyapu kamar yang kini menjadi tempat tinggalnya bersama Gio. Kamar yang didominasi warna putih dan begitu besar. Sangat berbeda dengan kamar yang ia miliki.Di atas nakas terdapat foto keluarga Gio. Ada foto Gio bersama ibunya. Keluarga? Mungkin hanya Gio dan ibunya, sekarang ada dirinya. Ia berjanji pada diri sendiri akan menjadi keluarga yang baik untuk mereka.Dulu, ada ketakutan tersendiri kala Kirana masuk ke dalam rumah mewah ini. Ia takut dengan statusnya ibu Gio t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status