ログインPernikahan yang harusnya menjadi sumber kebahagiaan itu nyatanya terasa hampa. Raka, tidak menjadikan sebuah pernikahan prioritasnya. Menikahi Kirana hanya sebagai pelengkap kehidupan saja. Kerja beserta kesuksesan menjadi prioritas Raka. Kirana mencoba mengerti dengan bertahan di pernikahan yang sudah berjalan dua tahun. Namun, bukan hanya gila kerja, Raka yang selalu berpihak pada ibu dan kakaknya membuat Kirana menyerah pada akhirnya. Gio Pria itu datang saat Kirana terpuruk akan pernikahan. Awalnya hanya teman cerita, berbagi kesedihan. Namun, lambat laun sebuah rasa hadir dalam hati mereka.
もっと見るMatahari telah menampakkan sinarnya. Sinar itu menembus melalui celah-celah kamar. Pusing yang ia dera membuat Kirana begitu berat hanya sekedar bangun dari kasur.“Kenapa, sih, aku?” gumamnya seorang diri.Namun, Kirana tidak mau jika ia terus berada di dalam kamar. Ia harus segera beraktivitas agar pusing di kepala segera sembuh. Lagi pula beberapa novel menunggu dirinya untuk dikerjakan.Tiba-tiba tubuh Kirana limbung. Pandangannya mendadak berkunang-kunang saat kakinya baru melangkah beberapa langkah dari ranjang."Aw ...."Kirana mengaduh kesakitan.Wanita itu berusaha meraih ujung meja sebagai penopang, tetapi jemarinya gagal menggapainya.Bruk!Tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai kamar.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Sementara itu, sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah. Heni turun sambil membawa beberapa kantong belanja yang sengaja ia siapkan untuk menantu kesayangannya.Semalam Gio berulang kali mengingatkan agar dirinya datang pagi-pagi. Awalnya Heni mengangga
Kirana menutup ritsleting koper dengan kedua tangannya lalu menghembuskan napas pelan. Semua kebutuhan Gio untuk perjalanan dinas malam ini sudah ia siapkan. Mulai dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, berkas yang harus dibawa, hingga obat-obatan yang biasa dikonsumsi suaminya saat mengalami sakit kepala akibat kelelahan bekerja.Ia menggeser koper itu ke dekat pintu kamar sebelum meluruskan punggungnya. "Harusnya cukup,” gumam Kirana menatap koper yang sudah rapi itu.Pandangan Kirana beralih ke jam dinding. Gio masih punya waktu dua jam berada di rumah. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengalir. Gio masih membersihkan diri setelah pulang bekerja.Kirana duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya perlahan. Entah kenapa tubuhnya terasa lebih cepat lelah akhir-akhir ini. Hanya memasukkan beberapa barang ke dalam koper saja ia merasa lelah.Pintu kamar mandi terbuka. Gio melangkah keluar sambil mengacak rambutnya yang masih basah dengan handuk. Aroma sabun yang segar l
Entah apa yang terjadi, tetapi sejak pagi tadi perasaan Gio tidak tenang. Meski tubuhnya duduk di ruang rapat, pikirannya terus kembali pada Kirana. Wajah istrinya tampak lebih pucat dari biasanya. Wanita itu juga beberapa kali terlihat mudah lelah dalam beberapa hari terakhir. Namun, setiap kali Gio mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, Kirana selalu menolak dengan alasan hanya kelelahan. Kekhawatiran itu membuat Gio sempat menceritakan kondisi Kirana kepada ibunya. "Mungkin saja Kirana sedang hamil.” Begitu jawaban Heni kala itu. Kalimat tersebut terus terngiang di kepala Gio. Bukan karena ia tidak menginginkan anak. Justru sebaliknya, ia akan sangat bahagia jika suatu hari dirinya dan Kirana dipercaya untuk menjadi orang tua. Namun, Gio tidak berani menyampaikan dugaan itu kepada istrinya. Ia terlalu mengenal Kirana. Wanita itu pernah melalui begitu banyak kekecewaan dalam hidupnya. Gio tidak ingin menambah satu lagi harapan yang berakhir menjadi luka. Bagaimana
Kirana menundukkan pandangan. Entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Hembusan napas dari keduanya dapat mereka rasakan masing-masing.Ada semburat merah yang samar terlihat, sudah lama Kirana tidak melakukan hal seperti ini. Malam ini akan menjadi yang pertama setelah mereka menjadi sepasang suami istri.Gio mengangkat dagu Kirana perlahan agar wanita itu menatapnya. Tatapan mata sayu itu benar-benar menggoda Gio. Hasrat sang pria begitu menggebu untuk ia salurkan.“Kamu yakin?” tanya Gio menanyakan kesanggupan Kirana perihal malam yang akan mereka lakukan.Kirana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gio. "Bukan karena terpaksa?" Kali ini Kirana menggelengkan kepalanya cepat.Tidak, Kirana melakukan ini bukan karena terpaksa."Lalu kenapa?” Alih-alih segera menuntaskan hasratnya, Gio memilih untuk menggoda istrinya yang cantik lebih dulu.“A-aku ….”Seringai jelas terlihat di bibir penuh milik Gio. Pria itu sangat menyukai Kirana yang tersipu malu.“Ken
Mengenakan apron berwarna merah muda, Kirana dengan cekatan membuat sarapan untuk suaminya. Jemarinya bergerak lincah memotong bahan makanan yang akan ia olah pagi ini. Meski Kirana merasa badannya tidak sehat, tetapi ini adalah kewajiban yang harus ia lakukan setiap hari. Kewajiban? Hah … ras
Kirana hanya dapat terdiam saat ia melihat Raka yang berjalan ke arah Widya untuk menjabat sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun pada wanita yang telah melahirkan dirinya itu. Apa Kirana benar-benar tidak terlihat di mata suaminya? "Ngapain duduk bengong di situ?" Kali ini kakak iparnya yang
Deru mesin mobil Raka membuat Kirana membuka kedua matanya. Ketika sepasang mata itu telah terbuka dengan sempurna, Kirana bergelut dengan pikirannya yang memenuhi kepala.Ia teringat bagaimana Gio yang masuk ke dalam rumahnya dan berakhir di ranjang besar miliknya.Manik berwarna hitam itu terbela
Raka yang mendengar permintaan Kirana pun menghela napas sejenak. Pria itu menatap dengan tatapan tajam pada wanita yang dinikahinya seraya menjawab, “Aku baru aja selesai ngomong kalau pekerjaan aku banyak. Malah diminta pulang sore.”Benar saja, meski Kirana bicara dengan kehati-hatian, tetapi Ra
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.