MasukAdrian mencoba menghubungi Elara untuk yang ketiga kalinya. Nada sambung berdetak berulang kali, tapi tidak ada satu pun tanggapan yang datang dari ujung lain. Dia menjatuhkan telepon ke kursi dengan iritasi yang terkendali—kecewa yang lebih banyak diarahkan ke dirinya sendiri ketimbang siapa pun. Saat memutar setir mobil dalam perjalanan pulang, gerakannya lembut namun penuh beban, seolah setiap putaran adalah perjuangan melawan rasa tidak pasti yang mengganggunya.Sesampainya di rumah, lampu ruang tamu menyala dengan cahaya hangat. Pintu samping terbuka sedikit, menyisakan celah untuk udara malam masuk. Beberapa detik kemudian, Elara muncul dengan membawa tas kantong yang penuh barang, rambutnya sedikit berantakan seolah baru saja berlari cepat atau terpaksa menghadapi angin kencang.“Kamu dari mana?” tanya Adrian dengan suara dingin, meskipun tidak sekeras dan tajam seperti biasanya.Elara sedikit t
Pagi berikutnya datang dengan suara burung yang berkicau riang di luar jendela kamar. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menerangi bagian kamar yang selama malam tergelapkan.Elara bangun lebih dulu seperti biasa. Tubuhnya terasa sedikit pegal, mungkin karena tidur dalam posisi yang tidak nyaman atau pikiran yang terus berputar sepanjang malam. Dia turun ke dapur dengan langkah perlahan, menyiapkan sarapan untuk dua orang—nasi goreng dengan bumbu pas, telur ceplok yang matangnya pas di tengah, dan teh hangat yang disukai Adrian.Adrian datang beberapa menit kemudian, rambutnya sudah disisir rapi dan pakaian kerja sudah dikenakan dengan rapi. Wajahnya tampak sudah bersih setelah mandi, dengan ekspresi yang siap menghadapi hari kerja.Dia duduk di kursi biasa, langsung membuka ponsel untuk mengecek agenda hariannya. Jari-jarinya meluncur cepat di layar sentuh, wajahnya semakin serius setiap kali
Kosong. Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan ruang di antara mereka belakangan ini. Bukan hanya jarak fisik di atas ranjang yang semakin lebar setiap malam, tapi juga jurang yang tak terlihat yang memisahkan hati dua orang yang sudah menikah bertahun-tahun. Adrian sendirian di ruang kerja rumah, tubuhnya menyatu dengan kursi yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun. Laptop di meja terbuka dengan layar yang diam—baris-baris dokumen kerja terlihat jelas, tapi tidak sedikit pun menarik perhatiannya. Matanya menatap jauh ke arah dinding kayu. Pikirannya terus berputar pada satu gambar mobil yang pergi setelah Elara masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terasa sedikit kaku setiap kali mengingatnya—terlalu kebetulan untuk diabaikan, tapi belum cukup kuat untuk dijadikan dasar tuduhan apapun. Adrian bukan tipe pria yang suka bertindak sembarangan tanpa data yang jelas. Selama bertahun-tahun bersama, Elara tidak pernah memberi alasan untuk membuatnya curiga. Pergaulann
Perjalanan pulang Elara menyetir dengan kecepatan yang pas, roda mobil meluncur mulus di atas aspal. Di kaca spion kanan, satu mobil tetap mengikuti dengan jarak yang sama—tidak terlalu dekat untuk mengganggu, tidak terlalu jauh untuk hilang dari pandangan. Dia duduk tegak di balik kemudi, tangannya menempel mantap pada setir kayu yang sudah terasa akrab. Tubuhnya tidak terasa lelah atau tegang seperti biasanya setelah sesi konsultasi. Justru ada rasa tenang yang mengalir di dalam dirinya. “Mengapa rasanya lebih tenang saat tahu ada orang yang mengikutiku dari kejauhan? Padahal seharusnya aku merasa tertekan.” Elara tahu mobil itu bukan sedang membuntuti. Sudah beberapa kali dia melirik spion, dan setiap saatnya mobil Revan tetap berada di sana—seperti bayangan yang memilih untuk menjaga jarak. Saat kemudi diputar ke kanan menuju kompleks rumahnya, mobil itu mengikuti dengan lancar. Tanpa tergesa-gesa. Tanpa gerakan yang mencurigakan. Elara memarkir mobilnya di depan rumah,
“Kau mungkin berpikir aku sudah kehilangan arah,” ucap Elara perlahan, akhirnya mengangkat wajahnya sedikit. “Bahwa aku menjadi orang yang tidak bisa dipercaya karena tidak bisa menjaga komitmen pernikahanku.” Matanya berkaca-kaca, tapi dia berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir. Dia tidak ingin dilihat lemah, terutama tidak oleh Revan yang sudah melihat sisi paling rentan dari dirinya. Padahal dalam dirinya, dia sendiri tidak tahu apakah yang dia rasakan adalah kebenaran atau hanya pelarian dari kegagalan yang dia rasakan sebagai istri. Revan berdiri tepat di depannya, sikap profesional yang selalu diajunkan sudah hilang sama sekali. Wajahnya tidak lagi tenang—alih-alih, ada nyala api yang tidak bisa disembunyikan lagi. “Aku gak berpikir begitu,” jawabnya dengan nada yang lebih dalam dari biasanya. “Aku hanya berpikir bagaimana bisa membantu tanpa membuatnya lebih terluka,” tapi kata-kata itu terdengar seperti alasan yang dia pakai untuk menghibur dirinya sendiri. “
Revan masih memeluk tubuh Elara ketika musik berhenti tiba-tiba. Gerakannya ikut berhenti seketika, tanpa tergesa-gesa atau mencoba memperbaiki apa yang sudah terjadi. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya—tidak ada penjelasan yang berusaha membuat semuanya terlihat normal lagi. Di sudut ruangan, jam dinding terus mengukir waktu dengan suara tik tak yang jelas, seolah menghitung setiap detik dari momen yang tidak seharusnya terjadi. Pelukan itu tetap berada di tempatnya—cukup erat untuk membuat Elara merasakan bahwa dia sedang ditahan dengan lembut, tapi cukup tenang sehingga tidak terasa seperti paksaan yang harus dilawan. Udara di ruangan terasa padat, penuh dengan getaran yang belum pernah ada sebelum ini. Setiap bau yang ada di ruangan—parfum Revan yang ringan, kopi yang masih tersisa di gelas, bahkan aroma lemari buku yang sudah lama ada—semuanya terasa begitu jelas, seperti mencoba mengingatkannya akan kenyataan yang dia coba hindari. “Mengapa aku tidak menjauh?”







