Share

Bab 25. Bayangan di Jendela

Penulis: Koihana Reika
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 19:59:19
Perjalanan pulang Elara menyetir dengan kecepatan yang pas, roda mobil meluncur mulus di atas aspal.

Di kaca spion kanan, satu mobil tetap mengikuti dengan jarak yang sama—tidak terlalu dekat untuk mengganggu, tidak terlalu jauh untuk hilang dari pandangan.

Dia duduk tegak di balik kemudi, tangannya menempel mantap pada setir kayu yang sudah terasa akrab. Tubuhnya tidak terasa lelah atau tegang seperti biasanya setelah sesi konsultasi.

Justru ada rasa tenang yang mengalir di dalam dirinya.

“Mengapa rasanya lebih tenang saat tahu ada orang yang mengikutiku dari kejauhan? Padahal seharusnya aku merasa tertekan.”

Elara tahu mobil itu bukan sedang membuntuti. Sudah beberapa kali dia melirik spion, dan setiap saatnya mobil Revan tetap berada di sana—seperti bayangan yang memilih untuk menjaga jarak.

Saat kemudi diputar ke kanan menuju kompleks rumahnya, mobil itu mengikuti dengan lancar.

Tanpa tergesa-gesa. Tanpa gerakan yang mencurigakan.

Elara memarkir mobilnya di depan rumah,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 30. Hati yang Terkurung di Rumah Orang

    Kadang yang paling melukai bukan kata-kata tajam,melainkan orang-orang yang memilih diam ketika kata itu diucapkan.Jantung Elara seolah berhenti berdetak sejenak.Bukan karena terkejut—kalimat itu sudah terlalu sering menghantui tidurnya, tapi mendengarnya diucapkan langsung dari mulut perempuan yang memegang kendali atas rumah tangganya, tetap terasa seperti pisau yang ditancapkan perlahan ke dalam dada. Udara di ruangan besar terasa semakin padat. “Banyak perempuan lain yang akan sangat senang dan bersyukur bisa memberi cucu untuk keluarga Huang.” Detak jantungnya kembali terdengar—terlalu keras, terlalu cepat, menggelegar di telinganya sendiri hingga menutupi semua suara lain. Adrian tersentak, tubuhnya sedikit menjorok ke depan. “Ma! Jangan begitu berkata kepada Elara.” Nada suaranya terdengar seperti upaya setengah hati—lebih mirip formalitas daripada pembelaan yang tulus.

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 29. Luka yang Tak Pernah Tertutup

    “Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang tidak pernah berdiri di sisimu.”Mereka tidak banyak bicara di perjalanan menuju rumah tua Huang. Hanya suara mesin mobil yang berdenyut dan angin yang menyapu permukaan kaca yang mengisi kesunyian dalam kabin. Rumah tua keluarga Huang berdiri gagah di ujung jalan lurus, seperti sebuah keputusan tak terelakkan yang tidak pernah bisa Elara tolak sepenuhnya. Bangunan itu terlihat abadi seolah waktu tidak pernah menyentuhnya—megah dengan arsitektur klasik yang memukau, namun terlalu dingin untuk menawarkan rasa kenyamanan apapun. Setiap langkah Elara menuju pintu utama terasa seperti menginjak kembali jejak masa lalu yang selalu menunjukkan wajah yang tidak ramah padanya. Shinta sudah menunggu di tengah aula yang luas dengan langit-langit tinggi yang membuat ruangan terasa lebih besar dari biasanya. Wanita itu tampak elegan sepert

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 28. Cahaya yang Memudar di Ambang Pintu

    Adrian mencoba menghubungi Elara untuk yang ketiga kalinya. Nada sambung berdetak berulang kali, tapi tidak ada satu pun tanggapan yang datang dari ujung lain. Dia menjatuhkan telepon ke kursi dengan iritasi yang terkendali—kecewa yang lebih banyak diarahkan ke dirinya sendiri ketimbang siapa pun. Saat memutar setir mobil dalam perjalanan pulang, gerakannya lembut namun penuh beban, seolah setiap putaran adalah perjuangan melawan rasa tidak pasti yang mengganggunya.Sesampainya di rumah, lampu ruang tamu menyala dengan cahaya hangat. Pintu samping terbuka sedikit, menyisakan celah untuk udara malam masuk. Beberapa detik kemudian, Elara muncul dengan membawa tas kantong yang penuh barang, rambutnya sedikit berantakan seolah baru saja berlari cepat atau terpaksa menghadapi angin kencang.“Kamu dari mana?” tanya Adrian dengan suara dingin, meskipun tidak sekeras dan tajam seperti biasanya.Elara sedikit t

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 27. Tanda-tanda yang Tak Terlihat

    Pagi berikutnya datang dengan suara burung yang berkicau riang di luar jendela kamar. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menerangi bagian kamar yang selama malam tergelapkan.Elara bangun lebih dulu seperti biasa. Tubuhnya terasa sedikit pegal, mungkin karena tidur dalam posisi yang tidak nyaman atau pikiran yang terus berputar sepanjang malam. Dia turun ke dapur dengan langkah perlahan, menyiapkan sarapan untuk dua orang—nasi goreng dengan bumbu pas, telur ceplok yang matangnya pas di tengah, dan teh hangat yang disukai Adrian.Adrian datang beberapa menit kemudian, rambutnya sudah disisir rapi dan pakaian kerja sudah dikenakan dengan rapi. Wajahnya tampak sudah bersih setelah mandi, dengan ekspresi yang siap menghadapi hari kerja.Dia duduk di kursi biasa, langsung membuka ponsel untuk mengecek agenda hariannya. Jari-jarinya meluncur cepat di layar sentuh, wajahnya semakin serius setiap kali

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 26. Rasa Kosong di Antara Kita

    Kosong. Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan ruang di antara mereka belakangan ini. Bukan hanya jarak fisik di atas ranjang yang semakin lebar setiap malam, tapi juga jurang yang tak terlihat yang memisahkan hati dua orang yang sudah menikah bertahun-tahun. Adrian sendirian di ruang kerja rumah, tubuhnya menyatu dengan kursi yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun. Laptop di meja terbuka dengan layar yang diam—baris-baris dokumen kerja terlihat jelas, tapi tidak sedikit pun menarik perhatiannya. Matanya menatap jauh ke arah dinding kayu. Pikirannya terus berputar pada satu gambar mobil yang pergi setelah Elara masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terasa sedikit kaku setiap kali mengingatnya—terlalu kebetulan untuk diabaikan, tapi belum cukup kuat untuk dijadikan dasar tuduhan apapun. Adrian bukan tipe pria yang suka bertindak sembarangan tanpa data yang jelas. Selama bertahun-tahun bersama, Elara tidak pernah memberi alasan untuk membuatnya curiga. Pergaulann

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 25. Bayangan di Jendela

    Perjalanan pulang Elara menyetir dengan kecepatan yang pas, roda mobil meluncur mulus di atas aspal. Di kaca spion kanan, satu mobil tetap mengikuti dengan jarak yang sama—tidak terlalu dekat untuk mengganggu, tidak terlalu jauh untuk hilang dari pandangan. Dia duduk tegak di balik kemudi, tangannya menempel mantap pada setir kayu yang sudah terasa akrab. Tubuhnya tidak terasa lelah atau tegang seperti biasanya setelah sesi konsultasi. Justru ada rasa tenang yang mengalir di dalam dirinya. “Mengapa rasanya lebih tenang saat tahu ada orang yang mengikutiku dari kejauhan? Padahal seharusnya aku merasa tertekan.” Elara tahu mobil itu bukan sedang membuntuti. Sudah beberapa kali dia melirik spion, dan setiap saatnya mobil Revan tetap berada di sana—seperti bayangan yang memilih untuk menjaga jarak. Saat kemudi diputar ke kanan menuju kompleks rumahnya, mobil itu mengikuti dengan lancar. Tanpa tergesa-gesa. Tanpa gerakan yang mencurigakan. Elara memarkir mobilnya di depan rumah,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status