MasukLampu kristal bergoyang pelan di atas meja oval besar, sinarnya memercik di atas alas porselen putih. Shinta menduduki ujung meja, sikapnya tegas seperti pijakan peta keluarga.Di sisi kanan: Adrian, Elara, Nara, Agatha, Daniel berbaris rapi.Di sisi kiri: Renata, Evan, dan kedua putra mereka yang sibuk mengocok gelas jus.Ketika Elara hendak menjatuhkan diri di kursinya, Daniel tiba-tiba menghentikan langkahnya.“Biarkan aku yang tarik kursi untuk Nara,” ucapnya dengan senyum ramah yang tidak sampai ke mata. Saat jari-jarinya menyentuh sandaran kursi, punggung tangannya sengaja menyentuh bagian belakang tangannya, Elara.“Maaf,” katanya dengan nada datar—tapi tatapannya mengirimkan pesan yang sama sekali berbeda.Elara menarik tangan dengan refleks cepat, seperti menyentuh bara panas.Segera setelah itu, tangan Nara menggenggam lengannya erat, jari-jari kecilnya seperti penjaga yang setia.
Elara menoleh perlahan.Daniel berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya. Senyumnya tetap terpasang rapi seperti selalu, seolah tak pernah ada batas yang baru saja dia langgar. “Aku harus tenang,” bisiknya lirih, suara hampir hilang di udara.Tubuhnya tidak mendengarkan. ‘Kenapa dia berani melakukan ini?’ Pertanyaan itu muncul begitu saja, lalu segera ditelan oleh rasa takut yang jauh lebih besar. ‘Kalau aku bicara, siapa yang akan percaya padaku? Atau aku justru dianggap sebagai pembuat masalah?’ Pelayan kembali menyampaikan bahwa meja makan telah siap. Orang-orang mulai bergerak perlahan.Shinta sibuk memberi instruksi pada staf, perhatiannya hanya tertuju pada susunan hidangan yang akan disuguhkan.Agatha berjalan lebih dulu, wajahnya dingin seperti es yang belum pernah mencair, tumit sepatunya menyapa lantai kayu dengan irama yang menusuk kedalam hati.Renata dan Ev
Kadang, pertolongan datang dari yang paling tidak terduga—seperti cahaya yang menerangi jalan dalam kegelapan. “Nara, sini sama Mama.” Agatha memanggil dengan nada yang dicoba lembut, tapi tetap tegas; khas orang yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Tangannya menjulur ke arah gadis kecil itu, senyumnya sedikit lebih hangat namun tetap terasa dibuat-buat. “Kita sudah lama tidak bertemu nenek.” Gadis kecil itu tidak menjawab. Dia hanya menyembunyikan wajahnya lebih dalam ke pelukan Elara, bahkan menyesuaikan tubuhnya agar lebih nyaman di sana. Boneka kain yang digenggam erat hampir terjatuh, tapi dia tidak peduli—hanya Elara yang penting baginya saat ini. Agatha mendesis pelan, suara hanya terdengar oleh mereka yang dekat. Bibirnya menggigil karena kemarahan yang tertahan. “Anak ini memang terlalu selektif dengan orang
Kadang yang paling melukai bukan kata-kata tajam,melainkan orang-orang yang memilih diam ketika kata itu diucapkan.Jantung Elara seolah berhenti berdetak sejenak.Bukan karena terkejut—kalimat itu sudah terlalu sering menghantui tidurnya, tapi mendengarnya diucapkan langsung dari mulut perempuan yang memegang kendali atas rumah tangganya, tetap terasa seperti pisau yang ditancapkan perlahan ke dalam dada. Udara di ruangan besar terasa semakin padat. “Banyak perempuan lain yang akan sangat senang dan bersyukur bisa memberi cucu untuk keluarga Huang.” Detak jantungnya kembali terdengar—terlalu keras, terlalu cepat, menggelegar di telinganya sendiri hingga menutupi semua suara lain. Adrian tersentak, tubuhnya sedikit menjorok ke depan. “Ma! Jangan begitu berkata kepada Elara.” Nada suaranya terdengar seperti upaya setengah hati—lebih mirip formalitas daripada pembelaan yang tulus.
“Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang tidak pernah berdiri di sisimu.”Mereka tidak banyak bicara di perjalanan menuju rumah tua Huang. Hanya suara mesin mobil yang berdenyut dan angin yang menyapu permukaan kaca yang mengisi kesunyian dalam kabin. Rumah tua keluarga Huang berdiri gagah di ujung jalan lurus, seperti sebuah keputusan tak terelakkan yang tidak pernah bisa Elara tolak sepenuhnya. Bangunan itu terlihat abadi seolah waktu tidak pernah menyentuhnya—megah dengan arsitektur klasik yang memukau, namun terlalu dingin untuk menawarkan rasa kenyamanan apapun. Setiap langkah Elara menuju pintu utama terasa seperti menginjak kembali jejak masa lalu yang selalu menunjukkan wajah yang tidak ramah padanya. Shinta sudah menunggu di tengah aula yang luas dengan langit-langit tinggi yang membuat ruangan terasa lebih besar dari biasanya. Wanita itu tampak elegan sepert
Adrian mencoba menghubungi Elara untuk yang ketiga kalinya. Nada sambung berdetak berulang kali, tapi tidak ada satu pun tanggapan yang datang dari ujung lain. Dia menjatuhkan telepon ke kursi dengan iritasi yang terkendali—kecewa yang lebih banyak diarahkan ke dirinya sendiri ketimbang siapa pun. Saat memutar setir mobil dalam perjalanan pulang, gerakannya lembut namun penuh beban, seolah setiap putaran adalah perjuangan melawan rasa tidak pasti yang mengganggunya.Sesampainya di rumah, lampu ruang tamu menyala dengan cahaya hangat. Pintu samping terbuka sedikit, menyisakan celah untuk udara malam masuk. Beberapa detik kemudian, Elara muncul dengan membawa tas kantong yang penuh barang, rambutnya sedikit berantakan seolah baru saja berlari cepat atau terpaksa menghadapi angin kencang.“Kamu dari mana?” tanya Adrian dengan suara dingin, meskipun tidak sekeras dan tajam seperti biasanya.Elara sedikit t







