LOGINVeridia sepuluh tahun kemudian adalah kota yang dibangun di atas kabut dan rahasia. Bagi Kelly, kota ini tak lebih dari sebuah akuarium besar di mana ia adalah ikan kecil yang selalu merasa terancam oleh predator yang tak terlihat.
Kelly berdiri di depan jendela kamarnya yang sempit di lantai dua rumah bibinya. Rumah itu terletak di pinggiran kota yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat industri, namun ketenangan itu tidak pernah benar-benar meresap ke dalam jiwanya. Ia menyentuh kaca jendela yang dingin dengan ujung jarinya, menatap jalanan sepi di bawah temaram lampu merkuri yang mulai berkedip. Ia telah tumbuh menjadi wanita yang kecantikannya sering kali menjadi kutukan. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap jatuh bergelombang di bahunya, dan matanya yang besar menyimpan kedalaman samudera yang tenang namun berbahaya. Namun, ada sesuatu yang "patah" pada dirinya. Sesuatu yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa canggung. Kelly memiliki suara. Suara yang lembut dan jernih. Namun, ia memperlakukannya seperti sebuah pusaka yang terlalu berharga—atau terlalu terkutuk—untuk digunakan. "Kelly? Sayang, kau belum tidur?" Suara Bibinya, Martha, terdengar dari balik pintu. Kelly tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, menciptakan embun tipis di kaca jendela. Ia mencintai Bibi Martha, satu-satunya kerabat yang mau menampungnya setelah malam jahanam sepuluh tahun lalu. Namun, Martha tidak pernah mengerti. Martha menganggap Kelly hanya menderita depresi pascatrauma biasa. Ia tidak tahu bahwa setiap kali Kelly menutup mata, ia mencium bau bensin yang terbakar. "Aku akan segera tidur, Bibi," sahut Kelly akhirnya. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak karena jarang digunakan. "Baiklah. Jangan lupa mengunci jendela. Akhir-akhir ini banyak orang asing berkeliaran di lingkungan kita." Kalimat terakhir Martha membuat bulu kuduk Kelly meremang. Orang asing. Bagi Kelly, dunia selalu terasa seperti sepasang mata raksasa yang menatapnya dengan niat jahat. Di supermarket, di jalanan menuju tempat kerjanya di perpustakaan, bahkan di dalam gereja yang sunyi sekalipun. Ia merasa seolah-olah ada sebuah benang merah yang terikat di lehernya, ditarik oleh seseorang yang bersembunyi di balik kegelapan. Ia mematikan lampu kamar, membiarkan ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang pucat. Kelly kembali ke jendelanya, menyibak sedikit tirai renda yang sudah mulai menguning. Di seberang jalan, di bawah bayang-bayang pohon ek tua yang besar, sebuah mobil sedan hitam terparkir diam. Mesinnya mati, lampunya padam. Namun, Kelly bisa merasakannya. Ada seseorang di dalam sana. Seseorang yang tidak sedang menunggu siapa-siapa, melainkan sedang mengawasinya. Kelly mencengkeram koin perak yang selalu tergantung di lehernya sebagai liontin. Logam itu kini terasa hangat karena bersentuhan dengan kulitnya. Apakah itu kau, Elias? bisiknya dalam hati. Rasa takut dan rindu berperang di dadanya. Jika itu benar Elias, kenapa ia tidak datang menemuinya? Kenapa ia hanya diam dalam bayang-bayang seperti hantu? Namun, jika itu bukan Elias—jika itu adalah salah satu dari pria-pria berjas hitam yang membakar rumahnya dulu—maka Kelly tahu bahwa waktu tenang yang ia miliki sudah hampir habis. Tiba-tiba, kaca jendela mobil itu sedikit turun. Kelly menahan napas. Dari jarak sejauh itu, ia tidak bisa melihat wajah sang pengemudi, namun ia melihat bara merah dari sebuah rokok yang menyala. Asapnya mengepul kecil, tertepis angin malam. Kelly merasa seolah-olah tatapan dari balik mobil itu menembus kulitnya, meraba jiwanya dengan cara yang posesif dan mengintimidasi. Ia merasa telanjang, terekspos, dan sepenuhnya dimiliki oleh sang pengawas. Ia segera menarik tirai dengan tangan gemetar dan mundur menjauh dari jendela. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging—efek traumatis dari suara ledakan masa lalu yang selalu kembali saat ia merasa terpojok. Kelly meringkuk di atas tempat tidurnya, menarik selimut hingga ke dagu. Ia merindukan taman mawar itu, tapi bukan mawar-mawar yang terbakar. Ia merindukan anak laki-laki yang memberinya koin ini. Ia merindukan rasa aman yang anehnya hanya ia rasakan saat berada di dekat bahaya yang bernama Elias. Di luar sana, di dalam mobil yang gelap, pria itu mematikan rokoknya. Ia menatap jendela lantai dua yang tirainya baru saja tertutup rapat. Tangannya yang dipenuhi bekas luka menggenggam kemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih. "Belum waktunya, Kelly," bisik pria itu dengan suara yang berat dan haus. "Sedikit lagi. Sampai aku memastikan tidak ada lagi predator lain yang bisa menyentuhmu." Malam itu, Kelly tidur dengan mimpi tentang laut kelabu yang pasang, menenggelamkan kota Veridia, sementara seorang pria berdiri di atas dermaga, menunggunya dengan tangan terbuka yang bersimbah darah.Dunia Kelly tidak lagi runtuh; dunia itu telah menjadi abu, dan di atas abu itu, Elias Costra sedang membangun sebuah panggung sandiwara yang mematikan.Hanya tiga jam setelah pengakuan yang tak sengaja terdengar itu, Elias tidak memberikan ruang bagi Kelly untuk menangis atau memproses pengkhianatannya. Ia menarik Kelly keluar dari chalet yang terkepung dan membawanya ke sebuah hotel mewah di pusat Helsinki. Di sana, sebuah gaun sutra berwarna merah darah—merah yang sama dengan warna dosa—telah disiapkan."Pakai ini," perintah Elias. Suaranya kembali menjadi es, tidak ada lagi sisa kelembutan dari malam sebelumnya. "Julian akan ada di sana. Di perjamuan diplomatik The Nordic Union. Dia tidak akan menyerang di depan umum, tapi dia akan mendekat. Dan saat dia mendekat, aku akan menghabisinya."Kelly menatap pantulannya di cermin. Rompi antipeluru yang tipis namun kuat tersembunyi di balik sutra merah itu. "Kau menjadikanku umpan," bisik Kelly, suaranya hancur. "Setelah apa yang kau
Kehangatan dari sisa gairah semalam masih terasa di kulit Kelly, namun udara di dalam chalet subuh itu mendadak berubah menjadi sedingin es yang merayap di jendela. Elias tidak lagi di sampingnya. Sisi tempat tidur yang besar itu sudah kosong dan dingin, menyisakan lekukan tubuhnya yang kokoh di atas sprei yang berantakan.Kelly bangkit perlahan, membungkus tubuhnya dengan jubah bulu tebal. Langkah kakinya yang telanjang tidak bersuara di atas lantai kayu ek saat ia mencari keberadaan Elias. Ia bermaksud mencari kehangatan kopi atau mungkin sekadar pelukan pagi, namun langkahnya terhenti di dekat pintu ruang kerja kecil yang terletak di sudut bangunan.Pintu itu tidak tertutup rapat. Melalui celah sempit, Kelly melihat siluet Elias yang berdiri membelakangi jendela, sedang berbicara melalui telepon satelit dengan suara yang sangat rendah—suara yang belum pernah Kelly dengar sebelumnya. Suara itu bukan milik pria yang menciumnya dengan penuh kasih sayang semalam; itu adalah suara seo
Dunia di luar sana telah menghilang, terkubur di bawah amukan putih yang membutakan. Badai salju Finlandia menghantam dinding kayu chalet tua yang tersembunyi di lereng bukit itu dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan tulang. Di dalam, satu-satunya sumber cahaya adalah lidah api yang menjilat-jilat kayu ek di dalam perapian batu, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding.Elias duduk di kursi kayu besar, napasnya berat dan tidak teratur. Kemeja taktisnya tersampir di lantai, memperlihatkan bahunya yang lebar. Di lengan kanannya, sebuah luka gores akibat serpihan logam saat penyergapan tadi masih mengalirkan darah segar, kontras dengan kulitnya yang pucat karena dingin.Kelly berlutut di antara kedua kaki Elias. Tangannya yang gemetar memegang kain kasa dan botol antiseptik. Di sekeliling mereka, kesunyian hutan yang membeku terasa menekan, membuat setiap desah napas dan derak kayu terdengar seperti dentum meriam."Diamlah, Elias. Kau terus bergerak," bisik Kelly, suaran
Langit di atas Helsinki tidak menyambut mereka dengan cahaya, melainkan dengan kegelapan pekat yang mencekam dan badai salju yang mulai turun seperti ribuan jarum es. Jet pribadi Elias mendarat dengan guncangan hebat di sebuah landasan pacu militer swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Begitu roda pesawat menyentuh aspal yang membeku, Kelly bisa merasakan bahwa atmosfer di sini berbeda dengan Veridia. Ini bukan lagi soal bisnis mafia; ini adalah zona perang.Di luar jendela jet, lampu-lampu sorot raksasa membelah kabut. Kelly melihat barisan pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis musim dingin berwarna abu-abu, memegang senapan serbu laras panjang. Mereka adalah unit elit The Coil yang sudah menunggu kedatangan Sang Viper."Jangan melihat keluar jendela," perintah Elias tajam.Pria itu sedang berdiri di tengah kabin, mengancingkan jaket taktisnya yang tebal. Wajahnya yang kaku memancarkan aura otoritas yang jauh lebih pekat daripada sebelumnya. Di wilayah ini, setiap ba
Kabin jet pribadi Gulfstream G650 milik Elias biasanya merupakan lambang kemewahan dan ketenangan. Namun malam ini, ruangan sempit yang dilapisi kulit domba dan kayu mahoni itu terasa seperti medan tempur yang sesak. Suara mesin jet yang menderu rendah di luar jendela hanya menjadi latar belakang bagi ketegangan yang lebih besar di dalam.Elias berdiri di dekat meja navigasi, menatap layar radar dengan punggung yang kaku. Ia telah mengganti kemejanya yang berlumuran debu, namun aura kekerasan masih melekat kuat pada dirinya."Kau akan mendarat di pangkalan militer rahasia di perbatasan, Kelly. Stefano akan membawamu ke safe house di pedalaman hutan. Kau tidak akan menginjakkan kaki di Helsinki," ucap Elias tanpa menoleh. Suaranya dingin, mutlak, dan tidak menerima bantahan.Kelly, yang duduk di sofa panjang dengan selimut yang tersampir di bahunya, berdiri dengan sentakan. Rasa takut yang selama ini membungkamnya kini telah menguap, digantikan oleh kemarahan yang membara."Tidak,"
Deru baling-baling helikopter di atas helipad menciptakan badai angin yang menderu, menyapu rambut Kelly ke segala arah. Langit malam Veridia tidak lagi berbintang; ia dipenuhi oleh kilatan lampu merah dari unit-unit tempur Viper yang sedang melakukan mobilisasi. Di sekeliling mereka, Stefano dan Doom bergerak dengan presisi militer, memeriksa senjata dan berteriak melalui radio di tengah kebisingan yang memekakkan telinga.Kelly berdiri mematung di ambang pintu menuju atap. Rompi antipeluru yang ia kenakan terasa berat dan kaku, pengingat fisik bahwa dunianya yang sunyi di perpustakaan telah runtuh, digantikan oleh realitas yang penuh darah dan mesiu.Elias berdiri beberapa langkah darinya, sedang memberikan instruksi terakhir kepada Abigail. Ia tampak seperti dewa perang yang haus darah—setelan jas mahalnya kini dilapisi rompi taktis, sebuah pisau komando terselip di pahanya, dan tatapannya sedingin es. Namun, begitu ia menoleh dan melihat Kelly, topeng dingin itu retak.







