Share

BAB 3 : Gadis di balik Jendela

Penulis: LienaOx
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 12:00:52

Veridia sepuluh tahun kemudian adalah kota yang dibangun di atas kabut dan rahasia. Bagi Kelly, kota ini tak lebih dari sebuah akuarium besar di mana ia adalah ikan kecil yang selalu merasa terancam oleh predator yang tak terlihat.

​Kelly berdiri di depan jendela kamarnya yang sempit di lantai dua rumah bibinya. Rumah itu terletak di pinggiran kota yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat industri, namun ketenangan itu tidak pernah benar-benar meresap ke dalam jiwanya. Ia menyentuh kaca jendela yang dingin dengan ujung jarinya, menatap jalanan sepi di bawah temaram lampu merkuri yang mulai berkedip.

​Ia telah tumbuh menjadi wanita yang kecantikannya sering kali menjadi kutukan. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap jatuh bergelombang di bahunya, dan matanya yang besar menyimpan kedalaman samudera yang tenang namun berbahaya. Namun, ada sesuatu yang "patah" pada dirinya. Sesuatu yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa canggung.

​Kelly memiliki suara. Suara yang lembut dan jernih. Namun, ia memperlakukannya seperti sebuah pusaka yang terlalu berharga—atau terlalu terkutuk—untuk digunakan.

​"Kelly? Sayang, kau belum tidur?" Suara Bibinya, Martha, terdengar dari balik pintu.

​Kelly tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, menciptakan embun tipis di kaca jendela. Ia mencintai Bibi Martha, satu-satunya kerabat yang mau menampungnya setelah malam jahanam sepuluh tahun lalu. Namun, Martha tidak pernah mengerti. Martha menganggap Kelly hanya menderita depresi pascatrauma biasa. Ia tidak tahu bahwa setiap kali Kelly menutup mata, ia mencium bau bensin yang terbakar.

​"Aku akan segera tidur, Bibi," sahut Kelly akhirnya. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak karena jarang digunakan.

​"Baiklah. Jangan lupa mengunci jendela. Akhir-akhir ini banyak orang asing berkeliaran di lingkungan kita."

​Kalimat terakhir Martha membuat bulu kuduk Kelly meremang. Orang asing.

​Bagi Kelly, dunia selalu terasa seperti sepasang mata raksasa yang menatapnya dengan niat jahat. Di supermarket, di jalanan menuju tempat kerjanya di perpustakaan, bahkan di dalam gereja yang sunyi sekalipun. Ia merasa seolah-olah ada sebuah benang merah yang terikat di lehernya, ditarik oleh seseorang yang bersembunyi di balik kegelapan.

​Ia mematikan lampu kamar, membiarkan ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang pucat. Kelly kembali ke jendelanya, menyibak sedikit tirai renda yang sudah mulai menguning.

​Di seberang jalan, di bawah bayang-bayang pohon ek tua yang besar, sebuah mobil sedan hitam terparkir diam. Mesinnya mati, lampunya padam. Namun, Kelly bisa merasakannya. Ada seseorang di dalam sana. Seseorang yang tidak sedang menunggu siapa-siapa, melainkan sedang mengawasinya.

​Kelly mencengkeram koin perak yang selalu tergantung di lehernya sebagai liontin. Logam itu kini terasa hangat karena bersentuhan dengan kulitnya.

​Apakah itu kau, Elias? bisiknya dalam hati.

​Rasa takut dan rindu berperang di dadanya. Jika itu benar Elias, kenapa ia tidak datang menemuinya? Kenapa ia hanya diam dalam bayang-bayang seperti hantu? Namun, jika itu bukan Elias—jika itu adalah salah satu dari pria-pria berjas hitam yang membakar rumahnya dulu—maka Kelly tahu bahwa waktu tenang yang ia miliki sudah hampir habis.

​Tiba-tiba, kaca jendela mobil itu sedikit turun. Kelly menahan napas. Dari jarak sejauh itu, ia tidak bisa melihat wajah sang pengemudi, namun ia melihat bara merah dari sebuah rokok yang menyala. Asapnya mengepul kecil, tertepis angin malam.

​Kelly merasa seolah-olah tatapan dari balik mobil itu menembus kulitnya, meraba jiwanya dengan cara yang posesif dan mengintimidasi. Ia merasa telanjang, terekspos, dan sepenuhnya dimiliki oleh sang pengawas.

​Ia segera menarik tirai dengan tangan gemetar dan mundur menjauh dari jendela. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging—efek traumatis dari suara ledakan masa lalu yang selalu kembali saat ia merasa terpojok.

​Kelly meringkuk di atas tempat tidurnya, menarik selimut hingga ke dagu. Ia merindukan taman mawar itu, tapi bukan mawar-mawar yang terbakar. Ia merindukan anak laki-laki yang memberinya koin ini. Ia merindukan rasa aman yang anehnya hanya ia rasakan saat berada di dekat bahaya yang bernama Elias.

​Di luar sana, di dalam mobil yang gelap, pria itu mematikan rokoknya. Ia menatap jendela lantai dua yang tirainya baru saja tertutup rapat. Tangannya yang dipenuhi bekas luka menggenggam kemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih.

​"Belum waktunya, Kelly," bisik pria itu dengan suara yang berat dan haus. "Sedikit lagi. Sampai aku memastikan tidak ada lagi predator lain yang bisa menyentuhmu."

​Malam itu, Kelly tidur dengan mimpi tentang laut kelabu yang pasang, menenggelamkan kota Veridia, sementara seorang pria berdiri di atas dermaga, menunggunya dengan tangan terbuka yang bersimbah darah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 74: KEAJAIBAN DI TELUK

    ​Asap hitam masih membumbung tinggi dari tebing yang runtuh, menandai makam bagi Laboratorium Bayangan dan—bagi siapa pun yang melihatnya—makam bagi Elias Costra. Leo berdiri di tepi tebing, debu putih menutupi pakaian taktisnya yang kini compang-camping. Di dadanya, kalung memori pemberian ayahnya terasa panas, seolah-olah masih menyimpan sisa kehangatan dari tangan Elias.​Suara baling-baling helikopter stealth "Valkyrie" milik Kelly membelah kesunyian pasca-ledakan. Helikopter itu mendarat di dataran landai hanya beberapa meter dari Leo. Kelly melompat keluar bahkan sebelum tangga pijakannya turun sempurna.​Pertemuan dalam Duka​Kelly berlari ke arah Leo, memeluk putranya dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulang. Bau mesiu dan asap dari pakaian Leo menusuk indra penciumannya, namun bau itulah yang membuktikan bahwa putranya masih bernapas.​"Di mana dia, Leo?" suara Kelly pecah, matanya menatap liar ke arah reruntuhan yang masih membara. "Di mana ayahmu

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 73: KEMATIAN SANG VIPER?

    ​Lantai beton di bawah kaki mereka bergetar hebat. Di atas sana, rudal kedua Kaze kemungkinan besar telah meratakan vila utama, namun di ruang bawah tanah ini, ancaman yang lebih nyata sedang menggedor pintu baja Victoria yang tadi dibuka Leo. Suara dentuman itu bukan lagi sekadar hantaman; itu adalah suara mesin pemotong hidrolik yang mulai merobek zirah pintu tersebut.​Bau kertas tua di Laboratorium Bayangan Jonathan Sterling kini bercampur dengan bau panas dari sirkuit yang terbakar dan uap dingin dari pipa nitrogen yang bocor akibat guncangan.​Elias Costra menatap sekeliling ruangan. Hanya ada satu jalan keluar: sebuah lubang ventilasi sempit yang menuju ke tebing laut. Terlalu kecil untuknya, tapi cukup untuk seorang anak kecil.​"Leo, dengarkan Ayah," suara Elias mendadak tenang, ketenangan yang biasanya ia miliki tepat sebelum ia menghabisi nyawa seseorang. Ia berlutut di depan putranya, meletakkan tangan besarnya di bahu kecil Leo.​Warisan Sang Ayah

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 72: RAHASIA DI BALIK LABIRIN

    ​Suara desingan rudal yang membelah atmosfer terdengar seperti jeritan iblis yang lapar. Di dalam lorong bawah tanah yang lembap di bawah perpustakaan vila, getaran hebat meruntuhkan langit-langit beton, mengirimkan debu putih yang menyesakkan ke udara. Elias berlari dengan napas yang terbakar, mendekap Leo di dada kirinya sementara tangan kanannya masih menggenggam senjata yang panas.​"Sedikit lagi, Leo! Bertahanlah!" teriak Elias.​Mereka tiba di ujung terowongan, di depan sebuah pintu baja kuno bergaya Victoria yang tampak janggal di tengah teknologi canggih Galapagos. Pintu ini adalah warisan dari pemilik pulau sebelumnya—seorang kartografer yang terobsesi dengan teka-teki. Namun, mekanisme penguncinya telah terhubung dengan sistem digital Kelly sebagai jalur pelarian terakhir.​Sialnya, hantaman rudal pertama di permukaan telah menciptakan lonjakan elektromagnetik (EMP) yang membakar sirkuit elektronik pintu tersebut. Pintu itu mati total. Di belakang mereka,

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 71 : PENGEPUNGAN GALAPAGOS

    ​Fajar di Galapagos tidak pernah terasa segetir ini. Cahaya jingga yang biasanya membelai permukaan laut dengan lembut, kini tertutup oleh kabut tebal berwarna hijau pucat yang merayap naik dari garis pantai. Itu bukan kabut alami. Itu adalah Aero-Soporific Compound V-9, gas bius saraf tingkat militer yang dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan detik tanpa merusak materi genetik subjek. ​Bau gas itu manis, hampir seperti aroma melati yang membusuk, sebuah kontras yang memuakkan dengan aroma mesiu yang mulai meledak di kejauhan. ​"Kelly! Pasang masker filtrasi oksigenmu sekarang!" raung Elias melalui radio internal. ​Di tengah kekacauan itu, Elias Costra berlari menembus koridor vila yang berguncang. Di tangannya, ia memegang SCAR-H dengan magasin berisi peluru penembus zirah. Setiap langkahnya adalah perpaduan antara kemarahan seorang ayah dan ketenangan seorang pembunuh bayaran tingkat dunia. ​Badai di Langit

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 70 : TAMU TAK DIUNDANG

    ​Keheningan yang menyusul setelah padamnya alarm di bunker Galapagos terasa lebih menakutkan daripada raungan sirene itu sendiri. Bau ozon dari sirkuit yang terbakar di ruang kendali masih menggantung berat, berbaur dengan aroma laut yang masuk melalui sistem ventilasi yang baru saja dipulihkan. Kelly Sterling duduk di depan layar monitor yang retak, matanya yang sembab namun tajam terpaku pada satu baris kode yang ia temukan di dalam fragmen data yang ditinggalkan Kaze.​[PROJECT CZAR: SUBJECT 9 – GENETIC STABILITY: 99.9%]​"Dia bukan sekadar kloning, Elias," bisik Kelly tanpa menoleh saat suaminya masuk ke ruangan dengan langkah berat. "Subjek Sembilan... dia adalah wadah. Aristha tidak ingin menciptakan prajurit baru. Dia sedang mencoba memindahkan kesadarannya sendiri ke dalam tubuh yang memiliki kekuatan fisik sepertimu dan kecerdasan seperti keluarga Sterling."​Elias berhenti di samping Kelly, tangan besarnya yang masih ternoda minyak dan darah kering bertumpu pada bahu istriny

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    BAB 69 : PERANG PIKIRAN

    ​Cahaya biru dari monitor holografik di ruang kendali pusat bergetar hebat, memancarkan spektrum warna yang tidak stabil. Bau ozon dari kabel-kabel yang dipaksa bekerja melampaui batas memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dingin dari pendingin ruangan yang mulai berderak. Kelly Sterling berdiri mematung, jemarinya membeku beberapa inci di atas konsol utama.​Di layar, koordinat kapal selam Elias yang sedang mendekat berubah warna menjadi merah darah. Di atasnya, sebuah ikon berbentuk topeng tradisional Jepang—simbol Kaze—berkedip pelan, mengejeknya.​"Sial..." bisik Kelly. Suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin. "Dia menggunakan transmisi Elias sebagai kuda Troya."​Infiltrasi Sang Hantu (Subjek 3)​Kaze bukan sekadar peretas. Sebagai Subjek 3, ia memiliki kemampuan Neuro-Link—kemampuan untuk memetakan kepribadian targetnya ke dalam algoritma serangan. Saat Kelly fokus memandu Elias menembus badai di Guayaquil, Kaze telah menyeli

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status