Share

Bab 2 : Janji yang Terbakar

Penulis: LienaOx
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 11:45:29

​Dunia Kelly tidak berakhir dengan ledakan, melainkan dengan keheningan yang menyesakkan tepat sebelum segalanya berubah menjadi merah.

​Dari balik rimbunnya semak mawar yang kini terasa seperti penjara berduri, Kelly kecil meringkuk. Napasnya pendek-pendek, tersengal di balik telapak tangan yang ia tekan kuat ke mulutnya sendiri. Ia teringat perintah Elias: Jangan bersuara. Namun, bagaimana mungkin ia tidak bersuara saat melihat rumah tempatnya tumbuh—tempat ibunya membacakan dongeng dan ayahnya memainkan piano—kini perlahan ditelan oleh lidah-lidah api yang kelaparan?

​Asap hitam membubung tinggi, mengotori langit senja Veridia yang biasanya berwarna ungu lembut. Bau kayu yang terbakar, kain gorden yang hangus, dan sesuatu yang lebih tajam—bau kimia dari mesiu—memenuhi paru-parunya. Setiap kali lidah api melahap bagian dari bangunan itu, suara kayu yang berderak terdengar seperti tulang-tulang yang patah.

​Lalu, ia melihatnya.

​Di ambang pintu depan yang sudah mulai runtuh, Elias berdiri.

​Anak laki-laki itu tidak berlari. Ia tidak tampak ketakutan. Di tengah kobaran api yang menari-nari di sekelilingnya, Elias tampak seperti bagian dari api itu sendiri. Pakaiannya yang gelap kini ternoda abu dan percikan darah, tetapi punggungnya tegak. Ia berdiri di sana, menatap lurus ke dalam neraka di dalam rumah, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu—atau seseorang—yang takkan pernah kembali.

​"Elias..." bisik Kelly. Nama itu adalah satu-satunya pegangan yang ia miliki.

​Namun, pemandangan itu terputus dengan kasar. Dua pria raksasa dengan setelan jas hitam yang kaku muncul dari balik kepulan asap. Mereka tidak terlihat seperti penyelamat; mereka lebih mirip malaikat maut. Salah satu dari mereka mencengkeram bahu Elias dengan kasar, mencoba menariknya menjauh dari pintu yang mulai ambruk.

​Kelly melihat Elias memberontak. Anak laki-laki itu berteriak—sebuah teriakan tanpa suara yang tertelan oleh deru api—dan mencoba melepaskan diri. Ia ingin kembali ke dalam. Ia ingin menjemput apa yang tertinggal. Tapi pria-pria itu terlalu kuat. Mereka menyeret Elias menjauh, kaki anak itu terseret di atas kerikil, sementara matanya tetap terpaku pada jendela lantai atas tempat Kelly tahu ayahnya terakhir kali berada.

​Sesaat sebelum ia dipaksa masuk ke dalam mobil hitam yang menunggu di gerbang, mata Elias bergerak liar, mencari-cari ke arah taman.

​Untuk satu detik yang terasa abadi, mata kelabu itu bertemu dengan mata Kelly yang bersembunyi di balik semak. Elias tidak melambaikan tangan. Ia tidak memberi isyarat. Tapi tatapannya mengunci Kelly dengan janji yang lebih kuat dari sumpah manapun.

​Tunggu aku.

​Lalu, pintu mobil terbanting tertutup. Kendaraan itu melesat pergi, meninggalkan debu dan abu yang beterbangan.

​Tepat pada saat itu, sebuah ledakan besar mengguncang fondasi rumah. BUM!

​Gelombang panas menghantam wajah Kelly. Suara itu begitu keras hingga telinganya berdenging hebat, mengubah suara dunia menjadi dengung yang menyakitkan. Langit seolah runtuh. Kelly terlempar ke belakang, punggungnya menghantam tanah lembap. Ia melihat atap rumahnya amblas, mengirimkan jutaan bunga api ke udara seperti kunang-kunang yang sekarat.

​Malam itu, Kelly tidak hanya kehilangan rumahnya. Ia kehilangan kemampuannya untuk merasa aman. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat api. Setiap kali ia mendengar suara keras, ia merasakan dadanya sesak, seolah-olah oksigen di sekitarnya telah habis terbakar.

​Ia meraba saku gaunnya yang kotor. Koin perak itu masih di sana. Ujung ukiran ular Viper-nya menusuk telapak tangannya, memberikan rasa sakit yang nyata—satu-satunya hal yang meyakinkannya bahwa ia masih hidup.

​"Kau berjanji akan menjemputku," isaknya di tengah kesunyian hutan yang kini mengelilinginya.

​Tapi Elias telah dibawa pergi oleh kegelapan, dan Kelly ditinggalkan sendirian dengan trauma yang mulai mengakar di jiwanya. Sejak malam itu, Kelly belajar bahwa api tidak hanya menghancurkan benda, ia menghancurkan ingatan. Dan sejak malam itu pula, Kelly bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapapun mendekatinya lagi—kecuali pria yang memiliki mata kelabu seperti badai itu kembali untuk menagih janjinya.

​Kelly tidak tahu, bahwa di belahan dunia yang lain, Elias sedang ditempa menjadi senjata yang mematikan, hanya agar ia bisa kembali dan menghancurkan siapapun yang pernah membuat Kelly menangis di balik semak mawar.

​Peperangan sesungguhnya baru saja dimulai, dan apinya tidak akan pernah benar-benar padam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 20 : Pesta berdarah

    Dunia Kelly tidak lagi runtuh; dunia itu telah menjadi abu, dan di atas abu itu, Elias Costra sedang membangun sebuah panggung sandiwara yang mematikan.​Hanya tiga jam setelah pengakuan yang tak sengaja terdengar itu, Elias tidak memberikan ruang bagi Kelly untuk menangis atau memproses pengkhianatannya. Ia menarik Kelly keluar dari chalet yang terkepung dan membawanya ke sebuah hotel mewah di pusat Helsinki. Di sana, sebuah gaun sutra berwarna merah darah—merah yang sama dengan warna dosa—telah disiapkan.​"Pakai ini," perintah Elias. Suaranya kembali menjadi es, tidak ada lagi sisa kelembutan dari malam sebelumnya. "Julian akan ada di sana. Di perjamuan diplomatik The Nordic Union. Dia tidak akan menyerang di depan umum, tapi dia akan mendekat. Dan saat dia mendekat, aku akan menghabisinya."​Kelly menatap pantulannya di cermin. Rompi antipeluru yang tipis namun kuat tersembunyi di balik sutra merah itu. "Kau menjadikanku umpan," bisik Kelly, suaranya hancur. "Setelah apa yang kau

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 19 : Mata-mata dalam selimut

    Kehangatan dari sisa gairah semalam masih terasa di kulit Kelly, namun udara di dalam chalet subuh itu mendadak berubah menjadi sedingin es yang merayap di jendela. Elias tidak lagi di sampingnya. Sisi tempat tidur yang besar itu sudah kosong dan dingin, menyisakan lekukan tubuhnya yang kokoh di atas sprei yang berantakan.​Kelly bangkit perlahan, membungkus tubuhnya dengan jubah bulu tebal. Langkah kakinya yang telanjang tidak bersuara di atas lantai kayu ek saat ia mencari keberadaan Elias. Ia bermaksud mencari kehangatan kopi atau mungkin sekadar pelukan pagi, namun langkahnya terhenti di dekat pintu ruang kerja kecil yang terletak di sudut bangunan.​Pintu itu tidak tertutup rapat. Melalui celah sempit, Kelly melihat siluet Elias yang berdiri membelakangi jendela, sedang berbicara melalui telepon satelit dengan suara yang sangat rendah—suara yang belum pernah Kelly dengar sebelumnya. Suara itu bukan milik pria yang menciumnya dengan penuh kasih sayang semalam; itu adalah suara seo

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 18 : Malam di Chalet salju

    Dunia di luar sana telah menghilang, terkubur di bawah amukan putih yang membutakan. Badai salju Finlandia menghantam dinding kayu chalet tua yang tersembunyi di lereng bukit itu dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan tulang. Di dalam, satu-satunya sumber cahaya adalah lidah api yang menjilat-jilat kayu ek di dalam perapian batu, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding.​Elias duduk di kursi kayu besar, napasnya berat dan tidak teratur. Kemeja taktisnya tersampir di lantai, memperlihatkan bahunya yang lebar. Di lengan kanannya, sebuah luka gores akibat serpihan logam saat penyergapan tadi masih mengalirkan darah segar, kontras dengan kulitnya yang pucat karena dingin.​Kelly berlutut di antara kedua kaki Elias. Tangannya yang gemetar memegang kain kasa dan botol antiseptik. Di sekeliling mereka, kesunyian hutan yang membeku terasa menekan, membuat setiap desah napas dan derak kayu terdengar seperti dentum meriam.​"Diamlah, Elias. Kau terus bergerak," bisik Kelly, suaran

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 17 : Wilayah tak bertuan.

    ​Langit di atas Helsinki tidak menyambut mereka dengan cahaya, melainkan dengan kegelapan pekat yang mencekam dan badai salju yang mulai turun seperti ribuan jarum es. Jet pribadi Elias mendarat dengan guncangan hebat di sebuah landasan pacu militer swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Begitu roda pesawat menyentuh aspal yang membeku, Kelly bisa merasakan bahwa atmosfer di sini berbeda dengan Veridia. Ini bukan lagi soal bisnis mafia; ini adalah zona perang.​Di luar jendela jet, lampu-lampu sorot raksasa membelah kabut. Kelly melihat barisan pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis musim dingin berwarna abu-abu, memegang senapan serbu laras panjang. Mereka adalah unit elit The Coil yang sudah menunggu kedatangan Sang Viper.​"Jangan melihat keluar jendela," perintah Elias tajam.​Pria itu sedang berdiri di tengah kabin, mengancingkan jaket taktisnya yang tebal. Wajahnya yang kaku memancarkan aura otoritas yang jauh lebih pekat daripada sebelumnya. Di wilayah ini, setiap ba

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 16 : Keberangkatan tak terhindarkan

    Kabin jet pribadi Gulfstream G650 milik Elias biasanya merupakan lambang kemewahan dan ketenangan. Namun malam ini, ruangan sempit yang dilapisi kulit domba dan kayu mahoni itu terasa seperti medan tempur yang sesak. Suara mesin jet yang menderu rendah di luar jendela hanya menjadi latar belakang bagi ketegangan yang lebih besar di dalam.​Elias berdiri di dekat meja navigasi, menatap layar radar dengan punggung yang kaku. Ia telah mengganti kemejanya yang berlumuran debu, namun aura kekerasan masih melekat kuat pada dirinya.​"Kau akan mendarat di pangkalan militer rahasia di perbatasan, Kelly. Stefano akan membawamu ke safe house di pedalaman hutan. Kau tidak akan menginjakkan kaki di Helsinki," ucap Elias tanpa menoleh. Suaranya dingin, mutlak, dan tidak menerima bantahan.​Kelly, yang duduk di sofa panjang dengan selimut yang tersampir di bahunya, berdiri dengan sentakan. Rasa takut yang selama ini membungkamnya kini telah menguap, digantikan oleh kemarahan yang membara.​"Tidak,"

  • Terjerat Cinta Tuan Elias (Mafia Romance Trilogy)    Bab 15 : Ciuman pertama yang pahit

    Deru baling-baling helikopter di atas helipad menciptakan badai angin yang menderu, menyapu rambut Kelly ke segala arah. Langit malam Veridia tidak lagi berbintang; ia dipenuhi oleh kilatan lampu merah dari unit-unit tempur Viper yang sedang melakukan mobilisasi. Di sekeliling mereka, Stefano dan Doom bergerak dengan presisi militer, memeriksa senjata dan berteriak melalui radio di tengah kebisingan yang memekakkan telinga.​Kelly berdiri mematung di ambang pintu menuju atap. Rompi antipeluru yang ia kenakan terasa berat dan kaku, pengingat fisik bahwa dunianya yang sunyi di perpustakaan telah runtuh, digantikan oleh realitas yang penuh darah dan mesiu.​Elias berdiri beberapa langkah darinya, sedang memberikan instruksi terakhir kepada Abigail. Ia tampak seperti dewa perang yang haus darah—setelan jas mahalnya kini dilapisi rompi taktis, sebuah pisau komando terselip di pahanya, dan tatapannya sedingin es. Namun, begitu ia menoleh dan melihat Kelly, topeng dingin itu retak.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status