LOGINDunia Kelly tidak berakhir dengan ledakan, melainkan dengan keheningan yang menyesakkan tepat sebelum segalanya berubah menjadi merah.
Dari balik rimbunnya semak mawar yang kini terasa seperti penjara berduri, Kelly kecil meringkuk. Napasnya pendek-pendek, tersengal di balik telapak tangan yang ia tekan kuat ke mulutnya sendiri. Ia teringat perintah Elias: Jangan bersuara. Namun, bagaimana mungkin ia tidak bersuara saat melihat rumah tempatnya tumbuh—tempat ibunya membacakan dongeng dan ayahnya memainkan piano—kini perlahan ditelan oleh lidah-lidah api yang kelaparan? Asap hitam membubung tinggi, mengotori langit senja Veridia yang biasanya berwarna ungu lembut. Bau kayu yang terbakar, kain gorden yang hangus, dan sesuatu yang lebih tajam—bau kimia dari mesiu—memenuhi paru-parunya. Setiap kali lidah api melahap bagian dari bangunan itu, suara kayu yang berderak terdengar seperti tulang-tulang yang patah. Lalu, ia melihatnya. Di ambang pintu depan yang sudah mulai runtuh, Elias berdiri. Anak laki-laki itu tidak berlari. Ia tidak tampak ketakutan. Di tengah kobaran api yang menari-nari di sekelilingnya, Elias tampak seperti bagian dari api itu sendiri. Pakaiannya yang gelap kini ternoda abu dan percikan darah, tetapi punggungnya tegak. Ia berdiri di sana, menatap lurus ke dalam neraka di dalam rumah, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu—atau seseorang—yang takkan pernah kembali. "Elias..." bisik Kelly. Nama itu adalah satu-satunya pegangan yang ia miliki. Namun, pemandangan itu terputus dengan kasar. Dua pria raksasa dengan setelan jas hitam yang kaku muncul dari balik kepulan asap. Mereka tidak terlihat seperti penyelamat; mereka lebih mirip malaikat maut. Salah satu dari mereka mencengkeram bahu Elias dengan kasar, mencoba menariknya menjauh dari pintu yang mulai ambruk. Kelly melihat Elias memberontak. Anak laki-laki itu berteriak—sebuah teriakan tanpa suara yang tertelan oleh deru api—dan mencoba melepaskan diri. Ia ingin kembali ke dalam. Ia ingin menjemput apa yang tertinggal. Tapi pria-pria itu terlalu kuat. Mereka menyeret Elias menjauh, kaki anak itu terseret di atas kerikil, sementara matanya tetap terpaku pada jendela lantai atas tempat Kelly tahu ayahnya terakhir kali berada. Sesaat sebelum ia dipaksa masuk ke dalam mobil hitam yang menunggu di gerbang, mata Elias bergerak liar, mencari-cari ke arah taman. Untuk satu detik yang terasa abadi, mata kelabu itu bertemu dengan mata Kelly yang bersembunyi di balik semak. Elias tidak melambaikan tangan. Ia tidak memberi isyarat. Tapi tatapannya mengunci Kelly dengan janji yang lebih kuat dari sumpah manapun. Tunggu aku. Lalu, pintu mobil terbanting tertutup. Kendaraan itu melesat pergi, meninggalkan debu dan abu yang beterbangan. Tepat pada saat itu, sebuah ledakan besar mengguncang fondasi rumah. BUM! Gelombang panas menghantam wajah Kelly. Suara itu begitu keras hingga telinganya berdenging hebat, mengubah suara dunia menjadi dengung yang menyakitkan. Langit seolah runtuh. Kelly terlempar ke belakang, punggungnya menghantam tanah lembap. Ia melihat atap rumahnya amblas, mengirimkan jutaan bunga api ke udara seperti kunang-kunang yang sekarat. Malam itu, Kelly tidak hanya kehilangan rumahnya. Ia kehilangan kemampuannya untuk merasa aman. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat api. Setiap kali ia mendengar suara keras, ia merasakan dadanya sesak, seolah-olah oksigen di sekitarnya telah habis terbakar. Ia meraba saku gaunnya yang kotor. Koin perak itu masih di sana. Ujung ukiran ular Viper-nya menusuk telapak tangannya, memberikan rasa sakit yang nyata—satu-satunya hal yang meyakinkannya bahwa ia masih hidup. "Kau berjanji akan menjemputku," isaknya di tengah kesunyian hutan yang kini mengelilinginya. Tapi Elias telah dibawa pergi oleh kegelapan, dan Kelly ditinggalkan sendirian dengan trauma yang mulai mengakar di jiwanya. Sejak malam itu, Kelly belajar bahwa api tidak hanya menghancurkan benda, ia menghancurkan ingatan. Dan sejak malam itu pula, Kelly bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapapun mendekatinya lagi—kecuali pria yang memiliki mata kelabu seperti badai itu kembali untuk menagih janjinya. Kelly tidak tahu, bahwa di belahan dunia yang lain, Elias sedang ditempa menjadi senjata yang mematikan, hanya agar ia bisa kembali dan menghancurkan siapapun yang pernah membuat Kelly menangis di balik semak mawar. Peperangan sesungguhnya baru saja dimulai, dan apinya tidak akan pernah benar-benar padam.Asap hitam masih membumbung tinggi dari tebing yang runtuh, menandai makam bagi Laboratorium Bayangan dan—bagi siapa pun yang melihatnya—makam bagi Elias Costra. Leo berdiri di tepi tebing, debu putih menutupi pakaian taktisnya yang kini compang-camping. Di dadanya, kalung memori pemberian ayahnya terasa panas, seolah-olah masih menyimpan sisa kehangatan dari tangan Elias.Suara baling-baling helikopter stealth "Valkyrie" milik Kelly membelah kesunyian pasca-ledakan. Helikopter itu mendarat di dataran landai hanya beberapa meter dari Leo. Kelly melompat keluar bahkan sebelum tangga pijakannya turun sempurna.Pertemuan dalam DukaKelly berlari ke arah Leo, memeluk putranya dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulang. Bau mesiu dan asap dari pakaian Leo menusuk indra penciumannya, namun bau itulah yang membuktikan bahwa putranya masih bernapas."Di mana dia, Leo?" suara Kelly pecah, matanya menatap liar ke arah reruntuhan yang masih membara. "Di mana ayahmu
Lantai beton di bawah kaki mereka bergetar hebat. Di atas sana, rudal kedua Kaze kemungkinan besar telah meratakan vila utama, namun di ruang bawah tanah ini, ancaman yang lebih nyata sedang menggedor pintu baja Victoria yang tadi dibuka Leo. Suara dentuman itu bukan lagi sekadar hantaman; itu adalah suara mesin pemotong hidrolik yang mulai merobek zirah pintu tersebut.Bau kertas tua di Laboratorium Bayangan Jonathan Sterling kini bercampur dengan bau panas dari sirkuit yang terbakar dan uap dingin dari pipa nitrogen yang bocor akibat guncangan.Elias Costra menatap sekeliling ruangan. Hanya ada satu jalan keluar: sebuah lubang ventilasi sempit yang menuju ke tebing laut. Terlalu kecil untuknya, tapi cukup untuk seorang anak kecil."Leo, dengarkan Ayah," suara Elias mendadak tenang, ketenangan yang biasanya ia miliki tepat sebelum ia menghabisi nyawa seseorang. Ia berlutut di depan putranya, meletakkan tangan besarnya di bahu kecil Leo.Warisan Sang Ayah
Suara desingan rudal yang membelah atmosfer terdengar seperti jeritan iblis yang lapar. Di dalam lorong bawah tanah yang lembap di bawah perpustakaan vila, getaran hebat meruntuhkan langit-langit beton, mengirimkan debu putih yang menyesakkan ke udara. Elias berlari dengan napas yang terbakar, mendekap Leo di dada kirinya sementara tangan kanannya masih menggenggam senjata yang panas."Sedikit lagi, Leo! Bertahanlah!" teriak Elias.Mereka tiba di ujung terowongan, di depan sebuah pintu baja kuno bergaya Victoria yang tampak janggal di tengah teknologi canggih Galapagos. Pintu ini adalah warisan dari pemilik pulau sebelumnya—seorang kartografer yang terobsesi dengan teka-teki. Namun, mekanisme penguncinya telah terhubung dengan sistem digital Kelly sebagai jalur pelarian terakhir.Sialnya, hantaman rudal pertama di permukaan telah menciptakan lonjakan elektromagnetik (EMP) yang membakar sirkuit elektronik pintu tersebut. Pintu itu mati total. Di belakang mereka,
Fajar di Galapagos tidak pernah terasa segetir ini. Cahaya jingga yang biasanya membelai permukaan laut dengan lembut, kini tertutup oleh kabut tebal berwarna hijau pucat yang merayap naik dari garis pantai. Itu bukan kabut alami. Itu adalah Aero-Soporific Compound V-9, gas bius saraf tingkat militer yang dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan detik tanpa merusak materi genetik subjek. Bau gas itu manis, hampir seperti aroma melati yang membusuk, sebuah kontras yang memuakkan dengan aroma mesiu yang mulai meledak di kejauhan. "Kelly! Pasang masker filtrasi oksigenmu sekarang!" raung Elias melalui radio internal. Di tengah kekacauan itu, Elias Costra berlari menembus koridor vila yang berguncang. Di tangannya, ia memegang SCAR-H dengan magasin berisi peluru penembus zirah. Setiap langkahnya adalah perpaduan antara kemarahan seorang ayah dan ketenangan seorang pembunuh bayaran tingkat dunia. Badai di Langit
Keheningan yang menyusul setelah padamnya alarm di bunker Galapagos terasa lebih menakutkan daripada raungan sirene itu sendiri. Bau ozon dari sirkuit yang terbakar di ruang kendali masih menggantung berat, berbaur dengan aroma laut yang masuk melalui sistem ventilasi yang baru saja dipulihkan. Kelly Sterling duduk di depan layar monitor yang retak, matanya yang sembab namun tajam terpaku pada satu baris kode yang ia temukan di dalam fragmen data yang ditinggalkan Kaze.[PROJECT CZAR: SUBJECT 9 – GENETIC STABILITY: 99.9%]"Dia bukan sekadar kloning, Elias," bisik Kelly tanpa menoleh saat suaminya masuk ke ruangan dengan langkah berat. "Subjek Sembilan... dia adalah wadah. Aristha tidak ingin menciptakan prajurit baru. Dia sedang mencoba memindahkan kesadarannya sendiri ke dalam tubuh yang memiliki kekuatan fisik sepertimu dan kecerdasan seperti keluarga Sterling."Elias berhenti di samping Kelly, tangan besarnya yang masih ternoda minyak dan darah kering bertumpu pada bahu istriny
Cahaya biru dari monitor holografik di ruang kendali pusat bergetar hebat, memancarkan spektrum warna yang tidak stabil. Bau ozon dari kabel-kabel yang dipaksa bekerja melampaui batas memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dingin dari pendingin ruangan yang mulai berderak. Kelly Sterling berdiri mematung, jemarinya membeku beberapa inci di atas konsol utama.Di layar, koordinat kapal selam Elias yang sedang mendekat berubah warna menjadi merah darah. Di atasnya, sebuah ikon berbentuk topeng tradisional Jepang—simbol Kaze—berkedip pelan, mengejeknya."Sial..." bisik Kelly. Suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin. "Dia menggunakan transmisi Elias sebagai kuda Troya."Infiltrasi Sang Hantu (Subjek 3)Kaze bukan sekadar peretas. Sebagai Subjek 3, ia memiliki kemampuan Neuro-Link—kemampuan untuk memetakan kepribadian targetnya ke dalam algoritma serangan. Saat Kelly fokus memandu Elias menembus badai di Guayaquil, Kaze telah menyeli







