MasukPerpustakaan pusat Veridia adalah satu-satunya tempat di mana Kelly merasa bisa bernapas. Di antara aroma kertas tua dan rak-rak kayu yang menjulang tinggi, ia merasa terlindungi oleh dinding-dinding pengetahuan yang bisu. Di sini, ia tidak perlu banyak bicara; orang-orang datang untuk mencari ketenangan, sama seperti dirinya.
Namun, jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. Musim gugur telah tiba, membawa malam yang datang lebih cepat dan udara yang menggigit. Kelly mengunci pintu kaca perpustakaan, kunci logamnya bergemerincing di tangannya yang terbungkus sarung tangan rajut. Jalanan di depan perpustakaan tampak lengang. Kabut tipis mulai turun, mengaburkan lampu-lampu jalan yang bersinar kuning redup. Kelly mempererat lilitan syalnya, menundukkan kepala, dan mulai berjalan menuju halte bus yang berjarak dua blok dari sana. Langkah kakinya di atas trotoar terdengar berirama, namun indranya yang tajam karena trauma mulai menangkap sesuatu yang salah. Ada langkah kaki lain. Tidak tepat di belakangnya, melainkan di seberang jalan, mengikuti ritmenya dengan presisi yang menakutkan. Kelly mempercepat langkah. Jantungnya mulai berdegup kencang, menciptakan sensasi sesak yang familiar di dadanya. Jangan panik, Kelly. Hanya dua blok lagi, bisiknya dalam hati. Saat ia melewati sebuah gang sempit yang gelap di antara dua bangunan tua, sesosok pria tiba-tiba muncul dari balik bayangan. Pria itu bertubuh kurus, dengan mata yang merah dan pakaian yang kumal. Tangannya memegang sebilah pisau lipat yang berkilat terkena cahaya lampu jalan. "Berikan tasmu, Nona. Jangan berteriak jika kau masih ingin melihat hari esok," desis pria itu. Suaranya serak dan penuh keputusasaan yang berbahaya. Kelly membeku. Suaranya seolah tersangkut di tenggorokan, terkunci oleh dinding trauma yang selalu muncul saat ia merasa terancam. Ia ingin berteriak, ia ingin memohon, tapi yang keluar hanyalah napas yang tersengal. Pria itu melangkah maju, ujung pisau itu nyaris menyentuh leher Kelly. "Cepat!" gertak perampok itu, tangannya terulur hendak merenggut paksa tas di bahu Kelly. Namun, sebelum jemari pria itu sempat menyentuh kain tas Kelly, sebuah bayangan besar jatuh menimpa mereka. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, begitu sunyi, dan begitu brutal. Sesosok pria jangkung muncul dari kegelapan di belakang sang perampok. Tanpa sepatah kata pun, tangan yang besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan si perampok dan memutarnya hingga terdengar bunyi krak yang mengerikan. Pisau itu jatuh ke aspal dengan denting logam yang nyaring. Kelly tersentak mundur, punggungnya menghantam dinding batu yang dingin. Ia menyaksikan dalam diam bagaimana sosok pelindungnya menghajar perampok itu. Tidak ada emosi dalam gerakannya—hanya efisiensi yang mematikan. Pria asing itu mencengkeram leher si perampok, mengangkatnya dari tanah seolah pria itu tidak lebih berat dari tumpukan baju kotor, lalu menghempaskannya ke dinding gang dengan kekuatan yang luar biasa. Si perampok jatuh pingsan seketika, tubuhnya meluncur lemas ke lantai. Keheningan kembali turun, namun kali ini terasa jauh lebih berat. Kelly berdiri terpaku, napasnya memburu. Pria besar itu tetap berdiri membelakanginya, bahunya yang lebar menutupi hampir seluruh lebar gang sempit itu. Ia mengenakan mantel parit panjang berwarna hitam yang tampak menyatu dengan malam. Pria itu berbalik perlahan. Kelly tidak bisa melihat wajahnya. Topi dari mantelnya ditarik rendah, dan kegelapan gang menyembunyikan fitur wajahnya dengan sempurna. Namun, saat pria itu melangkah mendekat, Kelly tidak merasa ingin lari. Ada aroma yang mendadak menyeruak, memicu memori yang terkubur dalam di otaknya. Bau kayu cendana yang menenangkan, bercampur dengan aroma dingin udara malam dan sedikit sisa bau mesiu yang samar. Aroma yang sama dengan koin perak yang kini berdenyut di balik dadanya. Pria itu berhenti hanya beberapa jengkal darinya. Kelly bisa merasakan panas yang terpancar dari tubuh pria itu, sebuah kontras yang tajam dengan udara malam yang beku. Tangannya yang besar, yang baru saja menghancurkan tulang seseorang, terangkat perlahan. Kelly memejamkan mata, menunggu sentuhan itu. Ia merasakan jemari pria itu menyentuh syalnya, memperbaikinya dengan gerakan yang sangat lembut, seolah Kelly terbuat dari porselen yang bisa pecah kapan saja. Sentuhan itu singkat, namun meninggalkan jejak panas yang membekas di kulit Kelly. "Pulanglah, Kelly," suara itu bukan lagi suara anak laki-laki. Itu adalah suara bariton yang dalam, rendah, dan penuh otoritas yang tak terbantahkan. Suara yang menjanjikan keamanan sekaligus menuntut kepatuhan. "Busmu datang tiga menit lagi." Sebelum Kelly sempat membuka mulut untuk bertanya, pria itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan gang seolah ia adalah bagian dari asap dan bayangan itu sendiri. Kelly berdiri sendirian, gemetar. Ia melihat ke arah halte bus, dan benar saja, lampu depan bus kota mulai terlihat dari kejauhan. Ia menyentuh lehernya, di tempat jemari pria itu baru saja berada. Jantungnya berdebar, bukan karena takut pada si perampok, melainkan karena kesadaran yang menghantamnya seperti gelombang pasang. Elias. Dia tidak hanya mengawasi. Dia menjaganya. Dan dalam kegelapan Veridia yang kejam, Kelly menyadari bahwa predator yang paling ia takuti adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih bisa bernapas malam ini.Asap hitam masih membumbung tinggi dari tebing yang runtuh, menandai makam bagi Laboratorium Bayangan dan—bagi siapa pun yang melihatnya—makam bagi Elias Costra. Leo berdiri di tepi tebing, debu putih menutupi pakaian taktisnya yang kini compang-camping. Di dadanya, kalung memori pemberian ayahnya terasa panas, seolah-olah masih menyimpan sisa kehangatan dari tangan Elias.Suara baling-baling helikopter stealth "Valkyrie" milik Kelly membelah kesunyian pasca-ledakan. Helikopter itu mendarat di dataran landai hanya beberapa meter dari Leo. Kelly melompat keluar bahkan sebelum tangga pijakannya turun sempurna.Pertemuan dalam DukaKelly berlari ke arah Leo, memeluk putranya dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulang. Bau mesiu dan asap dari pakaian Leo menusuk indra penciumannya, namun bau itulah yang membuktikan bahwa putranya masih bernapas."Di mana dia, Leo?" suara Kelly pecah, matanya menatap liar ke arah reruntuhan yang masih membara. "Di mana ayahmu
Lantai beton di bawah kaki mereka bergetar hebat. Di atas sana, rudal kedua Kaze kemungkinan besar telah meratakan vila utama, namun di ruang bawah tanah ini, ancaman yang lebih nyata sedang menggedor pintu baja Victoria yang tadi dibuka Leo. Suara dentuman itu bukan lagi sekadar hantaman; itu adalah suara mesin pemotong hidrolik yang mulai merobek zirah pintu tersebut.Bau kertas tua di Laboratorium Bayangan Jonathan Sterling kini bercampur dengan bau panas dari sirkuit yang terbakar dan uap dingin dari pipa nitrogen yang bocor akibat guncangan.Elias Costra menatap sekeliling ruangan. Hanya ada satu jalan keluar: sebuah lubang ventilasi sempit yang menuju ke tebing laut. Terlalu kecil untuknya, tapi cukup untuk seorang anak kecil."Leo, dengarkan Ayah," suara Elias mendadak tenang, ketenangan yang biasanya ia miliki tepat sebelum ia menghabisi nyawa seseorang. Ia berlutut di depan putranya, meletakkan tangan besarnya di bahu kecil Leo.Warisan Sang Ayah
Suara desingan rudal yang membelah atmosfer terdengar seperti jeritan iblis yang lapar. Di dalam lorong bawah tanah yang lembap di bawah perpustakaan vila, getaran hebat meruntuhkan langit-langit beton, mengirimkan debu putih yang menyesakkan ke udara. Elias berlari dengan napas yang terbakar, mendekap Leo di dada kirinya sementara tangan kanannya masih menggenggam senjata yang panas."Sedikit lagi, Leo! Bertahanlah!" teriak Elias.Mereka tiba di ujung terowongan, di depan sebuah pintu baja kuno bergaya Victoria yang tampak janggal di tengah teknologi canggih Galapagos. Pintu ini adalah warisan dari pemilik pulau sebelumnya—seorang kartografer yang terobsesi dengan teka-teki. Namun, mekanisme penguncinya telah terhubung dengan sistem digital Kelly sebagai jalur pelarian terakhir.Sialnya, hantaman rudal pertama di permukaan telah menciptakan lonjakan elektromagnetik (EMP) yang membakar sirkuit elektronik pintu tersebut. Pintu itu mati total. Di belakang mereka,
Fajar di Galapagos tidak pernah terasa segetir ini. Cahaya jingga yang biasanya membelai permukaan laut dengan lembut, kini tertutup oleh kabut tebal berwarna hijau pucat yang merayap naik dari garis pantai. Itu bukan kabut alami. Itu adalah Aero-Soporific Compound V-9, gas bius saraf tingkat militer yang dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan detik tanpa merusak materi genetik subjek. Bau gas itu manis, hampir seperti aroma melati yang membusuk, sebuah kontras yang memuakkan dengan aroma mesiu yang mulai meledak di kejauhan. "Kelly! Pasang masker filtrasi oksigenmu sekarang!" raung Elias melalui radio internal. Di tengah kekacauan itu, Elias Costra berlari menembus koridor vila yang berguncang. Di tangannya, ia memegang SCAR-H dengan magasin berisi peluru penembus zirah. Setiap langkahnya adalah perpaduan antara kemarahan seorang ayah dan ketenangan seorang pembunuh bayaran tingkat dunia. Badai di Langit
Keheningan yang menyusul setelah padamnya alarm di bunker Galapagos terasa lebih menakutkan daripada raungan sirene itu sendiri. Bau ozon dari sirkuit yang terbakar di ruang kendali masih menggantung berat, berbaur dengan aroma laut yang masuk melalui sistem ventilasi yang baru saja dipulihkan. Kelly Sterling duduk di depan layar monitor yang retak, matanya yang sembab namun tajam terpaku pada satu baris kode yang ia temukan di dalam fragmen data yang ditinggalkan Kaze.[PROJECT CZAR: SUBJECT 9 – GENETIC STABILITY: 99.9%]"Dia bukan sekadar kloning, Elias," bisik Kelly tanpa menoleh saat suaminya masuk ke ruangan dengan langkah berat. "Subjek Sembilan... dia adalah wadah. Aristha tidak ingin menciptakan prajurit baru. Dia sedang mencoba memindahkan kesadarannya sendiri ke dalam tubuh yang memiliki kekuatan fisik sepertimu dan kecerdasan seperti keluarga Sterling."Elias berhenti di samping Kelly, tangan besarnya yang masih ternoda minyak dan darah kering bertumpu pada bahu istriny
Cahaya biru dari monitor holografik di ruang kendali pusat bergetar hebat, memancarkan spektrum warna yang tidak stabil. Bau ozon dari kabel-kabel yang dipaksa bekerja melampaui batas memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dingin dari pendingin ruangan yang mulai berderak. Kelly Sterling berdiri mematung, jemarinya membeku beberapa inci di atas konsol utama.Di layar, koordinat kapal selam Elias yang sedang mendekat berubah warna menjadi merah darah. Di atasnya, sebuah ikon berbentuk topeng tradisional Jepang—simbol Kaze—berkedip pelan, mengejeknya."Sial..." bisik Kelly. Suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin. "Dia menggunakan transmisi Elias sebagai kuda Troya."Infiltrasi Sang Hantu (Subjek 3)Kaze bukan sekadar peretas. Sebagai Subjek 3, ia memiliki kemampuan Neuro-Link—kemampuan untuk memetakan kepribadian targetnya ke dalam algoritma serangan. Saat Kelly fokus memandu Elias menembus badai di Guayaquil, Kaze telah menyeli







