MasukLangit Veridia hari ini berwarna abu-abu pekat, seolah-olah awan sedang memikul beban duka yang sama beratnya dengan apa yang dirasakan Kelly. Hujan turun dengan intensitas yang kejam, butiran airnya yang dingin menghujam bumi, menciptakan simfoni kesedihan di atas batu-batu nisan yang berbaris kaku di pemakaman umum kota.
Kelly berdiri mematung di depan dua nisan granit hitam yang berdampingan. Arthur Sterling dan Eleanor Sterling. Sepuluh tahun telah berlalu, namun setiap kali ia berdiri di sini, ia masih merasa seperti gadis kecil berusia delapan tahun yang mencium bau asap di taman mawar. Ia tidak membawa payung. Ia membiarkan air hujan membasahi mantel hitamnya hingga berat, membiarkan dinginnya air menyatu dengan kebas yang ada di hatinya. Baginya, hujan adalah satu-satunya cara ia bisa menangis tanpa ada yang bertanya mengapa. Tiba-tiba, deru hujan yang menghantam bahunya menghilang. Dunia di sekelilingnya masih basah, namun sebuah kegelapan yang protektif mendadak menaungi kepalanya. Kelly tertegun saat melihat tetesan air tidak lagi membasahi ujung sepatunya. Sebuah payung hitam besar, dengan gagang kayu yang kokoh, kini melindunginya dari amukan langit. Jantung Kelly berhenti berdetak sesaat. Aroma itu kembali. Kayu cendana, hujan yang dingin, dan otoritas yang menyesakkan. Ia memutar tubuhnya perlahan. Gerakannya kaku, seolah-olah ia takut bahwa apa yang akan ia lihat hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh kerinduannya yang sakit. Pria itu berdiri di sana. Elias Costra. Kali ini, tidak ada bayangan gang yang menyembunyikannya. Tidak ada topi mantel yang menutupi wajahnya. Ia berdiri tegak, memegang payung dengan satu tangan yang terbungkus sarung tangan kulit hitam yang mahal. Setelan jas yang ia kenakan tampak sangat pas di tubuhnya yang tegap dan berotot, mencerminkan kekayaan dan kekuasaan yang tak terbayangkan. Namun, bukan pakaiannya yang membuat Kelly terpaku. Itu adalah wajahnya. Garis rahangnya kini tajam seolah dipahat dari batu granit. Hidungnya lurus, dan bibirnya terkatup rapat dalam garis datar yang dingin. Tapi matanya—mata kelabu yang dulu menyerupai badai kecil—kini telah menjadi samudera es yang sangat dalam. Ada bekas luka tipis yang melintang di dekat alis kirinya, menambah kesan berbahaya pada sosok yang sudah sangat mengintimidasi itu. Tatapan Elias tajam, seolah sedang membedah setiap inci dari keberadaan Kelly, memastikan bahwa wanita di depannya ini masih utuh. Namun di balik ketajaman itu, ada kilat posesif yang begitu kuat hingga Kelly merasa kakinya melemah. "Kau akan sakit jika terus berdiri di sini, Kelly," suara bariton itu memecah sunyi. Suaranya rendah, bergetar di udara yang lembap, masuk ke dalam sistem saraf Kelly seperti candu. Kelly menatapnya dengan bibir yang sedikit terbuka. Ia ingin bicara, ia ingin berteriak menanyakan ke mana saja pria ini selama sepuluh tahun, tapi suaranya kembali terperangkap dalam jeruji trauma. Ia hanya bisa menatap Elias, sementara air hujan yang tersisa di pipinya perlahan jatuh. Elias melangkah satu tindak lebih dekat. Payung itu tetap terjaga di atas kepala Kelly, sementara tubuh Elias sendiri sebagian besar kini terkena hujan, namun ia seolah tidak peduli. Tangannya yang bebas terangkat. Jemarinya yang bersarung tangan kulit menyentuh pipi Kelly yang dingin. Sentuhan itu tidak lembut; itu adalah sentuhan seorang pria yang sedang mengklaim kembali miliknya yang sempat hilang. "Kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik," gumam Elias. Suaranya kini memiliki nada haus yang tertahan. "Persis seperti yang kubayangkan selama aku berada di neraka." Kelly akhirnya menemukan suaranya, meski hanya berupa bisikan yang pecah. "Elias... kau benar-benar kembali." "Aku tidak pernah benar-benar pergi, Kelly," jawab Elias dengan intensitas yang membakar. Matanya mengunci mata Kelly, tidak membiarkan wanita itu berpaling sedetik pun. "Aku menjanjikanmu sepuluh tahun yang lalu bahwa aku akan menjemputmu. Dan aku selalu menepati janjiku." Kelly merasakan koin perak di balik mantelnya mendadak terasa panas. Segala rasa takut, rasa ingin tahu, dan gairah yang terpendam selama satu dekade seolah meledak di dadanya. Elias tidak lagi tampak seperti manusia biasa di mata Kelly; ia tampak seperti malaikat maut yang baru saja memutuskan untuk menjadi pelindungnya. "Kenapa sekarang?" tanya Kelly, matanya berkaca-kaca. "Kenapa setelah sekian lama?" Elias menarik tangannya dari pipi Kelly, namun tatapannya tetap mengunci. "Karena sekarang, aku sudah memiliki cukup darah di tanganku untuk membangun benteng yang tidak bisa ditembus oleh siapapun. Dan karena orang-orang yang membakar rumahmu... mereka baru saja menemukanmu." Ketakutan dingin merayap di punggung Kelly, namun saat ia menatap Elias yang berdiri kokoh di tengah hujan deras, ia menyadari satu hal. Dunia mungkin jahat dan penuh ancaman, tetapi pria di depannya ini adalah predator paling berbahaya dari semuanya—dan untuk alasan yang belum ia pahami, predator ini adalah miliknya. "Ikut denganku, Kelly," perintah Elias, mutlak dan tanpa ruang untuk perdebatan. "Waktu bermainmu di dunia luar sudah berakhir. Sang Viper telah pulang, dan ia tidak akan membiarkanmu lepas lagi."Asap hitam masih membumbung tinggi dari tebing yang runtuh, menandai makam bagi Laboratorium Bayangan dan—bagi siapa pun yang melihatnya—makam bagi Elias Costra. Leo berdiri di tepi tebing, debu putih menutupi pakaian taktisnya yang kini compang-camping. Di dadanya, kalung memori pemberian ayahnya terasa panas, seolah-olah masih menyimpan sisa kehangatan dari tangan Elias.Suara baling-baling helikopter stealth "Valkyrie" milik Kelly membelah kesunyian pasca-ledakan. Helikopter itu mendarat di dataran landai hanya beberapa meter dari Leo. Kelly melompat keluar bahkan sebelum tangga pijakannya turun sempurna.Pertemuan dalam DukaKelly berlari ke arah Leo, memeluk putranya dengan kekuatan yang nyaris meremukkan tulang. Bau mesiu dan asap dari pakaian Leo menusuk indra penciumannya, namun bau itulah yang membuktikan bahwa putranya masih bernapas."Di mana dia, Leo?" suara Kelly pecah, matanya menatap liar ke arah reruntuhan yang masih membara. "Di mana ayahmu
Lantai beton di bawah kaki mereka bergetar hebat. Di atas sana, rudal kedua Kaze kemungkinan besar telah meratakan vila utama, namun di ruang bawah tanah ini, ancaman yang lebih nyata sedang menggedor pintu baja Victoria yang tadi dibuka Leo. Suara dentuman itu bukan lagi sekadar hantaman; itu adalah suara mesin pemotong hidrolik yang mulai merobek zirah pintu tersebut.Bau kertas tua di Laboratorium Bayangan Jonathan Sterling kini bercampur dengan bau panas dari sirkuit yang terbakar dan uap dingin dari pipa nitrogen yang bocor akibat guncangan.Elias Costra menatap sekeliling ruangan. Hanya ada satu jalan keluar: sebuah lubang ventilasi sempit yang menuju ke tebing laut. Terlalu kecil untuknya, tapi cukup untuk seorang anak kecil."Leo, dengarkan Ayah," suara Elias mendadak tenang, ketenangan yang biasanya ia miliki tepat sebelum ia menghabisi nyawa seseorang. Ia berlutut di depan putranya, meletakkan tangan besarnya di bahu kecil Leo.Warisan Sang Ayah
Suara desingan rudal yang membelah atmosfer terdengar seperti jeritan iblis yang lapar. Di dalam lorong bawah tanah yang lembap di bawah perpustakaan vila, getaran hebat meruntuhkan langit-langit beton, mengirimkan debu putih yang menyesakkan ke udara. Elias berlari dengan napas yang terbakar, mendekap Leo di dada kirinya sementara tangan kanannya masih menggenggam senjata yang panas."Sedikit lagi, Leo! Bertahanlah!" teriak Elias.Mereka tiba di ujung terowongan, di depan sebuah pintu baja kuno bergaya Victoria yang tampak janggal di tengah teknologi canggih Galapagos. Pintu ini adalah warisan dari pemilik pulau sebelumnya—seorang kartografer yang terobsesi dengan teka-teki. Namun, mekanisme penguncinya telah terhubung dengan sistem digital Kelly sebagai jalur pelarian terakhir.Sialnya, hantaman rudal pertama di permukaan telah menciptakan lonjakan elektromagnetik (EMP) yang membakar sirkuit elektronik pintu tersebut. Pintu itu mati total. Di belakang mereka,
Fajar di Galapagos tidak pernah terasa segetir ini. Cahaya jingga yang biasanya membelai permukaan laut dengan lembut, kini tertutup oleh kabut tebal berwarna hijau pucat yang merayap naik dari garis pantai. Itu bukan kabut alami. Itu adalah Aero-Soporific Compound V-9, gas bius saraf tingkat militer yang dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan detik tanpa merusak materi genetik subjek. Bau gas itu manis, hampir seperti aroma melati yang membusuk, sebuah kontras yang memuakkan dengan aroma mesiu yang mulai meledak di kejauhan. "Kelly! Pasang masker filtrasi oksigenmu sekarang!" raung Elias melalui radio internal. Di tengah kekacauan itu, Elias Costra berlari menembus koridor vila yang berguncang. Di tangannya, ia memegang SCAR-H dengan magasin berisi peluru penembus zirah. Setiap langkahnya adalah perpaduan antara kemarahan seorang ayah dan ketenangan seorang pembunuh bayaran tingkat dunia. Badai di Langit
Keheningan yang menyusul setelah padamnya alarm di bunker Galapagos terasa lebih menakutkan daripada raungan sirene itu sendiri. Bau ozon dari sirkuit yang terbakar di ruang kendali masih menggantung berat, berbaur dengan aroma laut yang masuk melalui sistem ventilasi yang baru saja dipulihkan. Kelly Sterling duduk di depan layar monitor yang retak, matanya yang sembab namun tajam terpaku pada satu baris kode yang ia temukan di dalam fragmen data yang ditinggalkan Kaze.[PROJECT CZAR: SUBJECT 9 – GENETIC STABILITY: 99.9%]"Dia bukan sekadar kloning, Elias," bisik Kelly tanpa menoleh saat suaminya masuk ke ruangan dengan langkah berat. "Subjek Sembilan... dia adalah wadah. Aristha tidak ingin menciptakan prajurit baru. Dia sedang mencoba memindahkan kesadarannya sendiri ke dalam tubuh yang memiliki kekuatan fisik sepertimu dan kecerdasan seperti keluarga Sterling."Elias berhenti di samping Kelly, tangan besarnya yang masih ternoda minyak dan darah kering bertumpu pada bahu istriny
Cahaya biru dari monitor holografik di ruang kendali pusat bergetar hebat, memancarkan spektrum warna yang tidak stabil. Bau ozon dari kabel-kabel yang dipaksa bekerja melampaui batas memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma dingin dari pendingin ruangan yang mulai berderak. Kelly Sterling berdiri mematung, jemarinya membeku beberapa inci di atas konsol utama.Di layar, koordinat kapal selam Elias yang sedang mendekat berubah warna menjadi merah darah. Di atasnya, sebuah ikon berbentuk topeng tradisional Jepang—simbol Kaze—berkedip pelan, mengejeknya."Sial..." bisik Kelly. Suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin. "Dia menggunakan transmisi Elias sebagai kuda Troya."Infiltrasi Sang Hantu (Subjek 3)Kaze bukan sekadar peretas. Sebagai Subjek 3, ia memiliki kemampuan Neuro-Link—kemampuan untuk memetakan kepribadian targetnya ke dalam algoritma serangan. Saat Kelly fokus memandu Elias menembus badai di Guayaquil, Kaze telah menyeli







