“Coba kamu ulangi lagi yang kamu katakan?”
Ariadna berdiri terpaku di pintu kamarnya, masih mengenakan piyama dan rambut bergelombang acak-acakan, yang entah bagaimana tidak mengurangi kecantikan parasnya. "Ayah mengirimmu jauh-jauh ke Sydney bukan untuk bercanda kan?"
"Saya tidak bercanda, nona Ari." Ronald menarik nafas, tak sampai hati mengulang kabar yang ia bawa, “Anda harus pulang untuk menikah."
Ariadna menyipitkan mata, menatap asisten pribadi ayahnya yang pernah ia taksir semasa puber itu. “Aku masih ngantuk atau kamu barusan bilang aku... disuruh menikah?”
“Tidak salah dengar.”
“Dengan siapa?”
“Vernando Maheswara.”
“Veri siapa? Anak siapa?”
“Hmm....Anda tahu agensi Angels? Atau girlband Espo….” sang asisten tak sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Ariadna memekik tertahan
“Vernando…!! Si bosnya klub-klub malam kelas atas di Jakarta !? AH ! Bahkan beberapa klub malamnya ada di Las Vegas dan Qatar! CEO perusahaan agensi Angels ??? Yang masuk daftar forbes under 40 ?! Vernando yang itu!?!”
Ronald tersenyum melihat reaksi Ariadna. Baguslah, sepertinya nonanya kagum pada si calon suami. Memang, wanita tidak bisa menolak pria yang sukses. “Benar, Nona. Jadi….”
“TIDAK MAU !!!”
“Eh?”
“Kau pikir aku bodoh? Tidak tahu dunia? Aku juga tahu bahwa di balik bisnis legalnya itu dia mafia jaringan internasonal! Bahkan agensinya terang-terangan mengorbitkan gadis di bawah umur !”
“Ini darurat….”
“Enggaaaakkk !!!! Kenapa aku?” serunya panik. “Aku jauh-jauh kuliah ke Sydney tiba-tiba disuruh nikah !?"
Ronald menghela napas. “Anda sungguh tidak dengar berita apapun dari Indonesia?”
Ariadna mendengus. “Ron, aku bahkan gak sempat balas chat pacarku selama dua minggu ini, apalagi nonton berita. Tugas akhirku hampir membunuhku. Presentasi taman kota ramah perempuan di pinggir sungai Parramatta, itu yang sekarang penting bagiku. Bukan malah nikah-nikahan”
Ronald mengeluarkan ponselnya. “Anda perlu lihat ini.”
Ia memutar sebuah video, Klip Breaking news. Suara wartawan bersahutan. Terlihat Damian Wiratama Santosa, ayah Ariadna, berdesakan dengan kamera dan mikrofon.
“Pak Damian, apa isi koper yang dibawa bodyguard Anda?”
“Pak, tolong jelaskan foto pertemuan anda dengan Vernando Maheswara !”
“Benarkah Anda menerima suap proyek Klub Malam Kalijaring?”
“Apakah benar Anda melindungi kasus eksploitasi grup idol?”
“Pak Damian, tolong tanggapannya!"
Dalam video, nampak Pak Damian yang terpisah dari bodyguardnya, tersudut hampir ke tembok gedung. Matanya melihat ke kanan kiri dengan liar. Mulutnya gemetar. Dan entah bagaimana akhirnya bersuara keras ;
“Koper itu... itu... koper mahar! Untuk lamaran anak saya! Bukan suap! Enak saja ! Itu...itu uang cinta!”
Video berhenti.
Ariadna ternganga. “Oh. My. God.”
“APAAN?! Jadi karena rahang ayahku asal gerak begitu, aku harus menikah!?”
Ronald menunduk.
“Biasanya kan gampang! Menutup dan membungkam media kemudian mengalihkan dengan berita lain, itu kan kerjaan tim PRnya ayah! Ngapain aja mereka !?” Ariadna frustasi.
“Kali ini tidak semudah itu, Nona. Partai oposisi sedang mengincar celah untuk menjatuhkan posisi Bapak. Beliau sedang tidak bisa sembarangan bergerak.”
Ariadna menatap Ronald marah. “Terus aku yang harus bayar? Aku!? Harus nikah sama mafia untuk menutupi kebodohan politik ayahku?!”
“Tidak ada pilihan lain, Nona.”
“Ada. Aku gak ikut. Titik.”
Ronald menarik napas kesekian kalinya, memencet earpiece kecil di telinganya. Ariadna tahu jelas gerakan itu.
Ariadna mundur selangkah. “Jangan bilang...”
“Maaf, Ari.” Ronald menunduk, memanggil namanya seperti ketika mereka dekat, dahulu sekali.. Suaranya penuh penyesalan.
Ariadna berbalik cepat ke dalam kamar, hendak menutup pintu, tapi gagang pintu ditahan oleh Ronald yang lebih gesit.
“Tolong Ari, kamu tahu ini tidak ada gunanya.”
“Ronald, please…” Ariadna hampir menangis
“Ini di luar kuasaku. Kami harus membawamu pulang sekarang.”
Ariadna terdiam. Kecewa. Marah. Dan sangat muak. Lift yang berada beberapa meter dari pintu kamar Ariadna terbuka,. Dua pria berjas hitam yang dipanggil melalui earpiece tadi keluar, Siap membawa paksa Ariadna.
Tanpa sempat mengepak banyak, hanya satu koper pakaian dan satu koper penuh tekanan batin, Ariadna dibawa ke bandara. Tiket pulang: satu arah. Tanpa negosiasi.
_________________________________
Di Jakarta, lantai tertinggi gedung Angels, seorang pria duduk di kursi kulit hitam. Wajahnya tampan untuk ukuran bukan selebriti, dengan hidung mancung dan alis tebal serta rahang yang kokoh, menambah kesan berwibawanya. Di hadapannya, layar LED besar menayangkan ulang siaran berita: wajah Damian, Menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan dengan statement “uang cinta”.
Vernando Maheswara memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya lagi untuk menatap sebuah foto lama yang tergeletak di atas meja kerjanya.
Foto itu memperlihatkan seorang anak kecil—Ariadna—memegang bola, terlihat dari samping. Di depannya, seorang wanita dewasa dengan rambut cokelat panjang bergelombang membungkuk sambil tersenyum ke arah anak kecil itu.
Foto itu diambil dari jauh, dan jelas terlihat diambil tanpa ijin.
Vernando menatap foto itu dengan ekspresi berpikir jauh. Beberapa lama, dipejamkannya kembali matanya.
Ariadna hampir membanting pintu kaca besar di lobi kantor Vernando ketika ia masuk. Sepatu haknya menghentak lantai marmer, menandai setiap langkah penuh amarah. Tanpa peduli pandangan para staf, ia langsung menuju ruang utama di lantai atas.Begitu pintu terbuka, Sebastian—yang sedang berdiri di dekat meja kerja—menoleh. Vernando duduk di balik meja, memeriksa berkas. “Vernando!”Vernando mengangkat kepalanya Apa kau membunuh Sean?” Ariadna bertanya langusngVernando mengerutkan kening, melirik Sebastian.Sebastian merapatkan map ke dada. “Maaf pak, laporannya datang tadi pagi ketika Anda sedang rapat bersama pak menteri. Saya terlewat menginformasikannya...”“Tidak usah bersandiwara,” potong Ariadna. “Jelas ini kerjaannya Vernando, masa dia tidak tahu!”Sebastian menarik napas, hendak menjawab, namun pergelangan tangan Vernando terangkat ringan—perintah sunyi untuk diam.“Pertanyaanku sederhana,” kata Vernando tenang. “Apa motifku membunuh Sean?”“Cemburu,” jawab Ariadna, tajam, s
“Tehnya enak banget, Ari. Ini teh apa, ya? Aku juga mau beli buat di rumah!” Hana menutup matanya sebentar, menghirup aromanya dalam-dalam.Pagi itu, Hana datang ke mansion dengan dijemput langsung oleh Oktal—supir Ariadna yang untungnya kemarin tidak jadi dipecat meskipun lalai menjaga tuannya.“Aku nggak tahu,” jawab Ariadna tanpa mengangkat wajah dari tablet. “Nanti aku suruh staff bawakan untukmu dari dapur.”“Sudah, berhenti membaca komentar-komentar nggak masuk akal itu!” Hana merebut tablet dari tangan Ariadna lalu menyelipkannya di bawah bantal sofa, “Aku datang buat menghiburmu dan bikin kamu lupa sama netizen brengsek itu, bukan malah mendukungmu meratapi nasib,” lanjut Hana dengan nada separuh prihatin, separuh kesal.Ariadna menghela napas berat, bersandar ke sofa. “Aku cuma… penasaran. Kenapa dalam waktu beberapa jam setelah pertemuanku dengan Lysandra, ada serangan semasif itu. Ternyata fansnya memang segila itu, ya?”“Jangan polos, Ari. Selain fans, dia juga gerakin bu
Ariadna membanting ponselnya ke dinding. Kesabarannya habis. Aplikasi chat dan pesannya semua macet karena serangan pesan bertubi-tubi dari ratusan nomor yang tidak dikenalnya. Sementara itu, telepon di ruang tamu lantai satu juga tidak berhenti berderaing. Kabarnya, telepon di ruang penerimaan tamu di gerbang depan juga tak berhenti menerima panggilan. Ariadna menggigit bibir. Dia sering dengar jangan pernah menyinggung seorang selebritis media karena fansnya lebih radikal daripada komunitas apapun, tapi baru kali ini dia merasakannya sendiri. Pesan dan panggilan dari fans Lysandra tidak henti mendatanginya. Semua makian dan kata-kata kasar yang bahkan belum pernah ia dengar seumur hiduo sudah ditelannya. “Cabut saja semua sambungan teleponnya!!” teriak Ariadna frustasi“Nyonya……nyonya..!” seorang asisten menghadap Ariadna buru-buru. Ariadna menoleh garang, membuat asistennya sedikit mundur. Ariadna menghela nafas “Katakan.”“Maaf, ada laporan dari depan, kiriman makanan pesan an
Menyadari Vernando sedikit goyah, gadis itu semakin agresif memainkan lidahnya di tekinga pria itu. Vernando tak mengelak, dan mulai menikmati. Tangannya yang semula memegang lengan gadis itu untuk mendorongnya turun, tanpa sadar bergerak menyusup ke baju Lysandra yang memang berleher rendah, memperlihatkan belahan dadanya. Ketika tangan Vernando meremas dada Lysandra, gadis itu mendesah pelan di telinganya “Kulum, nando…” rengeknya manja. Vernando, bagaimanapun adalah pria biasa yang sudah lama tidak dihibur wanita. Kesibukan serta kehidupan ranjangnya bersama Ariadna yang tidak pernah terjadi membuatnya sedikit stress juga. Mendengar desahan Lysandra yang memang mantannya, instingnya berjalan duluan daripada logikanya. Ditariknya kepala gadis itu dengan kasar, dan diciumnya Lysandra dengan buas seolah hilang akal.Sambil mengulum bibir Lysandra, disentakkannya blouse gadis itu hingga setengah telanjang membuat Vernando semakin leluasa meremas dan menyentuh tubuhnya. Setelah puas
Vernando sedang menerima sejumlah berkas dari Sebastian ketika Lysandra menerobos maduk ke kantornya di lantai teratas Angels. “Nona Lysandra! Sudah lama tidak….” “Diam kau ular. Pergi dari sini aku mau bicara dengan tuanmu!” Lysandra melewati Sebastian berjalan ke meja Vernando Sebastian, masih dengan senyum lebar dan tangan merentang yang diabaikan,, melirik kepada Bosnya. Vernando memijit pelipisnya, kemudian mengibaskan tangannya pada Sebastian. “Baik. Saya ada di depan jika dibutuhkan.” kata Sebatian mundur ke arah pintu dan menutupnya.Keheningan menguasai ruangan selepas Sebastian meninggalkan mereka berdua. Vernando tahu, dengan sifat keras kepala dan ego yang begitu tinggi dari Lysandra, mau tak mau ia harus memulai percakapan. "Tak usah begitu galak padanya. Dulu kalian kan sangat dekat." Vernando berkata, melihat ke arah Sebastian pergi"Hah! Jangan kau pikir aku tidak tahu soal bagaimana dia berperan penting dalam setuap keputusanmu, termasuk pada pembatalan pe
Ariadna menatap Vernando dengan pandangan tercengang. Tidak menyangka kata-kata semanis “rindu” bisa keluar juga dari bibir itu.“......Mungkin dia rindu” kata-kata itu menggema di kepalanya yang membuatnya menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi yang bahkan ia sendiri belum sempat pahami. Vernando mencondongkan badan lebih dekat, menatap Ariadna “Kenapa? Apa kau terganggu?” Ariadna tak menjawab. “Atau cemburu?”Ariadna berkedip, tapi dia masih diam.Vernando menyeringai tipis, memundurkan tubuhnya, bersandar ke sofa. “Jawaban diam yang cukup nyaring.”Ariadna menahan napas sejenak, lalu berkata ringan, “Cemburu adalah reaksi atas ancaman. Dan aku tidak menganggap perempuan yang berteriak dan mencakar sebagai ancaman.”Vernando tertawa kecil. “Jawaban diplomatis. Apa semua putri pejabat punya les pribadi bermain kata seperti ini?”“Aku juga heran, apa semua mafia juga bisa mengatakan istilah perasaan semacam “rindu” sepertimu?” “Mungkin agak berbeda artinya dengan kalian tapi kam