“Ariadna Damayanti… makin cantik aja siiiihh sekarangg!!,” suara nyaring itu disertai pelukan cepat.
Ariadna tersenyum kecil, membalas pelukan teman SMAnya. Hana, rambutnya masih sama seperti dulu—pendek sebahu, meledak-ledak tapi hangat.
“Sayang sekali hidupku sekarang lagi jelek banget,” jawab Ariadna, mengambil kursi di depan Hana.
“Bahkan buat ketemu kamu di cafe aja harus sembunyi-sembunyi. Ayahku gak ngizinin aku keluar.”
Hana tergelak. “Itu wajar sih. Terakhir kamu diizinin keluar, malah keluar negeri. Terus menetap di Sydney pula. Siapa juga yang gak trauma.”
Ariadna mendengus “Justru waktu itu ayahku lega. Nggak usah lihat wajahku di rumah. Tapi sekarang beda. Dia takut yang kabur itu aset, bukan anak.”
Hana mengelus bahu Ariadna prihatin, sebagai sahabatnya, dia paham sedikit tentang masalah keluarga temannya itu.
“Memang bagaimana sih cerita lengkapnya? Cerita kamu lewat chat tidak terlalu jelas”
Ariadna mulai bercerita. Bagaimana dia dijemput paksa tiba-tiba sampai pertemuannya dengan Vernando, dan usahanya untuk mengajak Vernando bekerjasama. Hana mendengarkan dengan sabar, sesekali mencicipi croissant-nya tanpa suara.
“Vernando Maheswara…” gumam Hana akhirnya. “Tapi, Ari. Dia itu terkenal banget di sini. masuk majalah ekonomi, lifestyle, gosip… semuanya. Dia muda, tampan, tajir, punya bisnis hiburan, agensi, klub malam,.. Banyak yang iri loh kamu digosipkan menikah sama dia.”
“Iri? Sama pasangan mafia? Sudah rahasia umum kalau dia itu trah keluarga mafia!”
“Please,” Hana mengangkat bahu. “Zaman sekarang semua orang itu mafia, Ari. Cara kriminalnya aja yang beda-beda. Ada yang pakai dasi,ada yang pakai sandal jepit. Ada yang maling data, ada juga yang korupsi. Kalau kamu kebagian yang tampan dan kaya, ya nikmati aja. Selama dia gak bunuh kamu dalam tidur, anggap itu hoki.”
Ariadna diam. Tidak ada yang lucu dari guyonan itu, tapi entah kenapa, ia tidak bisa membantah.
“Memang selain saat menolak negoisasimu, secara keseluruhan bagaimana dia?” tanya Hana, mencondongkan badan. “Dia kasar? Galak? Suaranya kayak preman pasar?”
Ariadna menggeleng. “Enggak, sih. Cukup kooperatif saat aku minta waktu begitu aku sampai rumah kemarin.”
“Hmm…” Hana menyender ke kursi. “Kalau dipikir-pikir, kamu bisa dapat haters.”
Ariadna menyipit. “Haters? Dari siapa?”
Hana mengaduk minumannya yang sudah tak panas lagi. “Kamu tahu Lysandra tidak ?”
“Lysandra siapa?” Ariadna bingung.
“Lysandra Devanti. Anaknya pemilik Clean and Complete. Perusahaan jasa bersih-berisih itu loh… yang punya aplikasi sampai ke Eropa. Dulu, tiga tahun lalu kalo ga salah, dia sempat tunangan sama Vernando. Waktu mereka batal, dramanya viral banget. Soalnya Lysandra itu selebgram. Banyak fans. Sampe ada fandomnya.”
Ariadna diam. Matanya membulat sedikit.
“Nah, sejak berita kamu muncul,” lanjut Hana, “ada yang bilang kamu itu pelarian Vernando. Ada juga yang bilang kamu selingkuhan sejak dulu.” Hana berhenti untuk memberi tatapan simpati.
“Pokoknya kamu jadi antagonis dadakan buat tim pendukung Lysandra.”
Ariadna mendesah dalam. “Hebat. Bahkan sebelum menikah aja aku udah diadili netizen.”
“Eh, ngomong-ngomong soal netizen, kamu udah denger soal Espoir?”
“Grilgroupnya agensi Angels punya Vernando kan?” tegas Ariadna
“Iyaaa… kan baru rame tuh influencer-influencer di t*****r mengecam Angels. Soalnya dari iklan-iklannya, kelihatan sekali mereka belum cukup umur tapi sudah predebut dengan image dewasa. Latar belakang mereka juga masih dirahasiakan. Konsepnya sih mungkin biar misterius ya. Tapi banyak orang berpendapat agar kita tidak tahu umur mereka sebenarnya“
Ariadna memejamkan mata. “Jelas aja netizen ramai. Itu jelas-jelas eksploitasi anak.”
“Oh, dan satu lagi. Kamu sempat tanya di chat soal Kalijaring, ya?”
Ariadna mengangguk cepat. “Iya. Aku cari infonya di internet, tapi minim banget.”
Hana mencondongkan badan, menurunkan volume suaranya. “Kalijaring itu daerah kumuh di pinggiran kota. Bekas kawasan industri, sekarang penuh rumah petak, warung, pemukiman begitu deh. Tapi katanya tunanganmu itu mau bangun Klub Malam dan hotel mewah disitu”
Ariadna menegang. “Dan penduduknya?”
“Digusur. Protes. Teriak. Tapi kayaknya proyek tetap jalan. Dan yang aneh,sejak dulu daerah situ emang selalu diperebutkan banyak perusahaan karena lokasinya yang tidak jauh dari jalan tol. Tapi... proyek Angels yang diterima duluan. Cepat banget prosesnya.”
Sebelum Ariadna sempat menjawab, ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Pesan masuk:
Save nonor ini. Ini nomor pribadiku.
VernandoAriadna belum sempat membalas, pesan lain masuk lagi:
Cafe penuh wartawan. Perempuan berkacamata arah jam 12 beberapa kali mengambil gambarmu. Hati-hati dalam berbicara, lubang telinga mereka bisa mendengar dosa-dosamu bahkan yang belum kamu lakukan. Jika kamu terpeleset, aku bisa kena airnya.Ariadna merinding. Ia perlahan memalingkan wajah ke arah jam dua belas. Di sana memang duduk seorang perempuan berkacamata besar yang berpura-pura membaca buku, tapi tangannya tak lepas dari ponsel.
Ariadna cepat-cepat membalas:
Bagaimana Anda bisa tahu sedetail itu? Apa Anda juga di sini?
Balasan datang tak sampai sepuluh detik kemudian:
Aku tidak punya waktu, tapi aku punya banyak bawahan.
Ariadna menatap layar ponselnya lama.
Mana yang lebih mengerikan—para wartawan… atau para bawahan Vernando Maheswara?
Ariadna hampir membanting pintu kaca besar di lobi kantor Vernando ketika ia masuk. Sepatu haknya menghentak lantai marmer, menandai setiap langkah penuh amarah. Tanpa peduli pandangan para staf, ia langsung menuju ruang utama di lantai atas.Begitu pintu terbuka, Sebastian—yang sedang berdiri di dekat meja kerja—menoleh. Vernando duduk di balik meja, memeriksa berkas. “Vernando!”Vernando mengangkat kepalanya Apa kau membunuh Sean?” Ariadna bertanya langusngVernando mengerutkan kening, melirik Sebastian.Sebastian merapatkan map ke dada. “Maaf pak, laporannya datang tadi pagi ketika Anda sedang rapat bersama pak menteri. Saya terlewat menginformasikannya...”“Tidak usah bersandiwara,” potong Ariadna. “Jelas ini kerjaannya Vernando, masa dia tidak tahu!”Sebastian menarik napas, hendak menjawab, namun pergelangan tangan Vernando terangkat ringan—perintah sunyi untuk diam.“Pertanyaanku sederhana,” kata Vernando tenang. “Apa motifku membunuh Sean?”“Cemburu,” jawab Ariadna, tajam, s
“Tehnya enak banget, Ari. Ini teh apa, ya? Aku juga mau beli buat di rumah!” Hana menutup matanya sebentar, menghirup aromanya dalam-dalam.Pagi itu, Hana datang ke mansion dengan dijemput langsung oleh Oktal—supir Ariadna yang untungnya kemarin tidak jadi dipecat meskipun lalai menjaga tuannya.“Aku nggak tahu,” jawab Ariadna tanpa mengangkat wajah dari tablet. “Nanti aku suruh staff bawakan untukmu dari dapur.”“Sudah, berhenti membaca komentar-komentar nggak masuk akal itu!” Hana merebut tablet dari tangan Ariadna lalu menyelipkannya di bawah bantal sofa, “Aku datang buat menghiburmu dan bikin kamu lupa sama netizen brengsek itu, bukan malah mendukungmu meratapi nasib,” lanjut Hana dengan nada separuh prihatin, separuh kesal.Ariadna menghela napas berat, bersandar ke sofa. “Aku cuma… penasaran. Kenapa dalam waktu beberapa jam setelah pertemuanku dengan Lysandra, ada serangan semasif itu. Ternyata fansnya memang segila itu, ya?”“Jangan polos, Ari. Selain fans, dia juga gerakin bu
Ariadna membanting ponselnya ke dinding. Kesabarannya habis. Aplikasi chat dan pesannya semua macet karena serangan pesan bertubi-tubi dari ratusan nomor yang tidak dikenalnya. Sementara itu, telepon di ruang tamu lantai satu juga tidak berhenti berderaing. Kabarnya, telepon di ruang penerimaan tamu di gerbang depan juga tak berhenti menerima panggilan. Ariadna menggigit bibir. Dia sering dengar jangan pernah menyinggung seorang selebritis media karena fansnya lebih radikal daripada komunitas apapun, tapi baru kali ini dia merasakannya sendiri. Pesan dan panggilan dari fans Lysandra tidak henti mendatanginya. Semua makian dan kata-kata kasar yang bahkan belum pernah ia dengar seumur hiduo sudah ditelannya. “Cabut saja semua sambungan teleponnya!!” teriak Ariadna frustasi“Nyonya……nyonya..!” seorang asisten menghadap Ariadna buru-buru. Ariadna menoleh garang, membuat asistennya sedikit mundur. Ariadna menghela nafas “Katakan.”“Maaf, ada laporan dari depan, kiriman makanan pesan an
Menyadari Vernando sedikit goyah, gadis itu semakin agresif memainkan lidahnya di tekinga pria itu. Vernando tak mengelak, dan mulai menikmati. Tangannya yang semula memegang lengan gadis itu untuk mendorongnya turun, tanpa sadar bergerak menyusup ke baju Lysandra yang memang berleher rendah, memperlihatkan belahan dadanya. Ketika tangan Vernando meremas dada Lysandra, gadis itu mendesah pelan di telinganya “Kulum, nando…” rengeknya manja. Vernando, bagaimanapun adalah pria biasa yang sudah lama tidak dihibur wanita. Kesibukan serta kehidupan ranjangnya bersama Ariadna yang tidak pernah terjadi membuatnya sedikit stress juga. Mendengar desahan Lysandra yang memang mantannya, instingnya berjalan duluan daripada logikanya. Ditariknya kepala gadis itu dengan kasar, dan diciumnya Lysandra dengan buas seolah hilang akal.Sambil mengulum bibir Lysandra, disentakkannya blouse gadis itu hingga setengah telanjang membuat Vernando semakin leluasa meremas dan menyentuh tubuhnya. Setelah puas
Vernando sedang menerima sejumlah berkas dari Sebastian ketika Lysandra menerobos maduk ke kantornya di lantai teratas Angels. “Nona Lysandra! Sudah lama tidak….” “Diam kau ular. Pergi dari sini aku mau bicara dengan tuanmu!” Lysandra melewati Sebastian berjalan ke meja Vernando Sebastian, masih dengan senyum lebar dan tangan merentang yang diabaikan,, melirik kepada Bosnya. Vernando memijit pelipisnya, kemudian mengibaskan tangannya pada Sebastian. “Baik. Saya ada di depan jika dibutuhkan.” kata Sebatian mundur ke arah pintu dan menutupnya.Keheningan menguasai ruangan selepas Sebastian meninggalkan mereka berdua. Vernando tahu, dengan sifat keras kepala dan ego yang begitu tinggi dari Lysandra, mau tak mau ia harus memulai percakapan. "Tak usah begitu galak padanya. Dulu kalian kan sangat dekat." Vernando berkata, melihat ke arah Sebastian pergi"Hah! Jangan kau pikir aku tidak tahu soal bagaimana dia berperan penting dalam setuap keputusanmu, termasuk pada pembatalan pe
Ariadna menatap Vernando dengan pandangan tercengang. Tidak menyangka kata-kata semanis “rindu” bisa keluar juga dari bibir itu.“......Mungkin dia rindu” kata-kata itu menggema di kepalanya yang membuatnya menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi yang bahkan ia sendiri belum sempat pahami. Vernando mencondongkan badan lebih dekat, menatap Ariadna “Kenapa? Apa kau terganggu?” Ariadna tak menjawab. “Atau cemburu?”Ariadna berkedip, tapi dia masih diam.Vernando menyeringai tipis, memundurkan tubuhnya, bersandar ke sofa. “Jawaban diam yang cukup nyaring.”Ariadna menahan napas sejenak, lalu berkata ringan, “Cemburu adalah reaksi atas ancaman. Dan aku tidak menganggap perempuan yang berteriak dan mencakar sebagai ancaman.”Vernando tertawa kecil. “Jawaban diplomatis. Apa semua putri pejabat punya les pribadi bermain kata seperti ini?”“Aku juga heran, apa semua mafia juga bisa mengatakan istilah perasaan semacam “rindu” sepertimu?” “Mungkin agak berbeda artinya dengan kalian tapi kam