เข้าสู่ระบบ“Kubunuh kalian semua!”
Bravino mengeluarkan revolver siap pakai dari laci di sisi ranjangnya. Sekali gerakan membuat pistol itu meledak.
DOR DOR DOR
Entah kepala siapa yang pecah, tapi darah bersimbah dimana-mana. Jantung Ivy serasa keluar dari rongga dadanya. Kembali ia berusaha berdiri, berusaha mencari sang adik satu-satunya.
Eriva jatuh di sisi Damian yang tak sadarkan diri. Adiknya itu berdarah, mewarnai pakaian Eriva yang serba putih.
“Er, Eri!”
Ivy memangku kepala adiknya, “Er, jangan tinggalin Kakak. Kakak bersalah sama kamu.”
“Iya, Kakak salah. Kakak kotor! Kakak murahan! Aku gak mau jadi adik Kakak lagi.”
Ivy menggeleng, tangisnya kian pecah saat kepala Ivy terkulai ke samping. “TIDAAAAAAAAAAKKKK!”
Ivy meringis, matanya terbelalak. Dadanya bergeraik naik turun karena nafas yang terputus-putus. Dari jendela yang tirainya terbuka, ia jadi tahu bila hari telah berubah jadi gelap.
"Sshhh."
Ivy mendesis, bagian tengah tubuhnya cukup perih. Sementara tulang-tulangnya terasa linu di mana-mana.
“Eri? Mana Eri?”
Ivy berusaha untuk berdiri. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Dengan langkah tertatih ia membawa diri untuk turun dari ranjang. Tapi melihat sekelilingnya, ia hanya … sendiri.
Tidak ada Eriva, Damian ataupun darah. Semuanya masih rapih kecuali ranjang yang jadi tempat pertempurannya dengan Bravino tadi.
“Apa itu mimpi?”
Ivy menarik nafas lega, bayangan mengerikan tadi hanya mimpi. Mimpi terburuk sepanjang Sejarah bunga tidurnya. Dan rasanya nyata mampu mengambil nyawa dari tubuhnya.
Peluh membasahi pelipis Ivy. Ia harus pulang. Tapi sebelumnya ia harus membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, Ivy baru benar-benar memperhatikan daerah sekitarnya. Kamar mandi itu memiliki dua ruang, bilik shower dan juga bilik bath up.
Luas kamar mandi itu mungkin seluas rumah peninggalan orang tuanya.
Ivy berdiri di bawah shower, setelah sebelumnya ia membuka selimut yang terlilit di tubuhnya.
Ia menengadah, memejamkan mata, merasakan titik air hangat yang menyentuh kulitnya.
Ketika merunduk, ia bisa melihat bila banyak tanda merah yang Bravino tinggalkan di tubuhnya. Mulai dari pertengahan dada hingga ke paha. Untungnya Bravino tak membuat kiss mark di daerah yang terbuka.
Bukan hanya bekas hisapan yang kini berwarna ungu, tapi juga karena gigitan Bravino. Seperti di pangkal bukit kecil Ivy, di sana terasa perih. Ada luka basah di sana, meski kecil.
Air mata Ivy luruh ke bawah. Ia tak mengharapkan ini terjadi. Tak pernah sekalipun ia berpikir-meski ia sedang tak tahu harus memberi makan apa untuk perutnya dan perut adiknya-bila ia akan menjadi seorang sugar baby.
Ivy memutar kran air, mengaturnya agar membuat suhu air menjadi dingin, tak lagi hangat seperti tadi.
Berharap bila air dingin itu akan menghapuskan semua sisa-sisa sentuhan Bravino yang mengotori tubuhnya. Juga menyembunyikan tangis pilu penuh penyesalan karena telah menjadi aib bagi mendiang kedua orang tuanya
***
Ivy keluar dari kamar dengan tubuh sedikit menggigil meski dirinya sudah berpakaian. Ia menemukan pakaian di dalam wardrobe. Baju tadi yang ia pakai entah ada di mana.
Wanita dengan rambut panjang yang masih setengah basah karena Ivy terlalu lelah untuk benar-benar mengeringkan rambutnya, celingak-celinguk mencari seseorang.
Tentu saja ia mencari Bravino yang entah berada di mana. Setidaknya ia harus pamit pulang, kan?
"Ya, kerjakan saja seperti biasanya! Jangan membuatku terus mengulangi perintah, atau kamu mau kepalamu lubang karena peluru revolverku?!"
Ivy menghentikan langkahnya. Ia berhenti tepat di samping ruang kerja Bravino yang pintunya tak tertutup. Ucapan Bravino barusan membuatnya ketakutan, lebih takut dibandingkan siang tadi.
Ia jadi ragu, takut-takut kalau dirinya masuk, bisa saja kepalanya yang lubang.
"Masuk! Aku tahu kamu di luar sana."
Sempat haget tapi Ivy mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki, dan menunjukkan dirinya.
"Apa?"
Ivy merunduk. "A-aku mau pulang."
"Ini baru jam berapa. Kamu seperti anak kecil," dengkus Bravino kesal. Ia pikir ia masih bisa bermain satu atau dua ronde dengan mainan barunya itu.
'Yah aku memang jauh lebih kecil dari kamu, Om,' sahut Ivy yang tentu saja ia ucapkan di dalam hati.
"Aku harus pulang. Adikku sendirian di rumah."
Terdengar helaan nafas kasar dari Bravino.
"Apa kamu gak punya alasan lain? Aku mulai bosan mendengarnya."
"Aku tidak beralasan. Itu yang sebenarnya," kukuh Ivy.
"Kamu pulang diantar supir. Jangan kemana-mana tanpa ijin dari aku. Besok pagi jam delapan kamu sudah harus sampai di perusahaan utama Armstrong Grup. Mulai besok kamu bekerja sebagai aspri untuk aku."
"Hah?"
"Apa telinga kamu bermasalah?"
Pertanyaan bernada sinis itu membuat Ivy takut untuk kembali bertanya. Ia mendengar dengan jelas, tapi ia masih bingung. Dirinya masih kuliah jadi tak mungkin untuknya bekerja full time.
"Aku tidak suka mengulang perkataanku. Jadi dengar aku baik-baik! Besok kamu mulai bekerja di perusahaanku, sebagai aspri. No debat!"
Terpaksa Ivy mengangguk, ia kemudian bergegas keluar dari ruangan tersebut sebelum ia dimakan hidup-hidup oleh lelaki menyeramkan itu.
Saat Ivy sudah berada di dalam mobil, ponselnya berdenting. Ada pemberitahuan uang masuk ke dalam rekeningnya.
"Dua puluh? Ini gak salah kan? Atau aku salah hitung nolnya?"
Ivy mengucek mata, lalu melihat ke layar ponselnya lagi.
"Dua puluh juta beneran. Untuk semua tadi aku dibayar semahal ini? Aku kerja di lima tempat aja hanya bisa dapat seperlima dari ini. Itu pun harus menunggu sebulan dulu."
Ivy bingung harus senang atau sedih. Tapi setidaknya dengan uang ini ia bisa membayar pendaftarannya kuliah adiknya. Mungkin juga niatnya melanjutkan pendidikan ke jenjang strata dua bisa terwujud.
Ponsel Ivy berdenting lagi. Kali ini chat dari Bravino.
"Besok ke kantor jangan pakai celana, tapi rok. Roknya harus pendek, jangan panjang!"
***
"Tumben pakai rok," tegur Eri pada sang Kakak.
"Oh, iya. Hmm ini karena tempat kakak yang baru ngeharusin pakai rok."
Eri mengangguk, "Tapi rok itu kayaknya terlalu ketat, Kak. Itu rok aku ya?"
Ivy tersenyum lebar. "Iya, Kakak kan gak punya rok yang formal kayak gini. Kakak pinjam ya."
Eri mengangguk lagi, "Pakai aja. Tapi nanti kalau ada uang Kakak beli lagi aja, Kak. Daripada kesempitan kayak gitu."
"Iya, nanti Kakak beli."
Pembicaraan Ivy dan Eri terhenti karena ketukan di pintu. Isha berinisiatif untuk membukanya, sementara Ivy melanjutkan kegiatannya untuk membuat sarapan.
Eri masuk dengan Damian yang berjalan di belakangnya.
"Hai, Vy. Wow, tumben kamu ..."
Sama seperti Eri, Damian pun lumayan terkejut. Karena memang selama ini Ivy lebih memilih berpenampilan sporty ketimbang feminim. Itulah mengapa ia tak memiliki rok, selain seragamnya waktu sekolah reguler dulu.
Ivy menampilkan senyum palsunya. "Oh ini karena aku diterima bekerja di sebuah perusahaan."
"Perusahaan?" tanya Damian dan Eri hampir bersamaan.
Ivy mengangguk. "Iya. Aku kan udah hampir lulus dan skripsiku juga sudah hampir rampung. Perusahaan ini membuka kesempatan untuk magang berbayar. Gajinya juga lumayan dan aku gak perlu kerja di beberapa tempat sekaligus."
Ivy berusaha terlihat senang. Kesempatan ini ia gunakan untuk memberitahu mereka agar tak ada yang curiga.
"Kak Ivy tenang aja. Nanti sambil kuliah aku bisa cari kerja kok," ujar Eri setelah agak lama terdiam.
Eri pun sebenarnya tak enak hati, karena Ivy bukan hanya berperan sebagai kakak melainkan pengganti ayah dan ibu mereka.
Mendengar itu, Ivy tersenyum lebar. Ia meletakkan piring yang telah ia isi dengan nasi goreng buatannya ke atas meja makan.
"Kamu kuliah aja yang rajin biar cepat lulus. Kakak masih bisa membiayai kamu. Gak usah pikirin yang lain, karena itu urusan kakak."
"Tapi, Kak ..."
Ivy menggeleng tegas. "Ini perintah, Er."
Eri mencebik. "Aku gak pernah ngerasain kurang kasih sayang karena Kakak selalu menuhin itu semua. Aku adik paling beruntung di dunia."
Rasa haru memenuhi ruangan itu. Ivy memeluk adik kesayangannya. Yang demi Eri ia rela melakukan apapun juga, meski dirinya sendiri yang menjadi korban.
Damian maju kemudian menyusul untuk memeluk dua gadis itu sekaligus. "Kalian para gadis jangan lupa kalau kalian punya aku. Aku adalah bagian dari kalian juga."
Ivy dan Eri mengangguk. Keduanya mengelap sudut mata yang sempat basah karena rasa haru tadi. Tiga orang itu pun berpelukan beberapa lama.
Hingga Ivy jadi sadar bila sekarang sudah pukul enam tiga puluh. "Er, Dam, aku duluan ya. Aku sudah harus sampai kantor sebelum jam delapan."
Ivy menyambar tas dan juga kotak makan siang yang tadi telah ia siapkan.
Damian menangkap tangan Ivy. "Biar aku aja yang antar."
Dengan lembut Ivy menyingkirkan tangan Damian. "Kalau kamu anter pasti kena macet, lagian arahnya berlawanan dengan kantor kamu. Lebih efisien waktu juga kalau aku pakai kereta."
"Iya, Kak Ivy bener. Mending Kak Dami anterin aku ke kampus aja," cicit Eri yang mulai menyendok nasi goreng buatan Ivy.
"Yah, itu benar. Udah ya, aku duluan."
Damian tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menatap punggung Ivy yang tak lama kemudian hilang dari tatapan mata.
Cinta dalam hati yang lelaki itu miliki untuk Ivy masih harus ia pendam. Entah sampai kapan.
***
Ivy menunggu di depan ruangan yang tadi Astra-asisten Bravino katakan sebagai ruangan si Boss.
Ivy sampai Armstrong Grup pukul tujuh lewat lima puluh lima menit. Tak terlambat, tapi tak juga terlalu cepat.
Tak lama kemudian Bravino muncul diikuti Astra di belakangnya.
Setelah berhenti di hadapan Ivy, Bravino menatap sugar baby-nya itu dari atas hingga bawah. Seakan menelanjangi Ivy lewat sorot matanya yang tajam.
"Astra, geser jadwal saya pagi ini sampai jam makan siang. Dan kamu."
Bravino menunjuk ke arah Ivy. "Kamu ikut saya masuk ke dalam!"
Ivy tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan yang nuansanya sama dengan ruang kerja Damian. Sangat manly dengan warna abu-abu, hitam juga putih.
Lelaki itu duduk di kursi kebesarannya.
"Aku suka rok kamu yang pendek dan ketat. Sekarang tugas pertama kamu, lepaskan underwear kamu lalu naik ke atas meja ini. Buka kaki kamu selebar mungkin!"
Kening Ivy berkerut. Ia menatap horor pada Bravino yang kini melonggarkan simpul dasinya.
Ivy menjerit dalam hati, 'What the hell this fu*king job?!'
Follow IG Author @senjamenawanpunya untuk lihat visualisasi tokoh-tokohnya Jangan lupa kasih love dan comment readers yaaaw, gamsahamnida
"Sampai di dalam langsung istirahat! Jangan begadang lagi. Beberapa malam ini kamu gak cukup istirahat!"Nada Bossy itu tentu saja keluar dari mulut Bravino. Dan itu membuat Ivy merotasi bola matanya."Gara-gara siapa coba aku gak istirahat dengan cukup?" cebik Ivy dengan suara lirih."Saya masih bisa denger kamu bilang apa."Ivy berbalik lalu tersenyum manis. Sangat menggemaskan dengan kerutan di pangkal hidungnya."Ups sorry," cicit Ivy lagi.Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Bravino mengantar Ivy hingga ke depan rumah. Ternyata urusan di Surabaya memakan waktu cukup lama, sehingga rencana kepulangan sore pun harus tertunda.Tapi bagi Ivy itu tak jadi masalah. Karena jadi ada waktu lebih yang membuat ia bisa jalan-jalan sebentar. Tanpa Bravino tentunya, karena lelaki itu terlalu sibuk.Jadilah Ivy hanya diikuti oleh bayangan lelaki itu. Thomas dan satu lagi temannya mengikuti kemana pun Ivy melangkah.Ivy puas karena ia bisa membelikan oleh-oleh untuk Eriva, Damian jug
Ivy membuka matanya dengan berat hati. Ingin rasanya tidur lebih lama tapi itu tak mungkin. Yang ada ia bisa sakit kepala karena kebanyakan tidur.Dari kemarin memang hari Ivy hanya diisi dengan empat hal. Ditiduri, tidur, mandi, makan lalu ditiduri kembali. Siklus hidupnya selama di Singapura hanya berkutat pada empat aspek itu saja.Ivy mengedarkan pandangan, dan lagi-lagi kosong. Ia kembali ditinggal setelah habis-habisan ditiduri. Tapi kali ini ia tersenyum.Ingatannya kembali pada sesi bercintanya dengan Bravino. Lelaki itu selalu saja punya kejutan dalam proses beradu peluh dengannya.Seperti tadi malam. Ivy tak habis pikir bagaimana caranya Bravino memompa dirinya, saat ia berada di dalam gendongan Bravino. Bahkan itu dalam posisi sambil berjalan.Lalu Bravino menyandarkan punggung Ivy di dinding berlapis wallpaper warna coklat krem.Di sana lelaki itu melumat habis bibir Ivy sambil terus memompa. Dan saat klimaks Ivy dapatkan, Bravino malah merunduk, menghisap puncak dadanya d
Di apartemen, Rere sedang tersenyum menatap dua belas angka di dalam kontak ponselnya. Ia memberi nama Ivy pada kontak tersebut.Rencananya meminta nomor telepon Ivy berjalan lancar. Eriva memberikannya tanpa ada drama sama sekali."Gue yakin pasti gue bisa minta tolong sama Ivy. Setidaknya mungkin gaku bisa tahu informasi tentang kamu, Bi," monolognya penuh harap.Ia melirik bagian pojok kanan atas ponselnya. Sudah pukul sepuluh malam. Harusnya belum terlalu malam untuk menghubungi Ivy.Mendadak tangan Rere bergetar. Niat dan tekad yang tadi sudah kuat menariknya mundur."Tapi gue harus bilang apa? Gue cuma kenal Ivy itupun dari cerita Raisa. Jadi gue harus bilang apa kalau dia nanya. Apa gue minta tolong Raisa dulu ya?"Rere menggeleng kuat. "Gak usah ngekhawatirin hal yang belum terjadi, Re. Cukup telfon dan hal lainnya nanti baru lo pikirin," gumamnya pada diri sendiri.Rere menekan ikon telepon berwarna hijau, dan tak lama nada sambung pun terdengar. Namun, hingga dering ke lima,
Ivy berdiri di depan stand mirror, memperhatikan pantulan tubuhnya di sana. Kini ia tengah sendiri, sudah mengenakan gaun berwarna hitam one shoulder.Gaun itu adalah gaun yang ia temukan di atas kasur ketika terbangun sore tadi. Dengan tubuh polos yang terbungkus selimut.Hampir dua jam ia habiskan untuk bergelut basah dengan Bravino. Ivy merasa seperti bercinta dengan lelaki yang berbeda dengan yang menyiksanya semalam.Kalau tadi malam Bravino mencium dan melumat bibirnya sampai ada bagian yang berdarah. Siang tadi, lelaki itu hanya melumatnya dengan sangat lembut tapi sangat memabukkan.Tak ada desakan dan paksaan sampai Ivy membuka mulutnya, membiarkan lidah Bravino menjelajahi isi mulutnya. Dan ia pun membalasnya dengan sama hangat juga lembutnya.Begitu juga ketika tangan dan mulut Bravino berpindah ke bagian tubuh Ivy lainnya. Membuat Ivy terlena dan lupa dengan perlakuan kasar yang Bravino berikan semalam.Sebut Ivy sebagai wanita gila yang tak punya harga diri, sebegitu muda
Ivy duduk di depan jendela yang menyajikan Singapura yang terlihat sangat teratur. Tak ada carut marut barisan kendaraan yang sedang berlomba ingin mengarungi jalanan. Semuanya terlihat berbaris dengan rapih dan teratur.Pohon-pohon rindang berdaun hijau sangat menyejukkan mata. Menenangkan hati yang sempat sakit seiring dengan sakit di sekujur tubuh Ivy.Dan tak jauh dari Ivy, Bravino sedang duduk bersama Astra. Membicarakan pekerjaan, dimana itu adalah tujuan utamanya ke negara ini. Entahlah sudah berapa lama, sejak Dokter selesai memeriksa kondisi Ivy dan memberinya obat penghilang rasa sakit juga vitamin.Meski begitu, sesekali sudut mata Bravino mencari tahu apa yang Ivy lakukan."Begitu saja. Nanti seperti biasa, kirim salinan dokumennya ke email saya.""Baik, Tuan."Astra kemudian pamit undur diri. Sedangkan Bravino, ia berdiri dan berniat melangkah mendekati Ivy yang masih duduk diam seperti boneka barbie hidup.Sejenak Bravino ragu, apa dirinya yang ingin mendekati Ivy adalah
Cahaya terang dari celah tirai menembus ke dalam kelopak mata Ivy. Rasanya ia tak ingin membuka mata, mungkin lebih baik bila selamanya seperti itu. Ia tak ingin bangun hanya untuk kembali menjalani hidup yang penuh kenestapaan mengerikan ini.Perlahan Ivy membuka matanya yang terasa lengket. Akibat air mata dan sisa kotoran setelah tidur.Badannya sendiri tak terlalu lengket, karena entah di jam berapa, ia merasakan sisi ranjang yang Bravino tiduri bergerak. Ivy tahu lelaki kejam itu meninggalkannya lalu masuk ke kamar mandi.Ivy sempat menangis lagi, sedih akan nasibnya yang begitu naas dan memalukan.Lalu ketika Ivy hampir saja terlena akan letih karena kantuk juga tangisnya, ia merasa ada kain basah yang terasa hangat, menyusuri kulitnya dengan hati-hati dan lembut.Ivy tersentak, masih dengan mata yang terpejam karena terlalu takut menatap Bravino. Ia takut sugar Daddy-nya itu akan melakukan hal mengerikan lagi. Tapi kemudian lelaki itu bersuara."Kamu tidur aja, kamu pasti capek
Bravino menyugar rambutnya ke belakang. Harinya cukup berat karena saingan bisnisnya mulai melalui jalan yang ia benci. Benci karena ia pasti harus menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan saingannya itu.Bravino butuh distraksi. Distraksi yang menyenangkan juga menenangkan.Dengan langkah tegap d
"Ivy.”Ivy berbalik karena panggilan yang ditangkap Indera pendengaranya. Senyumnya berkembang pada si pemanggil.“Hai, Dam. Kamu mau ke mana?”“Aku mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”Ivy menganggukkan kepala. “Yap. Aku ada kuliah pagi ini.”Damian ikut tersenyum. Bagai mendapat mood booster, seny
“Jadi simpananku, dan aku akan jadi sugar Daddy kamu. Kamu terlihat masih sangat muda, tapi aku menyukai tubuhmu. Kamu tidak punya pilihan lain, take it atau selamanya kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini dan juga tidak akan bertemu dengan adikmu!”Butuh waktu yang cukup lama untuk Ivy mence
Tidak tahu sudah berapa lama Ivy tertidur, yang ia tahu hanyalah ketika ia bangun jendela sudah menunjukkan langit yang gelap berbeda ketika tadi siang ia masuk ke dalam kamar itu."Jam berapa ini? Ya Tuhan, ini udah malam. Aku harus cepat pulang, Eri pasti khawatir dan mencariku," monolognya.Ivy







