Se connecterFollow IG Author @senjamenawanpunya untuk lihat visualisasi tokoh-tokohnya Jangan lupa kasih love dan comment readers yaaaw, gamsahamnida
“Kamu bisa keluar sekarang! Ke kampus diantar driver!” Pesan bernada perintah yang sangat otoriter itu tentu saja berasal dari Bravino. Ivy yang memang sudah menunggu sedari tadi pun segera beranjak dari tempatnya duduk. Sekali lagi ia menengok ke belakang, memastikan bila tak ada barang miliknya yang tertinggal. Dan karena memang tak ada, jadilah ia keluar dari ruangan itu. Ia mendapati ruangan tempatnya memuaskan hasrat si papa gula tadi telah kosong melompong. Tak ada satu orang pun di sana. Wajah Ivy otomatis memerah saat ia mengingat apa yang tadi ia lakukan bersama Bravino di atas meja kaca tersebut. Seandainya tadi sang sugar daddy tak mendapatkan tamu dadakan, sudah pasti lelaki itu tak akan melepaskan Ivy untuk waktu yang cepat. Segera ia menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran nakalnya itu. "Fokus, Ivy. Fokus!" “Permisi, Nona.” “Ya?” Ivy menemukan Astra berdiri di ruangan Bravino. Lelaki berambut klimis dan kacamata itu menatap dengan datar padanya. “Tuan Bravino m
Hawa dingin Ivy rasakan sesaat setelah dia menuruti perintah Bravino. Roknya masih terpasang rapi, namun tidak dengan underwear-nya. Ivy berdiri dengan posisi yang membuatnya merasa rapuh. Dia melebarkan kedua pahanya di atas meja dan di depan pria yang menatapnya seperti predator itu. Wanita itu menggigit kuat bibirnya untuk menahan desahan yang hampir keluar dari bibirnya saat Bravino memulai aksinya. Ivy berpegangan pada ujung meja. Ujung jari kakinya menekuk ke arah dalam. Pahanya menegang, ingin menutup tapi tak mampu, karena Bravino menahannya dan sedang meningkahinya di sana. "I always like your smell. Kamu emang beda." Ivy tak mengerti apa itu pujian atau sindiran. Di rumah Ivy hanya punya sabun biasa, bukan sabun-sabun mahal seperti di rumah Bravino. Jangankan sabun, untuk makan dengan cukup gizi yang layak pun ia harus bekerja keras. Ivy tersentak, memekik dengan suara tertahan saat ia merasakan gelombang sensasi yang lembut dan perlahan berubah menjadi cepat, datang
“Kubunuh kalian semua!”Bravino mengeluarkan revolver siap pakai dari laci di sisi ranjangnya. Sekali gerakan membuat pistol itu meledak.DOR DOR DOREntah kepala siapa yang pecah, tapi darah bersimbah dimana-mana. Jantung Ivy serasa keluar dari rongga dadanya. Kembali ia berusaha berdiri, berusaha mencari sang adik satu-satunya.Eriva jatuh di sisi Damian yang tak sadarkan diri. Adiknya itu berdarah, mewarnai pakaian Eriva yang serba putih.“Er, Eri!”Ivy memangku kepala adiknya, “Er, jangan tinggalin Kakak. Kakak bersalah sama kamu.”“Iya, Kakak salah. Kakak kotor! Kakak murahan! Aku gak mau jadi adik Kakak lagi.”Ivy menggeleng, tangisnya kian pecah saat kepala Ivy terkulai ke samping. “TIDAAAAAAAAAAKKKK!”Ivy meringis, matanya terbelalak. Dadanya bergeraik naik turun karena nafas yang terputus-putus. Dari jendela yang tirainya terbuka, ia jadi tahu bila hari telah berubah jadi gelap."Sshhh."Ivy mendesis, bagian tengah tubuhnya cukup perih. Sementara tulang-tulangnya terasa linu d
Bravino menyugar rambutnya ke belakang. Harinya cukup berat karena saingan bisnisnya mulai melalui jalan yang ia benci. Benci karena ia pasti harus menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan saingannya itu.Bravino butuh distraksi. Distraksi yang menyenangkan juga menenangkan.Dengan langkah tegap dan pasti, Bravino mulai menapaki kakinya ke anak tangga, menuju lantai dua. Tempat di mana ia meminta Ivy, gadis kecil mainan barunya untuk bersiap.CEKLEKBravino masuk. Ia mendapati ruangan itu kosong. “Di mana dia?” monolognya.Lelaki dengan tubuh tegap dan tinggi seratus delapan puluh delapan centimeter itu melanjutkan langkah. Walk in closet adalah tujuannya.Dua sudut bibirnya tertarik selaras ke arah samping. Pemandangan di hadapannya terlalu tinggi dari ekpektasinya sendiri.“Aku berubah pikiran. Aku tidak mau melihat kamu pakai lingerie. Aku lebih suka kamu polos seperti ini.”Berikutnya terdengar pekikan suara dari wanita yang kini Bravino letakkan di atas bahu. “Le-lepaskan aku, T
"Ivy.”Ivy berbalik karena panggilan yang ditangkap Indera pendengaranya. Senyumnya berkembang pada si pemanggil.“Hai, Dam. Kamu mau ke mana?”“Aku mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”Ivy menganggukkan kepala. “Yap. Aku ada kuliah pagi ini.”Damian ikut tersenyum. Bagai mendapat mood booster, senyum manis yang Ivy berikan akan memberi banyak warna bagi harinya. Meski pekerjaan yang menumpuk banyak telah menanti.Lelaki itu adalah pahlawan bagi Ivy dan Eri. Karena Damian lah Ivy dan adiknya itu bisa bertahan hidup dengan cukup layak hingga sekarang.“Ayo naik. Aku anter kamu sekalian. Aku harus meeting sama klien dan itu searah dengan kampus kamu.”Tanpa harus menunggu lama, Ivy langsung menganggukkan kepalanya. Ia naik ke dalam mobil Damian yang sudah lelaki itu bukakan pintunya dari dalam.“Eri mana?”“Eri udah keluar dari pagi. Dia bilang akan mendaftar ke kampus pilihannya,” jawab Ivy sembari memakai seat belt.“Eri gak mau nyoba di kampus kamu aja? Setidaknya kalau di sana kan ka
“Jadi simpananku, dan aku akan jadi sugar Daddy kamu. Kamu terlihat masih sangat muda, tapi aku menyukai tubuhmu. Kamu tidak punya pilihan lain, take it atau selamanya kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini dan juga tidak akan bertemu dengan adikmu!”Butuh waktu yang cukup lama untuk Ivy mencerna apa yang baru saja lelaki tampan bak titisan dewa tapi sayangnya brengsek, itu katakan.“Jangan pasang muka bodoh seperti itu. Say yes aja, biar semuanya lebih mudah.”Kembali Ivy dibuat tercengang. Baru saja ia diminta menjadi sugar baby lelaki yang Ivy perkirakan minimal lima tahun lebih tua dari dirinya. Yang kalau dibahasakan dengan kasar, ia harus jadi pemuas nafsu lelaki itu.Pemuas nafsu atau sama dengan pekerja se*s komersial, penjaja tubuh dan sebutan lainnya untuk profesi tersebut. Mengingat itu, Ivy langsung melayangkan penolakan.“Syarat gila macam apa itu? Setelah apa yang kamu lakukan dengan seenaknya, sekarang kamu malah ngancam aku? Apa kamu benaran udah gila?!” teriak Iv







