Se connecterBravino menyugar rambutnya ke belakang. Harinya cukup berat karena saingan bisnisnya mulai melalui jalan yang ia benci. Benci karena ia pasti harus menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan saingannya itu.
Bravino butuh distraksi. Distraksi yang menyenangkan juga menenangkan.
Dengan langkah tegap dan pasti, Bravino mulai menapaki kakinya ke anak tangga, menuju lantai dua. Tempat di mana ia meminta Ivy, gadis kecil mainan barunya untuk bersiap.
CEKLEK
Bravino masuk. Ia mendapati ruangan itu kosong. “Di mana dia?” monolognya.
Lelaki dengan tubuh tegap dan tinggi seratus delapan puluh delapan centimeter itu melanjutkan langkah. Walk in closet adalah tujuannya.
Dua sudut bibirnya tertarik selaras ke arah samping. Pemandangan di hadapannya terlalu tinggi dari ekpektasinya sendiri.
“Aku berubah pikiran. Aku tidak mau melihat kamu pakai lingerie. Aku lebih suka kamu polos seperti ini.”
Berikutnya terdengar pekikan suara dari wanita yang kini Bravino letakkan di atas bahu. “Le-lepaskan aku, Tuan.”
PLAK PLAK
Bukannnya diturunkan, Ivy malah mendapatkan dua tamparan yang cukup perih di bagian belakangnya.
“Sakit,” lirih Ivy.
“Makanya gak usah melawan,” balas Bravino dengan suara penuh intimidasi.
Ivy kembali memekik kala Bravino meletakkan tubuhnya di atas kasur. Tidak mau membuang waktu, ia langsung mengurung tubuh Ivy di bawahnya. Menatap wanita yang baru kemarin ia buka segelnya dengan tatapan buas.
Tatapan itu membuat Ivy risih sekaligus malu. Meski ini bukan untuk pertama kalinya, tapi mungkin untuk selamanya, setidaknya selama ia menjadi sugar baby bagi Bravino, ia tak akan pernah bisa terbiasa.
“Maaf.”
Ivy bersuara karena ia ingin mengenyahkan rasa tak nyaman itu. Inginnya ia menutupi bagian sensitifnya, tapi tak bisa karena Bravino menahan dua tangannya di samping kepala.
Sedangkan kakinya ditimpa Bravino dengan kaki lelaki itu sendiri, meski tak membuatnya merasa berat atau sakit.
Kening Bravino berkerut. “Kenapa kamu minta maaf?”
“Ka-karena aku belum memakai apa yang Tuan perintahkan.”
Bola mata Ivy mengarah ke samping. Tak kuat rasanya harus menatap dua mata yang memiliki sorot tajam seperti mata elang yang siap memakan mangsanya.
Sementara itu, telinga Bravino rasanya gatal saat mendengar ucapan Ivy yang terdengar terlalu kaku dan baku.
“Don’t call me like that. Aku seperti akan meniduri pembantuku saja. Dan masalah lingerie, aku punya banyak kesempatan untuk melihatmu dengan itu semua.”
Membayangkan semua itu, Ivy jadi bergidik ngeri. Seingatnya di sana ada sekitar puluhan baju kekuarangan bahan yang tergantung. “Ja-jadi, aku harus memanggil Anda apa?”
Bravino yang berada di atas Ivy melepaskan pegangannya. Ia menegakkan tubuh dan membuat Ivy mendapatkan kesempatan untuk menutupi bagian depan tubuhnya.
“Terserah kamu, asal bukan Tuan,” jawab Bravino sembari jarinya menari di atas kancing kemeja yang kini ia buka satu persatu.
Ivy berusaha mengalihkan tatapannya pada otot dada, bisep dan juga enam kotak yang berhiaskan bulu-bulu halus di tubuh bagian atas Bravino. Terlalu indah untuk ditolak, tapi terlalu takut untuk dihadapi.
Bagian itu terekspos dengan mudah oleh mata Ivy karena Bravino telah melemparkan pakaiannya ke bawah.
Susah payah Ivy berpikir lalu satu panggilan pun keluar dari mulutnya “Kalau Om bagaimana?”
“Om?”
Ivy mengangguk. “Iya. Karena Anda jauh lebih tua dari aku.”
“Jangan! Aku tidak mau kamu memanggilku seperti itu. Itu sama saja seperti aku lagi tidur sama keponakannku sendiri. Itu terlalu mengerikan, you know? Dan masalah umur, aku rasa kita tidak sejauh itu.”
“Aku baru dua puluh dua tahun, kalau Om berapa?”
“Aku … aku cuma sepuluh tahun lebih tua dari kamu.”
“Oh, berarti emang udah paling bener. Aku gak mungkin memanggil Om dengan sebutan Kakak karena perbedaan usia kita terlalu jauh. Kalau nama juga tidak mungkin, kan kita gak seumuran, itu tidak sopan. Jadi, aku pikir panggilan Om itu yang paling bener.”
“Whatever! Aku udah gak tahan lagi!”
Bravino yang sudah kepalang berhasrat tak ingin membahas masalah panggilan. Yang ada di kepalanya sekarang adalah segera melampiaskan hasrat yang terlanjur membumbung tinggi di benaknya.
Namun, Bravino tak ingin bersifat tak gentle. Ia harus memuaskan Ivy, membuat wanita muda yang yah lumayan terlalu muda baginya itu, mendesah bahkan menjerit kala menemukan puncaknya.
Bravino mulai dari bibir. Bibirnya yang merah gelap mulai memanjakan Ivy. Bravino jadi tahu bila Ivy tak menggunakan perona bahkan pelembab karena ia tak bisa merasakannya.
Permainan Bravino mulai kasar dan menuntut, seiring dengan hasrat yang kian meninggi.
“Buka mulut kamu dan balas ciumanku!” titahnya frustasi karena Ivy hanya diam saja.
Tanpa menjawab Ivy pun membuka mulut. Kembali Bravino melancarkan serangannya.
Sangat mudah untuk dirinya menemukan titik-titik sensitif yang membuat Ivy mulai bersuara.
Hampir membuat Ivy pingsan karena tak sempat bernafas, akhirnya bibir Bravino mulai turun ke leher, membaui aroma tubuh Ivy yang khas, meski bukan menggunakan body shower yang mahal, tapi ia tetap menyukainya.
Sentuhan demi sentuhan menjalar hampir di sekujur kulit Ivy. Mengalirkan getaran bak listrik yang menyengat hingga ke peredaran darah.
Untuk kesekian kalinya Bravino mengajak Ivy untuk mencicipi surga dunia. Surga yang meski kotor tapi tetap ingin ia datangi.
Ivy menggeleng frustasi saat Bravino dengan lihai menggulungnya dalam hasrat yang tak bertepi. Tujuan lelaki itu hampir tiba.
Bravino memeluk erat tubuh wanita yang mungil dalam pelukannya itu saat puncak itu tercapai. Mengeluarkan hormon dopamine yang menularkan rasa tenang dan nyaman pada sugar baby-nya.
Saling meresapi hangat tubuh akibat perjalanan panas tadi. Membuat Ivy terlelap begitu saja. Sedangkan Bravino masih tetap terjaga.
"Baby kamu sudah tidur?" tanya Bravino. Ia sedikit menunduk demi menatap wajah cantik dalam dekapannya.
Keningnya berkerut, jari besarnya bergerak spontan merapikan anak rambut yang menutupi kening Ivy.
"Kamu harus bersih-bersih dulu, Baby," ucapnya lagi sembari mengecup ujung hidung Ivy.
Tapi bukan jawaban yang Bravino dapatkan melainkan erangan panjang dari Ivy. Tanpa disangka, Bravino melepaskan pelukannya, kemudian berjalan menuju kamar mandi dan kembali dengan handuk basah.
Dengan sangat lembut ia mengusap kulit Ivy yang terasa lengket kerena peluh. Sesekali ia mengusap di tempat yang ia senangi. Bukan Bravino namanya kalau tak memiliki pikiran kotor.
Bravino menyelesaikan bersih-bersih itu hingga ke ujung kaki Ivy. Dan tersenyum simpul menilai hasil kerjanya.
"Sekarang kamu sudah bersih, Baby. Tidur aja dulu, kamu harus cukup istirahat untuk ronde selanjutnya," ucapnya sembari kembali masuk dalam selimut dan bergabung dengan Ivy.
Yang Bravino tak tahu adalah Ivy sudah terbangun saat dirinya disentuh dibagian sensitif. Siapa juga yang bisa tidur nyenyak dalam kondisi tadi.
Dan itu membuat Ivy mendengar ucapan Bravino barusan. 'Matilah aku!'
Ponsel dalam tas Ivy bergetar, mengalihkan perhatiannya, ada satu pesan yang tak ia ketahuin masuk. Benda tersebut memang tak sempat ia lihat lagi karena terburu-buru, Itu dari Eriva.
“Ini ada telepon, Baby. Dari adik kamu.” Bravino mengambilkan benda komunikasi itu.
Ivy masih tetap bergeming padahal panggilan itu belum ia jawab. Heran juga karena Eriva menghubungi dirinya padahal ia sudah mengatakan bila hari ini dirinya bekerja sampai malam.
“Angkat teleponnya, Baby. Kalau tidak biar aku yang-“
“Jangan! Biar aku aja.”
“Cepat!”
Ivy kemudian menggeser ikon jawab di layar ponselnya. “Iya, Er. Ada apa?”
“Kak, tadi aku ngeliat kakak di klinik. Kakak ngapain ke dokter obgyn?”
“Hah? Mu-mungkin kamu salah lihat, Er.” Ivy sama sekali tak menduga di hari keduanya menjadi sugar baby ia akan ketahuan secepat itu.
“Nggak! Gak mungkin aku salah lihat. Sekarang kakak dimana?”
“Hmm, kakak di…”
BRAK
Pintu kamar terbuka lebar, di sana ada Eriva yang ditemani Damian. Kondisi yang sama sekali tak Ivy harapkan.
“Kak! Ini yang kakak bilang bekerja? Pekerjaan macam apa ini, Kak?”
“Er, Kakak bisa jelasin semuanya. Ini…”
Ivy menggeleng, berusaha bangkit dari ranjang bersama selimut karena hanya itu yang membungkus tubuhnya.
“Jangan sentuh aku! Aku malu punya saudara seperti Kakak! Kamu perempuan kotor!”
Damian memeluk Eriva yang menangis tersedu-sedu. “Ivy, aku juga tidak menyangka kamu melakukan hal murahan seperti ini. Aku menyesal mengenal kamu! Kamu memalukan!”
Ivy jatuh luruh bersama selimutnya di lantai. Hal yang paling ia rahasiakan malah terungkap begitu cepat. Dihina sedemikian rupa oleh orang-orang terdekatnya membuat ia makin hancur.
“Diam kalian semua!” Bravino mengeluarkan suara yang sarat dengan emosi tingkat tinggi. Dari laci di nakas samping tempat tidur, ia mengeluarkan revolver siap pakai. Pelatuknya sudah ia geser. “Kubunuh kalian semua!”
“Kamu bisa keluar sekarang! Ke kampus diantar driver!” Pesan bernada perintah yang sangat otoriter itu tentu saja berasal dari Bravino. Ivy yang memang sudah menunggu sedari tadi pun segera beranjak dari tempatnya duduk. Sekali lagi ia menengok ke belakang, memastikan bila tak ada barang miliknya yang tertinggal. Dan karena memang tak ada, jadilah ia keluar dari ruangan itu. Ia mendapati ruangan tempatnya memuaskan hasrat si papa gula tadi telah kosong melompong. Tak ada satu orang pun di sana. Wajah Ivy otomatis memerah saat ia mengingat apa yang tadi ia lakukan bersama Bravino di atas meja kaca tersebut. Seandainya tadi sang sugar daddy tak mendapatkan tamu dadakan, sudah pasti lelaki itu tak akan melepaskan Ivy untuk waktu yang cepat. Segera ia menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran nakalnya itu. "Fokus, Ivy. Fokus!" “Permisi, Nona.” “Ya?” Ivy menemukan Astra berdiri di ruangan Bravino. Lelaki berambut klimis dan kacamata itu menatap dengan datar padanya. “Tuan Bravino m
Hawa dingin Ivy rasakan sesaat setelah dia menuruti perintah Bravino. Roknya masih terpasang rapi, namun tidak dengan underwear-nya. Ivy berdiri dengan posisi yang membuatnya merasa rapuh. Dia melebarkan kedua pahanya di atas meja dan di depan pria yang menatapnya seperti predator itu. Wanita itu menggigit kuat bibirnya untuk menahan desahan yang hampir keluar dari bibirnya saat Bravino memulai aksinya. Ivy berpegangan pada ujung meja. Ujung jari kakinya menekuk ke arah dalam. Pahanya menegang, ingin menutup tapi tak mampu, karena Bravino menahannya dan sedang meningkahinya di sana. "I always like your smell. Kamu emang beda." Ivy tak mengerti apa itu pujian atau sindiran. Di rumah Ivy hanya punya sabun biasa, bukan sabun-sabun mahal seperti di rumah Bravino. Jangankan sabun, untuk makan dengan cukup gizi yang layak pun ia harus bekerja keras. Ivy tersentak, memekik dengan suara tertahan saat ia merasakan gelombang sensasi yang lembut dan perlahan berubah menjadi cepat, datang
“Kubunuh kalian semua!”Bravino mengeluarkan revolver siap pakai dari laci di sisi ranjangnya. Sekali gerakan membuat pistol itu meledak.DOR DOR DOREntah kepala siapa yang pecah, tapi darah bersimbah dimana-mana. Jantung Ivy serasa keluar dari rongga dadanya. Kembali ia berusaha berdiri, berusaha mencari sang adik satu-satunya.Eriva jatuh di sisi Damian yang tak sadarkan diri. Adiknya itu berdarah, mewarnai pakaian Eriva yang serba putih.“Er, Eri!”Ivy memangku kepala adiknya, “Er, jangan tinggalin Kakak. Kakak bersalah sama kamu.”“Iya, Kakak salah. Kakak kotor! Kakak murahan! Aku gak mau jadi adik Kakak lagi.”Ivy menggeleng, tangisnya kian pecah saat kepala Ivy terkulai ke samping. “TIDAAAAAAAAAAKKKK!”Ivy meringis, matanya terbelalak. Dadanya bergeraik naik turun karena nafas yang terputus-putus. Dari jendela yang tirainya terbuka, ia jadi tahu bila hari telah berubah jadi gelap."Sshhh."Ivy mendesis, bagian tengah tubuhnya cukup perih. Sementara tulang-tulangnya terasa linu d
Bravino menyugar rambutnya ke belakang. Harinya cukup berat karena saingan bisnisnya mulai melalui jalan yang ia benci. Benci karena ia pasti harus menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan saingannya itu.Bravino butuh distraksi. Distraksi yang menyenangkan juga menenangkan.Dengan langkah tegap dan pasti, Bravino mulai menapaki kakinya ke anak tangga, menuju lantai dua. Tempat di mana ia meminta Ivy, gadis kecil mainan barunya untuk bersiap.CEKLEKBravino masuk. Ia mendapati ruangan itu kosong. “Di mana dia?” monolognya.Lelaki dengan tubuh tegap dan tinggi seratus delapan puluh delapan centimeter itu melanjutkan langkah. Walk in closet adalah tujuannya.Dua sudut bibirnya tertarik selaras ke arah samping. Pemandangan di hadapannya terlalu tinggi dari ekpektasinya sendiri.“Aku berubah pikiran. Aku tidak mau melihat kamu pakai lingerie. Aku lebih suka kamu polos seperti ini.”Berikutnya terdengar pekikan suara dari wanita yang kini Bravino letakkan di atas bahu. “Le-lepaskan aku, T
"Ivy.”Ivy berbalik karena panggilan yang ditangkap Indera pendengaranya. Senyumnya berkembang pada si pemanggil.“Hai, Dam. Kamu mau ke mana?”“Aku mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”Ivy menganggukkan kepala. “Yap. Aku ada kuliah pagi ini.”Damian ikut tersenyum. Bagai mendapat mood booster, senyum manis yang Ivy berikan akan memberi banyak warna bagi harinya. Meski pekerjaan yang menumpuk banyak telah menanti.Lelaki itu adalah pahlawan bagi Ivy dan Eri. Karena Damian lah Ivy dan adiknya itu bisa bertahan hidup dengan cukup layak hingga sekarang.“Ayo naik. Aku anter kamu sekalian. Aku harus meeting sama klien dan itu searah dengan kampus kamu.”Tanpa harus menunggu lama, Ivy langsung menganggukkan kepalanya. Ia naik ke dalam mobil Damian yang sudah lelaki itu bukakan pintunya dari dalam.“Eri mana?”“Eri udah keluar dari pagi. Dia bilang akan mendaftar ke kampus pilihannya,” jawab Ivy sembari memakai seat belt.“Eri gak mau nyoba di kampus kamu aja? Setidaknya kalau di sana kan ka
“Jadi simpananku, dan aku akan jadi sugar Daddy kamu. Kamu terlihat masih sangat muda, tapi aku menyukai tubuhmu. Kamu tidak punya pilihan lain, take it atau selamanya kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini dan juga tidak akan bertemu dengan adikmu!”Butuh waktu yang cukup lama untuk Ivy mencerna apa yang baru saja lelaki tampan bak titisan dewa tapi sayangnya brengsek, itu katakan.“Jangan pasang muka bodoh seperti itu. Say yes aja, biar semuanya lebih mudah.”Kembali Ivy dibuat tercengang. Baru saja ia diminta menjadi sugar baby lelaki yang Ivy perkirakan minimal lima tahun lebih tua dari dirinya. Yang kalau dibahasakan dengan kasar, ia harus jadi pemuas nafsu lelaki itu.Pemuas nafsu atau sama dengan pekerja se*s komersial, penjaja tubuh dan sebutan lainnya untuk profesi tersebut. Mengingat itu, Ivy langsung melayangkan penolakan.“Syarat gila macam apa itu? Setelah apa yang kamu lakukan dengan seenaknya, sekarang kamu malah ngancam aku? Apa kamu benaran udah gila?!” teriak Iv







