Share

06. Puncak

Author: Mrs Anggez
last update publish date: 2026-05-20 16:59:38

Bravino menyugar rambutnya ke belakang. Harinya cukup berat karena saingan bisnisnya mulai melalui jalan yang ia benci. Benci karena ia pasti harus menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan saingannya itu.

Bravino butuh distraksi. Distraksi yang menyenangkan juga menenangkan.

Dengan langkah tegap dan pasti, Bravino mulai menapaki kakinya ke anak tangga, menuju lantai dua. Tempat di mana ia meminta Ivy, gadis kecil mainan barunya untuk bersiap.

CEKLEK

Bravino masuk. Ia mendapati ruangan itu kosong. “Di mana dia?” monolognya.

Lelaki dengan tubuh tegap dan tinggi seratus delapan puluh delapan centimeter itu melanjutkan langkah. Walk in closet adalah tujuannya.

Dua sudut bibirnya tertarik selaras ke arah samping. Pemandangan di hadapannya terlalu tinggi dari ekpektasinya sendiri.

“Aku berubah pikiran. Aku tidak mau melihat kamu pakai lingerie. Aku lebih suka kamu polos seperti ini.”

Berikutnya terdengar pekikan suara dari wanita yang kini Bravino letakkan di atas bahu. “Le-lepaskan aku, Tuan.”

PLAK PLAK

Bukannnya diturunkan, Ivy malah mendapatkan dua tamparan yang cukup perih di bagian belakangnya.

“Sakit,” lirih Ivy.

“Makanya gak usah melawan,” balas Bravino dengan suara penuh intimidasi.

Ivy kembali memekik kala Bravino meletakkan tubuhnya di atas kasur. Tidak mau membuang waktu, ia langsung mengurung tubuh Ivy di bawahnya. Menatap wanita yang baru kemarin ia buka segelnya dengan tatapan buas.

Tatapan itu membuat Ivy risih sekaligus malu. Meski ini bukan untuk pertama kalinya, tapi mungkin untuk selamanya, setidaknya selama ia menjadi sugar baby bagi Bravino, ia tak akan pernah bisa terbiasa.

“Maaf.”

Ivy bersuara karena ia ingin mengenyahkan rasa tak nyaman itu. Inginnya ia menutupi bagian sensitifnya, tapi tak bisa karena Bravino menahan dua tangannya di samping kepala.

Sedangkan kakinya ditimpa Bravino dengan kaki lelaki itu sendiri, meski tak membuatnya merasa berat atau sakit.

Kening Bravino berkerut. “Kenapa kamu minta maaf?”

“Ka-karena aku belum memakai apa yang Tuan perintahkan.”

Bola mata Ivy mengarah ke samping. Tak kuat rasanya harus menatap dua mata yang memiliki sorot tajam seperti mata elang yang siap memakan mangsanya.

Sementara itu, telinga Bravino rasanya gatal saat mendengar ucapan Ivy yang terdengar terlalu kaku dan baku.

“Don’t call me like that. Aku seperti akan meniduri pembantuku saja. Dan masalah lingerie, aku punya banyak kesempatan untuk melihatmu dengan itu semua.”

Membayangkan semua itu, Ivy jadi bergidik ngeri. Seingatnya di sana ada sekitar puluhan baju kekuarangan bahan yang tergantung. “Ja-jadi, aku harus memanggil Anda apa?”

Bravino yang berada di atas Ivy melepaskan pegangannya. Ia menegakkan tubuh dan membuat Ivy mendapatkan kesempatan untuk menutupi bagian depan tubuhnya.

“Terserah kamu, asal bukan Tuan,” jawab Bravino sembari jarinya menari di atas kancing kemeja yang kini ia buka satu persatu.

Ivy berusaha mengalihkan tatapannya pada otot dada, bisep dan juga enam kotak yang berhiaskan bulu-bulu halus di tubuh bagian atas Bravino. Terlalu indah untuk ditolak, tapi terlalu takut untuk dihadapi.

Bagian itu terekspos dengan mudah oleh mata Ivy karena Bravino telah melemparkan pakaiannya ke bawah.

Susah payah Ivy berpikir lalu satu panggilan pun keluar dari mulutnya “Kalau Om bagaimana?”

“Om?”

Ivy mengangguk. “Iya. Karena Anda jauh lebih tua dari aku.”

“Jangan! Aku tidak mau kamu memanggilku seperti itu. Itu sama saja seperti aku lagi tidur sama keponakannku sendiri. Itu terlalu mengerikan, you know? Dan masalah umur, aku rasa kita tidak sejauh itu.”

“Aku baru dua puluh dua tahun, kalau Om berapa?”

“Aku … aku cuma sepuluh tahun lebih tua dari kamu.”

“Oh, berarti emang udah paling bener. Aku gak mungkin memanggil Om dengan sebutan Kakak karena perbedaan usia kita terlalu jauh. Kalau nama juga tidak mungkin, kan kita gak seumuran, itu tidak sopan. Jadi, aku pikir panggilan Om itu yang paling bener.”

“Whatever! Aku udah gak tahan lagi!”

Bravino yang sudah kepalang berhasrat tak ingin membahas masalah panggilan. Yang ada di kepalanya sekarang adalah segera melampiaskan hasrat yang terlanjur membumbung tinggi di benaknya.

Namun, Bravino tak ingin bersifat tak gentle. Ia harus memuaskan Ivy, membuat wanita muda yang yah lumayan terlalu muda baginya itu, mendesah bahkan menjerit kala menemukan puncaknya.

Bravino mulai dari bibir. Bibirnya yang merah gelap mulai memanjakan Ivy. Bravino jadi tahu bila Ivy tak menggunakan perona bahkan pelembab karena ia tak bisa merasakannya.

Permainan Bravino mulai kasar dan menuntut, seiring dengan hasrat yang kian meninggi.

“Buka mulut kamu dan balas ciumanku!” titahnya frustasi karena Ivy hanya diam saja.

Tanpa menjawab Ivy pun membuka mulut. Kembali Bravino melancarkan serangannya.

Sangat mudah untuk dirinya menemukan titik-titik sensitif yang membuat Ivy mulai bersuara.

Hampir membuat Ivy pingsan karena tak sempat bernafas, akhirnya bibir Bravino mulai turun ke leher, membaui aroma tubuh Ivy yang khas, meski bukan menggunakan body shower yang mahal, tapi ia tetap menyukainya.

Sentuhan demi sentuhan menjalar hampir di sekujur kulit Ivy. Mengalirkan getaran bak listrik yang menyengat hingga ke peredaran darah.

Untuk kesekian kalinya Bravino mengajak Ivy untuk mencicipi surga dunia. Surga yang meski kotor tapi tetap ingin ia datangi.

Ivy menggeleng frustasi saat Bravino dengan lihai menggulungnya dalam hasrat yang tak bertepi. Tujuan lelaki itu hampir tiba.

Bravino memeluk erat tubuh wanita yang mungil dalam pelukannya itu saat puncak itu tercapai. Mengeluarkan hormon dopamine yang menularkan rasa tenang dan nyaman pada sugar baby-nya.

Saling meresapi hangat tubuh akibat perjalanan panas tadi. Membuat Ivy terlelap begitu saja. Sedangkan Bravino masih tetap terjaga.

"Baby kamu sudah tidur?" tanya Bravino. Ia sedikit menunduk demi menatap wajah cantik dalam dekapannya.

Keningnya berkerut, jari besarnya bergerak spontan merapikan anak rambut yang menutupi kening Ivy.

"Kamu harus bersih-bersih dulu, Baby," ucapnya lagi sembari mengecup ujung hidung Ivy.

Tapi bukan jawaban yang Bravino dapatkan melainkan erangan panjang dari Ivy. Tanpa disangka, Bravino melepaskan pelukannya, kemudian berjalan menuju kamar mandi dan kembali dengan handuk basah.

Dengan sangat lembut ia mengusap kulit Ivy yang terasa lengket kerena peluh. Sesekali ia mengusap di tempat yang ia senangi. Bukan Bravino namanya kalau tak memiliki pikiran kotor.

Bravino menyelesaikan bersih-bersih itu hingga ke ujung kaki Ivy. Dan tersenyum simpul menilai hasil kerjanya.

"Sekarang kamu sudah bersih, Baby. Tidur aja dulu, kamu harus cukup istirahat untuk ronde selanjutnya," ucapnya sembari kembali masuk dalam selimut dan bergabung dengan Ivy.

Yang Bravino tak tahu adalah Ivy sudah terbangun saat dirinya disentuh dibagian sensitif. Siapa juga yang bisa tidur nyenyak dalam kondisi tadi.

Dan itu membuat Ivy mendengar ucapan Bravino barusan. 'Matilah aku!'

Ponsel dalam tas Ivy bergetar, mengalihkan perhatiannya, ada satu pesan yang tak ia ketahuin masuk. Benda tersebut memang tak sempat ia lihat lagi karena terburu-buru, Itu dari Eriva.

“Ini ada telepon, Baby. Dari adik kamu.” Bravino mengambilkan benda komunikasi itu.

Ivy masih tetap bergeming padahal panggilan itu belum ia jawab. Heran juga karena Eriva menghubungi dirinya padahal ia sudah mengatakan bila hari ini dirinya bekerja sampai malam.

“Angkat teleponnya, Baby. Kalau tidak biar aku yang-“

“Jangan! Biar aku aja.”

“Cepat!”

Ivy kemudian menggeser ikon jawab di layar ponselnya. “Iya, Er. Ada apa?”

“Kak, tadi aku ngeliat kakak di klinik. Kakak ngapain ke dokter obgyn?”

“Hah? Mu-mungkin kamu salah lihat, Er.” Ivy sama sekali tak menduga di hari keduanya menjadi sugar baby ia akan ketahuan secepat itu.

“Nggak! Gak mungkin aku salah lihat. Sekarang kakak dimana?”

“Hmm, kakak di…”

BRAK

Pintu kamar terbuka lebar, di sana ada Eriva yang ditemani Damian. Kondisi yang sama sekali tak Ivy harapkan.

“Kak! Ini yang kakak bilang bekerja? Pekerjaan macam apa ini, Kak?”

“Er, Kakak bisa jelasin semuanya. Ini…”

Ivy menggeleng, berusaha bangkit dari ranjang bersama selimut karena hanya itu yang membungkus tubuhnya.

“Jangan sentuh aku! Aku malu punya saudara seperti Kakak! Kamu perempuan kotor!”

Damian memeluk Eriva yang menangis tersedu-sedu. “Ivy, aku juga tidak menyangka kamu melakukan hal murahan seperti ini. Aku menyesal mengenal kamu! Kamu memalukan!”

Ivy jatuh luruh bersama selimutnya di lantai. Hal yang paling ia rahasiakan malah terungkap begitu cepat. Dihina sedemikian rupa oleh orang-orang terdekatnya membuat ia makin hancur.

“Diam kalian semua!” Bravino mengeluarkan suara yang sarat dengan emosi tingkat tinggi. Dari laci di nakas samping tempat tidur, ia mengeluarkan revolver siap pakai. Pelatuknya sudah ia geser. “Kubunuh kalian semua!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   28 Apa Hubungan Dua Wanita Itu?

    "Sampai di dalam langsung istirahat! Jangan begadang lagi. Beberapa malam ini kamu gak cukup istirahat!"Nada Bossy itu tentu saja keluar dari mulut Bravino. Dan itu membuat Ivy merotasi bola matanya."Gara-gara siapa coba aku gak istirahat dengan cukup?" cebik Ivy dengan suara lirih."Saya masih bisa denger kamu bilang apa."Ivy berbalik lalu tersenyum manis. Sangat menggemaskan dengan kerutan di pangkal hidungnya."Ups sorry," cicit Ivy lagi.Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Bravino mengantar Ivy hingga ke depan rumah. Ternyata urusan di Surabaya memakan waktu cukup lama, sehingga rencana kepulangan sore pun harus tertunda.Tapi bagi Ivy itu tak jadi masalah. Karena jadi ada waktu lebih yang membuat ia bisa jalan-jalan sebentar. Tanpa Bravino tentunya, karena lelaki itu terlalu sibuk.Jadilah Ivy hanya diikuti oleh bayangan lelaki itu. Thomas dan satu lagi temannya mengikuti kemana pun Ivy melangkah.Ivy puas karena ia bisa membelikan oleh-oleh untuk Eriva, Damian jug

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   27 Ganti Rugi

    Ivy membuka matanya dengan berat hati. Ingin rasanya tidur lebih lama tapi itu tak mungkin. Yang ada ia bisa sakit kepala karena kebanyakan tidur.Dari kemarin memang hari Ivy hanya diisi dengan empat hal. Ditiduri, tidur, mandi, makan lalu ditiduri kembali. Siklus hidupnya selama di Singapura hanya berkutat pada empat aspek itu saja.Ivy mengedarkan pandangan, dan lagi-lagi kosong. Ia kembali ditinggal setelah habis-habisan ditiduri. Tapi kali ini ia tersenyum.Ingatannya kembali pada sesi bercintanya dengan Bravino. Lelaki itu selalu saja punya kejutan dalam proses beradu peluh dengannya.Seperti tadi malam. Ivy tak habis pikir bagaimana caranya Bravino memompa dirinya, saat ia berada di dalam gendongan Bravino. Bahkan itu dalam posisi sambil berjalan.Lalu Bravino menyandarkan punggung Ivy di dinding berlapis wallpaper warna coklat krem.Di sana lelaki itu melumat habis bibir Ivy sambil terus memompa. Dan saat klimaks Ivy dapatkan, Bravino malah merunduk, menghisap puncak dadanya d

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   26 Rencana Rere

    Di apartemen, Rere sedang tersenyum menatap dua belas angka di dalam kontak ponselnya. Ia memberi nama Ivy pada kontak tersebut.Rencananya meminta nomor telepon Ivy berjalan lancar. Eriva memberikannya tanpa ada drama sama sekali."Gue yakin pasti gue bisa minta tolong sama Ivy. Setidaknya mungkin gaku bisa tahu informasi tentang kamu, Bi," monolognya penuh harap.Ia melirik bagian pojok kanan atas ponselnya. Sudah pukul sepuluh malam. Harusnya belum terlalu malam untuk menghubungi Ivy.Mendadak tangan Rere bergetar. Niat dan tekad yang tadi sudah kuat menariknya mundur."Tapi gue harus bilang apa? Gue cuma kenal Ivy itupun dari cerita Raisa. Jadi gue harus bilang apa kalau dia nanya. Apa gue minta tolong Raisa dulu ya?"Rere menggeleng kuat. "Gak usah ngekhawatirin hal yang belum terjadi, Re. Cukup telfon dan hal lainnya nanti baru lo pikirin," gumamnya pada diri sendiri.Rere menekan ikon telepon berwarna hijau, dan tak lama nada sambung pun terdengar. Namun, hingga dering ke lima,

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   25 Peluang

    Ivy berdiri di depan stand mirror, memperhatikan pantulan tubuhnya di sana. Kini ia tengah sendiri, sudah mengenakan gaun berwarna hitam one shoulder.Gaun itu adalah gaun yang ia temukan di atas kasur ketika terbangun sore tadi. Dengan tubuh polos yang terbungkus selimut.Hampir dua jam ia habiskan untuk bergelut basah dengan Bravino. Ivy merasa seperti bercinta dengan lelaki yang berbeda dengan yang menyiksanya semalam.Kalau tadi malam Bravino mencium dan melumat bibirnya sampai ada bagian yang berdarah. Siang tadi, lelaki itu hanya melumatnya dengan sangat lembut tapi sangat memabukkan.Tak ada desakan dan paksaan sampai Ivy membuka mulutnya, membiarkan lidah Bravino menjelajahi isi mulutnya. Dan ia pun membalasnya dengan sama hangat juga lembutnya.Begitu juga ketika tangan dan mulut Bravino berpindah ke bagian tubuh Ivy lainnya. Membuat Ivy terlena dan lupa dengan perlakuan kasar yang Bravino berikan semalam.Sebut Ivy sebagai wanita gila yang tak punya harga diri, sebegitu muda

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   24 Penghapus Luka

    Ivy duduk di depan jendela yang menyajikan Singapura yang terlihat sangat teratur. Tak ada carut marut barisan kendaraan yang sedang berlomba ingin mengarungi jalanan. Semuanya terlihat berbaris dengan rapih dan teratur.Pohon-pohon rindang berdaun hijau sangat menyejukkan mata. Menenangkan hati yang sempat sakit seiring dengan sakit di sekujur tubuh Ivy.Dan tak jauh dari Ivy, Bravino sedang duduk bersama Astra. Membicarakan pekerjaan, dimana itu adalah tujuan utamanya ke negara ini. Entahlah sudah berapa lama, sejak Dokter selesai memeriksa kondisi Ivy dan memberinya obat penghilang rasa sakit juga vitamin.Meski begitu, sesekali sudut mata Bravino mencari tahu apa yang Ivy lakukan."Begitu saja. Nanti seperti biasa, kirim salinan dokumennya ke email saya.""Baik, Tuan."Astra kemudian pamit undur diri. Sedangkan Bravino, ia berdiri dan berniat melangkah mendekati Ivy yang masih duduk diam seperti boneka barbie hidup.Sejenak Bravino ragu, apa dirinya yang ingin mendekati Ivy adalah

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   23. Bravino=Rungkad=Ivy

    Cahaya terang dari celah tirai menembus ke dalam kelopak mata Ivy. Rasanya ia tak ingin membuka mata, mungkin lebih baik bila selamanya seperti itu. Ia tak ingin bangun hanya untuk kembali menjalani hidup yang penuh kenestapaan mengerikan ini.Perlahan Ivy membuka matanya yang terasa lengket. Akibat air mata dan sisa kotoran setelah tidur.Badannya sendiri tak terlalu lengket, karena entah di jam berapa, ia merasakan sisi ranjang yang Bravino tiduri bergerak. Ivy tahu lelaki kejam itu meninggalkannya lalu masuk ke kamar mandi.Ivy sempat menangis lagi, sedih akan nasibnya yang begitu naas dan memalukan.Lalu ketika Ivy hampir saja terlena akan letih karena kantuk juga tangisnya, ia merasa ada kain basah yang terasa hangat, menyusuri kulitnya dengan hati-hati dan lembut.Ivy tersentak, masih dengan mata yang terpejam karena terlalu takut menatap Bravino. Ia takut sugar Daddy-nya itu akan melakukan hal mengerikan lagi. Tapi kemudian lelaki itu bersuara."Kamu tidur aja, kamu pasti capek

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   07. Tugas Pertama Ivy di Kantor

    “Kubunuh kalian semua!”Bravino mengeluarkan revolver siap pakai dari laci di sisi ranjangnya. Sekali gerakan membuat pistol itu meledak.DOR DOR DOREntah kepala siapa yang pecah, tapi darah bersimbah dimana-mana. Jantung Ivy serasa keluar dari rongga dadanya. Kembali ia berusaha berdiri, berusaha

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   Polos Lebih Baik

    "Ivy.”Ivy berbalik karena panggilan yang ditangkap Indera pendengaranya. Senyumnya berkembang pada si pemanggil.“Hai, Dam. Kamu mau ke mana?”“Aku mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”Ivy menganggukkan kepala. “Yap. Aku ada kuliah pagi ini.”Damian ikut tersenyum. Bagai mendapat mood booster, seny

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   Jadi Sugar Baby

    “Jadi simpananku, dan aku akan jadi sugar Daddy kamu. Kamu terlihat masih sangat muda, tapi aku menyukai tubuhmu. Kamu tidak punya pilihan lain, take it atau selamanya kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini dan juga tidak akan bertemu dengan adikmu!”Butuh waktu yang cukup lama untuk Ivy mence

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   Sugar Daddy

    Tidak tahu sudah berapa lama Ivy tertidur, yang ia tahu hanyalah ketika ia bangun jendela sudah menunjukkan langit yang gelap berbeda ketika tadi siang ia masuk ke dalam kamar itu."Jam berapa ini? Ya Tuhan, ini udah malam. Aku harus cepat pulang, Eri pasti khawatir dan mencariku," monolognya.Ivy

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status