MasukDi dalam kamar Liona, suasana terasa begitu kelam. Liona duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar hebat dan nafas yang tersengal-sengal.Air mata terus mengalir deras membasahi pipinya yang pucat, menumpahkan rasa hancur atas pengkhianatan yang baru saja dia ketahui.Suster Maya, yang berdiri di sampingnya, dengan penuh kesabaran merangkul bahu Liona yang ringkih."Mbak Liona... tenang ya. Tarik nafas pelan-pelan..." bisik Suster Maya lembut, sembari mengusap punggung Liona tanpa henti demi menjaga agar emosi dan fisik sang pasien yang baru membaik dari kemoterapi tidak mendadak drop lagi.Dengan jemari yang bergetar hebat, Liona meraba meja dan meraih ponselnya.Hatinya yang teriris mendesaknya untuk mencari perlindungan. Dengan mata yang bengkak oleh air mata, dia menekan nomor telepon sang papa.Tak berselang lama, sambungan telepon pun terhubung."Halo, Liona? Ada apa, Sayang? Tumben menelepon Papa jam segini," suara Pak Pramoedya terdengar di seberang sana, hangat dan
Suasana di kamar Tante Meri mendadak memanas di antara Tante Meri dan Rehan. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan nafas memburu, dikuasai oleh ketegangan yang sudah lama terpendam."Rehan, apakah kamu yakin dengan semua keputusanmu!" seru Tante Meri dengan suara tajam, menatap mata pemuda itu penuh tuntutan."Kenapa tiba-tiba kamu ngotot ingin mengakhiri hubungan kita sekarang? Apakah tidak ada cara lain, Rehan?" Rengeknya.Rehan menggelengkan kepala. Dia mengepalkan kedua tangannya"Tante... Keputusanku sudah bulat, jika terus-terusan begini, setiap aku dekat dan melihat Liona, hati selalu dihancurkan oleh rasa bersalah!" Tegas Rehan."Tapi bukan berarti kita harus mengakhirinya seperti ini, Rehan! Hubungan kita memang salah, tapi mengakhirinya itu bukan keinginanku, aku sangat membutuhkanmu, Rehan!" "Kalau kita teruskan, kita sama saja mendoakan kematian Liona, Tante! Aku sudah tidak sanggup hidup dalam kebohongan ini!"Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar, seseoran
Hari berganti hari dengan ritme yang lambat dan penuh ujian. Waktu terus berjalan, membawa Liona melintasi minggu-minggu melelahkan dalam perjuangan panjang melawan penyakitnya.Gadis itu kini telah menjalani beberapa siklus kemoterapi di rumah sakit. Efek samping dari obat-obatan keras tersebut mengubah fisiknya secara drastis.Tubuh Liona tampak semakin kurus kering, dan mahkota indahnya rambut hitam panjang yang dulu sangat dibanggakannya, kini menipis drastis dan mengalami kerontokan di setiap helainya.Hari ini adalah hari Minggu. Siang menjelang sore, Rehan datang berkunjung untuk menemui Liona.Di dalam kamar tidur yang luas, Liona sedang bersandar di atas ranjang dengan balutan syal tipis menutupi kepalanya yang kini botak separuh akibat rontok. Suster Maya sedang merapikan bekas obat yang baru diminum oleh Liona, sementara Rehan duduk setia di tepi ranjang, menggenggam jemari Liona yang terasa kian rapuh."Rehan, makasih ya sudah mau datang nemenin aku terus setiap akhir
Tepat setelah jam kantor sore itu usai, Winda menepati janjinya. Dia langsung bergegas memacu kendaraannya menuju rumah Liona untuk menjenguk sahabatnya yang baru saja pulang dari rumah sakit.Begitu pintu kamar terbuka, Winda mendapati Liona sedang bersandar santai di ranjang ditemani oleh Suster Maya dan Rehan."Winda!" sapa Liona riang dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.Winda langsung berlari kecil dan merengkuh tubuh sahabatnya dalam pelukan hangat."Liona... Ya ampun, aku kepikiran kamu terus! Syukurlah kamu sudah kelihatan jauh lebih segar sekarang.""Iya dong! Di rumah rasanya jauh lebih enak daripada di rumah sakit yang bau obat terus," balas Liona tertawa renyah.Rehan, yang sejak tadi duduk setia di sisi ranjang menemani Liona, ikut tersenyum melihat keakraban dua sahabat itu.Tapi, di balik senyumnya, Rehan menyadari kehadirannya kini sudah ada yang menggantikan untuk menemani Liona sore ini.Tak berselang lama, Rehan melirik jam tangan pintunya. Dia berdiri pela
Pagi menyapa lewat celah tirai kamar yang membiarkan cahaya matahari menerobos masuk dengan lembut.Pagi itu, Rehan masih terlelap di atas sofa panjang di sudut ruangan. Dia meringkuk mengenakan jaket yang dijadikan selimut darurat setelah semalaman suntuk berjaga dan menemani Liona.Di atas ranjang, Liona sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Hari ini adalah hari yang paling dia tunggu-tunggu, hari kepulangannya ke rumah.Entah dari mana datangnya, hari ini dia merasakan suntikan energi yang luar biasa.Wajah pucatnya tampak jauh lebih segar, dan binar antusias terpancar nyata di matanya karena dia sudah tidak sabar ingin segera meninggalkan rumah sakit.Liona perlahan menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Dengan kedua kaki yang masih sedikit gemetar, dia beranjak turun dari ranjang.Mendengar suara langkah yang berderit dilantai, Rehan seketika bangun dari tidurnya. Instingnya sangat kuat. Dia membuka mata lebar-lebar dan kaget saat mendapati Liona sudah berdiri t
Suasana depan kamar tempat Liona dirawat terasa begitu hening.Rehan, Winda, dan Tante Meri duduk bertiga di deretan kursi tunggu besi yang dingin.Tak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Masing-masing larut dalam kecemasan dan pikiran berkecamuk hebat.Klek.Pintu kamar rawat perlahan terdorong terbuka. Suster berseragam putih melangkah keluar, menyunggingkan senyum ramah ke arah mereka bertiga."Mbak Liona sudah tertidur lelap. Sekarang salah satu dari keluarga bisa menemaninya di dalam. Tapi tolong tetap jaga ketenangan ya." Ucap suster dengan ramah."Baik, Suster. Terima kasih banyak." Jawab Tante Meri mengangguk pelan.Begitu suster berlalu, Rehan mendongak menatap Tante Meri dan Winda secara bergantian."Tante... Winda..." panggil Rehan dengan suara parau namun mantap."Biar aku saja yang menemani Liona di dalam hari ini. Kalian berdua pulanglah dulu untuk istirahat. Biar aku yang menjaga Liona sampai besok pagi dia diperbolehkan pulang."Tante Meri menatap Rehan den







