Share

Bab 37

Penulis: Bintang yp
last update Tanggal publikasi: 2026-08-28 12:36:26

Udara malam itu begitu pekat oleh aroma alkohol mahal dan kepulan asap tipis. Rehan berdiri tegak di balik meja racik, tangannya bergerak cepat memoles tepi gelas dengan potongan lemon.

​Meskipun letih masih menggerogoti fisiknya, senyuman tulus sang ibu seolah menjadi tameng tak kasat mata yang melapisi jiwanya.

Bayangan rona bahagia dan nafas lega memberikan dorongan kekuatan yang belum pernah Rehan rasakan sebelumnya.

​Di tengah kesibukan Rehan meracik pesanan minuman, Aldo mendadak menerobo
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 156

    ​Tanpa basa-basi sedikit pun, Pak Pramoedya melangkah tegas melewati ambang pintu kamar.Tatapannya tajam, dan lurus ke arah ranjang tempat putrinya berada. Sama sekali tidak menghiraukan Tante Meri yang masih bersimpuh dan berlutut di lantai sambil menangis di dekat Liona.​"Liona, apa semua barangmu sudah siap? Papa sudah datang. Kita bisa langsung pergi sekarang." Tanya Pak Pramoedya dengan suara yang tegas begitu melihat putrinya.​Liona mengangguk lemah, namun perasaan lega terpancar jelas di matanya. "Sudah, Pa... Liona sudah siap."​Melihat Pak Pramoedya sama sekali tidak melirik atau mempedulikannya, Tante Meri langsung bangkit berdiri dengan panik.Dia berlari menghampiri Pak Pramoedya, merangkul lengan Pak Pramoedya sambil memohon-mohon dengan isak tangis yang memecah keheningan kamar.​"Mas! Jangan... kumohon jangan bawa Liona pergi dari rumah ini! Jangan pisahkan aku dengan putriku, mas! Beri aku kesempatan buat memperbaiki semua!" Pinta Tante Meri berlutut.​Pak Pramoedy

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku    Bab 155

    ​Malam pun tiba, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Di dalam kamar, Liona mulai terbangun perlahan dari tidur lelapnya akibat pengaruh obat penenang.Kesadarannya pulih perlahan, membawa kembali rasa sakit dan hancur yang sempat mereda beberapa jam lalu.​Mendengar pergerakan di atas ranjang, Winda dan Suster Maya dengan sigap langsung berada di samping Liona.Winda merapikan bantal agar Liona bisa bersandar dengan nyaman, sementara Suster Maya mengecek kondisi fisik gadis itu.​"Liona... Kamu sudah bangun? Ada yang sakit? Mau minum?" Tanya Winda lembut seraya merapikan rambut tipis sahabatnya. "Aku gak apa-apa, Win... Cuma masih lemas." Jawab ​Liona menggeleng lemah, bibirnya tersenyum tipis penuh kepedihan.​Tak berselang lama, ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Mbok Nem melangkah masuk.​"Mbak Winda, Suster... makan malam sudah siap. Dan menu khusus buat Mbak Liona juga sudah dibikin sama Bibi di bawah," ujar Mbok Nem ramah namun penuh rasa iba menatap Liona.​Winda meno

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 154

    ​Melihat kondisi Liona yang semakin tak karuan, Suster Maya segera mengambil tindakan cepat.Sebagai perawat profesional, dia tahu betul bahwa stres berat bisa berakibat fatal bagi kondisi fisik Liona.​"Mbak Winda, tolong pegang sebentar tangan mbak Liona," ujar Suster Maya sigap sambil beranjak mengambil obat penenang di meja.“Baik sust!” Sahut Winda langsung mengambil alih posisi suster Maya.​Suster Maya kembali mendekat, menyodorkan obat penenang tersebut ke bibir Liona."Mbak Liona... minum obat ini dulu ya, Sayang. Biar hatinya lebih tenang dan tidurnya nyenyak."​Liona menatap pil kecil itu dengan tatapan kosong, lalu menggeleng pelan."Aku... aku gak mau minum obat, Suster... Aku mau pergi dari sini" ucap Liona lirih.​"Minum ya, mbak. Demi kesehatan mbak Liona sendiri," bujuk Suster Maya penuh kelembutan.“Iya, Li. Minum ya obatnya!” Imbuh Wilda merayu.Akhirnya Liona mengangguk, dan mulai meminum obat tersebut dengan dibantu suster Maya.Tak berselang lama, efek dari obat

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 153

    ​Di dalam kamar Liona, suasana terasa begitu kelam. Liona duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar hebat dan nafas yang tersengal-sengal.Air mata terus mengalir deras membasahi pipinya yang pucat, menumpahkan rasa hancur atas pengkhianatan yang baru saja dia ketahui.​Suster Maya, yang berdiri di sampingnya, dengan penuh kesabaran merangkul bahu Liona yang ringkih."Mbak Liona... tenang ya. Tarik nafas pelan-pelan..." bisik Suster Maya lembut, sembari mengusap punggung Liona tanpa henti demi menjaga agar emosi dan fisik sang pasien yang baru membaik dari kemoterapi tidak mendadak drop lagi.​Dengan jemari yang bergetar hebat, Liona meraba meja dan meraih ponselnya.Hatinya yang teriris mendesaknya untuk mencari perlindungan. Dengan mata yang bengkak oleh air mata, dia menekan nomor telepon sang papa.​Tak berselang lama, sambungan telepon pun terhubung.​"Halo, Liona? Ada apa, Sayang? Tumben menelepon Papa jam segini," suara Pak Pramoedya terdengar di seberang sana, hangat dan

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 152

    ​Suasana di kamar Tante Meri mendadak memanas di antara Tante Meri dan Rehan. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan nafas memburu, dikuasai oleh ketegangan yang sudah lama terpendam.​"Rehan, apakah kamu yakin dengan semua keputusanmu!" seru Tante Meri dengan suara tajam, menatap mata pemuda itu penuh tuntutan."Kenapa tiba-tiba kamu ngotot ingin mengakhiri hubungan kita sekarang? Apakah tidak ada cara lain, Rehan?" Rengeknya.​Rehan menggelengkan kepala. Dia mengepalkan kedua tangannya"Tante... Keputusanku sudah bulat, jika terus-terusan begini, setiap aku dekat dan melihat Liona, hati selalu dihancurkan oleh rasa bersalah!" Tegas Rehan.​"Tapi bukan berarti kita harus mengakhirinya seperti ini, Rehan! Hubungan kita memang salah, tapi mengakhirinya itu bukan keinginanku, aku sangat membutuhkanmu, Rehan!" ​"Kalau kita teruskan, kita sama saja mendoakan kematian Liona, Tante! Aku sudah tidak sanggup hidup dalam kebohongan ini!"​Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar, seseoran

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 151

    ​Hari berganti hari dengan ritme yang lambat dan penuh ujian. Waktu terus berjalan, membawa Liona melintasi minggu-minggu melelahkan dalam perjuangan panjang melawan penyakitnya.Gadis itu kini telah menjalani beberapa siklus kemoterapi di rumah sakit. Efek samping dari obat-obatan keras tersebut mengubah fisiknya secara drastis.Tubuh Liona tampak semakin kurus kering, dan mahkota indahnya rambut hitam panjang yang dulu sangat dibanggakannya, kini menipis drastis dan mengalami kerontokan di setiap helainya.​Hari ini adalah hari Minggu. Siang menjelang sore, Rehan datang berkunjung untuk menemui Liona.​Di dalam kamar tidur yang luas, Liona sedang bersandar di atas ranjang dengan balutan syal tipis menutupi kepalanya yang kini botak separuh akibat rontok. Suster Maya sedang merapikan bekas obat yang baru diminum oleh Liona, sementara Rehan duduk setia di tepi ranjang, menggenggam jemari Liona yang terasa kian rapuh.​"Rehan, makasih ya sudah mau datang nemenin aku terus setiap akhir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status