Beranda / Romansa / Terjerat Gairah Sahabat Kakakku / AJARI AKU MEMUASKAN PRIA!

Share

Terjerat Gairah Sahabat Kakakku
Terjerat Gairah Sahabat Kakakku
Penulis: Anonara

AJARI AKU MEMUASKAN PRIA!

Penulis: Anonara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-05 14:54:27

“Lihat, deh! Dia Jasmine Dominic, kan?”

Ketika Jasmine sedang menikmati waktu santainya sendirian di cafe, terdengar sekelompok wanita membicarakannya.

Jasmine tidak peduli. Ia menyeruput kopi sambil membaca berita terkini tentang pencalonan ayahnya sebagai Gubernur kota Venandria.

“Iya, tunangan Erick Cliffton yang diselingkuhin itu. Padahal kita semua tahu, dia cinta mati sama Erick.”

“Cantik, sih. Tapi, sok suci. Makanya, Erick bosen dan selingkuh sama Sekretarisnya sendiri,” timpal yang lain.

“Eh, denger-denger … Sekretaris Erick sahabatnya Jasmine, ya? Namanya Clara. Katanya, Jasmine sendiri yang kenalin Erick ke Clara.”

Dada Jasmine terasa sesak mendengar komentar-komentar negatif tentangnya.

Di lingkaran elite kota Venandria, Erick selalu menyombongkan diri. Erick berkata, Jasmine selalu mengejarnya karena ia berasal dari keluarga Cliffton yang kaya raya.

Erick juga berkata, ia terpaksa menerima pertunangan mereka demi ayahnya. Jadi di mata teman-temannya Erick, Jasmine tidak lebih seperti seekor lalat yang menempel.

Jasmine berdeham, “Hemm ….”

Tidak lama, salah satu wanita histeris hingga menarik perhatian orang-orang.

“Astaga! Cepet buka channel W******p Inggrid Michelle! Inggrid bilang, Jasmine sendiri yang memergoki Erick dan Clara lagi berhubungan intim.”

Lalu, semua orang menoleh ke arah Jasmine yang berwajah masam. Jasmine justru sibuk memasukkan tablet ke tasnya. Lalu, beranjak pergi.

Sial!

Semua yang mereka bicarakan memang benar. Jasmine tidak menampiknya.

Jasmine mengingatnya.

Malam itu, Jasmine menginjakkan kaki di apartemen tunangannya. Ia mendengar suara-suara erotis dari dalam kamar Erick, disusul dengan suara ranjang berderit.

Rupanya, pria sialan itu sedang berhubungan intim dengan Clara!

Jasmine yang biasanya baik hati dan cuek, tidak ingin basa-basi. Ia langsung berteriak menegur keduanya. Kemudian, melemparkan kue ulang tahun yang dibuatnya sendiri dan pergi.

Jasmine sudah melangkah mencapai pintu cafe. Tapi, ia langsung berhenti saat mendengar wanita tadi berteriak lagi.

“Astaga! Cepet buka akun I***agram. Ada klarifikasi di I***a Story Erick.”

Erick? Kali ini, apa lagi?

Kedua alis Jasmine tertaut. Ia buru-buru mengambil tablet dari dalam tas dan membuka akun I*******m Erick.

Erick sialan!

Video dengan durasi beberapa menit itu menampilkan Erick dan Clara yang berada di ruang kerja pria itu. Masih dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikit pun, pria itu menjelaskan bahwa prinsip Jasmine yang enggan berinteraksi fisik lebih dari pelukan menjadi pemicu utamanya. Pria itu merasa frustasi karena di saat ia membutuhkan sentuhan Jasmine, gadis itu seringkali menolak.

Klarifikasi Erick justru hanya menyudutkan Jasmine. Dadanya naik turun, menahan emosi yang bergejolak.

Erick yang berulah, kenapa dirinya yang disalahkan?

“Tuh, kan! Aku juga udah menduga, sih. Erick nggak mungkin selingkuh kalo nggak ada sebabnya.”

“Iya. Nggak ada asap, kalo nggak ada api. Lagian, kenapa Jasmine sekolot itu, sih? Masa diajak ciuman aja nggak mau.”

“Sekarang dia sendiri yang rugi. Masih untung Erick nggak batalin rencana pernikahan mereka. Lagian, punya tunangan cantik kalo nggak bisa nyenengin hati buat apa? Iya, nggak?”

Jasmine tidak tahan lagi mendengar komentar mereka. Ia langsung keluar dari cafe.

Sesampainya di rumah, Jasmine cemberut.

Jasmine memasuki ruang tamu. Ia melihat kakaknya—Renan, muncul dari dalam rumah membawa beberapa dokumen di tangannya.

Renan mengamati Jasmine dengan penasaran. Ia bertanya, “Loh, bukannya tadi kamu bilang mau ke studio? Kok malah di rumah?”

Jasmine berdiri di hadapan Renan. Ia menatap Damian—sahabat kakaknya, yang sedang serius menatap laptopnya.

“Ditanya malah bengong. Kenapa kamu?” tanya Renan lagi.

“Lagi badmood,” jawab Jasmine asal.

Alih-alih prihatin, Renan justru terkekeh. “Kali ini kenapa lagi? Bukan tentang Erick, kan?”

Jasmine melotot pada Renan. Kemudian, melirik Damian, berharap pria dingin itu tidak menatap ke arah mereka.

Sungguh, Jasmine sangat malu jika membahas hubungannya dengan Erick. Harga dirinya sudah dihancurkan oleh tunangan dan sahabatnya sendiri. Dan kini, semua orang membicarakannya.

Jasmine menghela napas. “Iya. Parahnya lagi, mereka menormalisasikan perselingkuhan Erick. Apalagi aku selalu nolak dicium Erick. Memangnya pria dewasa selalu mikirin hal-hal mesum gitu, ya?”

“Ehmm … gimana, ya?”

Renan mencoba mencari jawaban yang tepat untuk adiknya. Namun detik berikutnya, Renan justru menoleh pada sahabatnya.

“Coba kamu tanya ke Damian aja. Dia punya banyak pacar. Kayaknya dia lebih tahu daripada Mas. Iya nggak, Bro?”

Damian yang merasa namanya disebut, langsung menoleh. Ia menatap kakak-adik tersebut.

“Kenapa, Ren?” tanyanya.

Jasmine spontan menjawab, “Nggak ada apa-apa, Mas!”

Jasmine tersenyum manis. Ia menatap kakaknya tajam sembari berbisik, “Awas, ya! Jangan ngomong apa-apa sama Mas Damian! Aku malu!”

Sebenarnya Renan ingin tertawa lagi. Namun melihat wajah adiknya yang tampak frustasi, ia menahannya.

“Ya udah. Istirahat sana. Kalo butuh apa-apa, bilang sama Mas.”

Jasmine mengangguk. Lalu, melangkah pergi menuju kamarnya.

Di dalam kamar yang didominasi warna biru muda, Jasmine meletakkan tasnya di tempat tidur. Lalu, melepaskan cardigan rajut dan hanya menyisakan dress bertali kecil di tubuhnya.

Jasmine menghela napas panjang. “Huh!”

Jasmine merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya. Jemari Jasmine tiba-tiba meraba bibirnya sendiri sambil memikirkan hal-hal aneh.

“Gimana rasanya ciuman, ya? Kok orang-orang suka banget sampai ketagihan?”

Benak Jasmine kembali mengingat adegan panas Erick dan Clara. Erick meraba-raba tubuh telanjang Clara dengan bergairah.

Tiba-tiba terbesit ide gila di otaknya. “Aku pingin tau rasanya ciuman. Tapi sama siapa?”

Wajah Jasmine mendadak cerah. Ia segera beranjak dari tempat tidur. Setelah menguncir asal rambutnya, ia langsung keluar kamar.

Jasmine melangkahkan kaki perlahan menuju ruang tamu. Ia sangat berharap kakaknya tidak ada di rumah.

Benar saja!

Hanya ada Damian seorang di ruang tamu. Jasmine tersenyum sumringah. Meskipun sempat merasa gugup, Jasmine segera mengatasinya.

Jasmine duduk di sebelah Damian. “Mas Renan ke mana?”

“Pergi ke bar. Ada berkas yang ketinggalan.”

Damian menjawab tanpa menoleh ke arah Jasmine. Ia tetap fokus pada layar laptop.

Jasmine bersorak dalam hati. Ia memberanikan diri berinteraksi lebih intens dengan Damian. Sekarang, jarak mereka begitu dekat.

Jasmine menarik-narik lengan kemeja Damian. “Mas Damian?”

Damian menoleh. “Kamu—”

Damian terkejut saat melihat penampilan Jasmine yang seksi. Gadis yang biasanya tampil dengan cardigan atau kaos oversize itu kini hanya memakai dress selutut dengan tali tipis yang membentuk lekuk tubuhnya. Memperlihatkan area bahu dan dadanya yang cukup terbuka. Kulitnya tampak semakin cerah dengan semburat hangat di bawah cahaya lampu ruangan.

Damian cepat-cepat mengontrol ekspresinya. “Kenapa?”

Jasmine mengulas senyum ramah. Ia hanya berpura-pura tenang, padahal degup jantungnya sudah semakin tidak karuan. Gugup dan panik bercampur jadi satu. Apalagi jarak wajah Damian begitu dekat dengan dirinya.

“Hmmh… Bisa tolong bantu ajarin aku sesuatu, nggak? Please….”

Meski bingung, Damian tetap mengangguk. “Boleh. Apa itu? Bisnis? Bahasa asing? Ngomong aja.”

Jasmine menelan ludah dengan susah payah. Ia meremas kedua sisi dressnya. Hawa di sekitarnya terasa semakin mencekam.

“Ajari apa, Jasmine?” tanya Damian, terdengar rendah tetapi menuntut penjelasan langsung dari Jasmine.

Jasmine menarik napas dalam, lalu berkata dengan mantap, “Ajari aku cara menyenangkan hati pria dewasa, Mas.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   HATI YANG LELAH

    Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Langit yang sepanjang hari tampak membiru cerah, kini sudah berganti gelap pekat. Tak ada matahari, melainkan taburan bintang-bintang serta bulan yang tak malu menunjukkan cahayanya. Motor vespa Sean dengan warna unik itu berhenti tepat di depan pagar rumah Jasmine. Tawa mereka berdua terus berderai, beradu dengan suara kendaraan yang berlalu lalang. Kebetulan rumah Jasmine memang berada di komplek perumahan yang penghuninya memang aktif beraktivitas jika masih jam segini. Jasmine segera turun dari jok belakang. Kemudian lekas melepaskan helmnya untuk segera diberikan kepada Sean. "Makasih, ya. Kamu hari ini udah mau nemenin aku jalan-jalan." Sean menerima helm yang diulurkan Jasmine. Tawa kecil lolos dari bibirnya. "Santai. Besok kalau masih mau jalan-jalan kabarin aja. Nggak usah sungkan." Jasmine mendengus geli. Jemarinya bergerak pelan merapikan rambut panjangnya. "Nagih ya jadi ojek online?" Mata Sean melengkung selaras dengan bibi

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   ES KRIM MOODBOOSTER

    "Mau nangis juga nggak apa-apa. Di sini juga sepi. Jadi aman!" kekeh Sean setelah meletakkan semangkok es krim di hadapan Jasmine. Jasmine buru-buru memalingkan wajahnya ke arah taman kanak-kanak yang tidak jauh dari kedai es krim bernuansa biru dan merah muda ini. Ia tentu tidak akan menunjukkan kesedihannya ke hadapan Sean. Seperti yang tadi Sean katakan, letak meja yang dipilih pria itu letaknya di sudut outdoor kedai. Tidak terlalu ramai dibandingkan dengan di dalam kedai.Taman kanak-kanak yang justru menjadi titik pandangan Jasmine juga sudah sepi sebab sudah jadwal pulang. "Es krimnya ngambek loh kalau kamu anggurin begitu." Suara Sean masih terdengar. Jasmine tidak kunjung bersuara. Namun, ia menoleh pada sosok yang selalu menunjukkan raut bahagianya ini. Kemudian, pandangan Jasmine teralihkan ke depan meja. Meski tidak langsung tersenyum, tapi raut sedih Jasmine perlahan menguap. Tergantikan ekspresi yang tertahan untuk tidak tertawa saat melihat mangkok ukuran sedang b

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   KENYATAAN YANG SULIT DITERIMA

    "Lihat ini!" Erick menyodorkan beberapa lembar ke hadapan Jasmine. Jasmine terdiam beberapa saat. Pandangan awalnya yang menatap Erick, lalu beralih pada foto yang disodorkan Erick. Sorotnya menajam saat mengamati dua sosok yang berada di foto tersebut. Kebingungan di wajahnya memudar, perlahan tergantikan dengan raut tegang yang begitu kentara. Jasmine bahkan tak berkedip beberapa saat . Tangannya segera meraih foto tersebut agar ia bisa melihat lebih jelas, tidak hanya sekedar memastikan bahwa penglihatannya tak salah. Beberapa helai foto tersebut menampakkan sosok Damian sedang memangku seorang wanita cantik. Pose mereka saling berhadapan. Jasmine tahu, itu bukan sekedar foto untuk keperluan pekerjaan. Apalagi jika dilihat dari tempat yang ads di foto, kedekatan itu terjadi di ruangan pribadi Damian. Ruang private Damian di Amartha. Jantung Jasmine berdetak cepat. Kepalanya tiba-tiba saja dipenuhi dengan pikiran buruk tentang Damian dan wanita lain. Ketakutan samar yang awal

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   INFORMASI DARI ERICK

    "Mau ketemu Erick, kan?" Jasmine baru saja menginjakkan kakinya di depan sebuah coffe shop saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Jasmine bergeser sedikit menjauh lalu memutar sedikit badannya. Dahinya mengernyit saat menyadari bahwa Giorgino lah yang sudah menyapanya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Jasmine penuh selidik. Meskipun Giorgino adalah adik Damian, kedua pria ini sangatlah berbeda. Damian lebih serius dan penuh wibawa, sementara Gio lebih cenderung slengean dan tidak jarang berlaku kurang baik. Gio lebih suka menghabiskan banyak waktu di tongkrongan daripada membantu Damian di perusahaan. Ia juga cenderung kasar dan tidak terkontrol emosinya. Dari segi penampilan pun jauh berbeda. Damian dengan gaya formalnya sementara Gio lebih suka gaya kasual. Kesamaan mereka hanya satu yaitu santer digosipkan dengan banyak perempuan. Mirisnya sekarang Jasmine justru masuk ke dalam list wanita yang dekat dengan Damian. "Hai, calon Kakak Ipar!" Gio dengan lancangnya hendak me

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   CEMBURU PADA RENAN

    "Aakh... iya, begitu, Mas!" Jasmine terus mendesah penuh nikmat. Ia yang awalnya ingin menolah kini sudah terbaring di ranjang kamar Damian dengan mata terpejam. Tubuhnya terus merasakan kenikmatan yang tiada tara saat Damian terus menyentak tubuhnya.Jemari Jasmine mencengkeram sprei lembut di bawahnya. Sementara mulutnya terus mengeluarkan desahan yang membuat Damian semakin bergairah. Sudah beberapa menit olahraga panas tersebut mereka lakukan. Tubuh mereka pun sudah polos tanpa penghalang apapun. Pakaian mereka sudah tergeletak sembarangan di lantai. Damian terus menggerakkan tubuhnya di atas Jasmine. Pikirannya tidak lagi tertuju pada Renan yang kemungkinan akan marah jika tau ia melakuan ini pada sang adik. "Aah, terus, Mas!" racau Jasmine lalu mengigit bibir bawahnya. Sementara Damian yang mulai merasakan rasa nikmatnya sudah hampir di puncak, semakin mempercepat tempo gerakannya. "Aaakh... Jasmine, saya sudah mau keluar!" tekan Damian serak. Jasmine tidak lagi menjawab.

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   PAGI PENUH GAIRAH

    "Kalau rasanya agak aneh, jangan protes ya, Mas. Aku benar-benar hanya mengikuti instingku." Jasmine meletakkan piring Damian di hadapan pria itu. Sementara dirinya segera duduk di kursi di samping Damian. Di hadapannya juga sudah tersedia sepiring makanan yang siap ia santap. "Kalau tidak enak berarti harus ada kompensasinya." Damian mengatakan itu sembari menatap makanan di hadapannya dengan datar. Jasmine menahan diri untuk tidak tertawa. Bukannya takut, nada serta sorot kesal Damian justru terdengar menggelikan di telinga Jasmine. Sayangnya meski sudah berusaha ditahan, suara tawa Jasmine pun terdengar samar di telinga Damian. Pria itu menoleh. Kemudian, memandangi wajah gadis kecil yang berhasil menggodanya pagi ini. "Saya serius soal itu, Jasmine. Lagipula meeting yang Renan katakan ke kamu itu tidak terlalu penting untuk saya sekarang." Jasmine mendadak takut. Nada bicara Damian menjadi rendah tetapi penuh penekanan. "Kompensasinya bukan....""Iya. Saya mungkin akan mem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status