Share

BUJUK RAYU

Penulis: Anonara
last update Tanggal publikasi: 2025-11-05 14:57:17

Gimana, Mas? Bisa, kan? Please….”  Tangan Jasmine berada di atas tangan Damian.

Hening.

Damian berdeham. Ia masih tidak percaya gadis polos di sampingnya ini akan meminta hal yang tidak masuk akal seperti itu. Apakah kepala adik sahabatnya ini baru saja terbentur dinding? 

Netra pekat Damian menatap lurus pada Jasmine. “Kamu sadar dengan permintaanmu itu?”

Jasmine mengangguk. Wajahnya tampak pias. Apalagi, cara Damian  menatapnya membuat Jasmine semakin diliputi rasa tidak nyaman. Ia tahu ini gila. Namun, Jasmine bisa apa? Harga dirinya sudah dihancurkan oleh mantan tunangan dan sahabatnya sendiri. 

“Saya nggak bisa,” jawab Damian datar. 

Jasmine melepaskan tangannya dari tangan Damian. Wajahnya langsung merengut kesal sembari ia beranjak dari duduknya.

“Kenapa?”

Damian mengamati Jasmine. Selang beberapa saat, kedua sudut bibir pria itu terangkat samar. Pria itu tidak langsung menjawab. Fokusnya justru terarah kepada laptop yang beberapa saat sempat ia abaikan.

“Saya sibuk. Nggak ada waktu ngurusin begituan.” 

Jasmine hendak protes kembali. Namun, bersamaan dengan itu derap langkah seseorang terdengar dan tidak lama kemudian disertai dengan terbukanya pintu rumah. 

“Bro, ini berkasnya!” seru Renan dengan sumringah.

Senyum Renan langsung lenyap melihat Jasmine yang berdiri di dekat Damian dengan pakaian cukup terbuka dari biasanya. 

Damian yang bisa menangkap tatapan Renan, langsung bersuara, “Mana, Ren? Sini aku lihat dulu.” 

Tangan Damian terulur meminta berkas yang kini di tangan Renan. Fokus Renan pun tertuju pada Damian dan pekerjaan mereka. 

Jasmine pun urung melanjutkan bujukannya. Bersamaan dengan Damian yang kini sibuk berdiskusi dengan Renan, Jasmine berbalik pergi. Rasa malu yang masih menempel membuatnya mendadak haus. Jasmine membuka kulkas dan mengambil botol minuman dingin, barulah setelah itu ia meraih gelas yang di meja.

Kepalanya begitu berisik memikirkan strategi untuk membuat Damian bersedia. Tangannya menuangkan minuman ke gelas, sementara matanya menatap kosong ke depan. 

“Dapur bisa banjir kalau kamu bengong begitu.”

Damian tiba-tiba berada di belakang Jasmine. Tangannya yang berada di atas tangan Jasmine langsung menarik botol yang mereka pegang. 

Kemudian botol tersebut diletakkan di atas meja, sementara gelas milik Jasmine sudah terisi penuh.

“Jangan kebanyakan melamun. Baru air, kalau api gimana? Bisa-bisa dapur yang terbakar!” cibir Damian. 

Dengan tenang,  Damian menuangkan air ke gelasnya dengan tenang. Setelah itu menggeser gelasnya ke hadapan Jasmine. 

Jasmine menoleh. “Apa?”

Sorot mata Damian begitu tenang. Bibirnya lalu menyunggingkan senyum tipis.

“Minum dulu. Supaya amarah kamu sedikit reda. Saya akan menganggap kamu nggak pernah mengutarakan permintaan konyol seperti tadi.” 

Damian bersandar pada meja dapur dengan kedua tangan terlipat di depan dada. 

Sialan!

Jasmine justru terpaku pada lengan pria itu. Tiba-tiba saja, pemandangan urat-urat yang menonjol di sana membuat dadanya mendadak berdebar tak karuan.

Mata tenang Damian menyipit sebelum akhirnya ia menyadari bahwa gadis kecil di depannya ini justru menatap ke arah lain. Binar mata Jasmine yang menatap lengannya menimbulkan hasrat lain yang tiba-tiba muncul dari tubuhnya. Damian menelan ludahnya. 

“Kalau nggak mau minum, ini buat saya.”

Damian segera mengambil alih gelas yang tadi ia berikan ke Jasmine lalu meneguknya. 

Suara Damian membuat Jasmine tersentak kaget.  “Hah? I...Iya. Minum aja, Mas!” 

Mata Jasmine lagi-lagi terarah pada hal yang tidak seharusnya. Naik turun jakun Damian membuat hawa di sekitar gadis itu menjadi panas. 

Otakmu, Jas! Kenapa jadi ketularan mesum begini!

Buru-buru Jasmine mengambil gelas yang baru saja diletakkan Damian di meja. Tanpa berpikir panjang, ia segera meneguk minuman tersebut. Sumpah demi apapun, ini adalah kali pertamanya berpikir mesum seperti ini.

“Kamu pernah ciuman?” 

“Uhuk!” 

Jasmine terbatuk. 

Damian bergeser agar lebih dekat. Tangannya dengan cepat mengambil alih gelas Jasmine, sementara tangannya yang lain menepuk punggung Jasmine pelan. 

“Kamu berani meminta hal konyol itu pada saya, giliran ditanya begitu langsung kaget.” 

Batuk Jasmine mulai reda, sementara napasnya mulai teratur.  “Itu privasi, Mas. Nggak sopan nanya begitu.”

Damian terkekeh, lalu menatap Jasmine dengan cukup mengejek. 

“Melihat dari gelagat kamu sepertinya memang belum.”

Jasmine melempar tatapan tajam pada Damian. Alih-alih membuat Damian berhenti tertawa, kemarahan Jasmine membuatnya terlihat menggemaskan. 

Apalagi bibir merah alami itu mengerucut lucu. Pikiran mesum Damian ingin merasakan benda kenyal itu. 

“Ciuman aja belum pernah sok-sokan mau menyenangkan hati pria dewasa. Yang kamu minta barusan tidak sesederhana itu, Gadis Kecil. Jadi jangan konyol.” 

Tangan Damian terulur mengusap rambut Jasmine. Damian harus segera pergi, berdua dengan gadis kecil di depannya ini membuat pikiran mesumnya kambuh.

Namun, saat Damian hendak bersiap pergi, Jasmine dengan nekat menarik kerah kemeja Damian. Mata Jasmine terpejam, kakinya berjinjit untuk meraih bibir Damian dan dalam sekian detik ia berhasil menempelkan bibirnya pada bibir Damian. 

Damian dengan cepat menguasai dirinya. Ia tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Bibir yang sejak tadi menggoda untuk disentuh itu tidak akan ia lepaskan dengan cepat.

Saat tubuh Jasmine hendak melepaskan diri, satu tangannya segera menarik pinggang Jasmine. Sedangkan satu tangannya menahan tengkuk Jasmine untuk memperdalam ciuman amatir gadis itu. 

“Dam!” Suara Renan terdengar dari ruangan lain. 

Meski tidak sepenuhnya rela, Damian pun melepaskan Jasmine. Satu sudut bibir Damian terangkat. Apalagi melihat wajah polos Jasmine yang memerah disertai napas yang masih memburu. 

“Loh, kamu di sini?” Renan mendekat dengan santai. 

Damian berbalik menatap sahabatnya. “Haus, Nan. Mana cuaca panas banget ini, jadi butuh yang segar-segar. Kamu juga ngapain lama banget di toilet?” 

“Sakit perut, Bro. Bahaya kalau tidak dikeluarkan dengan tuntas,” sahut Renan dengan cengiran.

Jasmine masih diam. Ia masih shock dengan yang terjadi barusan. Niat awalnya hanya mencium bibir Damian seperti yang ia lihat di drama. Mana tahu kalau tiba-tiba Damian justru ikut menyesap bibirnya. 

“Kamu kenapa, Jasmine?” Mata Renan menyipit mengamati Jasmine curiga. 

Jasmine menggeleng cepat. Kemudian tanpa sengaja matanya menatap Damian yang begitu tenang. Jasmine mendengus tanpa sadar, lalu kembali menatap Renan.

“Aku baik-baik aja, Mas.”

“Wajah kamu merah. Kamu sakit?” Tangan Renan memeriksa kening Jasmine khawatir. 

Mata Jasmine membulat. Kedua tangannya spontan menyentuh  kedua pipinya. Renan benar, hawa di kedua pipinya  begitu panas. 

“Kayaknya sih iya. Aku ke kamar dulu, ya.” Tanpa menunggu jawaban Renan, Jasmine segera pergi.

Damian menatap kepergian Jasmine. Bibir manis yang baru ia rasakan itu hampir saja membuatnya hilang kendali. Renan yang menyadari tatapan Damian, langsung bersuara dengan penuh penekanan.

“Jaga mata, Damian. Dia nggak sama kayak pacar-pacar kamu yang centil itu.” 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   BAHAGIA SEMPURNA (AKHIR)

    "Udah sana keluar! Ngapain tetap di sini? Kelamaan malah menyesal nanti!" Damian sudah setengah geram dengan lamanya Renan bergerak keluar mobil. Beberapa jam yang lalu, Damian baru saja sampai di rumah setelah beberapa hari berada di luar kota. Malam begitu syahdu. Aroma khas hujan masih menyeruak dari alam sekitar. Bahkan uap jalanan masih terasa. Sore tadi kota diguyur hujan lebat. Beruntung langsung berhenti saat menjelang malam. Namun, dinginnya cuaca sangat terasa di kulit. Damian menghembuskan napasnya lelah. Jika saja statusnya dengan Renan bukanlah hubungan keluarga, tentu ia tidak akan bersedia menyetir sendiri hingga 3 jam hanya demi menggagalkan kencan Maurin. Sesampainya mereka di restoran tempat Maurin dinner, Renan hanya duduk tanpa suara di samping Damian. Menyebalkan. "Keluar atau—""Menurut kamu saya sudah cukup pantas untuk bersama Maurin? Terutama di hadapan keluarga kamu." Renan mengatakan itu dengan tenang. "Yang tahu jawabannya kamu sendiri, Bro! Gimana b

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   PROVOKASI RENAN

    "Kenapa nggak jujur aja? Aku nggak sebodoh itu loh sampai gak tahu perasaan Mas yang sebenarnya." Jasmine duduk dengan meletakkan segelas orange jus di meja, tidak jauh dari Renan sedang bermain ponsel. Malam ini Jasmine memutuskan menginap di tempat sang ayah. Tentunya setelah Alan terus membujuk sebab sangat merindukan cucunya. Jasmine pun tidak punya alasan karena Damian juga sedang berada di luar kota sekarang. "Jangan sok tau!" tukas Renan tidak suka. Suasana malam terasa lebih syahdu. Cuaca cenderung kurang baik. Namun, menikmati semilir angin yang menerpa kulit membuat Jasmine ingin bergabung dengan kakaknya di teras samping. "Minum dulu. Tadi jeruknya titipan dari Kak Maurin. Katanya sebagai permintaan maaf karena dinnernya batal." Jasmine melipat bibir menahan tawanya teringat dengan wajah bersalah Maurin yang berujung dengan wajah Renan yang ditekuk dalam. Pria itu bahkan memilih untuk menghabiskan waktu malamnya dengan bermain game dari ponsel. Sesuatu yang sudah lama

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   KITA, PACARAN!

    "Kenapa diam? Tuh kan, kamu memang gak mau." Maurin tersenyum miring, lalu membuang muka. Dugaannya benar. Renan memang hanya menggertak Damian dengan mengajaknya pacaran. Jangankan dicium, memegang tangan Maurin saja Renan tidak pernah mau. Apa yang terjadi semalam pengecualian. Itu kepepet. "Kenapa masih di sini? Sana pergi! Terima kasih atas bantuannya semalam." Masih dalam mode ketus, Maurin sengaja melepaskan perhatiannya dari Renan. Namun, tidak dalam bertahan lama. Sebab hanya dalam hitungan detik setelah Maurin bersikap ketus, tiba-tiba saja seseorang menarik dagu Maurin. Pupil Maurin membulat. Tiba-tiba saja rasa gugup sekaligus menegangkan menyergap dirinya. "Ka... kamu mau ngapain?" tanya Maurin menatap Renan gugup sekaligus panik.Beberapa saat yang lalu ia memang meminta Renan menciumnya. Tapi jujur, tujuannya hanya untuk menguji Renan saja. Maurin mana berani benar-benar mengatakan itu pada Renan. Malu! "Melakukan apa yang kamu minta." Renan merangkum kedua sisi

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   CIUM AKU!

    "Renan tidak benar-benar mencintai Maurin. Saya tidak bisa mentolerir itu. Bagaimana pun Maurin adalah adik saya." Jasmine menatap Damian tidak mengerti. Dia sendiri tidak bisa menebak isi hati kakaknya. Namun, kini sang suami malah memberikan jawaban yang Jasmine sendiri tidak sangka sebelumnya. Renan hanya pura-pura menyukai Maurin? Atau Renan hanya sekedar menjadikan Maurin tameng agar tidak dipaksa ayah mereka untuk kencan buat dengan wanita-wanita random putri dari kenalan ayah mereka. Sejauh ini Jasmine memang kurang bisa memahami isi pikiran sang kakak yang sering menunjukkan senyum itu. "Jangan terlalu dipikirkan. Itu masalah saya dengan kakak kamu." Damian mengusap puncak kepala Jasmime dengan lembut. Seperti biasa, senyum pria itu selalu terbit dengan sangat sempurna saat di hadapan Jasmine. "Mas Renan tahu sesuatu, ya?" cicit Jasmine, menatap Damian penuh rasa khawatir. Damian terdiam. Senyumnya masih tersemat manis. Sejenak ia menunduk, menyamakan tingginya dengan s

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   KONSPIRASI?

    "Kalian...?" Damian menatap Renan dan Maurin bergantian. "Enggak!" sangkal Maurin. Tanpa Damian melanjutkan kalimatnya, Maurin jelas tahu apa yang ada di pikiran Damian setelah menemukannya tertidur di sofa yang sama dengan Renan. Dalam kondisi berpelukan pula. Sementara itu, Jasmine yang duduk di samping Damian hanya diam. Membiarkan suaminya menginterogasi langsung sang kakak dengan Maurin. Tidak hanya Jasmine, Damian pun ikut terkejut saat melihat Maurin dan Renan begitu mesra di sofa ruang tengah satu jam yang lalu. Keduanya sama-sama tidak mengira kedekatan orang terdekat mereka itu ternyata sudah sejauh itu. "Lalu tadi apa? Kalian tidak mungkin tidur berdua seperti itu jika tidak punya hubungan apapun, kan?" tanya Damian curiga. Nada bicara Damian memang tidak meninggi sama sekali. Terkesan tenang. Namun, Jasmine sangat memahami bahwa saat ini Damian sedang dikuasi amarah. Ruang tengah tempat mereka duduk sekarang menjadi menegangkan. Jasmine jelas tidak menyukai hal sepe

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   GAGAL MOVE ON

    "Jangan pergi!" Maurin segera memeluk Renan dari belakang. Langkah Renan terhenti. Napasnya tertahan sejenak. Apalagi saat ia merasakan tidak hanya pinggangnya yang ditahan Maurin, melainkan punggung pun dijadikan gadis itu sebagai tempat bersandar. Apartemen Damian yang sering mereka jadikan tempat singgah itu mendadak panas. Layaknya Renan yang merasakan jantungnya berdebar lebih cepat, suara gerak jarum jam pun terasa cepat. Kedua tangan Renan terkepal di sisi tubuh. Ia hanya bisa melihat sosok Maurin dari bayang-bayang yang tercetak di lantai sebab lampu utama yang tidak dihidupkan. Kamar yang dikhususkan untuk Maurin itu memang lebih sering diterangi dengan lampu dinding yang memberikan efek warm di ruangan. "Aku mohon jangan pergi. Temani aku." Renan menggerutu dalam hati. Suara lirih Maurin membuat Renan lemah. Apalagi tangan gadis itu semakin mendekap Renan kencang. Renan sadar, Maurin pasti masih trauma dengan kejadian beberapa jam di bar tadi. Pria tidak bertanggung

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   PERINGATAN RENAN

    "Tadinya aku pikir Mas bakalan marah. Kan jawabannya belum aku kasih tahu," ucap Jasmine, polos tanpa maksud lain.Jasmine membalas pelukan Damian. Tangannya yang kecil mengusap pelan punggung kokoh pria itu. "Maunya begitu. Tapi nggak bisa. Kayaknya saya memang nggak bisa jauh dari kamu," ujar Da

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   TERSANGKANYA!

    "Semua bukti mengarah ke mereka. Terutama Gio. Pierre sudah menyelidiki ini semua." Damian melempar beberapa lembar foto ke atas meja. Foto berupa pertemuan Giorgiono dan Erick dengan tersangka yang sudah menyabotase mobil Jasmine. Tak ada sedikitpun senyum di wajah Damian. Kehilangan calon anak

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   INGIN LEBIH DEKAT

    "Saya akan segera memberikan laporannya. Secepatnya akan saya—" "Ssst!" Damian menahan lengan Pierre yang hendak masuk ke ruangannya. "Diam sebentar." Pierre langsung menurut patuh. Pria itu mengekori Damian yang telah melangkah hati-hati saat masuk ke ruangannya sendiri. Damian baru saja menyel

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   SAMSAK

    "Lepaskan saya, Brengsek!" "Diam!" "Hei! Lepaskan, saya!" Erick yang ditutup matanya itu dipaksa berjalan oleh dua orang bertubuh tinggi besar. Aroma busuk dan pengap memenuhi rongga hidungnya. Suara gesekan alas kaki yang terdengar seperti percikan membuat Erick bisa menebak bahwa sekarang ia b

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status