Share

CIUMAN PENUH HASRAT

Author: Anonara
last update Last Updated: 2025-11-05 15:12:20

Mas Damian: Di ruangan saya. Jam 7 malam.

Sudah berulang kali Jasmine membaca pesan singkat yang Damian kirim tadi siang. Ia juga sudah beberapa kali mengatur ritme napasnya agar lebih tenang. 

Nyatanya berada di lantai paling atas Amartha’s bar membuatnya semakin gugup. Alih-alih tenang, cuaca dingin malam itu tidak lantas membuat tangannya berhenti berkeringat dingin. 

Tenang Jasmine! Ini demi harga dirimu!

Satu tangan Jasmine mengepal dan terangkat ke arah pintu. Ia menarik napas dalam, masih berusaha menepis rasa gugup dan cemas dirinya. Lalu kepalan tersebut mengetuk pelan pintu.

“Masuk!” sahutan dari dalam terdengar samar.

Jasmine lalu membuka pintu besar tersebut perlahan, seiring dengan kakinya yang memasuki ruangan Damian. Segala sesuatu yang ada dalam ruangan itu terasa mengintimidasi dirinya. Sama seperti pemiliknya.

Jendela besar yang dibiarkan tidak tertutup tirai, beberapa botol minuman yang Jasmine perkirakan adalah wine mahal pun tersusun rapi di rak kayu mewah, pencahayaan ruangan yang terasa hangat. Aroma ruangan yang seharusnya menenangkan pun ikut membuatnya berat untuk melangkah.

“Mau sampai kapan kamu diam seperti patung di situ?” Suara berat milik Damian menyadarkan Jasmine. 

Mata Jasmine menatap lurus Damian. Mulutnya masih terkatup rapat. Jemarinya saling bertaut. Bahkan cardigan panjang yang ia pakai tidak lantas menghalau rasa dingin tubuhnya. Sungguh, berdua dengan Damian dalam satu ruangan seperti ini membuat Jasmine gemetar. 

“Mendekatlah, Jasmine. Kita tidak akan bisa mulai kalau kamu masih di situ.” Damian masih duduk tenang di kursinya. 

Malam ini Damian akan mengajarkannya cara berciuman. Itulah alasan terbesar Jasmine merasa gugup.

Kaki Jasmine mulai bergerak pelan.  

Damian mengamati pergerakan Jasmine. Ia juga sengaja memundurkan lalu mengubah sedikit arah kursinya saat Jasmine mulai mendekat. Namun, Jasmine justru berhenti di ujung meja. Cukup jauh dari posisi Damian.

Satu alis Damian terangkat. Kemudian ia menepuk pahanya. “Di sini Jasmine. Kecuali kalau kamu memang mau saya menyentuhmu di atas meja.” 

Mata Jasmine melotot. Ia menelan ludahnya dengan sulit. Berada dalam satu ruangan dengan Damian saja, ia sudah gemetar. Apalagi jika harus duduk di pangkuan pria itu?

Jasmine mengigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar dengan kencang. “Harus duduk di situ? Tapi akan terasa tidak nyaman, Mas.” 

Damian menghela napasnya gusar. “Kamu yang ke sini atau saya yang paksa?” 

“Mas ….” rengek Jasmine. 

“Saya baru akan mengajarimu berciuman, Jasmine. Belum benar-benar meniduri kamu. Jadi, tenangkan dirimu.” Damian berusaha sabar. 

Tangannya sudah gatal ingin menarik Jasmine ke pangkuannya. 

Jasmine buru-buru mendekat. Namun, gerakannya kalah cepat dengan Damian yang lekas menariknya hingga terduduk di pangkuan pria itu. 

“Mas, ini terlalu dekat!” pekik Jasmine spontan. 

Ini adalah kali pertama Jasmine sedekat ini dengan pria asing.

Damian mengabaikan peringatan Jasmine. Lengannya mendekap pinggang ramping gadis itu hingga semakin mendekat padanya. Bahkan saat Jasmine menghadapnya, reflek membuat dada mereka saling menempel. 

“Mas!” rengek Jasmine lagi. 

Kedua telapak tangannya terus mendorong dada Damian agar tercipta jarak dengan pria itu.

“Tenang, Jasmine. Semakin kamu berontak, semakin lama kamu di sini!” tegur Damian datar.

Dorongan Jasmine mengendor. Kemudian, tanpa sadar ia meremas kemeja depan Damian. Jasmine yakin, Damian bahkan bisa mendengar degup jantungnya.  

Tangan Damian mengangkat dagu Jasmine, membuatnya mendongak. Mata Jasmine seakan tersihir dengan sorot mata tajam milik Damian. Ia terpaku sejenak. Kesadarannya baru kembali saat Damian deru napas hangat Damian menerpa telinganya. Menimbulkan gelenyar aneh tubuhnya.

“Ikuti saya, Jasmine. Jangan tegang. Tenang, ya,” bisik Damian. Kemudian, kembali mengangkat wajah, mengunci tatapan Jasmine.

Jasmine mengangguk. Damian semakin memajukan wajahnya. Bibir Damian menyentuh bibir Jasmine, sekedar melihat kesiapan Jasmine. Lalu kembali menjauhkan wajahnya dari Jasmine. 

“Biarkan bibirmu relax, Jasmine. Jangan menutupnya terlalu kuat.” 

Jasmine mengikuti arahan Damian. Matanya lalu terpejam. Bibirnya ia biarkan sedikit terbuka siap menyentuh bibir Damian. Kali ini Damian menekannya lebih lama. Ciuman tersebut dilakukan dengan lembut. 

Damian benar-benar melakukannya dengan tenang. Bahkan kini tangan Jasmine  memeluk erat leher Damian.

Perlahan, meski kikuk, Jasmine mulai terbiasa dengan sentuhan bibir Damian. Jarak di antara mereka semakin terkikis. Damian pun membiarkan Jasmine mengikuti instingnya untuk belajar. Sampai akhirnya Damian menarik diri. Satu sudut bibirnya terangkat melihat Jasmine yang mengatur napasnya.

“Gimana rasanya?” tanya Damian langsung. 

Jemarinya terulur merapikan beberapa helai anak rambut Jasmine. 

Jasmine menunduk malu. Hawa panas kembali menjalar di pipinya. 

Bagaimana ia menjelaskan kalau ciuman Damian membuatnya hampir hilang akal?

Melihat reaksi Jasmine, bibir Damian membentuk lengkungan tipis. “Mau dilanjutkan atau kita cukupkan?”

“Hah?” Wajah Jasmine otomatis terangkat. Matanya mengerjap lucu. 

“Wajah kamu memerah. Itu artinya kamu mau lanjut.” Kemudian, Damian kembali mendekatkan wajahnya pada Jasmine. 

Bibirnya kembali menyentuh bibir merah Jasmine. Kali ini Damian sengaja menarik pinggang Jasmine agar lebih menempel padanya. Satu tangannya bergerak pelan menahan tengkuk Jasmine. 

Damian tersenyum samar di sela ciumannya saat ia merasakan Jasmine pun mulai mengikuti ritme ciumannya. Meskipun masih begitu kaku, tetapi cara Jasmine menerimanya menciptakan rasa aneh di hati Damian.

“Pelan-pelan, Jasmine,” bisik Damian di sela ciumannya. 

Jasmine tidak menjawab apapun. Namun, ia menurut. Meskipun gerakan bibirnya terasa menuntut, ia melakukannya dengan lembut. Masih dalam keadaan mata terpejam, ia mencoba berani memainkan lidahnya pada mulut pria itu. 

Gerakan itu kembali menimbulkan getaran aneh di dada Damian, membuatnya sempat terpaku. Apalagi saat bibir manis itu kembali beraksi. Damian pun ikut terbawa suasana. Jasmine seperti membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya. Damian lalu membalas pagutan Jasmine, kali ini lebih mendesak. 

“Hmmp … Mas!” Jasmine mulai tercekat. 

Damian tidak menghiraukan itu. Tangannya bahkan entah sejak kapan mulai menurunkan sisi bahu cardigan Jasmine. Bahu putih mulus itu pun bisa ia sentuh langsung. 

Jasmine mulai panik. Meskipun ia sudah menyepakati perjanjian dengan Damian, tetapi tetap saja ia belum siap jika pria ini melakukannya sekarang. Sementara itu, tangan Damian dengan lembut menyentuh kulit punggungnya langsung.

 Jasmine merasakan hal aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Astaga! Kenapa jadi begini?

“Ma—Mas!” Jasmine berusaha mendorong Damian. Namun, sia-sia.

Sampai akhirnya terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Tak lama kemudian, suara seseorang yang sangat Jasmine kenali pun terdengar.

“Bro! Masih lama nggak?”

Suara Renan tersebut seakan membangkitkan kekuatan Jasmine. Ia pun bisa melepaskan ciuman Damian yang semakin menuntut. Napas Jasmine memburu. 

“Dam!” Suara Renan kembali terdengar.

“Mas! itu Mas Renan. Gimana ini?!” Jasmine menatap Damian panik.

Alih-alih panik, Damian justru menggeram kesal. Renan mengganggu kesenangannya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   LUNTURNYA AMARAH

    "Kamu tunggu di sini, ya. Saya mau ganti baju dulu." Jasmine dan Damian sudah sampai di apartemen—tepatnya di kamar. Sesuai dengan yang dikatakam Damian tadi, Jasmine segera ia minta untuk istirahat. Baru saja Damian hendak melangkah, ujung jasnya lebih dulu ditahan Jasmine. Bibirnya mencebik, membuat Damian mengernyit. "Ada apa, Sayang?" Damian kembali duduk di bibir ranjang. Kemudian mengusap lembut pipi Jasmine. Jasmine terlihat ragu. Akan tetapi, tak urung ia katakan juga apa yang mengusik pikirannya. "Mas nggak marah? Lihat tangan aku begini dari tadi Mas bahkan nggak ngomel kayak Mas Renan biasanya." Kekehan Damian terdengar lembut. Ia tidak menyangka Jasmine akan mengatakan hal seperti itu. Tadinya ia takut Jasmine merasa tidak nyaman dengan satu tangan diperban seperti itu. Pasti kaku sekali. Dan Damian sangat mengkhawatirkan hal itu. Siapa sangka, ternyata Jasmine malah berpikir hal lain. "Mana bisa saya marah dengan kondisi kamu seperti ini. Lihat!" Damian menyentuh t

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   TRAGEDI KECIL MEMBUAT LUKA

    Jasmine baru saja keluar dari Amartha saat tidak sengaja melihat seseorang yang ia kenal berada di tepi jalan. Awalnya Jasmine tidak terlalu ingin peduli. Namun, saat lampu lalu lintas berubah warna hijau, matanya langsung terbelalak. Tanpa berpikir panjang Jasmine langsung berlari cepat menuju Clara. Perempuan hamil itu bersiap untuk mengangkat kakinya. "Clara!" seru Jasmine keras. Namun, Clara tidak mengubris. Entah memang tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, Jasmine tidak tahu. Yang ada di pikiran Jasmine adalah segera menghampiri Clara. Kaki kecil Jasmine semakin cepat melangkah. Beruntung jarak area depan Amartha dengan jalan tidak terlalu jauh. Tepat saat Clara hendak benar-benar ke tengah jalan, Jasmine berhasil menarik mantan sahabatnya itu. Sayangnya Jasmine tidak memperhitungkan dirinya pun bisa celaka. Sebuah mobil melaju cepat ke arah mereka. Suara klakson memekik kencang menulikan telinga. Clara yang baru sadar segera mendorong Jasmine ke tepi jalan. Dan tanga

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   RASANYA BURUK

    Jasmine buru-buru bangkit sembari menutup hidungnya. "Mas Damian ganti parfum, ya?" Damian menggeleng pelan. Lalu ikut duduk sembari mengendus kemeja depannya sembari memikirkan parfum siapa yang melekat di bajunya. "Mas peluk-peluk cewek, ya? Itu aroma perempuan loh." Jasmine menatap Damian curiga. Pernah diselingkuhi membuat Jasmina gampang trust issue dengan celah-celah kecil keanehan pada pasangannya. Tidak bermaksud menuduh Damian, hanya saja ia jadi kepikiran. "Ya enggaklah." Damian lalu membuka kancing kemejanya dengan cepat. Rahangnya mengeras dan ekspresinya terlihat kaku kurang suka dengan tuduhan Jasmine. Jasmine menahan tangan Damian. "Mau ngapain?" "Dibuka. Saya mau bakar sekalian kemejanya." Damian membuktikan ucapannya. Kemeja yang menjadi kecurigaan Jasmine pun ia buka di tempat itu. Kemudian tanpa bicara segera beranjak berdiri dan melangkah menuju tempat sampah. Tanpa ragu, Damian melemparkan kemeja mahal itu ke tempat sampah. Jasmine terbelalak, tidak perca

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   PARFUM SIAPA?

    "Jasmine!" Jasmine bisa mendengar suara panik Damian dari arah kamar. Benar saja, pria itu langsung keluar kamar dan langsung berlari cepat menghampiri Jasmine. "Yang mana yang sakit?" tanya Damian saat sudah sampai pada Jasmine. Damian memeriksa setiap detail kaki Jasmine. Tidak tega dengan ekspresi panik Damian, Jasmine pun menyudahi aktingnya. Tawanya pun pecah. "Tapi aku bohong!" Gelak tawa Jasmine semakin keras. Ia bahkan memegang perutnya yang terasa sakit dikarenakan terlalu banyak tertawa. Dua alis Damian saling bertaut. Hingga akhirnya ia pun sadar kalau sudah dibohongi Jasmine. "Kamu...." Damian mendekat, lalu tanpa ampun menggelitik pinggang Jasmine hingga membuat gadis itu semakin tertawa. Tawa keduanya pun memenuhi lantai dua. Seakan tanpa beban yang berarti, riangnya Jasmine membuat matanya bahkan berair. Napasnya pun tersengal-sengal. Dadanya kembang kempis. Dan tubuhnya sudah terbaring di atas lantai. Begitu pula dengan Damian. Selaras dengan Jasmine, pria itu

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   JASMINE TERJATUH

    "Maaf saya terlambat. Dia pasti sudah berbicara yang aneh-aneh tentang kamu, kan?" Damian mengendorkan pelukannya, menatap Jasmine lekat. Jasmine tercengang sesaat, sebelum akhirnya tersenyum kikuk. Kemudian melirik Pierre yang berada di barisan depan singkat. "Aku baik-baik aja. Tenang, Mas. Aku nggak selemah dulu, Mas." Senyum lebar Jasmine suguhkan untuk menenangkan Damian. Sebenarnya, Jasmine juga merasa tidak nyaman jika harus seintim ini dengan Damian di depan Pierre. Apalagi membicarakan perihal keluarga yang seharusnya Jasmine tutup aibnya dari orang luar. Sekalipun itu Pierre. Damian hendak protes, tapi Jasmine lebih dulu menepuk bahu pria itu dengan santai. Seolah-olah pertemuannya dengan Miranda barusan bukanlah hal besar. Meskipun sukses membuatnya sempat merasa tidak nyaman. "Aku beneran nggak apa-apa. Sekarang kita pulang, ya. Aku capek." Damian mengembuskan napas pelan, mengiyakan permintaan sang istri. Padahal ia sangat meragukan kata 'baik-baik' saja yang diucap

  • Terjerat Gairah Sahabat Kakakku   PERMINTAAN TAK MASUK AKAL

    "Jadi apa yang mau Tante bicarakan?" tanya Jasmine, setelah hampir sepuluh menit mereka sampai di cafe klasik tidak jauh dari butik milik Miranda. Miranda terhenyak sesaat. Namun, langsung menyunggingkan senyum tipis sebelum ia menyesap teh chamomile miliknya. "Kenapa begitu tergesa-gesa? Damian tidak mengizinkan kamu bertemu dengan saya?" Intonasi tenangnya tetap terjaga. Hanya saja tidak lantas membuat Jasmine merasa nyaman. Sebaliknya, Jasmine semakin merasa ingin segera pergi. Apalagi setelah mendikte penampilan Jasmine tadi, tidak terdapat permintaan maaf yang keluar dari mulut Miranda. Lantai atas cafe tersebut sangat tenang. Jauh berbeda dengan lantai bawah dan bagian outdoor yang tadi Jasmine lihat begitu ramai. Aroma harum sekaligus manis dessert pun menusuk penciuman Jasmine. Jasmine pun menyeruput americano dingin di hadapannya. Ia butuh sesuatu yang segar, sebelum nanti ibu mertuanya ini benar-benar menguji dirinya. Minumannya diletakkan di atas meja kembali. Menghad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status