Se connecterKamu bisa menolak jika ragu.” Damian menegakkan tubuhnya. Kemudian, kembali bersandar pada meja seperti tadi.
Jasmine menunduk. Tidak berani beradu tatap dengan Damian. Seketika ruangan besar yang didominasi warna gelap itu terasa mencekam. Aroma musk yang memenuhi rongga hidungnya membuat tubuh Jasmine merinding seketika. Tubuhku? Oh tidak, ini gila! Dalam kekalutan tersebut, tiba-tiba bayangan saat Erick berhubungan intim dengan Clara kembali muncul. Hinaan Erick, tawa culas Clara dan ejekan orang-orang di sekitarnya. Semuanya berkumpul menjadi satu. “Baiklah! Aku mau,” jawab Jasmine tegas. Wajahnya terangkat, menatap lurus pada Damian. Kali ini Damian yang terdiam. Matanya menyorot dingin sosok di depannya. Jasmine berjalan mendekat. Lalu wajahnya mendongak, menatap Damian dari jarak dekat. “Tapi rahasiakan ini dari Mas Renan, ya. Bisa mati aku kalau dia sampai tahu.” Sudut bibir Damian terangkat. Wajah dengan tatapan polos Jasmine begitu menggemaskan. “Sure. Saya setuju.” Jasmine menghela napasnya lega. “Jadi kapan kita mau mulai?” Damian terkekeh. Tangannya terulur membelai pipi mulus Jasmine. “Kamu mau kita melakukannya sekarang? Di sini?” Kaki Jasmine spontan mundur beberapa langkah. Tiba-tiba rasa takut menyelimuti tubuhnya. Keberanian yang menggebu-gebu itu menguap tanpa sisa. Apalagi saat mata Damian mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. Astaga! Rasanya seperti ditelanjangi terang-terangan! Keheningan menyergap mereka. Jasmine semakin waspada saat Damian melangkah mendekatinya. Pria bertubuh besar tinggi dengan setelan serba hitam itu membuatnya begitu kecil. Rasanya Jasmine ingin segera kabur. Tiba-tiba dengan gerakan cepat Damian melepaskan jasnya. Jasmine semakin cemas. “Mas, kamu mau ngapain?” Suaranya terdengar gemetar. Damian tidak menjawab. Lalu memakaikan jasnya ke tubuh Jasmine. “Mas, nggak perlu. Nanti bisa membuat Mas Renan curiga,” cicit Jasmine. Kedua tangan Damian berada di bahu Jasmine. “Buang saja kalau sudah sampai rumah. Sekarang saya antar kamu pulang.” Jas mahal begini malah disuruh buang. Dasar orang kaya! Kemudian tangan besar Damian menggenggam pergelangan tangan Jasmine. Gerakan itu terlalu cepat. Jasmine bahkan belum menjawab bersedia atau tidaknya diantar pulang oleh Damian. “Kamu mau saya gendong?” Wajah tanpa ekspresi itu membuat Jasmine semakin gugup. “Maksudnya?” Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut Jasmine. Damian menghela napasnya. “Saya gendong atau kamu jalan sendiri? Kecuali jika kamu memang mau menginap di sini.” “Nggak! Aku mau pulang!” seru Jasmine cepat. Saat mereka baru sampai di pintu, langkah Damian tiba-tiba terhenti. “Kamu turun duluan. Tunggu saya di bawah. Saya baru ingat ada yang harus saya lakukan sebentar.” Jasmine mengangguk. Begitu ia keluar ruangan tersebut, Jasmine langsung menghembuskan napasnya kasar. Perasaan lega sekaligus deg-degan bercampur jadi satu. Setelah lebih tenang, barulah ia mulai turun ke bawah. Saat kakinya baru sampai di anak tangga terakhir, tiba-tiba tangan Jasmine ditarik seseorang. Erick menariknya ke sudut ruangan. Wajahnya terlihat gusar. “Kamu dari mana saja?” Jasmine berusaha melepaskan genggaman Erick dari tangannya. “Lepaskan Erick!” “Kamu menghilang sejak tadi, Jasmine! Dan sekarang ….” Kalimat itu mengambang. Mata Erick mengamati jas yang dikenakan Jasmine. Dahinya berkerut. Kilatan kemarahan terlihat jelas di mata pria itu. Wajah Jasmine memucat. Ia tidak peduli dengan kemarahan Erick. Namun, jika Erick tahu ini milik Damian, bisa-bisa pria ini mengadu pada ayahnya. Lebih parah jika ia mengadu pada Renan. “Jasmine!” Jasmine menoleh pada sumber suara. Begitu pula Erick. Clara dengan penuh percaya diri berjalan menghampiri mereka. Lalu tanpa malu, ia berdiri di samping Erick. Mata Jasmine memindai penampilan Clara malam ini. Jasmine tebak, mantan sahabatnya ini pasti keluar uang banyak demi bisa tampil sempurna malam ini. Rambut hitamnya dibiarkan terurai indah, gaun hitam bertali tipis dengan belahan hingga ke paha itu menonjolkan lekuk tubuhnya. Tak lupa sebuah kalung cantik menggantung di lehernya. Jasmine menyunggingkan senyum miring. “Jadi udah mau go public sekarang?” “Jangan salah paham, Jasmine. Aku ke sini memang karena diundang Gio,” jawab Clara. Erick mengangguk samar. “Clara nggak salah apa-apa. Jadi berhenti menyalahkan dia atas apa yang terjadi dengan hubungan kita.” Tawa keras Jasmine berderai. “Kalian memang cocok. Sama-sama nggak tau malu!” “Jaga bicaramu, Jasmine!” seru Clara tidak terima. Jasmine berdecih. Kemudian, mendekatkan wajahnya ke arah Clara sembari berbisik rendah, “Kamu yang harus jaga sikapmu, Jalang!” Tangan Clara mengepal di kedua sisi tubuhnya. Namun, ia menahan itu agar bisa menarik simpati Erick. Erick yang mendengar penghinaan Jasmine terhadap Clara menjadi emosi sekaligus terkejut. Selama ini Jasmine tidak pernah berkata seperti itu. Apalagi terhadap Clara, sahabatnya sendiri. “Berhenti menghina Clara, Jasmine. Kamu tidak pantas berkata seperti itu padanya. Dia bukan jalang.” Erick menarik Jasmine agar tidak menyakiti Clara. “Lepaskan, Bajingan!” Jasmine menghempaskan tangan Erick dari bahunya. Matanya menatap tajam dua orang di hadapannya. Kemudian, Jasmine hendak pergi. Namun, Erick lagi-lagi menahannya. Muka pria itu sudah merah padam. “Mau ke mana? Acara belum selesai. Jangan bertingkah kekanak-kanakan seperti ini.” Jasmine menepis tangan Erick dengan kasar. “Stop ngatur-ngatur! Kamu seharusnya nggak usah sok manis ngajak aku ikut. Toh di sini juga ada Jalang itu!” “Aku tunangan kamu!” desis Erick, penuh penekanan. “Bagi aku, kamu bukan siapa-siapa. Lagian aku juga nggak berminat untuk menjadi istri pria bekas si Jalang.” Jasmine menunjuk Clara dengan matanya. Bibirnya membentuk senyum sinis. Raut Clara berubah tegang. Erick pun demikian. Namun, Jasmine tidak peduli. Tanpa menghiraukan kedua orang tersebut, ia pun lekas meninggalkan tempat itu. Dua orang itu memang penghancur mood! Sesampainya di depan bar, tiba-tiba sebuah mobil hitam datang. Kaca mobil diturunkan dan menampakkan Damian sedang duduk tenang. Jasmine pun melangkah mendekat, lalu ikut duduk di barisan yang sama dengan Damian. Namun, ia sengaja duduk di dekat pintu mobil. “Lebih dekat, Jasmine. Saya bukan kuman sampai-sampai kamu harus duduk jauh begitu,” protes Damian. Matanya tajam menusuk Jasmine. Dia bahkan lebih bahaya dari kuman! Damian yang gusar melihat Jasmine masih tanpa gerakan lekas menarik pinggang gadis itu hingga membuat mereka berdekatan tanpa jarak. Damian tahu tubuh Jasmine langsung kaku. Namun, perjanjian adalah perjanjian. Ia harus memperingatkan Jasmine agar tidak mendadak lupa. “Perjanjian kita mulai berlaku malam ini. Saya bisa saja melakukannya di sini sekarang. Jadi, bersikap manislah, Gadis Kecil!” bisik Damian. Kemudian, sengaja menyentuh daun telinga Jasmine dengan bibirnya. Oh God! Kenapa jantungku tiba-tiba menggila begini?"Kamu tunggu di sini, ya. Saya mau ganti baju dulu." Jasmine dan Damian sudah sampai di apartemen—tepatnya di kamar. Sesuai dengan yang dikatakam Damian tadi, Jasmine segera ia minta untuk istirahat. Baru saja Damian hendak melangkah, ujung jasnya lebih dulu ditahan Jasmine. Bibirnya mencebik, membuat Damian mengernyit. "Ada apa, Sayang?" Damian kembali duduk di bibir ranjang. Kemudian mengusap lembut pipi Jasmine. Jasmine terlihat ragu. Akan tetapi, tak urung ia katakan juga apa yang mengusik pikirannya. "Mas nggak marah? Lihat tangan aku begini dari tadi Mas bahkan nggak ngomel kayak Mas Renan biasanya." Kekehan Damian terdengar lembut. Ia tidak menyangka Jasmine akan mengatakan hal seperti itu. Tadinya ia takut Jasmine merasa tidak nyaman dengan satu tangan diperban seperti itu. Pasti kaku sekali. Dan Damian sangat mengkhawatirkan hal itu. Siapa sangka, ternyata Jasmine malah berpikir hal lain. "Mana bisa saya marah dengan kondisi kamu seperti ini. Lihat!" Damian menyentuh t
Jasmine baru saja keluar dari Amartha saat tidak sengaja melihat seseorang yang ia kenal berada di tepi jalan. Awalnya Jasmine tidak terlalu ingin peduli. Namun, saat lampu lalu lintas berubah warna hijau, matanya langsung terbelalak. Tanpa berpikir panjang Jasmine langsung berlari cepat menuju Clara. Perempuan hamil itu bersiap untuk mengangkat kakinya. "Clara!" seru Jasmine keras. Namun, Clara tidak mengubris. Entah memang tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, Jasmine tidak tahu. Yang ada di pikiran Jasmine adalah segera menghampiri Clara. Kaki kecil Jasmine semakin cepat melangkah. Beruntung jarak area depan Amartha dengan jalan tidak terlalu jauh. Tepat saat Clara hendak benar-benar ke tengah jalan, Jasmine berhasil menarik mantan sahabatnya itu. Sayangnya Jasmine tidak memperhitungkan dirinya pun bisa celaka. Sebuah mobil melaju cepat ke arah mereka. Suara klakson memekik kencang menulikan telinga. Clara yang baru sadar segera mendorong Jasmine ke tepi jalan. Dan tanga
Jasmine buru-buru bangkit sembari menutup hidungnya. "Mas Damian ganti parfum, ya?" Damian menggeleng pelan. Lalu ikut duduk sembari mengendus kemeja depannya sembari memikirkan parfum siapa yang melekat di bajunya. "Mas peluk-peluk cewek, ya? Itu aroma perempuan loh." Jasmine menatap Damian curiga. Pernah diselingkuhi membuat Jasmina gampang trust issue dengan celah-celah kecil keanehan pada pasangannya. Tidak bermaksud menuduh Damian, hanya saja ia jadi kepikiran. "Ya enggaklah." Damian lalu membuka kancing kemejanya dengan cepat. Rahangnya mengeras dan ekspresinya terlihat kaku kurang suka dengan tuduhan Jasmine. Jasmine menahan tangan Damian. "Mau ngapain?" "Dibuka. Saya mau bakar sekalian kemejanya." Damian membuktikan ucapannya. Kemeja yang menjadi kecurigaan Jasmine pun ia buka di tempat itu. Kemudian tanpa bicara segera beranjak berdiri dan melangkah menuju tempat sampah. Tanpa ragu, Damian melemparkan kemeja mahal itu ke tempat sampah. Jasmine terbelalak, tidak perca
"Jasmine!" Jasmine bisa mendengar suara panik Damian dari arah kamar. Benar saja, pria itu langsung keluar kamar dan langsung berlari cepat menghampiri Jasmine. "Yang mana yang sakit?" tanya Damian saat sudah sampai pada Jasmine. Damian memeriksa setiap detail kaki Jasmine. Tidak tega dengan ekspresi panik Damian, Jasmine pun menyudahi aktingnya. Tawanya pun pecah. "Tapi aku bohong!" Gelak tawa Jasmine semakin keras. Ia bahkan memegang perutnya yang terasa sakit dikarenakan terlalu banyak tertawa. Dua alis Damian saling bertaut. Hingga akhirnya ia pun sadar kalau sudah dibohongi Jasmine. "Kamu...." Damian mendekat, lalu tanpa ampun menggelitik pinggang Jasmine hingga membuat gadis itu semakin tertawa. Tawa keduanya pun memenuhi lantai dua. Seakan tanpa beban yang berarti, riangnya Jasmine membuat matanya bahkan berair. Napasnya pun tersengal-sengal. Dadanya kembang kempis. Dan tubuhnya sudah terbaring di atas lantai. Begitu pula dengan Damian. Selaras dengan Jasmine, pria itu
"Maaf saya terlambat. Dia pasti sudah berbicara yang aneh-aneh tentang kamu, kan?" Damian mengendorkan pelukannya, menatap Jasmine lekat. Jasmine tercengang sesaat, sebelum akhirnya tersenyum kikuk. Kemudian melirik Pierre yang berada di barisan depan singkat. "Aku baik-baik aja. Tenang, Mas. Aku nggak selemah dulu, Mas." Senyum lebar Jasmine suguhkan untuk menenangkan Damian. Sebenarnya, Jasmine juga merasa tidak nyaman jika harus seintim ini dengan Damian di depan Pierre. Apalagi membicarakan perihal keluarga yang seharusnya Jasmine tutup aibnya dari orang luar. Sekalipun itu Pierre. Damian hendak protes, tapi Jasmine lebih dulu menepuk bahu pria itu dengan santai. Seolah-olah pertemuannya dengan Miranda barusan bukanlah hal besar. Meskipun sukses membuatnya sempat merasa tidak nyaman. "Aku beneran nggak apa-apa. Sekarang kita pulang, ya. Aku capek." Damian mengembuskan napas pelan, mengiyakan permintaan sang istri. Padahal ia sangat meragukan kata 'baik-baik' saja yang diucap
"Jadi apa yang mau Tante bicarakan?" tanya Jasmine, setelah hampir sepuluh menit mereka sampai di cafe klasik tidak jauh dari butik milik Miranda. Miranda terhenyak sesaat. Namun, langsung menyunggingkan senyum tipis sebelum ia menyesap teh chamomile miliknya. "Kenapa begitu tergesa-gesa? Damian tidak mengizinkan kamu bertemu dengan saya?" Intonasi tenangnya tetap terjaga. Hanya saja tidak lantas membuat Jasmine merasa nyaman. Sebaliknya, Jasmine semakin merasa ingin segera pergi. Apalagi setelah mendikte penampilan Jasmine tadi, tidak terdapat permintaan maaf yang keluar dari mulut Miranda. Lantai atas cafe tersebut sangat tenang. Jauh berbeda dengan lantai bawah dan bagian outdoor yang tadi Jasmine lihat begitu ramai. Aroma harum sekaligus manis dessert pun menusuk penciuman Jasmine. Jasmine pun menyeruput americano dingin di hadapannya. Ia butuh sesuatu yang segar, sebelum nanti ibu mertuanya ini benar-benar menguji dirinya. Minumannya diletakkan di atas meja kembali. Menghad







