MasukPagutan bibir Damian dan Jasmine semakin dalam satu sama lain. Tangan Jasmine terus meremas rambut Damian. Sentuhan lembut tangan Damian saat mulai turun ke area perut membuat Jasmine belingsatan karena menahan rasa geli tapi nikmat itu. Ranjang king size dengan balutan sprei lembut itu menjadi saksi keintiman dua anak manusia yang sedang meniti kenikmatan. Pendingin ruangan di kamar itu pun tak bisa mengubah suhu panas tubuh mereka yang dilingkupi gairah penuh hasrat. Kancing atasan Jasmine sudah terbuka. Tubuh atasnya sudah terpampang dengan bra berwarna nude. Bibir Damian mulai turun ke rahang lalu lama hinggap di leher Jasmine. Hisapan penuh gairah membuat Jasmine refleks menekan kepala Damian. "Aargh... Mas!" desah Jasmine dengan mata terpejam. Rasanya begitu nikmat. Sama seperti yang sudah mereka lalui, sentuhan Damian memang membuat Jasmine mabuk. Dengan mudahnya kemarahan yang sempat memenuhi rongga dadanya menguap. "Aaakh... Enak, Mas. Terus, Mas!" racau Jasmine. Sedan
Damian mengangkat wajahnya. Jasmine terhenyak saat melihat Damian dalam mode seperti ini. Matanya tidak setajam biasa, cenderung sayu. Terlihat sekali Damian sedang tidak baik-baik saja. Menyadari kehadiran Jasmine, Damian pun menurunkan kakinya.Jasmine semakin mendekat dengan lututnya. Saat Jasmine sudah berada di depan Damian, tepatnya di antara kedua kaki panjang Damian, gadis itu terdiam sebentar. Tak perlu menunggu Damian menjawab, Jasmine langsung menegakkan tubuhnya. Lalu meraih Damian untuk ia sandarkan di dadanya. "Mas Damian bisa peluk aku kalau memang mau." Jasmine menepuk pelan bahu Damian. Damian tidak banyak protes. Ia tetap menuruti Jasmine. "Aku akan nemenin Mas Damian malam ini," ucap Jasmine memeluk Damian yang masih diam itu.Tanpa adanya pemaksaan, Jasmine mengusap lembut rambut Damian lalu memeluk pria itu agar tidak merasa sendirian. Tangan Damian perlahan terangkat. Lalu melingkar di pinggang ramping Jasmine. Matanya terpejam, mencari kenyamanan di dalam
"Tumben banget Mas Pierre nggak ada di bawah. Mas Damian juga kenapa malah tiba-tiba minta aku ke Amartha, ya? Katanya ke apart." Jasmine melangkah menaiki tangga menuju ruangan Damian dengan santai. Ia yang sudah dikenal baik oleh dua penjaga di bawah, membuatnya lebih mudah saat ingin ke ruangan Damian atau pun Renan. Ruangan yang dipenuhi dengan cahaya hangat dengan nuansa keemasan itu membuat wajah Jasmine ikut bersinar. Jika dulu ia menapaki tangga dengan gugup, malam ini tidak lagi.Langkahnya lebih tenang dan terukur. Tak terasa, beberapa saat Jasmine pun sampai di ruang atas-tepatnya di depan ruang pribadi Damian. Pintu besar dengan warna hitam mengkilap itu masih sama dengan yang ia lihat beberapa bulan yang lalu. Hanya saja sekarang ia tidak lagi merasa terintimidasi dengan benda kokoh itu. Tangan Jasmine baru saja menyentuh gagang pintu. Saat dorongan perlahan pintu tersebut ia lakukan, gerakannya tertahan. Suara penuh amarah seorang wanita lebih dulu menginterupsi di
"Aku nggak nyangka bakalan kerja di sini lagi! Bahagia banget, Kaak!" Anya langsung memeluk Jasmine begitu melihat Jasmine datang. Jasmine ikut senang. Bahkan rasanya seperti mimpi saat Damian mengatakan hal ini beberapa hari yang lalu. Yang lebih membuat Jasmine terkejut adalah kondisi galeri sama persis dengan saat ia kelola dulu.Mata Jasmine menatap Flo Art dengan takjub. Siapa yang sudah memindahkan beberapa lukisannya ke tempat ini? Rasanya ia seperti melihat sosok ibunya juga berdiri di tempat ini. Menatap galeri dengan penuh bangga dan kebahagiaan.Lukisan adalah salah satunya hal yang paling mengingatkan dirinya dengan sang ibu. Wanita yang sudah mengorbankan nyawa demi melahirkan dirinya itu seakan sedang tersenyum menawan pada Jasmine. "Jadi mirip dengan yang lama ya, Kak? Padahal pas sama Nyonya Stella, nuansa galerinya sangat berbeda." Anya pun ikut berkomentar. "Iya. Kamu benar." Jasmine mengangguk setuju. "Jasmine!" Damian muncul dengan membawakan buket bunga besar
"Jasmine? Udah bangun belum?" Jasmine mendengar samar-samar seseorang meneriaki namanya dari luar. Bukannya langsung terbangun, Jasmine malah menarik selimut hingga menutupi kepalanya dan kembali melanjutkan tidurnya. Setelah semalaman menangisi kisah cintanya yang jauh dari kata bagus, Jasmine baru bisa tidur saat jam 2 dini hari. Alhasil, pagi ini matanya masih sangat mengantuk. "Jasmine? Ayo bangun dulu!" Panggilan itu kembali terdengar. Namun, Jasmine benar-benar malas kali ini. Seperti ada lem yang melekatkan matanya hingga sulit terbuka. Namun, tidurnya yang damai tiba-tiba saja terganggu dengan suara Renan yang semakin menjadi-jadi. Padahal seingat Jasmine, semalam Damian mengatakan bahwa Renan ada pertemuan. Biasanya kakaknya itu akan menginap di hotel ataupun tempat lain. "Jasmine?" Jasmine tetap pada keputusannya. Malas sekali harus bangun pagi-pagi begini. Di saat Jasmine sedang berusaha terlelap kembali, suara pintu terbuka terdengar. "Saya tahu kamu sudah bangun
Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Langit yang sepanjang hari tampak membiru cerah, kini sudah berganti gelap pekat. Tak ada matahari, melainkan taburan bintang-bintang serta bulan yang tak malu menunjukkan cahayanya. Motor vespa Sean dengan warna unik itu berhenti tepat di depan pagar rumah Jasmine. Tawa mereka berdua terus berderai, beradu dengan suara kendaraan yang berlalu lalang. Kebetulan rumah Jasmine memang berada di komplek perumahan yang penghuninya memang aktif beraktivitas jika masih jam segini. Jasmine segera turun dari jok belakang. Kemudian lekas melepaskan helmnya untuk segera diberikan kepada Sean. "Makasih, ya. Kamu hari ini udah mau nemenin aku jalan-jalan." Sean menerima helm yang diulurkan Jasmine. Tawa kecil lolos dari bibirnya. "Santai. Besok kalau masih mau jalan-jalan kabarin aja. Nggak usah sungkan." Jasmine mendengus geli. Jemarinya bergerak pelan merapikan rambut panjangnya. "Nagih ya jadi ojek online?" Mata Sean melengkung selaras dengan bibi







