เข้าสู่ระบบJasmine mendengus kesal. Ditepisnya tangan Damian lalu segera beranjak dari kursi. Sengaja ia menghentakkan kakinya kuat-kuat saat melewati Damian dan Renan. Tujuannya adalah menuju kamar. Sesampainya di kamar, Jasmine segera berbaring di ranjang. Direngkuhnya guling dengan kasar.Akhir-akhir ini, selain mudah menangis ia juga mudah tersinggung. "Mas Damian dan Mas Renan sama aja ternyata. Sama-sama nggak bisa berkorban dikit!" Pintu kamar terbuka. Jasmine enggan beranjak apalagi menoleh. Dari aromanya, Jasmine bisa menebak bahwa yang masuk adalah Damian. Jasmine sengaja menutup matanya. Kemarahannya membuat rasa enggan untuk menyambut Damian. Bahkan ia sengaja menghindari sang suami. Sementara itu, Damian yang melihat Jasmine sedang berbaring berselimut hingga dada itu hanya bisa menghela napas. Ia tidak menyangka sebaris pertanyaan yang dilontarkan akan membuat Jasmine kesal. Damian membiarkan Jasmine tenang terlebih dulu. Apalagi ia harus membersihkan diri dan berganti pakai
"Sumpah deh! Kalau bukan karena keponakan, gak mau Mas nyariin makanan segini anehnya." Renan melepaskan jaketnya begitu saja. Sedangkan di tangannya sudah terdapat paperbag berlogo makanan yang terlihat asing di mata Jasmine. Namun, dengan semangat diterima perempuan hamil itu. "Nggak boleh ngedumel begitu. Nanti aku aduin Ayah!" Jasmine menatap Renan sengit. Renan memutar bola matanya malas. Segera ia rebahkan tubuhnya yang terasa lelah itu ke sofa panjang tidak jauh dari Jasmine. Meskipun dengan raut kesal, ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dari matanya saat melihat wajah gembira Jasmine. Kabar Jasmine sudah sampai di telinga Renan dan Akan kemarin. Namun, kesibukan mereka berdua membuat keduanya belum sempat mengunjungi Jasmine. Hingga sore tadi, Renan yang sedang menyelesaikan pekerjaannya di kamar terkejut karena mendapati Jasmine sudah berada di ruangan tengah. Awalnya ingin segera ia peluk sang adik dengan ucapan selamat. Akan tetapi, dengan menyebalkannya Jasmine
"Kok malah chef yang di sini? Mas Damian mana?" tanya Jasmine, menatap heran pada sosok perempuan yang sedang menata makanan di meja makan itu. Setelah Jasmine keluar kamar mandi tadi, sosok Damian sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Tadinya dugaan Jasmine, sang suami berada di dapur. Nyatanya hanya chef pribadi Damian yang sedang berkutat dengan aneka masakan. "Pak Damian meminta saya memasak makanan ini untuk Nyonya. Hmmh, kayaknya tadi beliau masuk ruang kerjanya," jawab perempuan itu. Jasmine mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tepatnya ke lantai atas tempat ruang kerja Damian berada. "Saya bisa pulang sekarang, Nyonya? Atau Nyonya ada permintaan mau makan apa?" Chef berambut cokelat terang itu menatap Jasmine dengan mimik serius. Jasmine menggeleng. Kemudian mengulas senyum ramah. "Anda bisa pulang, Chef. Terima kasih untuk makanannya. Dari aromanya pasti ini enak sekali." Chef tersebut tertawa pelan. Sembari membuka apronnya, ia segera bersiap untuk pergi. "S
"Mau langsung pulang atau mampir dulu?" tanya Damian menaruh pandangan sepenuhnya pada Jasmine. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah Damian menjemput Jasmine di galeri. Jika biasanya selama perjalanan akan diisi dengan cerita Jasmine, kali ini terasa berbeda. Semenjak Jasmine naik ke mobil, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tatapannya pun begitu dingin. Tak ada senyum apalagi tawa. Alih-alih menjawab pertanyaan Damian, Jasmine malah membuang muka. Pemandangan di luar lebih menarik pandangannya. Suasana hatinya memang masih memburuk semenjak tidak mendapatkan izin Damian untuk pergi. Jika biasanya rengekan dirinya akan meluluhkan hati Damian, anehnya tadi pagi Damian begitu keukeuh dengan keputusannya. "Sayang," panggil Damian lembut. Telapak tangan Damian mendarat di bahu Jasmine. "Hmmmh...." Jasmine hanya bergumam pelan. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang. Damian tahu Jasmine masih kesal. Hanya saja, rasanya tidak percaya bahwa Jasmine akan k
Damian segera membawa Jasmine ke gendongannya. Kaki Jasmine melingkar di pinggang Damian, sementara tangannya berada di leher sang suami. Ciuman mereka semakin dalam. Hawa dingin ruangan Damian dalam sekejap langsung memanas. Suara desahan memenuhi setiap sudut ruangan. Jasmine dibaringkan Damian di sofa ruangan. Luaran gaun tidur Jasmine sudah terlepas. Bahkan tali tipis gaunnya sudah Damian luruhkan ke samping. Membuat bahu perempuan itu benar-benar polos. Damian semakin semangat menjelajahi leher hingga turun ke tulang selangka perempuan itu. Damian semakin bergairah. Tanpa sadar ia sudah berada di atas tubuh Jasmine. "Aargh...!" pekik Jasmine tiba-tiba, tanpa sengaja juga mendorong Damian agar memberikannya ruang. Mata Damian masih memerah. Tatapannya sayu dan berkabut. Dadanya naik turun, dengan napas terengah-engah. "Ada apa, Sayang?" tanya Damian. Jasmine meringis pelan. Kemudian perlahan duduk. "Perutku kurang nyaman, Mas." Helaan gusar lolos dari mulut Damian. Pria i
"Mas?" Jasmine mendorong pelan pintu ruang kerja Damian. Kepalanya masuk lebih dulu, bermaksud mengintip apakah sang suami memang ada di sana atau tidak. Seingatnya tadi Damian sedang menidurkannya. Namun, saat Jasmine terbangun sebab haus, tidak terdapat Damian di sampingnya. Damian mengalihkan fokusnya ke sumber suara. Pria yang kini memakai kaca mata itu langsung tersenyum lebar saat mendapati sang istri datang. "Ada apa, Sayang?" Senyum dikulum Jasmine terbit. Perempuan hamil itu melangkah malu-malu. Dirapatkannya luaran gaun tidur selututnya. Pandangan Jasmine terarah pada laptop Damian. "Lagi sibuk, ya?" Alis Damian terangkat sebentar, sebelum akhirnya ia menggeleng. Kemudian menepuk kedua pahanya. "Sini!" ucap Damian, sudah memundurkan kursi kerjanya—siap menerima Jasmine di pangkuannya. Senyum Jasmine langsung lebar. Ia tidak akan menolak karena kedatangannya memang untuk bermanja-manja dengan Damian. Tadi saja ia perlu Damian agar bisa tidur. Dengan hati-hati, Jasmin
“Mas Damian?” Jasmine mendorong perlahan pintu kamar pria itu.Ia merutuki kebodohannya karena menolak saat Pierre ingin mengantarnya masuk ke penthouse Damian. Setelah Pierre mengatakan Damian ada di kamar, Jasmine langsung melenggang menuju ruang pribadi Damian. Dan kini, dia justru kebingungan.
"Mas Renan mana?” tanya Jasmin bingung. Pertama kali yang ia tanyakan saat sampai adalah kakaknya. Apalagi saat ia sampai di apartemen, ia hanya mendapati Damian yang sedang tertidur tubuh tidak seluruhnya berada di sofa. Tubuhnya bagian bawah berada di bawah. Sedangkan kondisi ruang tamu Damian
“Yakin nggak mau saya antar sampai rumah? Sekalian saya bicarakan niat saya untuk menikahi kamu.” Damian sudah bertanya berulang kali akan hal itu. Dan, jawaban Jasmine masih sama. Seperti yang Damian katakan tadi, kini mereka sudah berada di daerah rumah Jasmine. Ja
“Jangan Ayah! Damian itu lebih brengsek daripada Erick! Mana bisa menyerahkan Jasmine pada dia!”“Diam, Renan! Jasmine saja langsung mau! Sudahlah!”“Aaargh…!” Renan semakin geram saat mengingat bagaimana interaksi adik dan sahabat sialannya itu saat di restoran.







