LOGIN“Aku menerima pernikahan ini... bukan karena aku mencintaimu,” ucap Eva akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat hati Bryan terasa tergores.
Bryan menatapnya lekat, sorot matanya berubah, namun ia tetap tenang. Eva memberanikan diri menatap sahabatnya itu, yang kini berada di ambang harapan dan luka.
“Tapi... aku harap kamu bisa mengerti,” lanjut Eva, mencoba jujur pada akhirnya.
Bryan mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang jelas terpancar dari sorot matanya. “Tidak apa-apa,” katanya dengan suara pelan, lalu menarik napas dalam. “Tapi… ada satu hal lagi yang ingin aku tahu. Aku harap kamu bisa jujur kali ini.”
Eva menatapnya dengan bingung. Ia tidak menduga bahwa Bryan akan bersikap setenang ini. Bukannya lega, justru ada rasa sesak yang tumbuh di dadanya. Apakah ia terlalu menyakitinya, atau Bryan justru menahan kecewa?
“Jujur tentang apa?” tanyanya akhirnya.
Bryan menatapnya dalam-dalam. “Apa alasan sebenarnya kamu menerima pernikahan ini?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
Eva menunduk, ragu sejenak. Tapi ia tahu Bryan berhak mendengarnya. “Karena aku butuh perlindunganmu, Bryan. Juan terus mengusikku. Dia menyebarkan rumor buruk tentangku... dan aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi,” jawab Eva pelan, namun jujur.
Mendengar nama itu disebut, rahang Bryan mengeras, dan sorot matanya langsung berubah menjadi dingin. “Apa yang dia lakukan padamu?” desisnya penuh amarah.
Eva menggenggam tangannya, lalu menyentuh pipi Bryan dengan lembut, mencoba menenangkannya. “Karena itulah aku hanya bisa mengandalkanmu. Aku tahu ini egois, tapi aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.”
Bryan menangkup tangan Eva yang menyentuh wajahnya, lalu mengecupnya perlahan dengan penuh makna. “Kalau begitu… gunakan aku sepuas hatimu, Eva. Asalkan pria itu tak lagi bisa menyakitimu,” ucapnya tulus.
“Tapi satu hal, aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Dan kalau hari itu datang… kumohon, jangan usir aku dari hatimu.”
Kata-kata Bryan membuat jantung Eva berdegup tak beraturan. Perasaannya mulai kacau, ada gejolak yang selama ini ia pendam dan coba abaikan. Namun kali ini, semuanya terasa terlalu nyata.
“Iya… aku janji,” ucap Eva perlahan. “Jika aku benar-benar jatuh cinta padamu nanti, aku tidak akan menolaknya.”
Keesokan paginya, Bryan datang lagi ke rumah Eva, kali ini dengan niat bulat, meminta izin pada ayah Eva. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya, meski tangan yang membawa beberapa bungkusan kado tampak sedikit gemetar.
“Eva, coba lihat siapa yang datang sepagi ini,” seru Tuan Adam sambil memotong stek panggang di meja makan, setelah bel rumah berbunyi.
Eva sedikit ragu menjawab, tapi akhirnya membuka suara. “Itu Bryan, Ayah.”
“Serius,” sahut ibunya, langsung berdiri penuh semangat. “Kalau begitu, biar Ibu saja yang buka pintunya!”
Eva hanya bisa menghela napas. Ia tahu ibunya memang sejak dulu menganggap Bryan seperti anak laki-lakinya sendiri. Malah, sering kali ibunya bilang, “Kalau kamu enggak nikah sama Bryan, Ibu yang akan jodohin kamu sama dia.” Kalimat itu dulu terdengar seperti ancaman.
Tak lama, Bryan sudah berdiri di ruang tamu dengan penampilan super rapi. Rambutnya disisir ke samping, baju dimasukkan ke celana, bahkan sepatunya mengkilap seperti baru disemir lima kali.
“Tumben datang pagi-pagi, Nak,” ucap Tuan Adam sambil menatap Bryan dari ujung kepala sampai ujung sepatu, ia merasa sedikit curiga.
“Iya, Paman,” jawab Bryan gugup, mengelus belakang lehernya sebelum lanjut bicara.
“Kalau begitu duduklah. Nanti kita ke restoran bareng, Ibu sudah masak yang spesial hari ini,” ucap ibunya penuh semangat, senyumnya tidak kalah dari sinar mentari pagi.
Tapi Bryan tidak duduk. Ia malah berdiri kaku seperti patung lilin, lalu melirik Eva, yang duduk santai sambil menyeruput jus jeruknya.
“Kenapa?” tanya Eva pelan, menyipitkan mata melihat ekspresi Bryan yang seperti mau wawancara kerja.
Bryan menarik napas panjang, lalu bersuara lantang, “Paman, Tante, izinkan saya untuk menikah dengan putri kalian!”
Seisi ruangan langsung hening.
Eva hampir tersedak jusnya sendiri. “Uughkk!”
Brak!
Tuan Adam menghentak meja. Wajahnya antara bingung dan sedikit marah.
“Paman tahu kamu menyukai Eva, tapi kenapa harus menikahinya,” ucapnya dengan nada tinggi, menatap Bryan seperti baru sadar selama ini pria itu menaruh hati secara diam-diam.
Sementara itu, sang ibu justru berteriak girang seperti baru menang lotre.
“Kyaa! Akhirnya ibu punya anak laki-laki tampan seperti idola drama Korea!” teriaknya, hampir melonjak dari kursi.
Situasi berubah kacau balau. Tuan Adam masih menatap Bryan dengan sorot menuntut penjelasan, sementara Bryan berdiri seperti terdakwa di ruang persidangan.
“Iya, Ayah. Kami akan menikah,” jawab Eva akhirnya, mencoba menenangkan suasana.
Tuan Adam langsung bertanya dengan nada curiga, “Sejak kapan kalian berpacaran, sampai Ayah harus mendengar ini secara tiba-tiba?”
Eva menjawab cepat, “Dua minggu lalu.”
Bryan, hampir bersamaan menjawab, “Satu minggu lalu, Paman.”
Keduanya langsung saling menatap.
Bryan membisik pelan, “Kenapa dua minggu?”
Eva balas bisik, “Lah, bukannya kita deketnya udah dua minggu?”
Bryan membalas dengan suara nyaris tak terdengar, “Tapi yang resmi kan baru minggu lalu.”
“Resmi apanya?” bisik Eva mendadak kesal
Tuan Adam berdehem keras, membuat keduanya refleks duduk tegak.
Bryan kembali merapikan penampilannya, seolah-olah tengah bersiap menghadapi ujian penting. Wajahnya mencoba terlihat tenang, meski detak jantungnya tidak bisa diajak kompromi.
“Ikut Paman sekarang,” ucap Tuan Adam bangun dari duduknya, sambil menatapnya tajam.
Bryan menelan ludah. Ia sempat melirik ke arah Eva sekilas, berharap mendapat sedikit dukungan dari tatapan gadis itu. Namun, Eva justru berpura-pura tak peduli, pura-pura sibuk dengan cangkir jusnya, padahal telinganya ikut siaga.
Sementara itu, sang ibu langsung menghampiri Eva dengan antusias yang sulit ditahan, wajahnya berbinar seperti menemukan babak baru dalam drama kesayangannya.
“Ceritakan pada Ibu, Eva. Sejak kapan kalian... hm, dekat?” tanyanya, meski kalimatnya terpotong sendiri oleh senyum geli yang menggantung di wajahnya.
Eva memutar bola matanya malas. "Ibu juga sudah dengar sendiri tadi,” jawabnya, malas-malasan.
“Iya, tapi beda rasanya kalau dengar langsung dari mulutmu. Lagi pula, kenapa kamu nggak pernah cerita sih kalau kalian udah lebih dari sekadar teman,” goda ibunya sambil terus mengamati ekspresi putrinya, yang tampak gelisah memandangi arah ruangan tempat Bryan dan ayahnya menghilang.
“Ibumu tahu sendiri, Ayahmu itu sangat menyukai Bryan, sama seperti Ibu. Jadi tenang saja, dia nggak akan dimakan,” ucap sang ibu mencoba menenangkannya.
Namun Eva bersikap sebaliknya. Ia bersandar di sofa dengan tangan terlipat, serta bibir mengerucut, lalu menjawab dengan nada protes. “Huh, siapa juga yang khawatir. Lagi pula, aku sudah tahu dari dulu... kalian tuh perhatian banget sama dia, kadang kayak anak sendiri.”
Mendengar hal itu membuat Ibunya tertawa pelan. “Makanya, Ibu penasaran. Apa yang membuat kamu akhirnya mau menikahinya? Dulu kamu selalu menolak, dan….”
Belum sempat ibunya menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara cukup keras dari arah ruangan tempat Tuan Adam dan Bryan berada.
Brak!
“Ap-apa itu tadi?!” seru Eva dan ibunya hampir bersamaan, keduanya terlonjak kaget dari duduk mereka, dan saling berpandangan.
Bryan menunduk sedikit, menatap Gina dengan ketulusan yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. “Terima kasih… sudah menemani istriku,” ucapnya lirih, senyum tipis terlukis di wajahnya.Gina sempat terdiam, seolah terperangkap pada sorot mata Bryan yang meneduhkan, meski garis lelah tampak jelas di sana. Senyumnya kembali muncul, kali ini terlihat kaku, bercampur dengan kecanggung. “Tidak apa-apa. Tapi lain kali… jangan tinggalkan dia seperti tadi. Jika ada masalah, bicarakan dengan tenang. Eva bukan perempuan yang pantas menghadapi semuanya sendirian.”Bryan mengangguk pelan, merasa nasehat itu menampar kesadarannya. “Kau benar. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”Gina pun meraih tasnya, lalu segera melangkah pergi meninggalkan Bryan bersama Eva. Dari sudut matanya, Bryan sempat melihat Gina menoleh sebentar, seperti masih khawatir meninggalkan Eva. Namun pria itu tak lagi menahan. Ia hanya fokus pada Eva saat ini, yang kini tertidur dengan kepala bersandar di meja panjang minimarket
Langkah Bryan meninggalkan ruangan tadi masih terngiang di telinga Eva. Tubuhnya lemas, emosinya terkuras habis. Gina langsung menariknya keluar dari kantor, tidak ingin sahabatnya menjadi bahan tontonan karyawan lain yang mungkin sudah mencium aroma pertikaian.“Ayo ikut aku,” ujar Gina lirih sambil menggandeng tangan Eva, menjauh dari tempat itu.Eva tidak melawan. Ia terlalu lelah untuk berpikir, ia hanya mengikuti Gina yang membawanya menyeberangi jalan menuju sebuah minimarket. Malam mulai turun, lampu jalan berkelip redup, sementara suara kendaraan bersahutan memecah udara.Gina membeli dua kaleng bir dari lemari pendingin, lalu menuntun Eva ke bangku panjang di depan toko. “Kau butuh ini. Setidaknya untuk melupakan sedikit beban malam ini,” katanya menyerahkan satu kaleng ke tangan Eva.Eva menatap benda itu sedikit ragu. “Aku… tidak terbiasa.” “Lalu kau ingin menangis sampai kehabisan napas? Eva, kadang-kadang kita harus membiarkan diri kita melepaskan semuanya, meski hanya d
Hari itu terasa berjalan lambat bagi Eva, sebab semua terasa begitu kacau setelah kehadiran Juan semalam. Sejak pagi, pikirannya tidak pernah tenang saat Juan selalu mengganggu ketenangan batinnya, bagimana tidak, ia harus satu kantor dengan pria yang paling ia benci dalam hidupnya.Tatapan pria itu, meski tak diucapkan dengan kata-kata, seakan mengunci setiap geraknya. Beberapa kali Eva mencoba mengalihkan perhatian dengan pekerjaannya, tetapi begitu ia menoleh, ia selalu mendapati Juan sedang menatapnya. Tatapan Juan terlihat begitu penuh keyakinan seolah berkata.‘Aku masih di sini, dan kau tak akan bisa lari dariku.’Gina yang duduk tak jauh darinya, sudah berkali-kali melirik pada Eva dan mulai mengkhawatirkan. Ia bisa membaca kegelisahan Eva, meskipun sahabatnya itu berusaha keras menyembunyikannya di balik senyum tipisnya.“Eva, kalau begini terus kau bisa sakit,” bisik Gina, saat mereka berpapasan di ruang arsip.&ld
Keesokan paginya, Eva membuka mata dengan perasaan yang masih berat. Ketika mengingat kejadian semalam. Eva menoleh pelan, ranjang di sampingnya kosong, tak ada Bryan yang biasa menemaninya bangun.Perasaan sepi seketika menyergap di hatinya, membuat dadanya sedikit sesak. Ia menggigit bibir, mencoba menahan rasa kecewa yang tiba-tiba muncul. Malam sebelumnya masih begitu jelas di benaknya, membuat wajahnya memanas setiap kali teringat.“Apa yang sebenarnya Bryan pikirkan tentangku? Aku bahkan tidak sepenuhnya ingat bagaimana aku bisa pulang bersamanya semalam,” batinnya meronta kala mengingat dirinya yang menangis dihadapannya, sambil memijit pelipis yang berdenyut. Rasa malu bercampur lelah membuat tubuhnya terasa berat.Dengan cepat ia beranjak, membersihkan diri, lalu bersiap menuju kantor. Namun sebelum melangkah keluar, matanya tertuju pada meja makan. Di sana sudah tersusun rapi hidangan sederhana, roti panggang hangat, segelas susu, dan beber
Ban mobil Bryan berdecit keras ketika ia berhenti mendadak di depan gang sempit itu. Lampu sorot mobilnya menembus gelap, dan pandangan matanya langsung terpaku pada satu pemandangan yang membuat darahnya mendidih, di sana ia melihat Juan tengah menggenggam lengan Eva, sementara wajah istrinya terlihat tegang penuh perlawanan.Bryan tak berpikir panjang. Ia membuka pintu mobil dengan kasar, langkahnya cepat, nafasnya memburu. “Lepaskan dia!” suaranya menggelegar, penuh amarah yang tak bisa ditahan.Juan menoleh, sedikit tersentak, namun segera kembali menegakkan bahunya. Senyum mengejek muncul di wajahnya. “Akhirnya kau datang juga, Bryan. Lihatlah, bahkan dalam keadaan seperti ini, Eva masih butuh aku untuk mendengarkannya.”Eva langsung berusaha menarik tangannya, “Lepaskan aku, Juan!” serunya, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah mundur begitu Bryan mendekat, seakan mencari perlindungan di sisi suaminya.Bryan berdiri
“Juan… kau di sini?” suara Eva bergetar, setengah tak percaya melihat sosok itu berdiri hanya beberapa langkah darinya.“Eva, ayo kita bicara,” ucap Juan datar, matanya menyapu sekilas ke arah Gina yang menatapnya penuh curiga, seakan hendak mengusirnya dengan pandangan saja.Eva menoleh cepat, menggenggam erat ponselnya yang ternyata sudah terputus sambungan dengan Bryan. Nafasnya tersengal, mencoba menenangkan degup jantung yang berlari liar. “Gina… tunggu sebentar ya,” katanya dengan suara yang dipaksa tenang.Gina mencondongkan tubuh, wajahnya penuh kecemasan. “Kalau kau butuh bantuan, cukup teriak. Aku ada di sini,” pesannya, sembari memberi tanda dukungan tanpa perlu banyak kata.Eva mengangguk pelan, lalu melangkah mengikuti Juan ke sebuah gang sempit tak jauh dari tempat Gina berdiri. Udara malam di gang itu lebih dingin, cahaya lampu redup menyorot dinding yang kusam. Di sana, kehening







