LOGINDikhianati oleh oleh pria yang dicintainya, Eva terjebak dalam hubungan yang rumit bersama sahabatnya sendiri. Satu malam yang dipenuhi emosi dan kehilangan kendali, perlahan mengaburkan batas antara persahabatan dan cinta. Bryan, sahabat yang selalu ada di sisi Eva sejak kecil, mulai menunjukkan perhatian yang berbeda, namun menuntut kepastian. Di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh, Eva harus menghadapi kenyataan bahwa Bryan tak lagi hanya menjadi sahabatnya, tapi ingin menjadikannya istri. Mampukah Eva membuka hatinya untuk cinta yang datang dari seseorang yang begitu dekat, namun terasa asing saat menawarkan ikatan suci?
View More“Nyonya! Tuan Zafir membawa seorang wanita asing masuk ke dalam Mansion!"
Ucapan Kate, asisten pribadinya, membuat Naura langsung mengalihkan pandangan dari tumpukkan dokumen di atas meja.
"Pekerja baru?" tanya Naura.
Kate menggeleng. "Bukan, Nyonya! Wanita itu adalah kekasih Tuan Zafir!!"
Naura terkejut. Zafir adalah pria yang telah dia nikahi selama enam tahun, lalu apa maksudnya pria itu membawa seorang kekasih ke kediaman mereka?
"Bawa aku menemui mereka," titah Naura, membuat Kate menganggukkan kepala dan mengantarnya ke tempat Zafir berada.
Baru saja mereka sampai di ruang tamu, Naura bisa mendengar percakapan antara dua orang di dalam sana.
“Rumahmu indah sekali, Zafir! Aku sangat menyukainya!”
“Kamu akan tinggal di sini, jadi bagus kalau kamu suka.”
Tampak seorang wanita dengan rambut hitam panjang bergelombang sedang tersenyum dan tertawa manis ke arah seorang pria.
Wajah wanita itu begitu cantik, ditambah dengan ekspresi polosnya, siapa pun yang melihat pasti akan jatuh hati dan ingin melindunginya.
Di sisi lain, sang pria yang tidak lain adalah Zafir, terlihat mengusap kepala wanita tersebut dengan lembut.
Kalau orang yang tidak tahu, pasti akan mengiranya keduanya adalah sepasang kekasih.
“Apa yang kalian lakukan?”
Pertanyaan Naura membuat dua orang di dalam ruangan tersentak.
Zafir yang tadi sibuk menyentuh kepala wanita asing itu, langsung berdiri dengan wajah kaget. “Naura?”
Naura memandang Zafir dingin sebelum beralih menatap wanita asing di sebelah pria itu tajam. “Siapa wanita ini?”
Seakan tidak ada yang salah, Zafir memasang senyum lebar. "Perkenalkan, Sayang... Ini Evelyn." Dia menggenggam tangan Evelyn tanpa ragu dan membawanya menghampiri sang istri.
Berdiri berhadapan dengan Naura, Evelyn memberikan senyum yang sangat manis. “Salam kenal, Kak Naura. Aku Evelyn.”
Melirik tangan Zafir yang terkait dengan tangan Evelyn, Naura berujar, "Membawa seorang wanita asing ke dalam kediaman dan berperilaku intim di depan semua orang. Apa kamu sedang mengumumkan bahwa kamu memiliki kekasih baru, Zafir?"
Pertanyaan dan pandangan tajam Naura membuat Zafir kaget selagi Evelyn takut.
Melihat wanita di sebelahnya bergetar, Zafir langsung mengusap kepala Evelyn untuk menenangkannya.
“Tenang, jangan takut. Kamu akan baik-baik saja,” ucapnya. “Tunggu di sini sebentar ya. Aku dan Naura akan bicara dulu. Kami tidak akan lama."
Naura melihat Evelyn mengangguk patuh selagi memaksakan senyuman ketika ditenangkan oleh Zafir.
Hal tersebut membuat perasaan Naura semakin tidak nyaman. Jadi, dia pun berbalik untuk melangkah lebih dulu meninggalkan ruang tamu.
Mereka kemudian masuk ke dalam salah satu kamar kosong di dekat ruang tamu utama mansion.
"Jadi, apa maksudnya ini?" Naura langsung berkata begitu pintu ditutup rapat.
Sembari tersenyum tipis, Zafir menggenggam tangan Naura dan berkata dengan santai, "Dia adalah wanita yang akan mengandung anak kita, Sayang.”
“Apa?” Mata Naura membesar dan langsung menepis tangan sang suami. “Apa maksudmu?”
Reaksi besar sang istri sama sekali tidak mengejutkan Zafir. Pria itu hanya memasukkan tangannya yang ditepis ke dalam saku celana dan menjelaskan,
“Kita sudah enam tahun menikah, tapi kamu masih belum melahirkan seorang anak. Ibuku sudah tidak bersedia menunggu lagi. Jadi ….”
“Kamu akan menikah lagi?” tanya Naura dengan tubuh bergetar.
Zafir menggeleng cepat, "Tidak, Sayangku. Dia tidak akan menjadi istriku, karena dia hanya akan mengandung anak kita.”
“Kamu akan menyewa rahimnya?” tanya Naura, membuat Zafir menganggukkan kepala. “Tapi aku masih bisa mengandung, Zafir! Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya?!”
"Keluarga besar Wajendra menuntut kehadiran penerus, Naura!” balas Zafir, mulai kehilangan kesabaran.
Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi sebelum menambahkan, “Kesehatan Ibu semakin memburuk, dan aku sudah seharusnya diumumkan sebagai pewaris. Apa karena kamu masih belum mampu melahirkan, maka kami harus terus menunggu? Tidakkah kamu merasa dirimu terlalu egois?”
Ucapan Zafir membuat hati Naura berdarah. Apa suaminya baru saja menyalahkannya?
Memang, ibu mertua Naura sedari dulu menuntut kehadiran seorang penerus kepada Naura dan Zafir selagi mengungkit kondisi kesehatannya.
Namun, bukankah Zafir sendiri yang mengatakan pada Naura untuk jangan khawatir karena itu hanyalah akal-akalan wanita tersebut belaka?
Lalu, terkait pengumuman Zafir sebagai pewaris, memang hal itu sedang ditunda oleh keluarga besar hingga dia bisa mendapatkan keturunan.
Namun, bukankah Zafir sendiri yang menyatakan dia rela menunggu sampai Naura bisa mengandung anaknya setelah beberapa bulan lalu keguguran?
Lalu, kenapa sekarang Zafir menyatakan Naura sebagai wanita yang egois?
Melihat Naura diam, Zafir meraih tangan sang istri dan berucap lembut, “Bukan maksudku membentakmu, tapi mengertilah, Naura. Kita hanya perlu menyewa rahim Evelyn dan menahan semua ini selama sembilan bulan. Setelah itu, Evelyn tidak akan muncul lagi di hadapan kita dan anak itu mutlak milik kita," sambung Zafir.
Naura terdiam, masih berpikir keras. Hatinya yang terluka dan pikirannya yang kacau membuat wanita itu sulit mencapai keputusan.
"Aku berjanji, rencana ini akan berjalan lancar dan berlalu begitu saja. Evelyn tidak akan mengusikmu dan kami akan melakukannya jauh darimu. Bagaimana?"
Naura menautkan alis. Dia barusan tidak salah dengar, bukan?
“Kau akan tidur dengannya?”
Setelah terdiam beberapa saat, Zafir menganggukkan kepala. “Ya.”
Naura membelalak. “Kamu bisa menggunakan cara bayi tabung. Kenapa harus sampai tidur dengannya?!”
“Ibuku percaya kalau cara terbaik untuk mengandung adalah melalui rahim, bukan bayi tabung.”
Naura tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Bukan hanya kamu membawa wanita asing untuk menjadi ibu pengganti tanpa persetujuanku, tapi kamu juga berniat meniduri wanita itu hanya karena ibumu berkata demikian?! Kenapa kamu tidak menceraikanku dan menikahi wanita itu saja?!”
Saat kalimat itu terlontar, wajah Zafir berubah gelap. Pria itu tampak terluka sekaligus kecewa.
“Kalau bukan karena terpaksa untuk kebaikan kita semua, apa kamu kira aku akan melakukan hal ini?” Pria itu melepaskan tangan Naura dan menjauhkan diri. “Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu padaku?”
“Aku–”
“Aku lelah berdebat,” potong Zafir, tidak lagi ingin mendengar ucapan Naura. “Aku tahu kamu sedang marah. Jadi, aku akan menganggap kamu salah bicara.”
Pria itu berbalik ke arah pintu seraya berkata, “Untuk sekarang, dinginkan kepalamu dan berpikirlah dengan matang. Setelah tenang, baru temui aku lagi dengan jawabanmu.”
Kemudian, pria itu berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Naura berniat mengejar, tapi Zafir telah terlebih dahulu menutup pintu. Hal tersebut membuat Naura mengepalkan tangan dengan kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Naura akui, dirinya memang bersalah karena belum mampu memberikan keturunan untuk Zafir. Akan tetapi, itu pun hanya untuk sementara karena rahimnya sehat.
Lagipula, wanita mana yang rela membiarkan suaminya tidur dengan wanita lain untuk mendapatkan seorang anak!?
Bahkan bila rencana ini berhasil dan Evelyn bisa memberikan mereka seorang anak, apa Naura bahkan bisa mengatakan itu adalah anaknya dan Zafir?!
Menutup wajahnya yang berurai air mata, Naura hanya bisa bertanya, “Apa … yang harus kulakukan?”
**
Setelah beberapa jam berlalu, Naura sudah berada di hadapan Zafir dengan wajah yang berbekas uraian air mata dan tampak lelah.
Berbalik dengan Naura, wajah Zafir tampak berseri.
“Kamu setuju!?”
Setelah Naura mengangguk, Zafir langsung memeluk erat istrinya dengan bahagia.
“Aku tahu kalau kamu pasti mengerti, Sayang!”
Saat ini hati Naura terasa dingin. Padahal, biasanya pelukan suaminya adalah sesuatu yang bisa membuat perasaannya menghangat.
Tak hanya itu, hatinya benar-benar berat. Namun, senyuman cerah Zafir membuatnya merasa telah melakukan keputusan benar.
“Berjanjilah agar tidak mengkhianati kepercayaanku, Zafir.” ucap Naura.
Zafir melepaskan pelukannya terhadap Naura selagi tersenyum lembut. “Tentu saja, Naura. Aku berjanji.”
Namun, apakah janji selalu ditepati?
Bryan menunduk sedikit, menatap Gina dengan ketulusan yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. “Terima kasih… sudah menemani istriku,” ucapnya lirih, senyum tipis terlukis di wajahnya.Gina sempat terdiam, seolah terperangkap pada sorot mata Bryan yang meneduhkan, meski garis lelah tampak jelas di sana. Senyumnya kembali muncul, kali ini terlihat kaku, bercampur dengan kecanggung. “Tidak apa-apa. Tapi lain kali… jangan tinggalkan dia seperti tadi. Jika ada masalah, bicarakan dengan tenang. Eva bukan perempuan yang pantas menghadapi semuanya sendirian.”Bryan mengangguk pelan, merasa nasehat itu menampar kesadarannya. “Kau benar. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”Gina pun meraih tasnya, lalu segera melangkah pergi meninggalkan Bryan bersama Eva. Dari sudut matanya, Bryan sempat melihat Gina menoleh sebentar, seperti masih khawatir meninggalkan Eva. Namun pria itu tak lagi menahan. Ia hanya fokus pada Eva saat ini, yang kini tertidur dengan kepala bersandar di meja panjang minimarket
Langkah Bryan meninggalkan ruangan tadi masih terngiang di telinga Eva. Tubuhnya lemas, emosinya terkuras habis. Gina langsung menariknya keluar dari kantor, tidak ingin sahabatnya menjadi bahan tontonan karyawan lain yang mungkin sudah mencium aroma pertikaian.“Ayo ikut aku,” ujar Gina lirih sambil menggandeng tangan Eva, menjauh dari tempat itu.Eva tidak melawan. Ia terlalu lelah untuk berpikir, ia hanya mengikuti Gina yang membawanya menyeberangi jalan menuju sebuah minimarket. Malam mulai turun, lampu jalan berkelip redup, sementara suara kendaraan bersahutan memecah udara.Gina membeli dua kaleng bir dari lemari pendingin, lalu menuntun Eva ke bangku panjang di depan toko. “Kau butuh ini. Setidaknya untuk melupakan sedikit beban malam ini,” katanya menyerahkan satu kaleng ke tangan Eva.Eva menatap benda itu sedikit ragu. “Aku… tidak terbiasa.” “Lalu kau ingin menangis sampai kehabisan napas? Eva, kadang-kadang kita harus membiarkan diri kita melepaskan semuanya, meski hanya d
Hari itu terasa berjalan lambat bagi Eva, sebab semua terasa begitu kacau setelah kehadiran Juan semalam. Sejak pagi, pikirannya tidak pernah tenang saat Juan selalu mengganggu ketenangan batinnya, bagimana tidak, ia harus satu kantor dengan pria yang paling ia benci dalam hidupnya.Tatapan pria itu, meski tak diucapkan dengan kata-kata, seakan mengunci setiap geraknya. Beberapa kali Eva mencoba mengalihkan perhatian dengan pekerjaannya, tetapi begitu ia menoleh, ia selalu mendapati Juan sedang menatapnya. Tatapan Juan terlihat begitu penuh keyakinan seolah berkata.‘Aku masih di sini, dan kau tak akan bisa lari dariku.’Gina yang duduk tak jauh darinya, sudah berkali-kali melirik pada Eva dan mulai mengkhawatirkan. Ia bisa membaca kegelisahan Eva, meskipun sahabatnya itu berusaha keras menyembunyikannya di balik senyum tipisnya.“Eva, kalau begini terus kau bisa sakit,” bisik Gina, saat mereka berpapasan di ruang arsip.&ld
Keesokan paginya, Eva membuka mata dengan perasaan yang masih berat. Ketika mengingat kejadian semalam. Eva menoleh pelan, ranjang di sampingnya kosong, tak ada Bryan yang biasa menemaninya bangun.Perasaan sepi seketika menyergap di hatinya, membuat dadanya sedikit sesak. Ia menggigit bibir, mencoba menahan rasa kecewa yang tiba-tiba muncul. Malam sebelumnya masih begitu jelas di benaknya, membuat wajahnya memanas setiap kali teringat.“Apa yang sebenarnya Bryan pikirkan tentangku? Aku bahkan tidak sepenuhnya ingat bagaimana aku bisa pulang bersamanya semalam,” batinnya meronta kala mengingat dirinya yang menangis dihadapannya, sambil memijit pelipis yang berdenyut. Rasa malu bercampur lelah membuat tubuhnya terasa berat.Dengan cepat ia beranjak, membersihkan diri, lalu bersiap menuju kantor. Namun sebelum melangkah keluar, matanya tertuju pada meja makan. Di sana sudah tersusun rapi hidangan sederhana, roti panggang hangat, segelas susu, dan beber






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews