Home / Romansa / Terjerat Hasrat Ayah Mertua / Bab 6. Namanya Pak Raja

Share

Bab 6. Namanya Pak Raja

Author: Cececans
last update publish date: 2025-12-02 21:17:26

Semua orang tak akan percaya jika Raja adalah ayah kandung Ilham.

Begitu pun dengan Aina yang baru melihatnya sekarang.

Ayah mertuanya itu kembali ke Jakarta setelah menetap dua tahun lebih di Amerika.

Raja masih muda. Mungkin usianya masih tiga puluh delapan tahun. Hanya selisih empat belas tahun dari Ilham.

Raja juga memiliki perawakan yang tinggi gagah, dengan garis wajah seperti orang blasteran.

Semua fisik yang menjadi nilai plus milik ayah mertuanya itu sama sekali tidak menurun pada Ilham.

Untuk beberapa saat Aina seolah terbius oleh ketampanan Raja. Tapi, setelah ayah mertuanya balas menatapnya dengan dingin, Aina segera tercekat.

"Siapa dia, Tari?" tanya Raja pada istrinya tanpa mengalihkan tatapannya dari Aina.

Entah kenapa Raja merasa familier dengan perempuan belia di depannya. Dia lupa bertemu di mana, tapi dia merasa ada sesuatu dari perempuan itu yang berhasil menarik perhatiannya.

Aina mengingatkan Raja pada seseorang.

Tari melirik menantunya sinis karena tatapan Raja malah terpaku pada Aina. Dia lalu menjawab tak acuh, "Dia istrinya Ilham, Sayang. Tapi, setelah ini tidak lagi."

"Tidak lagi?" ulang Raja tak mengerti.

"Iya, Sayang. Ilham akan menceraikannya setelah ini. Dia itu mandul. Ilham sudah punya Della yang bakal dia nikahi. Della lebih cantik, dan tentunya bisa memberikan cucu buat kita."

"Mendingan Mas Raja istirahat di kamar daripada di sini," tambah Tari, lalu mengajak Raja pergi meninggalkan Aina dengan melingkarkan tangannya ke lengan kekar Raja. Dia tak mau Raja berlama-lama dengan menantunya itu.

Biar bagaimanapun Aina masih muda, cantik, dan tubuhnya bagus. Tidak seperti Tari yang memiliki lemak berlebih di bagian perutnya, dan kerutan di wajahnya yang bulat.

Pria normal pasti tertarik pada Aina hanya dengan sekali pandang.

Untungnya menantunya itu kini terlihat kumal dengan pakaian lungsuran darinya sehingga Aina tidak lagi menarik.

Aina hanya mendesah pelan sambil bergeleng melihat ibu mertuanya yang berusaha memonopoli ayah mertuanya.

Seolah Raja hanya milik Tari seorang.

Aina tak ambil pusing. Dia kembali ke dapur untuk melanjutkan tugasnya.

***

"Jangan duduk di sini! Makan aja di dapur!" sentak Tari saat Aina hendak duduk di meja makan sore harinya.

Teman-teman Ilham sudah pulang sejak empat jam yang lalu. Hingga tinggal tersisa Aina, Ilham, Della, Tari, dan Raja di rumah ini.

"Hoamm ...." Della yang baru saja keluar dari kamar langsung menempati kursi Aina.

Della duduk tanpa menghiraukan Aina yang masih berdiri di sampingnya seakan Aina makhluk transparan.

Aina menghela napas berat. Tidak ada tempat lagi untuknya di sini.

Di meja makan hanya ada empat kursi. Untuk Tari, Ilham, Della, dan satu yang tersisa untuk ayah mertuanya yang masih belum terlihat karena sibuk di ruang kerjanya.

Aina melangkah ke dapur saat Della dan Tari mulai berbincang-bincang seru. Keduanya terlihat sangat cocok. Sudah seperti ibu dan anak saja.

Begitu Aina duduk di meja dapur, Aina menatapi wajan bekas memasak yang belum dia cuci.

Di meja dapur hanya ada wajan itu, dan nasi sisa yang tinggal satu centong.

Aina mengambil nasi di piringnya, dan mulai makan hanya berlauk bumbu sisa yang menempel di wajan.

Tidak apa-apa. Yang terpenting perutnya terisi.

Lalu pergerakan di sampingnya membuat Aina terkejut bukan main.

Saat menoleh ke samping, Aina semakin terkejut mendapati Raja sudah berdiri tegak sambil meletakkan piringnya yang dipenuhi nasi dan lauk ke meja.

Sebelah tangan Raja yang tidak sengaja menyentuh lengan Aina, memberikan getaran aneh yang mulai menjalari sekujur tubuh Aina.

"Tadi kamu belum menjawab pertanyaan saya. Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Aina? Namamu benar Aina kan?" tanya Raja memutar sedikit tubuhnya hingga menghadap persis ke arah Aina yang masih duduk di kursi.

Mata Aina hanya membeliak merespon pertanyaan ayah mertuanya.

"Aina, kamu dengar saya?"

Aina segera tersadar dan berkedip cepat. "Apa Pak Raja? Maksudku Papa? Papa tadi bertanya apa?"

Aina mengutuki dirinya diam-diam. Seharusnya dia tidak terlihat seperti orang bodoh di depan ayah mertuanya yang keren itu.

"Saya tadi nanya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Raja mengulangi pertanyaannya dengan suara tak bernada, dan wajah datar.

Meski begitu, Raja tidak terlihat angkuh dan arogan. Justru terlihat berwibawa.

Aina terdiam sesaat. Mengalihkan pandangannya pada nasinya yang tinggal setengah.

Ingin rasanya dia mengatakan pada ayah mertuanya kalau mereka pernah melewati malam panas bersama di hotel.

Tapi, jika Aina menjawab seperti itu secara gamblang. Bisa saja Aina langsung diusir dari rumah ini sekarang.

Jadi, menutupi kenyataannya adalah pilihan yang tepat.

Aina bergeleng dan memaksakan seuntai senyumnya. "Belum pernah, Pa. Kayaknya aku kelihatan familier karena Mas Ilham pernah mengirimkan fotoku pada Papa."

Raja tampak mengerutkan dahinya. Tapi, tak membahasnya lebih lanjut.

Sebagai gantinya Raja menujuk ke arah piring yang tadi dia bawa, dan berucap, "Kamu makan itu di meja makan. Saya belum menyentuhnya tadi, jadi kamu tidak perlu khawatir terkena penyakit saya."

Aina menatap ayah mertuanya dengan bingung. "Lalu Pak Raja. Maksudnya Papa, makan di mana?"

"Saya sudah selesai," balas Raja singkat.

Raja lalu berbalik pergi. Meninggalkan Aina sendirian dalam kebingungan.

Penyakit apa yang dimaksud oleh ayah mertuanya itu?

-Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Yur Dania
sepertinya Ilham bukan anak kandung raja tenanglah Aini,akan ada yg melindungi mu
goodnovel comment avatar
Arusma Simbolon
Aini goda aja mertua mu itu biar mampus tu si Ilham dan mamanya
goodnovel comment avatar
Idah Damia Sofea
kenapa si aina tu tak lari aje dr rumah tu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 79. Extra Part (Duplikat Bos Kecil)

    “Selamat, Pak Adelio. Anak Anda telah lahir dengan normal. Mereka sudah dapat dijenguk sekarang.”Begitu mendengar ucapan dokter, mata Adelio berkaca-kaca.Dia kemudian segera menyalami dokter tersebut dan mengucapkan terima kasih beberapa kali.Adelio lalu tak sabar untuk menyeret kakinya menuju ruangan di depannya.Begitu pintu terbuka, aroma harum bayi dan kehangatan menyambut indranya. Pemandangan pertama yang menyapa netranya adalah Laura yang duduk bersandar di atas brankar sembari menggendong bayi mungil yang terbungkus selimut biru muda.Kulit Laura yang putih susu tampak sedikit pucat pasca persalinan, namun binar di mata birunya jauh lebih terang dari lampu ruangan mana pun.“Sayang!”Adelio lalu bergabung dengan mereka. Dia duduk di tepi ranjang, merengkuh bahu Laura yang secara bersamaan memeluk sang istri beserta bayinya dalam satu dekapan protektif.Karena terlalu bahagia dan ini masih te

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 78. Tamat

    Laura terhenyak. Jantungnya yang semula meluap oleh rasa syukur kini seolah diremas oleh tangan tak kasat mata.Dia mundur satu langkah, membiarkan jarak tercipta di antara mereka. Sepasang matanya yang sembap memandang Adelio dengan tatapan tak percaya, seolah pria di depannya ini adalah orang asing yang baru saja mengenakan wajah suaminya.Dia membuka mulut, hendak menjawab. Tetapi kemudian buru-buru mengatupkan bibir lagi.Bersamaan dengan ketegangan yang menggantung di udara, dokter paruh baya tadi dan dua asistennya berderap masuk.Mereka lekas memeriksa kondisi Adelio secara detail, memeriksa tensi, refleks pupil, hingga saturasi oksigen yang tertera di monitor.Adelio masih tak melepaskan pandangannya dari Laura, meski tim medis sibuk di sekelilingnya.Beberapa kali pria itu meringis kesakitan, jemarinya memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut hebat.Rasa pusing yang luar biasa menyerangnya, seperti ada

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 77. Antara Mimpi dan Nyata

    Dokter dan timnya keluar setelah melewati menit-menit yang menegangkan.Keringat tampak membanjiri wajah mereka, membasahi kening dan masker medis yang mereka kenakan.Aroma antiseptik dan ketegangan yang pekat seolah ikut mengalir keluar bersama langkah-langkah terburu-buru para tenaga medis tersebut.Laura yang duduk lemas dan bersandar di bahu Agustine langsung bangkit seolah mendapat suntikan tenaga mendadak.Rasa lemas di kakinya menguap begitu saja, digantikan oleh adrenalin yang mendesak jantungnya untuk berdegup kencang.Dia berhambur menuju dokter beserta timnya yang melangkah cepat, dan memblokir jalan mereka dengan wajah yang pucat pasi namun penuh tuntutan.“Dok, bagaimana keadaan suami saya?” tanya Laura mendesak.Suaranya pecah, tersangkut di tenggorokan yang terasa kering karena terlalu banyak berteriak dan menangis.Dokter akhirnya menghentikan langkahnya. Pria paruh baya itu mengusap dahinya sej

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 76. Denyut Jantung yang Memudar

    Laura menatap lama wajah Adelio yang pucat dan dipasang banyak selang.Matanya panas lagi sehingga air matanya kembali merintik jatuh, membasahi pipinya yang kini sedikit lebih tirus akibat kelelahan batin selama berminggu-minggu.Sosok pria yang biasanya tampak begitu kaku, dominan, dan selalu punya kendali atas segala hal itu kini tampak begitu rapuh, seolah nyawanya hanya bergantung pada seutas kabel tipis yang terhubung ke monitor.“Tolong jangan pernah menyerah di sana ya, Mas. Aku butuh Mas buat ajari anak ini cara jadi bos yang galak tapi baik hati,” ucapnya bergetar karena bendungan matanya jebol lagi.Isakan kecil mulai terdengar di ruangan yang sunyi itu.Laura merasa seolah sedang berbicara pada dinding kosong, namun dia menolak untuk berhenti percaya bahwa di suatu tempat di dalam kegelapan koma itu, Adelio bisa mendengarnya.Laura buru-buru mengenyahkan air matanya dengan punggung tangan, berusaha terlihat kuat di de

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 75. Laras Datang

    Laura tak membuang-buang waktu sedikit pun.Harapan yang membuncah di dadanya seolah memberikan kekuatan tambahan pada kakinya yang semula lemas.Dia lekas berlari keluar dari kamar rawat Adelio. Sambil membawa tiang infusnya yang berderit nyaring di atas lantai marmer, dia mencari seorang perawat yang sedang berjaga.Kebetulan di ujung lorong yang remang, dia bertemu dengan seorang perawat yang tengah berjalan membawa baki peralatan medis.“Suster! Suster, tolong aku.Tolong periksa keadaan suamiku sekarang juga! Sumpah, barusan tangannya sudah gerak! Dia meremas tanganku!” erang Laura memohon dengan mata yang berbinar penuh harap.Perawat itu sempat terkejut melihat seorang pasien hamil berlarian membawa infus, namun dia segera mengiyakan dengan profesional.Dia lantas mengikuti jejak Laura dengan sigap menuju kamar rawat di mana Adelio berada.Tiba di ruang rawat Adelio, perempuan berseragam putih itu segera memeriksa

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 74. Keajaiban

    “Ratih?!”Laura terpekik syok. Suaranya yang serak dan parau seolah tertelan oleh tebalnya dinding kedap suara ruang VVIP ini.Tubuhnya mendadak mematung saat menyaksikan wanita itu ada di dalam ruangan bersama dengan dirinya. Berdua saja.Atmosfer di sekitar ruangan yang tadinya tenang meski penuh kesedihan, kini mendadak berubah menjadi mencekam, seolah oksigen di sana ditarik keluar secara paksa.Meski Adelio ada di sana, tepat di depan matanya, namun pria itu masih berjuang melawan masa komanya.Sosok pelindung yang biasanya berdiri kokoh itu kini hanya bisa diam membisu, terjebak dalam tidurnya yang panjang.Ratih buru-buru mengunci pintu, lalu melenggang mendekat ke Laura yang sayangnya masih membeku di tempat.Laura sebenarnya ingin pergi, ingin berlari sejauh mungkin dari wanita gila ini.Namun apa daya seluruh tubuhnya tak selaras dengan pikirannya.Otot-otot kakinya terasa lumpuh, terpaku pada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status