LOGIN‘Gantengnya ….’Setelah sebelumnya berhasil mencuri-curi pandang ke arah Adelio, kini Laura kian terpukau oleh daya pikat pimpinannya itu.Semakin lama dia menghabiskan waktu di tempat ini, Laura merasa Adelio semakin tampan.Entah karena pengaruh hormon remaja atau memang pria di depannya ini adalah definisi nyata dari hot daddy yang sering dibicarakan di novel-novel dewasa, Laura benar-benar sulit berpaling.Apalagi cahaya matahari yang menembus kaca besar di belakang Adelio berhasil mempertegas segala kelebihan yang tercetak pada wajah dan tubuhnya.Sinar pagi itu seolah-olah menjadi lampu spotlight pribadi bagi sang CEO.Bagaimana hidungnya mancung, rahang tegas, peletakan muka yang serba simetris nan tajam. Pun badannya yang atletis di balik balutan kemeja cokelat yang tengah pria itu kenakan.Kemeja itu tampak pas, membalut otot-otot dada yang bidang, membuat Laura berimajinasi liar tentang seberapa keras tekstur di balik kain mahal tersebut, yang pernah dia rasakan suatu malam.
“Woaaah! Ke mana saja kamu selama ini, Sayangku?!”Pagi ini Laura nyaris melonjak histeris karena saat dia tengah bosan, tangannya menemukan setelan blouse dan rok span yang telah lama tidak dia pakai.Tentu saja barang itu masih terlihat sangat bagus dan mahal sebab dia jarang mengenakannya.Laura membentangkan blouse sabrina berpotongan leher rendah tersebut sebelum akhirnya menempel lekat di tubuhnya.Dia berputar sebentar di depan cermin, tampak kagum sendiri. Dan hal itu cukup sukses menjadi alat pacu semangatnya untuk memulai hari.Blouse itu berhasil mencetak lekuk indah badannya, pun mengekspos belahan dada yang menggantung menggoda.Pria mana pun pasti tak dapat menahan air liur jika melihatnya sekarang."Oke, Laura. Misi mencairkan gunung es dimulai sekarang," gumamnya pada bayangan di cermin sambil mengedipkan sebelah mata.Seperti sebelumnya, Laura tiba di kantor lebih awal demi menghindari keterlambatan sekaligus hukuman dari Adelio.Sebenarnya, Laura telah memutuskan unt
Pagi yang seharusnya cerah ini jadi sangat mengusik ketenangan Laura dengan kemunculan Satria di kediamannya.Waktu itu, Laura sedang berada di kamar sambil menikmati bagaimana langit pagi menjadi sorot menyenangkan sebab sejak kemarin dia masih menyimpan Adelio di dalam pikirannya.Dan, bagaimanapun, degup jantung yang ganjil itu sering timbul-tenggelam setiap dia mengingat kejadian saat Adelio memeluk pinggangnya dan mereka berhadapan begitu dekat.Sementara, tanpa sepengetahuannya, kali ini Satria sengaja pergi ke rumah Laura demi menangkap perempuan itu berenang lagi demi mendapat bahan baru untuk memuaskan imajinasi hasrat terpendamnya.Laura berdecih saat dia mendengar suara Satria yang menurutnya dibuat-buat semakin sopan di hadapan Aina di bawah sana, lalu terdapat sepasang langkah kaki yang kian mendekat.Laura buru-buru keluar sebelum pria membosankan itu berhasil menjamah kamarnya."Kamu kenapa ke sini lagi, sih?!"Satria terpaksa menghentikan langkah, lantas mengusung sebu
Laura merasa hari ini Adelio lebih uring-uringan dari biasanya. Semuanya jadi serba salah. Sepertinya itu karena tuduhannya yang mengatakan kalau Adelio mesum, atasannya itu jadi balas dendam menyuruhnya mengerjakan ini itu. Mulai dari menyusun arsip fisik yang sudah berdebu di gudang bawah, hingga memverifikasi ratusan data input yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh staf administrasi biasa. Adelio benar-benar ingin menguras energinya sampai habis.Meski lelah, tapi Laura tidak sekesal kemarin. Hari ini dia puas karena dia telah menggoda Adelio memakai branya. Ternyata bra kesayangannya itu jatuh saat dia buru-buru pulang untuk mengejar jam kuliahnya kemarin. Kejadian itu bermula ketika dia mengganti pakaian di kamar mandi setelah insiden dirinya diguyur cairan pengepel lantai oleh Sinta dan antek-anteknya.Karena panik dan terburu-buru, benda pribadi berwarna merah itu terselip di balik tumpukan buku dan tertinggal.Laura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ada rasa malu yang me
"Bi, lihat bra kesayanganku yang berwarna merah tidak? Kok di keranjang kotor tidak ada?" tanya Laura pada seorang pembantu yang kebetulan lewat saat dia sedang memindahkan pakaian kotornya yang sebelumnya dia taruh ke keranjang kotor ke mesin cuci."Tidak, Non. Saya bantu cari ya," balas si pembantu dengan sopan. Dia ikut berjongkok di samping Laura yang mengais-ngais tumpukan pakaian kotornya yang berhamburan di lantai."Terima kasih, Bi. Soalnya itu bra kesayanganku. Aku mau cuci itu biar bisa aku pakai besok."Walaupun Laura memiliki banyak bra bermerk, tapi hanya bra merahnya itu yang paling dia sukai. Itu adalah bra pertama yang dia beli memakai uang tabungannya sendiri sehingga lebih berharga daripada puluhan bra mahal yang dibelikan ibunya.Sebelum Laura berangkat bekerja dia ingin mencuci beberapa pakaiannya terlebih dahulu karena sejak kecil Aina, ibunya mengajarinya untuk mandiri.Lagi pula mencuci baju menurut Laura adalah keahlian yang harus dimiliki semua orang di dunia.
Sesudah Laura selesai membersihkan toilet wanita di lantai dua, dia kemudian beralih membersihkan toilet wanita yang ada di lantai tiga.Dengan sisa tenaganya, Laura berusaha menuntaskan pekerjaannya secepat mungkin agar dia bisa makan sore di kantin perusahaan. Karena sejak tadi siang dia belum makan sama sekali sehingga tubuhnya merasa lemas.Laura duduk berjongkok saat membersihkan lantai. Saat dia berdiri untuk berpindah ke bilik toilet di sampingnya, mendadak pandangannya hampir menggelap.Laura buru-buru berpegangan dengan dinding dan berjongkok lagi. Dia menutup matanya dengan kedua tangan."Please jangan pingsan dulu. Aku belum selesai," gumamnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata berharap pandangannya bisa kembali normal.Namun belum saja Laura memulihkan keadaannya, Sinta dan antek-anteknya datang untuk memperbaiki riasan wajah mereka.Begitu mereka melihat Laura yang berjongkok di lantai dengan membawa sikat pembersih kamar mandi, mereka langsung tertawa merendahkan Laura."H







