تسجيل الدخولKeesokan harinya, jam 9 malam, Fanny, Marissa, Wilyam, dan juga Danendra ada di unit sebelah yang akan menjadi tempat tinggal Marissa dan Fanny. Semua barang pun sudah tersedia di sana, termasuk tempat tidur, lemari, sofa, TV, dan lain sebagainya. "Besok kita akan melakukan transaksi pengalihan kredit apartemenmu pada Luna! Tadi siang Asisten Anas sudah menyiapkan semuanya, dan ... Luna pun sudah setuju," ucap Danendra dengan santai. Dari siang, dia tidak terlihat sibuk dan tidak terlihat melakukan pergerakan apapun. Padahal di belakang, dia sudah menyiapkan kepindahan Marissa sampai sedetail itu. "Danen! Apa ini tidak terlalu mendadak? Kau juga tidak bertanya dulu padaku, aku setuju atau tidak pindah kemari!" Bagi Marissa, ini benar-benar mendadak. Ia belum mempersiapkan apapun untuk kepindahannya ke gedung apartemen yang merupakan hunian terbaik di Kota A. Untuk lingkungannya, Marissa pun belum siap bertetangga dengan orang-orang elit seperti mereka. "Suka ataupun tidak, kau te
Dari dalam kamar, terdengar Zain bertanya, "Siapa?" "Ah, i-ini... Fanny," jawab Marissa dengan gugup. Ia bingung harus menjawab apa pada Zain. Danendra tiba-tiba datang, dan Fanny malah membawanya ke tempat tinggal Zain. 'Aishhh, matilah akuuu!' Dari depannya, Danendra mengulurkan tangan, lalu menarik tangan Marissa dengan tenaga yang cukup kuat. "Ikut denganku!" ucap Danendra sambil membawa Marissa keluar dari apartemen Zain. Sebenarnya Danendra baru sampai di kota itu beberapa menit yang lalu. Ia langsung menghubungi ibunya dan menanyakan langsung tujuan Ambar membawa Michael. Ambar pun menjelaskan banyak hal tentang tujuannya mengambil anak itu dari Marissa. Salah satunya "Demi kebaikan Michael di masa depan.". Selain itu, Ambar pun bilang, kalau saat ini Michael dan Drizela pergi jalan-jalan ke luar kota. Jadi saat ini, Danendra tidak bisa membawa Michael ke tempat Marissa. "Apa yang kau lakukan di kamar Zain? Apa kalian sedang bercinta?" tanya Danendra yang terlihat
Pukul sembilan pagi, Marissa sudah mandi dan mengganti pakaian. Ia pun sudah membuat sarapan, untuknya, Fanny, dan juga untuk Zain. Dari kamar, tiba-tiba Fanny menghampiri Marissa yang masih ada di dapur sambil memegang ponselnya. Ia pun berkata dengan sedikit cemas, "Sa! Barusan Wilyam memberitahuku, katanya dia tidak bisa membawa Michael kemari." "Eh, kenapa? Apa dia tidak diberi izin sama Tante Ambar?" tanya Marissa yang tadi sudah meminta Fanny untuk menghubungi Wilyam dan meminta adik Danendra itu untuk mengajak Michael pulang. Karena kalau menunggu Danendra pulang, itu masih satu jam lagi. Danendra baru naik pesawat saat Marissa menyuruh Fanny menghubungi Wilyam. Namun setelah dihubungi, Wilyam bilang anak-anak sudah pergi ke luar kota bersama kakek dan neneknya. "Bukan! Katanya orang tua Wilyam, Izela, dan Michael sudah berangkat ke luar kota! Mereka akan pergi ke Wami Island!" balas Fanny sesuai dengan apa yang Wilyam katakan tadi di telepon. "Oh!" Marissa pun te
"Apa ini, Tante?" tanya Marissa sambil mengambil kertas putih dari tangan Ambar. Ia pun mulai membacanya. "Ini hasil tes DNA Michael! Ya, hasilnya 99,99% anak itu adalah anak Danen! Oleh karena itu, aku datang untuk membawa Michael tinggal bersama Izela di rumah kami! Sebagai anak kembar, mereka tidak boleh berpisah," jelas Ambar sambil melihat Marissa yang sedang membaca hasil tes DNA putranya. Marissa pun sangat terkejut ketika mendengar ucapan Ambar yang terakhir. "Me-membawa? Membawa Michael?" tanya Marissa dengan terbata. Ia tidak menyangka, kedatangan Ambar ke tempatnya ternyata untuk membawa Michael ke rumah mereka. Padahal sebelumnya sudah pernah menginap satu malam di sana. "Ya! Sebagai anak laki-laki yang nantinya akan menjadi pewaris di keluarga kami, tentunya Michael harus tinggal bersama kami! Dia harus mendapatkan hidup yang baik dan layak, dengan pendidikan yang baik pula," jelas Ambar tanpa rasa bersalah sedikitpun. Padahal wanita di depannya masih terdiam karena
Malam ini, Marissa kembali pulang tanpa Michael. Anak itu sudah dibawa oleh Ambar ke rumahnya dan akan menginap di sana. Entah harus senang atau sedih, anak keduanya bisa diterima di rumah keluarga Adipraja—yang sebelumnya Ambar tidak mau menerima—Marissa pun tidak tahu. Yang ia rasakan saat ini hanyalah bingung. "Tidak apa-apa! Kau jangan khawatir, Mama pasti akan memperlakukan Michael dengan baik, sama halnya dengan Izela. Karena Michael pun sama-sama cucunya!" ucap Danendra sambil meraih tangan Marissa, lalu menggenggamnya. "Setelah mengantarmu, aku akan pulang ke rumah dan memastikan Michael baik-baik saja! Jadi jangan khawatir, ya!" tambahnya lagi. Lalu melepaskan tangannya dan kembali memegang roda kemudi. "Enh!" Marissa mengangguk. Ia tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Sampai di tempat tinggal Marissa, Danendra segera menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen. "Masuklah! Cepat tidur dan jangan banyak pikiran! Semuanya akan baik-baik saja!" ucapan Dane
Michael cemberut. Ia tidak suka pada nenek yang kemarin sempat memarahinya gara-gara guci pecah. Walau dirinya memang bersalah, tapi tidak seharusnya nenek itu memarahinya sampai Michael trauma. Bahkan, luka karena pecahan guci itu masih ada di lutut kecilnya. "Tidak apa-apa! Nenek tidak jahat, kok! Kemarin itu, dia hanya emosi karena benda kesayangannya rusak!" ucap Marissa dengan pelan. Padahal dirinya juga malas untuk bertemu dengan Ambar lagi. Kalau bukan karena Danendra, Marissa tidak akan mau pergi ke luar untuk makan malam bersama mereka. "Hum!" Michael masih marah di belakang. Ia melipat kedua tangannya di depan dengan mulut yang dikerucutkan. Setelah itu, Marissa tidak mengatakan apapun lagi. Sampai di sebuah restoran ternama di Kota A, Danendra menghentikan mobilnya di tempat parkir, lalu membuka pintu untuk Marissa dan juga Michael. "Terima kasih!" Marissa pun keluar dari mobil, lalu memegang tangan putranya yang tampan dengan pakaian rapi dan bagus. "Ayo, k
Malam hari, Marissa baru turun dari bus setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit dari tempat kerja menuju rumahnya. Tubuhnya terasa capek dan lelah, untuk berjalan pun rasanya sangat sulit. Marissa ingin segera sampai di rumah dan tidur. Hari ini, pekerjaan Marissa di kedai mie cukup meng
Di rumah tua yang sangat sepi, samar terdengar suara hewan-hewan dari sekitaran rumah tersebut. Bukan hanya suara hewan-hewan kecil saja, hewan besar seperti long-longan anjing pun begitu jelas terdengar. Marissa yang dikurung di tempat yang sepi itu merasa merinding dan sedikit takut. Marissa ma
Hari sudah sangat larut, suasana di tempat itu pun semakin malam semakin menyeramkan. Marissa tidak menyadari ponsel yang ada di dalam tasnya masih menyala, dan seseorang dari seberang telepon masih bisa mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di tempatnya.
Di ruangan yang tidak terlalu besar, seorang pria duduk di sofa ruang tamu sambil menatap sekeliling ruangan yang nampak sederhana sambil menunggu wanita yang dicarinya turun. Rumah keluarga Sony itu memang tidak terlalu besar dan mewah seperti rumah orang kaya pada umumnya. Dari luar pun sudah t







