LOGIN"Minggir! Minggir!" "Semuanya minggir!" Petugas kepolisian bergegas menahan orang-orang yang akan mendekat. Mereka semua memegang ponselnya masing-masing, lalu merekam kejadian tersebut, di mana tubuh seorang pria tergeletak di aspal dengan genangan darah yang terus keluar. "Ah ...." Melihat hal mengerikan itu, akhirnya Marissa tidak kuat lalu pingsan. Tuan Lim yang ada di sampingnya pun segera memeluk dan menahannya agar tidak terjatuh. Dari depannya, Danendra berlari, lalu menghampiri Marissa yang terlihat lemah. "Apa yang terjadi? Marissa kenapa?" tanyanya dengan cemas. Danendra melihat Marissa memejamkan mata. Ia semakin panik, lalu memanggil bawahannya dan memintanya untuk segera membawa Marissa ke rumah sakit. Di dalam mobil, Danendra begitu cemas, bukan hanya karena melihat kejadian mengerikan yang terjadi pada Ken, tetapi juga karena melihat istrinya yang saat ini tidak sadarkan diri. Tuan Lim sudah menceritakan kronologi kejadiannya pada Danendra, dan ia pun semakin
"Siapa yang tidak tahu diri? Aku atau kau?" Tuan Lim benar-benar tidak mengerti. Kenapa dia yang jahat, tapi dia sendiri yang merasa terzalimi? Bukannya menjawab, Ken malah menyeret Tuan Lim keluar dari apartemen itu. "Ahhh!" Tindakan Ken yang kasar itu membuat Tuan Lim hampir tersungkur. "Kemari, kita harus bicara!" Ken menutup pintu dengan keras hingga Marissa yang ada di dalam merasa terkejut. Ken menarik Tuan Lim ke dalam lift. "Eh, lepaskan! Apa yang kau lakukan? Dasar tidak tahu diri!" Tuan Lim menghempaskan tangannya dari genggaman Ken. Tuan Lim yang memang bukan pria tua yang lemah, mencoba melawan Ken yang pernah menganiayanya. Tuan Lim tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. "Diam! Kita harus berbicara!" Ken masih saja memaksa. Ia bersiap menutup pintu lift. Sebelum pintunya benar-benar tertutup, tiba-tiba Marissa keluar dari unit apartemen, lalu berteriak pada Ken dan Tuan Lim. "Tunggu!" Marissa bergegas menghampiri mereka. Ken kembali membuka pintu. Ia terl
Benar saja, Ken yang masih dendam pada Marissa, juga pada Tuan Lim yang kabur entah ke mana, akhirnya datang ke tempat tinggal Danendra. Dia memakai pakaian serba hitam, juga topi hitam yang ditarik ke depan hingga menutupi hampir sebagian wajahnya. Orang-orang yang berpapasan dengannya pun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Sebelum mencari Marissa, terlebih dahulu Ken menemui petugas keamanan. Dia meminta bantuan petugas itu untuk memanggil Marissa. "Tolong sampaikan pada Nona Marissa, ada paket dari seseorang! Suruh dia menemuiku di tempat parkir. Soalnya paketnya lumayan besar, masih ada di dalam mobil!" jelas Ken dengan sedikit berbohong. "Oh! Nona Marissa istrinya Pak Danendra, ya?" "Iya, itu!" "Baik! Tunggu sebentar! Akan saya panggilkan!" Setelah itu, petugas keamanan benar-benar pergi ke lantai atas. Dia segera ke unit apartemen milik Danendra. Di depan pintu apartemen, pelayan membuka pintu setelah ada bunyi bel. Petugas keamanan pun segera menyampaikan apa yang
"Oh, iya! Silakan!" Marissa pun mempersilakan Dokter Ma untuk keluar. Ia mengantar dokter itu sampai ke depan pintu. *** Sore hari, Danendra sudah kembali bersama anak-anaknya. Namun, ia langsung mengantar mereka ke rumah orang tuanya karena di apartemen ada Tuan Lim yang sedang sakit. Takutnya anak-anak mengganggu kakek Marissa yang sedang dalam masa pemulihan itu. "Bagaimana keadaan Tuan Lim sekarang? Apa dia mau makan?" tanya Danendra di ruang keluarga. Tadi siang Marissa bilang padanya kalau Tuan Lim tidak ingin makan. Dia hanya terdiam sambil memejamkan mata, padahal tidak tidur. "Ya! Sedikit demi sedikit sudah ada makanan yang masuk. Tapi Tuan Lim masih tidak mau berbicara!" balas Marissa yang terlihat sedih. Sesuai dengan apa yang Marissa dengar dari Bram, Tuan Lim sengaja berpura-pura gila di depan Alex. Padahal sebenarnya dia baik-baik saja. Hanya perasaannya saja yang sakit karena ditikam langsung dari belakang oleh orang yang sudah dianggapnya sebagai anak. Itu
"Tadi ... wanita itu memaksa saya untuk bangun. Padahal saya sudah bilang, saya tidak bisa. Tapi dia terus memaksa!" Ken mengarang cerita. Ia tetap dengan pendiriannya, "Lumpuh!". "Hem ...." Tentu saja, bodyguard yang menyamar menjadi perawat itu tidak percaya dengan apa yang Ken katakan. Sesuai dengan apa yang tadi dia lihat dari rekaman kamera tersembunyi yang ada di ruangan itu, Ken menyerang Marissa dan terus menekannya ke tempat tidur. Ken baik-baik saja dan dia tidak lumpuh. "Ya, sudah! Kalau begitu, saya permisi!" Bram tidak peduli lagi. Ia bersiap pergi meninggalkan Ken di ruangan itu. Yang terpenting saat ini, mereka sudah punya bukti atas kebohongan dan kejahatan Ken. Cepat atau lambat, pria jahat itu akan segera dilaporkan ke polisi. Setelah Bram pergi, akhirnya Ken bisa bernapas dengan lega. Ia mengambil ponselnya yang disembunyikan di bawah bantal, lalu menghubungi seseorang. Ia meminta orang itu untuk datang ke kamarnya. Lima menit kemudian, orang yang dihubungin
"Hah... gila? Siapa yang sudah gila? Aku... apa aku yang gila? Haha...." Tiba-tiba Ken tertawa. Ia seperti orang kehilangan akal yang terus berbicara, marah, lalu tertawa sendiri. "Yang gila itu adalah kau! Sejak kau hadir, semuanya berubah menjadi kacau! Tuan Lim menganggapmu sebagai cucu, lalu mendambakan bertemu dengan Ghio! Apa menurutmu itu tidak gila?" Ken semakin menekan Marissa. Ia sudah membuka mulut Marissa dan membiarkan wanita itu berbicara. "Ken... aku baru tahu, kau membenciku karena hal ini! Kau takut Tuan Lim lebih memedulikan aku daripada kau!" teriak Marissa tanpa rasa takut sedikitpun. Rasa sakit akibat kematian sang ayah yang dicelakai pria itu membuat Marissa tidak lagi takut pada apapun. Apalagi berhadapan dengan Ken. Ia akan melawan dan akan menuntut balas sampai pria itu merasakan penderitaan yang sama seperti yang dirasakan oleh ayahnya. "Apa kau takut semua harta Tuan Lim jatuh ke tanganku?" tiba-tiba Marissa mengatakan hal itu. Ia bisa menebak, Ken sa
Di dalam rumah yang tata letaknya sama dengan rumah Marissa, wanita itu berjalan masuk ke dapur lalu mencari makanannya sendiri. Ada begitu banyak makanan cepat saji di dapur milik Zain, beberapa mie dan sayuran, juga ada kompor dan panci juga. Terlihat bahwa pria itu sering memasak makanannya di
Langit sudah mulai gelap. Di ruangan yang cukup luas dan nyaman dengan dekorasi modern berwarna coklat dan putih, Sely duduk di sofa yang empuk bersama dengan seorang pria. Ia sengaja menyewa satu kamar hotel itu hanya untuk membahas hal yang sangat penting. Sely duduk di sofa sambil melipat kedu
"Mama!" Mario berteriak saat melihat Marissa. Ia memeluk kaki ibunya dan terus memanggil. "Mama!" Marissa terdiam. Putra yang selama ini dia rindukan, sekarang benar-benar ada di depan matanya, dan bahkan memeluk kedua kakinya dengan erat. Marissa tidak bisa berkata apapun. Ia terpaku, rasan
Setelah Marissa naik ke atas motor tinggi dan besar itu, bukannya membelokan motornya dan pergi dari sana, Zain malah berjalan lurus menuju rumah tua itu. Ia menghiraukan teriakan Marissa dari belakang. Dia terus saja berjalan. "Zain! Apa yang kau lakukan? Kenapa membawaku ke rumah tua itu lagi?







