LOGIN"Za-Zain? Kau belum berangkat ke kantor ayahmu?" tanya Marissa mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Zain membahas tentang ketidakpulangannya tadi malam, di sana. "Marissa ... apa yang kau pakai itu? Kenapa kau ...?" Zain menunjuk pakaian kebesaran di tubuhnya. Dengan penampilannya yang seperti itu, Marissa terlihat sangat aneh dan mencurigakan. "Ahhh ... kita bicara di rumah saja!" Marissa segera menarik tangan Zain menuju apartemen miliknya. Ia tidak ingin terus berada di luar, tidak ingin pula ada orang yang melihat penampilannya yang aneh ini. Di ruang tamu yang cukup luas nan nyaman, Fanny dan Zain sudah duduk di sofa sambil menunggu Marissa yang sedang mandi. Mereka menunggu penjelasan tentang hilangnya wanita itu tadi malam yang membuat semua orang panik. Di kamar mandi, Marissa segera membersihkan kepala dan tubuhnya dengan cepat. Ia terus menggosok kulitnya dengan keras agar jejak-jejak sentuhan Danendra di tubuhnya segera menghilang. Setelah selesai, Marissa be
Tiba di sekolah taman kanak-kanak Harapan Bintang, Danendra keluar dari mobilnya, lalu masuk ke area sekolah yang cukup luas dengan langkah yang sangat cepat. Ia sangat khawatir setelah menerima telepon dari guru di sekolah putrinya, bahwa putrinya—Drizela—menangis dan meminta ayahnya untuk datang. Takut terjadi hal buruk pada anak itu, Danendra pun bergegas pergi ke sekolah walau sebenarnya ia enggan untuk pergi. Di ruang kelas yang sangat ramai dan berisik dengan dekorasi khas anak kecil, seorang anak laki-laki berdiri di depan kelas bersama satu anak perempuan. Satu guru wanita berjongkok sambil berbicara pelan pada mereka. Sedangkan murid lainnya duduk di bangku masing-masing sambil mengerjakan puzzle yang sudah dibagikan oleh guru lain. "Sayang... Ibu tanya satu kali lagi, Zee dapat ini dari mana?" Guru wanita yang bernama Mila memegang jepitan rambut yang katanya milik Drizela, tapi dipakai oleh Zee-Zee. "Aku tidak tahu, Bu Guru! Itu Michael yang memberikannya padaku seb
Marissa mundur ke belakang untuk menghindari Danendra. Pria itu sekarang membuka celana panjangnya, menyisakan celana dalam pendek berwarna navy. Otot-otot di tubuh dan pahanya begitu jelas terlihat, membuat Marissa semakin gugup. Ada ponsel dari saku celana, Danendra segera mengambilnya, lalu dilempar ke atas tempat tidur. "Marissa ... sepertinya kau tidak puas kalau hanya berhubungan dengan satu pria, ya?" cibir Danendra sambil mendekat. Ia mendorong kedua bahu putih dan polos Marissa hingga wanita itu terlentang di tempat tidur. Saat ini, Danendra benar-benar sangat emosi. Marissa mengaku tidur dengan pria lain karena Danendra juga tidur dengan Luna di kamar hotel. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Malam itu, Danendra hanya mabuk, lalu dibawa ke kamar hotel oleh Luna. Setelah itu, mereka berciuman dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang dewasa. Tapi untuk tidur, Danendra benar-benar tidak melakukannya. "Da-Danen ... apa yang kau lakukan? Menyingkirlah!"
"Tidak!" balas Michael sambil kembali meneguk susu yang tinggal setengahnya itu. "Sepertinya penumpang sebelumnya seorang om-om yang sangat galak!" "Eh, kenapa begitu?" Fanny pun bertanya. Ia sangat serius melihat anak kecil bercerita. "Iya! Matanya begini, nih ...." Michael langsung memperagakan ekspresi orang itu. Tatapannya begitu tajam dengan ekspresi yang sangat dingin. "Aishhh! Kau ini! Kebanyakan nonton TV, jadinya seperti itu!" Fanny mencubit pipinya yang bulat. Merasa gemas dan juga sangat lucu. "Sudahlah! Cepat bersiap! Sebentar lagi Papa Zain akan menjemputmu!" ucap Fanny sambil membawa piring dan gelas yang sudah kosong ke dapur. Ia tidak percaya begitu saja dengan ucapan anak itu. Sikapnya yang tidak mempercayai ucapan Michael membuat anak kecil itu sedikit kesal. "Benar, aku tidak berbohong! Om ganteng itu sangat galak! Kalau Tante melihatnya, Tante pasti akan dimarahi!" ucapnya dengan polos. Fanny malah ingin tertawa mendengarnya. "Memarahi Tante kare
Selama beberapa detik berada di dalam lift, Marissa merasa itu sangat lama, rasanya seperti berjam-jam. Tekanan dari tatapan orang yang ada di belakangnya begitu berat, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Belahan punggung dari gaunnya yang cukup terbuka itu membuat Marissa kedinginan. Aura pria itu benar-benar sangat kuat, membuat Marissa tidak bisa bernapas dengan bebas. "Ehem ...." Tiba-tiba pria di belakangnya berdehem. Marissa hanya terdiam sambil terus meremas gaun bagian depannya, tidak merespon sedikitpun suara pria itu. Ding! Pintu lift sudah tebuka di lantai dasar. Marissa yang sedari tadi ingin keluar, bergegas keluar sambil mengangkat gaun panjangnya agar dirinya bisa lebih mudah untuk berjalan. Tanpa menoleh ke belakang, Marissa terus berjalan sampai keluar dari gedung hotel tersebut. Di depan hotel itu sudah ada mobil hitam milik Zain yang sudah terparkir. Di samping mobil itu ada sopir yang tiba-tiba menyapa. "Nona! Silahkan!" Sopir itu membuka pintu baris kedua, m
Namun Marissa segera mencegahnya. Ia menarik tangan Zain sambil berkata, "Tidak usah! Michael sedang tidur. Aku tidak tega membangunkannya! Besok kami akan mencari sekola baru, jadi sekarang dia harus istirahat dengan baik!" Zain pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke apartemen Marissa. Ia menatap wanita di depannya dengan lembut, lalu menggenggam tangannya dengan erat. "Tapi, aku yang tidak tega meninggalkannya sendirian! Sedangkan kita pergi bersama ke acara jamuan makan malam!" balas Zain dengan pelan. Namun ia tidak akan memaksa jika Marissa tidak mengizinkan Zain membawa Michael. "Tidak apa-apa, di sini juga ada Fanny, kok! Michael tidak sendirian! Kalau sekarang dia tidak tidur, tentu aku akan mengajaknya!" "Emh, baiklah! Setelah makan, kita langsung pulang saja! Tidak perlu menunggu sampai acara selesai, karena itu bisa sampai larut malam!" "Enh, oke!" Marissa pun mengerti. Ia menganguk, tidak membahas hal itu lagi. "Ayo!" Zain menekuk satu tangan di pinggang, m
"Tidak apa-apa! Anggap saja sepatu itu dijual dengan harga tiga ratus ribu! Nanti, setelah punya uang, kau bisa membelinya lagi," hibur Darius pada Marissa yang sedang murung. Mereka berjalan bersama keluar dari toko tersebut. "Enh!" Marissa pun tersenyum, lalu mengangguk. Bukan masalah memb
Saat Marissa sedang ke toilet, tiba-tiba terdengar nada dering dari dalam tasnya yang ada di atas meja. Suara panggilan itu terus berbunyi membuat sebagian orang yang ada di sana merasa terganggu. "Aisshh! Ponselnya benar-benar sudah dikembalikan!" ucap Fanny pelan. Ia pun segera menarik tas Ma
Marissa menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak akan mengatakan panggilan itu lagi, karena dirinya sudah mengerti. Namun, tingkahnya itu benar-benar sangat imut di mata Danendra. "Hehe! Kenapa mulutnya ditutup? Tidak ingin dicium lagi atauuuu ... tidak ingin mem
Hening beberapa saat dengan posisi yang sangat intim. Marissa masih terlentang di bawah, sedangkan Danendra berada di atasnya dengan jubah mandi yang terbuka di bagian depan. Marissa menatap Danendra, lalu berkata dengan tegas, "Anda tidak tahu, betapa bahagianya saya, dulu, saat merawat bayi i







