MasukIni pasti serius. Tidak mungkin Michael dan Marissa murung kalau masalahnya hanya masalah biasa. Berpikir demikian, Sinta pun segera bangkit berdiri. Ia menghampiri Marissa yang sedang berbincang dengan putranya. Dengan pelan, Sinta pun memanggil, "Marissa! Bisa kita bicara sebentar?" "Eh, ya! Ada apa Tante?" Marissa bangkit berdiri. Tapi berikutnya, Zain meraih tangan Marissa dan menariknya agar kembali duduk. "Mama, kalau ada yang ingin dibicarakan, bicara saja di sini!" ucap Zain pada ibunya. Ia khawatir ibunya akan membicarakan sesuatu hal yang menyangkut dengan dirinya. "Ah, tidak enak, lah! Mama ingin berbicara berdua saja dengan Marissa!" ucap Sinta dengan pelan. Ia pun tidak ingin membuat putranya salah paham. "Tidak apa-apa! Aku tidak apa-apa! Bicara saja di sini!" Zain masih tidak mengizinkan ibunya membawa Marissa. "Aish! Baiklah ...." Akhirnya Sinta mengalah. Ia pun berbicara di depan Zain. "Begini! Michael bilang, kau dimarahi oleh orang lain! Kalau boleh tahu,
Danendra berteriak. Ia sudah tidak tahan dengan sikap ibunya yang kasar dan menyebalkan. Awalnya Danendra tidak ingin menjadi anak durhaka yang melawan dan membentak ibunya. Tapi sekarang, ibunya sudah keterlaluan. "Haha! Lucu sekali!" Ambar malah tertawa. "Kau bilang, dia cucuku? Hufttt... " Ambar menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa yang akan keluar. "Cucu dari mana? Bukankah kembaran Izela sudah meninggal saat bayi? Sekarang, tiba-tiba saja hidup lagi. Ini sungguh lucu!" "Hemmm, hebat sekali Marissa! Hobinya memungut anak orang lain. Dulu Diego, sekarang Michael! Tapi anak sendiri ditelantarkan! Adaaa, ya, di dunia ini ibu semacam itu?" Semakin didengarkan, ucapan Ambar semakin menyakitkan. Marissa tidak tahan kalau terus seperti ini. "Maaf, Nyonya! Untuk masalah guci yang Michael pecahkan, nanti saya akan menggantinya!" ucap Marissa dengan menahan semua gejolak pada dirinya. Tangannya terkepal erat sambil merangkul puncak putranya. "Baguslah! Ganti barangnya
Hari ini merupakan hari yang sangat menegangkan bagi Marissa. Untuk kedua kalinya setelah lima tahun, Marissa kembali lagi ke rumah keluarga Adipraja untuk bertemu orang tua Danendra. "Tidak apa-apa! Kau jangan takut!" ucap Danendra dengan pelan. Satu tangan memegang roda kemudi, dan tangan yang satunya lagi memegang tangan Marissa. "Enh! Aku tidak apa-apa, hanya sedikit gugup saja!" balas Marissa sambil menoleh ke arah Danendra. "Hmhm! Baguslah!" Pria itu pun tersenyum. Wajahnya terlihat berseri dan sangat bahagia. Bagaimana tidak bahagia? Ini adalah waktu yang sudah ditunggu-tunggu sangat lama. Di mana dia membawa Marissa lagi ke rumah orang tuanya dan akan memperkenalkan anak laki-lakinya juga. Bisa berkumpul dengan anak-anak dan istri merupakan kebahagiaan yang selalu dibayangkan oleh Danendra. Dan sekarang, menuju kebahagiaan itu tinggal satu langkah lagi. "O, iya! Tadi malam, kenapa kau pergi begitu saja? Kenapa tidak bilang padaku kalau kau mau kembali ke Kota A?" tanya
Walau terkejut, tapi Marissa mencoba untuk menanggapinya dengan santai. Ia pun berkata dengan sedikit bercanda, "Aishhh, anak kecil! Usiamu baru 11 tahun! Burungmu masih belum bisa bangun, tapi kau sudah membahas masalah pernikahan! Lebih baik sekarang sekolah yang benar, jadi anak yang pintar, tumbuh menjadi pria dewasa sehebat Papa Darius! Buatlah Mama dan papamu bangga! Bukankah itu yang selalu Mario janjikan pada Mama?" Marissa masih ingat, anak itu selalu berkata seperti itu padanya. Mario berjanji akan menjadi pria hebat seperti Papa Danen, akan membuat ibu dan neneknya bangga. "Heemm, tapi aku—" Baru saja Mario ingin berbicara, tiba-tiba pintu unit milik Marissa terbuka. Dari dalam, terlihat Danendra bersama kedua putranya bersiap pergi ke luar. "Eh??? Danen! Ka-kapan kau kembali?" tanya Marissa dengan terkejut. Hari Minggu ini, seharusnya Danendra dan yang lainnya masih ada di Kota C. Ada acara lagi di siang nanti. Tapi sekarang, jam 9 pagi, pria itu sudah ada di a
Di aula yang sangat luas, didekorasi layaknya sebuah pesta, Marissa masuk dan mencari Danendra. Pria itu sudah ditelepon beberapa kali, tapi tidak diangkat. Dicari ke tempat acara pun tidak ada. "Aishhh ... di mana Danen?" Marissa menatap kiri dan kanan, mencari sosok tampan yang tadi sudah berpakaian rapi lengkap dengan jas dan sepatunya. Selain Danendra, Marissa pun sudah memakai gaun cantik untuk menghadiri acara malam ini. Tapi sekarang, setelah adanya telepon dari Zain dan Darius, Marissa bergegas menghapus make up di wajah, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian miliknya yang sudah dicuci bersih. "Ah! Biar nanti kutelepon lagi, lah!" Marissa kembali keluar. Ia bergegas masuk ke dalam lift, lalu turun ke bawah menuju lantai satu. Kalau Marissa tetap berada di sana dan mencari Danendra, bisa-bisa dirinya ketinggalan pesawat. "Taksi!" panggil Marissa ketika ada taksi yang baru menurunkan penumpang. Sekarang taksi itu sudah kosong. "Bisa antar saya ke bandara?" tan
Di dalam kamar hotel berjenis Apartment-style yang sangat luas dan nyaman, Marissa masuk bersama Danendra. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari pasir dan air laut yang menempel di tubuhnya. Sebelum pintu kamar mandinya ditutup, Danendra bertanya dengan cemas, "Kau tidak apa-apa, kan?" "Ya, aku tidak apa-apa!" jawab Marissa dengan pelan. "Karyawati tadi, siapa namanya?" tanya Danendra yang mulai penasaran dengan orang yang sudah berbuat jahil pada wanitanya itu. Namun sepertinya, saat ini Marissa tidak ingin membahas tentang Jesi. Perbuatan teman satu kantornya itu benar-benar membuatnya kecewa. Dikira Jesi teman yang baik, tapi ternyata dia serigala berbulu domba. Sangat berbahaya untuk orang-orang di sekitarnya juga. "Aku mau mandi dulu!" ucap Marissa tanpa menjawab pertanyaan dari pria di depannya. "Emh, baiklah!" Danendra pun mengerti. Ia tidak bertanya lagi. Sebelum pintu kamar mandinya benar-benar tertutup, tiba-tiba Marissa melihat tetesan air dari
Di dalam mobilnya, Danendra sudah memakai sabuk pengaman. Ia menelepon memakai headsetnya di telinga. Bukannya Marissa yang menjawab, ini malah suara operator wanita yang berbicara dengan suara tegas namun sopan. "Sial! Kenapa Marissa malah mematikan ponselnya?" Danendra menjadi kesal. Ia senga
Pukul setengah enam sore, Ray dan Fanny sudah duduk di rumah Marissa. Di atas meja sudah ada beberapa makanan dan minuman yang tadi dibeli oleh Ray ketika dirinya berjalan menuju rumah itu. Sambil makan dan minum, Marissa dan Fanny hanya terdiam dan saling pandang. Keduanya tidak ada yang memulai
Ucapan Mario yang membahas tentang panggilan Danendra itu membuat Darius menjadi marah. Ia menghampiri Marissa, lalu menarik paksa tangan kecil Mario dan menyeretnya ke depan. "Apa katamu tadi??? Papa Danen? Siapa Papa Danen?" Darius berteriak. Ia melempar tubuh anak itu ke samping hingga Mario
"Danen! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Marissa berusaha melepaskan diri dari dekapan pria itu. Namun, Danendra tidak bergerak sedikitpun. Marissa ditekannya ke dinding hingga ia tidak bisa menghindar lagi. Danendra mengunci tubuhnya dengan kedua tangan yang disatukan ke dinding. Sedangkan ponse







