ホーム / Romansa / Terjerat Hasrat Dunia Gelap / Bab 1. Pangkuan dan Alkohol

共有

Terjerat Hasrat Dunia Gelap
Terjerat Hasrat Dunia Gelap
作者: Shenna

Bab 1. Pangkuan dan Alkohol

作者: Shenna
last update 公開日: 2025-02-12 11:31:11

Cahaya strobo berkelip di langit-langit, melempar bayangan tajam ke wajah-wajah yang menari liar. Musik deep house menghentak dada, disusul asap kabut dan aroma pekat parfum, keringat, serta alkohol.

Di sudut kursi bar counter, seorang pria duduk sendirian. Jas hitamnya masih rapi, meski dasi sudah dilonggarkan. Sepasang mata tajamnya menatap kosong ke arah gelas di tangan yang berisi Absinthe murni, tanpa campuran apa pun. Dengan kadar alkohol nyaris menembus batas legal.

Rasa terbakar segera menjalari tenggorokan dan dadanya. Tapi ia tetap duduk tenang, tenggelam dalam dunianya sendiri.

Di usia 30 tahun, beban bisnis dan tuntutan keluarga terasa lebih berat dari minuman terkeras sekalipun.

Drrrt ...!

Ponselnya bergetar pelan. Ia menoleh malas. Layar menyala menampilkan nama yang sudah terlalu sering membuat napasnya berat.

"Halo, Ayah," katanya.

"Apa kau sudah tiba di Melbourne, Alexander?" tanya pria tua dari seberang telepon, Reagan Hoffa.

"Baru saja tiba," jawab Alexander.

"Selesaikan urusanmu di sana secepat mungkin. Setelah itu, kembali dan segera lakukan pertunangannya."

"Ayah sudah mengulanginya berkali-kali."

"Ini bukan urusan sepele. Jika kita berhasil menjalin hubungan dengan keluarga Landtsov, keuntungannya akan sangat besar. Lagi pula, putri mereka tampaknya tergila-gila padamu."

"Baiklah. Aku akan pastikan semuanya berjalan sesuai rencana."

"Jangan kecewakan Ayahmu, Nak. Lakukan sesuai apa yang diriku suruh, dan ... keluarlah dari club! Jangan sampai menghamili wanita lain selain tunanganmu itu!"

Panggilan diakhiri oleh Reagan. Alexander memijat pelipisnya. Ambisi ayahnya kali ini terasa menyesakkan.

Mengaitkan wanita dalam urusan bisnis bukan hal yang menarik baginya.

Tiba-tiba, suara gesekan kaki kursi sebelahnya terdengar. Seorang wanita menarik kursi di sampingnya dan duduk dengan gerakan malas.

"Berikan aku apa pun," gumamnya pada bartender, tanpa menatap siapa pun.

Alexander menoleh sedikit, menatap wanita itu tanpa ekspresi. Pandangannya turun dari atas ke bawah, mengamati setiap detail.

Rambut wanita itu berantakan, sebagian menutupi wajah. Eyeliner luntur membentuk noda di bawah mata, seolah habis menangis. Gaun elegannya sudah kusut.

Tangannya gemetar saat menerima gelas dari bartender, tapi dia meneguknya sekali jalan. Mengernyit tanpa suara, lalu memesan botol lagi.

Alexander diam, memperhatikannya. Bukan karena cantik, tapi karena kekacauan yang terpancar.

"Kau tidak terlihat seperti seseorang yang menikmati alkohol," ucap Alexander.

Wanita itu berhenti meminum gelas yang ke-empatnya. Menoleh pelan ke samping. Pandangannya kabur, tapi bisa menangkap siluet seorang pria, bertubuh tinggi tegap, berbaju hitam. "Apa kau ... polisi?"

Alexander tertawa kecil. "Ini club bukan kantor polisi. Kau salah masuk?"

"Ah begitu. Tadi aku ingin melaporkan seseorang."

"Siapa? Aku pintar dalam menghukum orang lain, seperti memukul, menusuk, menembak, bahkan mengancam."

"Itu terdengar menyeramkan."

"Tapi jika diberikan kepada orang bodoh, akan terasa menyenangkan."

"Benar juga," balasnya tertawa. Wanita menyandarkan siku di meja bar dan menopang dagu. "Namaku Ella. Keka- oh tidak, maksudku mantanku. Dia seorang bajingan jadi rasanya aku ingin mematahkan tulangnya."

"Ternyata kau sedang patah hati."

"Patah hati? Entahlah. Aku hanya marah karena dia tak menghormatiku sebagai wanita."

"Memang apa yang dilakukannya?"

"Lupakan. Bayangan wajah sialan itu terus menghantui, benar-benar memuakkan."

Alexander mengangguk. Tak tertarik menggali lebih dalam. Lalu meneguk Absinthe-nya.

Sementara, Ella menatap Alexander lekat. Meski setengah mabuk, ia masih bisa melihat pesona keindahan ciptaan Tuhan dari Alexander. "Kemari bersama kekasih?"

"Tidak."

"Benarkah? Kukira kau datang bersama seorang wanita."

"Aku tidak pernah tertarik pada siapa pun?"

"Apa itu artinya ... ah tidak mungkin kau tidak pernah berkencan."

"Kenapa tidak mungkin?"

"Tentu saja tidak mungkin, kecuali kau gay."

"Untungnya, bukan."

"Jangan-jangan ... kau impoten."

Alexander menyeringai. "Kalau begitu, bagaimana cara agar kau percaya, Nona?"

Ella tersenyum samar, menoleh ke arah bangku tinggi yang ia duduki. "Tempat duduk ini sangat tidak nyaman," gumamnya dengan nada manja yang terdengar dibuat-buat.

Alexander mengangkat alis, seolah membaca maksud tersembunyi dari keluhan tersebut. "Ingin di pangkuanku?" tawarnya menepuk paha.

Ella menatap paha Alexander. Bibirnya mengerucut seolah berpikir keras, pura-pura bingung.

"Tidak usah banyak berpikir. Ini tempat yang paling nyaman."

Tanpa ragu, Ella berpindah dan perlahan duduk di pangkuan Alexander. Jarak mereka nyaris lenyap. Napas bersatu, pandangan pun saling menantang. Tangan Alexander kini melingkar erat di pinggangnya, memberi kehangatan yang asing, tapi menenangkan.

"Ternyata kau punya mata hazel yang sangat indah," puji Ella.

"Terima kasih," jawabnya.

"Emm jika tidak pernah berkencan, berarti kau tidak pernah berciuman, bukan?"

"Ya."

Ella semakin dibuat melongo.

"Tapi aku suka sex," lanjut Alexander.

Ella mendengus kesal. "Sudah kuduga. Jawabanmu dari awal pasti kebohongan." Ia mendorong tubuh Alexander, berniat akan turun.

Namun, Alexander segera mengunci tubuh Ella semakin erat. "Tidak ada kebohongan."

"Orang yang melakukan sex pasti pernah berciuman! Kau pikir, aku bodoh?"

"Sex dan ciuman adalah hal yang berbeda. Semua manusia bisa hanya melakukan salah satunya."

"Alasanmu ... sulit dimengerti."

"Ciuman dilakukan saat benar-benar merasakan cinta, sedangkan sex? Bisa dilakukan dengan siapa saja tanpa melibatkan perasaan. Bukankah kau berkencan, mana mungkin tidak mengerti kedua hal itu."

"I ... iya, aku mengerti. Hanya emm sedang berpura-pura menjadi gadis polos," gagap Ella. "Jadi apa kau mau berciuman denganku untuk pertama kalinya?"

"Apa sekarang kau mengajakku tidur?"

"Iya. Tapi aku ingin ... berciuman juga. Aku ingin tahu... rasanya dicium seseorang yang tidak membohongiku."

Alexander tersenyum tipis. Ibu jarinya mengelus bibir Ella, kemudian masuk ke dalam mulutnya. Merasakan kekenyalan dan kehangatannya.

Ada ketakutan di mata Ella. Tapi ia tak menjerit maupun melawan. Jemari itu terasa asing dan menjijikan membuatnya merasa kotor.

Bau tembakau mulai tercium ketika Alexander semakin mendekat. Namun, tiba-tiba Ella merasa napasnya tercekat. Kepalanya mulai berdenyut hebat. Ada yang menjalar dari perutnya ke tenggorokan, naik dengan cepat.

"Hmph! Huek!" Muntahan keluar tanpa bisa ia tahan, menodai kemeja Alexander.

Ella meremas kepalanya yang terasa berat. Perlahan penglihatannya mulai kabur, kemudian sepenuhnya hitam.

Alexander reflek menangkap tubuh Ella sebelum jatuh ke lantai. "Merepotkan saja!"

***

Ella terbangun dengan napas memburu, matanya mengejap menatap langit-langit asing. Ini bukan kamarnya, melainkan hotel.

Ia panik, meraba tubuhnya. Masih berpakaian lengkap. Syukurlah. Sekilas, bayangan pria bermata hazel muncul di ingatannya. Dialah yang membawanya kemari, mungkin. Tapi, siapa namanya?

Pandangannya beralih ke jam dinding yang menunjukkan pukul 08:47 AM.

"AAAH, TELAT!"

Ella buru-buru meraih ponsel di sofa, lalu menemukan tote bag berisi kemeja hitam bekas muntahannya. Wajahnya memerah. Malu dan merasa bersalah. Ia keluar hotel sambil menenteng tote bag itu, berharap bisa mengembalikannya jika bertemu lagi.

Sesampainya di rumah, Ella berganti pakaian, mengabaikan teriakan ibunya, Rachel. Ia langsung mengayuh sepeda menuju Lynwoosh University, tempatnya kuliah jurusan Tari Klasik, Prodi Ballet, semester empat, yang berarti usianya baru 20 tahun.

Ella parkir sepeda, mengenakan kostum, dan bergegas masuk ke ruang latihan.

Detik-detik runtuh. Suara musik Ballet lenyap. Di tengah panggung latihan yang seharusnya jadi tempat aman, dia malah berdiri. Mata hazel itu. Wajah yang semalam nyaris ia lupakan dan kini muncul sebagai bagian dari kenyataan yang jauh lebih rumit.

Dia berdiri diantara dekan fakultas, wakil dekan, kaprodi, pelatih senior. Kenapa bisa di sana?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 161. Dia yang Memperhatikan

    ***Joshua membawa Leah masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa, tawanya masih terdengar ringan. Gadis kecil itu berada dalam gendongannya, kedua tangan mungilnya memeluk erat boneka yang baru saja didapatkan dari mesin capit.Begitu mereka melewati pintu, suara beberapa orang langsung menyambut dari arah dapur."Akhirnya mereka pulang juga.""Kalian dari mana saja?""Cepat ke sini."Joshua terkekeh. Ia menurunkan Leah dari gendongannya, lalu menunjuk boneka yang masih dipeluk gadis kecil itu. "Taruh dulu bonekanya. Makan malam hari ini sangat penting."Leah menurut. Ia berlari kecil menuju ruang tamu untuk meletakkan bonekanya, kemudian kembali bergabung dengan yang lain di dapur.Satu per satu mereka mengambil makanan yang tersaji di atas meja dan memenuhi piring masing-masing.Rachel yang baru saja mengambil lauk berkata, "Joshua dan Finn sampai mengambil cuti hanya untuk mengantarkan kalian ke bandara besok."Joshua mengangguk santai. "Tentu saja. Kami harus memanfaatkan

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 160. Yang Menghantui

    Tak lama kemudian, pintu utama sekolah mulai dipenuhi anak-anak yang keluar satu per satu, diiringi beberapa guru yang mengawasi di sekitar mereka."Lihat, mereka sudah keluar," kata Ella.Keduanya pun mengalihkan pandangan ke arah pintu sekolah.Anak-anak kecil mulai berhamburan ke area depan gedung. Beberapa langsung menghampiri orang tua mereka, sementara yang lainnya berjalan bersama teman-temannya.Hingga akhirnya, sosok kecil yang mereka tunggu muncul di antara kerumunan itu.Daisy langsung menurunkan kaca jendela mobil, lalu mengeluarkan kepalanya sedikit. "Leah! Kemari!"Leah yang baru saja keluar dari pintu sekolah langsung memutar kepalanya, mencari sumber suara tersebut.Begitu matanya menemukan mobil Ella, senyum cerah langsung menghiasi wajahnya. "Mama!"Leah segera berjalan cepat menuju mobil mereka.Ia membuka pintu belakang mobil tanpa perlu diberitahu lagi. Sebab paham kursi biasa yang ditempati sedang diisi oleh Daisy.Setelah masuk, Leah langsung duduk di kursi, tas

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 159. Lembar Baru

    "HAHAHAHA!" Tawa Daisy langsung pecah begitu Ella selesai menceritakan kejadian itu."Aku benar-benar tidak tahu apa rencanamu untuk Leah ke depannya," katanya sambil masih menahan tawanya. "Tapi tolong, jangan masukkan dia ke ballet. Masukkan saja ke kung fu, taekwondo, boxing, atau bela diri apa pun!""Kenapa?""Karena aku rasa dia punya bakat alami untuk itu. Daripada nanti ada anak lain yang mengganggunya lagi, setidaknya dia bisa belajar bagaimana membela dirinya dengan benar.""Jadi sekarang kau malah mendukungnya berkelahi?""Bukan berkelahi, tapi bela diri! Itu berbeda. Kau juga mengatakannya tadi."Ella hanya menggeleng-gelengkan kepala, tak meladeni saran tersebut. Ia tak pernah membenarkan masalah kekerasan kemarin.Ting ...!Sebuah notifikasi email muncul di layar.Ella langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut. Matanya bergerak membaca setiap baris yang tertera di layar. Semakin ke bawah, ekspresinya semakin serius. Bahkan, ia sampai menelan ludah ketika mem

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 158. Waktu yang Berlalu

    ***Empat Tahun Kemudian.Ella berdiri di balik meja kasir sebuah kedai kopi.Jemarinya menekan beberapa tombol pada mesin kasir untuk menyelesaikan pesanan pelanggan di hadapannya. "Semoga harimu menyenangkan," ucapnya tersenyum ramah.Pesanan pun datang silih berganti, dan ia melayaninya satu per satu dengan keramahan yang sama.Begitulah yang dilakukannya hampir setiap hari.Selama tiga tahun terakhir, sejak kedai kopi milik Ayahnya berhasil dibangun, Ella ikut membantu mengurusnya. Terkadang ia berada di balik meja kasir, menjadi barista, melayani pelanggan sebagai pelayan, atau bahkan turun tangan mencuci peralatan yang kotor.Apa pun pekerjaannya, Ella sudah terbiasa melakukannya.Bzzzt ...!Ponsel yang berada di saku celana Ella tiba-tiba bergetar.Ia segera merogohnya dan melirik layar. Begitu melihat waktu yang tertera, Ella langsung menyadari sesuatu. "Oh."Ella mem

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 157. Kanguru Kecil

    “TOLONG! INI AKAN KELUAR!"Teriakan Ella membuat seluruh ruangan seketika gempar.Beberapa polisi yang tadi hanya memperhatikan dari kejauhan langsung berdiri. Ada yang hendak mendekat, tetapi kemudian berhenti lagi karena tidak tahu harus melakukan apa."Dia akan melahirkan?!""Harus bagaimana?!""Hubungi ambulans!""Apa ada yang punya pengalaman menangani persalinan?!"Suara-suara mulai bersahutan dari berbagai arah.Ella sendiri masih berdiri kaku di tempatnya. Kedua tangannya memegang bagian depan perutnya yang sangat besar, sementara wajahnya sudah benar-benar panik. "OH TUHAN, AKU TAK MAU MELAHIRKAN DI SINI!"Daisy yang masih berada di dalam sel ikut membelalak.Untuk beberapa detik, pikirannya kembali kosong. Namun, ia segera menggeleng kuat. Tidak untuk sekarang. Ia harus melakukan sesuatu!Daisy menoleh ke samping.Seorang petugas yang tadi berdiri tidak jauh dari selnya tampak sama bingungnya dengan yang lain.Tanpa berpikir panjang, Daisy langsung mengulurkan tangannya mela

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 156. Salah Waktu

    ***Sembilan Bulan Kehamilan.Seorang wanita berdiri di depan cermin kamar mandi sebuah toko.Tatapannya turun pada bagian dada bajunya yang tampak lembap.Ia mengerutkan kening, lalu mengusap-usap bagian kain tersebut dengan telapak tangannya, berharap bekasnya menghilang atau setidaknya menjadi lebih samar.Namun, semakin diperhatikan, noda itu justru terlihat jelas.Ella menghela napas berat. "Serius sekarang?!"Sayang sekali tidak banyak yang bisa dilakukannya. Hari ini bahkan baru saja dimulai, sementara akan ada banyak orang yang akan ditemuinya.Tapi mau bagaimana lagi?Sejak bulan lalu, tubuhnya mulai mengalami perubahan baru. Air asi-nya perlahan mulai keluar dan sesekali merembes hingga ke pakaian.Awalnya cukup membuatnya panik. Sekarang, ia hanya bisa belajar beradaptasi dengan hal tersebut.Ella pun meraih beberapa lembar tisu dan menekannya pada bagian baju yang basah. Ia juga mengarahkan bagian tersebut ke alat pengering tangan di samping wastafel.Beberapa saat kemudia

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 7. Hutan, Tubuh, dan Dosa

    Ella tentu tidak akan membuang-buang waktu lagi. Ia segera berlari ke luar gerbang yang menjulang tinggi itu. Dugaannya benar, rumah ini berada di dalam hutan. Hutan dengan tumbuhan besar serta liar dan sangat gelap, padahal hari belum malam. Ella juga bisa mendengar suara air. Apa itu air terjun,

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 6. Tahanan Milan

    Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom melaju di jalan kota Milan, Italia. Di kursi belakang ada Alexander yang sibuk dengan berkas di tangannya dan di depan ada supir serta Lionello-Asisten pribadi Alexander. Alexander melonggarkan dasinya, ingin menghela napas berat tapi ia tidak ingin menunjukkan ra

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 5. Hilang Tanpa Jawaban

    Denting jam dinding menyambut hari baru. Nyawanya sudah kembali, tapi kelopak matanya masih berat untuk terbuka. Perlahan, Ella menggeser kepala, menoleh ke sisi kiri ranjang. Membuka matanya perlahan untuk melihat pemandangan yang berbeda. Kosong. Hanya ada selimut putih berantakan dan paper bag b

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 8. Kolam Piranha

    Alexander menatap jendela kamarnya yang menampilkan pohon-pohon besar nan sepi. Pandangannya beralih ke dua jemari yang masih basah. Setelah kembali dari kamar Ella, Alexander memang belum mencuci tangan atau sekedar mengelap. Dengan penuh kesadaran, Alexander memasukkan jarinya ke mulutnya sendir

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status