Mag-log inPintu kamar hotel tertutup rapat. Dua manusia langsung bercumbu tanpa tahu arti menunggu. Chloe mencabik kancing kemeja satu per satu, lalu membuangnya ke lantai asal. "Bukakan pakaianku," bisiknya, tak sabar.
Alexander menurut, ia membuka baju dan rok mini Chloe hingga hanya tersisa sepasang pakaian dalam yang nyaris tak menutupi apa-apa. Ia merengkuh tengkuk wanita itu, mencium bibirnya penuh hasrat, memeluk luka yang tidak pernah ia pahami.Kini mereka berada di atas ranjSebuah mobil terparkir di depan rumah Chloe, dalam keadaan mesin dan lampu yang telah dimatikan.Di dalam mobil, Francesco duduk diam di balik kemudi. Tangannya menggenggam ponsel yang menempel di telinga.Tuuuttt ...!Tuuuttt ...!"Keluar. Aku di depan," ucapnya singkat saat panggilan tersambung.Panggilan itu langsung diputus. Ponselnya dilempar begitu saja ke atas dashboard.Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Chloe keluar.Ia melangkah pelan, matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri. Sesaat, ia menoleh ke belakang hanya untuk mengamati jendela-jendela rumah yang gelap, memastikan tidak ada yang memperhatikan.Setelah itu, langkahnya dipercepat.Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang di samping Francesco. "Mau apa kau ke sini?!" ucapnya tajam, tanpa basa-basi."Kita masih memiliki urusan! Jangan berpura-pura lupa.""Apa? Urusan?"
*** Sunyi memenuhi apartemen. Ella tertidur di pinggir ranjang, wajahnya masih basah, mata sembap, pipinya memerah. Ia baru terlelap beberapa menit setelah lama bergulat dengan pikirannya sendiri. Bahkan dalam tidur, napasnya masih tersendat. Beep ...! Beep ...! Seseorang tengah memasukkan sandi. Ella langsung membuka mata. Ya sebut saja tidurnya bukanlah tidur. Otaknya masih siap siaga jadi suara sekecil apa pun bisa membangunkan. Wanita itu segera bangun. Keluar kamar dengan langkah cepat. Begitu pintu kamar terbuka, Alexander berdiri di sana sedang menutup pintu depan. Mata Ella langsung berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, tapi tetap memaksakan senyum. Tanpa pikir panjang, ia berlari. Tubuhnya langsung menabrak pria itu, memeluknya erat. Tangannya mencengkeram pakaian Alexander seolah takut kehilangan. "Aku tahu kau akan kembali ..." suaranya bergetar di antara isakan. "Kau tidak akan meninggalkanku. Kau selalu kembali menemuiku. Aku percaya." Alexander sedikit mengangka
Mesin mobil meraung saat dirinya menginjak pedal gas lebih dalam.Lampu-lampu kota berubah menjadi garis-garis kabur di kaca depan. Tangannya mencengkeram setir begitu erat, rahangnya mengeras, dan napasnya tak beraturan. Namun, perjalanan itu tidak memilki tujuan jelas. Kepalanya seperti mau pecah. Bayangan Ella berdiri di hadapannya dengan mata berair dan suara yang memintanya tetap tinggal, semua itu berputar tanpa henti. Dan jangan lupakan dua garis merah itu. Benda terkutuk!"Sialan!" bentaknya tiba-tiba.Tangannya membanting setir."Arrgghh!"Teriakan kasar itu meledak bersamaan dengan decitan ban. Mobil berbelok tajam sebelum akhirnya berhenti miring di tepi jalan.Dada Alexander naik turun tak beraturan. Tangannya masih mencengkeram setir kuat, bahkan lebih kuat. Mungkin sebentar lagi akan rusak olehnya. BRAK ...!Telapak tangannya menghantam setir, membuat klakson berbunyi
Pintu kamar mandi terbuka perlahan.Ella melangkah keluar dengan wajah pucat, rambutnya sedikit basah oleh keringat. Tangannya mencengkeram test pack di belakang tubuhnya, disembunyikan dari pandangan."Kenapa lama sekali?" tanya Alexander bingung sekaligus khawatir."Tidak. Hanya pencernaanku sedang buruk."Alexander melangkah mendekat, refleks mengangkat tangannya. Ujung jarinya hampir menyentuh pipi Ella, namun, wanita itu lebih cepat mundur selangkah.Gerakan kecil itu cukup membuat Alexander terdiam. "Ella ada apa?" Alisnya mengerut. "Kenapa sikapmu aneh hari ini?""Aneh?" ulangnya singkat, nadanya dingin. "Aku hanya lama di kamar mandi dan menurutmu aneh? Bagian mana yang aneh? Apa kelelahan adalah hal tidak biasa bagimu?"Alexander melongo beberapa detik. Jelas tidak menyangka nada setajam itu keluar dari pertanyaan ringan. Ia menggeleng sambil menarik napas singkat. "Makanannya sudah siap. Mungkin perutmu butuh diisi, agar kepalamu bisa tenang."Pria itu membalikkan badan dan
Bus sore itu dipenuhi oleh banyak orang, termasuk Ella yang tengah duduk sendirian di kursi paling dekat jendela.Ia bersandar di jendela, satu tangan memijat pelipisnya. Kepalanya berat, dan suasana hatinya campur aduk.Ada sedikit lega sebab ia akhirnya melawan. Untuk sekali ini, ia tidak membiarkan Chloe menginjaknya seenaknya. Tapi bersamaan dengan itu, ada rasa takut juga. Kata-kata Chloe masih terngiang di kepala. Sebutan anak sialan dan ancaman membunuhnya. Itulah yang membuatnya hilang kendali, sampai mulutnya membeberkan rahasia yang seharusnya tidak ia sentuh.Ella menghela napas, menunduk. "Aku hanya membela diri, tenanglah," gumamnya.Entah besok akan seperti apa. Mungkin teman-teman makin menjauh atau mungkin gosip makin liar. Yang penting semoga tidak sampai ke pihak kampus. Itu saja harapannya.Bus mulai melambat, suara remnya menggesek pelan. Ella tidak berniat turun karena ini bukan halte tujuannya. Tapi kepalanya refleks menoleh ke luar jendela ketika bus mendekat k
Pagi itu, kuliah dimulai seperti biasa. Ella sudah kembali ke kelas, berusaha bersikap normal seolah malam sebelumnya tidak ada apa-apa. Kepalanya masih sedikit berat, tapi ia memaksakan diri. Setelah kelas teori selesai, para mahasiswa dipanggil ke studio latihan untuk evaluasi pentas kemarin malam. Semua berkumpul, termasuk Ella yang tidak ikut tampil. Ia tetap berdiri di barisan belakang seperti biasanya. Beberapa pelatih mulai berbicara panjang dan yang lain fokus mendengarkan. Namun, baru beberapa detik evaluasi ini, rasa mual itu datang menghampirinya lagi. Ella mengerjap, satu tangan otomatis meraih perutnya. Tubuhnya menegang. "Tidak! Jangan sekarang!" batinnya. Gagal! Gelombang itu naik begitu cepat hingga ia nyaris memekik. Ella menutup mulutnya, matanya membesar. Tanpa menunggu izin siapa pun, ia langsung berbalik dan berlari ke luar studio. Ternyata Chloe diam-diam menyadari kepergian wanita itu. Lalu kakinya mundur perlahan ke belakang. Dan sekarang ia b
Sinar matahari menembus celah tirai, menyoroti sisi wajah Alexander yang baru saja terbangun. Ia mengerjap pelan, matanya terasa berat dan kepalanya berdenyut. Saat tubuhnya berguling, pandangannya tertuju pada sosok Chloe yang masih terlelap di sebelahnya. Bahu wanita itu terekspos dari selimut pu
Malam itu di sebuah ruang kerja besar yang diterangi lampu gantung redup, aroma alkohol begitu tajam menusuk udara. Meja kayu di tengah ruangan berantakan. Botol-botol kaca berbagai ukuran berserakan, beberapa masih penuh, beberapa hanya tersisa setengah, dan sebagian lain kosong sepenuhnya.Di sof
Mobil melesat dalam gelap, ban menggumam di aspal basah. Sementara kepalanya terus mencaci dirinya sendiri. Kenapa begitu lengah dan tolol terhadap setiap tanda yang terbuang?Ia bersumpah pihak mana pun yang terlibat, semuanya runtuh, dengan tangannya sendiri. Alexander akhirnya tiba di depan ged
"Siapa?" "Aku Teresa. Tetangga Ella dan ... dan sekarang aku tidak melihatnya."Alexander tak menjawab. Hening. Hanya suara napasnya yang terdengar lewat sambungan. "Apa maksudnya? Hilang?""Dia tidak ada di tempatnya! Apartemennya kosong! Ponsel tergeletak di lantai begitu saja. Apa kau sangat bo







