LOGIN"Alex ... emhh ... tunggu sebentar." Napas Ella terdengar terengah, jemarinya menahan dada Alexander. "Kamu tidak mendengar ... keributan di depan sana?"
Alexander terhenti, napasnya berat, matanya menyipit mencoba menangkap bunyi yang dimaksud.Benar saja, riuh itu sungguh jelas. Dentingan nada tinggi seorang wanita, diiringi suara pria yang berusaha meredamnya. Ia tak perlu menebak dua kali. Itu adalah Lionello dan ... Chloe.Sial. Wanita itu benar-benar datang keDaisy langsung meraih lengannya. Wajahnya mendekat. Bibirnya bergerak tanpa suara, membentuk kalimat 'Kau hamil.'Ella hanya menatapnya, tidak ada keraguan atau bantahan.Ia mengalihkan pandangan kepada si kembar. "Aku pernah mencobanya sekali di Milan. Dan ternyata menyenangkan," ungkapnya datar. "Tidak ada salahnya mencoba untuk kedua kalinya. Mungkin besok ketiga, keempat, dan seterusnya. Bukankah hdup akan terasa lebih berarti saat berhenti memikirkan peraturan?""Biarkan saja, Daisy," ujar Ashlyn santai. "Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ibunya? Dia juga bukan anak di bawah umur."Ashley ikut menyahut, "Ya. Kami juga bisa pikirkan lagi untuk memberimu sedikit."Tapi Daisy tidak menjawab.Ketika Ella menatapnya lagi, Daisy masih memandangnya dengan alis berkerut. Tatapannya seolah bertanya, 'Kenapa?'Ella akhirnya mendekatkan bibirnya ke telinga Daisy. "Mungkin ini caranya. Bantu aku, seperti sebelumnya."Dan malam itu berlalu tanpa terasa.Hingga sinar matahari kembali menyi
Kemudian Ella melangkah menuju pintu, ingin mengakhiri percakapan itu. "Bagaimana bisa kau menyimpulkan aku akan kecewa jika kau bahkan belum menceritakan separuhnya saja?" seru Daisy dari belakang. Namun Ella tetap tidak berhenti. Saat tangannya baru saja meraih gagang pintu seketika dua orang perempuan tiba-tiba berlari masuk. "AAAA!" Ella refleks mundur agar tak tertabrak. Kedua perempuan itu langsung menyelinap masuk sambil tertawa bersemangat. "Hahahaha! Cepat kunci pintu! Cepat!" Alis Ella terangkat. Mereka adalah Ashley dan Ashlyn, dua saudari kembar dari jurusan Teater. Meski berbeda jurusan dengannya, mereka cukup sering bertemu di kampus. Keduanya juga dikenal sebagai sosok yang santai dan sulit ditebak. Ashley yang memegang sebuah botol di tangannya menoleh ke arah Ella. Matanya langsung berbinar. "Kau Ella, bukan?" Ia melangkah mendekat. "Kudengar kau pindah ke kampus Milan. Apa sudah selesai?" Ashlyn yang baru selesai mengunci pintu ikut menghampiri mereka. "M
Ella menatap Daisy beberapa detik, memastikan sahabatnya itu tidak sedang bercanda. "A-apa?" "Menuntut!" Daisy menjawab tanpa ragu. "Dia tidak boleh menjalani hidupnya dengan tenang setelah menghancurkan hidupmu! Kita harus melakukan sesuatu!" Napas Ella tertahan sesaat. Wajar Daisy bereaksi menggebu-gebu, tapi cerita sebenarnya tidak sesederhana itu. "Seperti ... apa? Ke polisi?" "Ya, itu bisa menjadi salah satu opsi! Atau kita memposting saja kronologi dan buktinya di media sosial. Cara itu sedang naik daun." Ella langsung menggeleng. "Tidak, Daisy, tidak. Lupakan saja rencana itu." "Oh! Atau kita langsung ke Milan saja? Supaya lebih mudah menghajarnya." "Tidak!" Dahi Daisy langsung berkerut melihat Ella yang seperti melindungi. "Kenapa?" Tubuhnya yang semula bersandar di ambang jendela kini tegak. Matanya menyipit ke Ella. "Jangan bilang kau ..." Suasana mendadak terasa sunyi. "KAU MASIH MENCINTAINYA!?" "T-ti ..." Bibirnya bergerak kecil, tetapi kaku mengeluarkan kalimat
Ella mempercepat langkah meninggalkan dapur tanpa sekali pun menoleh ke belakang.Dadanya masih bergemuruh. Yang ada di kepalanya hanya satu, keluar dari rumah ini secepat mungkin.Namun, semakin mendekati ruang tamu, semakin padat pula kerumunan yang harus ditembusnya.Entah sejak kapan jumlah tamu terasa bertambah berkali-kali lipat. Orang-orang memenuhi hampir setiap sudut rumah, saling berhimpitan sambil tertawa dan membawa gelas di tangan."Permisi. Tolong berikan jalan sedikit."Tak ada yang mendengar.Ella kembali menyelip di antara tubuh-tubuh yang menghalangi jalannya. "Permisi!"Akhirnya, pintu depan mulai terlihat di kejauhan.Baru beberapa langkah lagi-"SELAMAT MALAM, GUYS! HUUUUU!"Suara menggelegar dari mikrofon memenuhi seluruh rumah. Seketika sorak-sorai membalas dari segala penjuru.Ella tak mengenal siapa suara ini. Siapa yang peduli juga?"C'mon guys, berkumpul dan kerahkan semangat kalian malam ini!"Dalam hitungan detik, keadaan berubah kacau. Semua tamu berbondo
“Hei, kita baru bertemu lagi." Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis yang dulu mungkin mampu membuat wanita itu salah tingkah.Sayangnya, bagi Ella, senyum itu kini justru terasa menjengkelkan."Bagaimana kabarmu?" tanya Joseph lagi. "Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu."Ella menyesap sedikit minuman di tangannya sebelum menjawab dingin, "Masih hidup."Joseph terkekeh. "Kau benar-benar berubah setelah pulang dari Milan. Apa yang telah terjadi?""Aku tidak ingat pernah memintamu menilai perubahan hidupku."Joseph hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak memedulikan ketusnya sikap Ella. "Baiklah. Kalau begitu aku ganti pertanyaan." Senyuman pria itu kembali merekah. "Bagaimana di Milan? Menyenangkan? Ah, tapi di sana tidak ada diriku, pasti jawabannya tidak."Ella tetap diam sambil mencoba tiramisu cup.Joseph melanjutkan tanpa merasa canggung sedikit pun. "Ngomong-ngomong, apa kau dekat dengan seseorang di sana? Tidak, 'kan? Memang tidak ada pria yang lebih baik d
***Pukul 10.45 PM.Ella melangkah melewati halaman rumah Grace sambil menenteng sebuah paper bag kecil.Begitu melewati pintu depan, suasana yang menyambutnya benar-benar kacau.Musik menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan. Puluhan anak muda memadati rumah sambil tertawa, mengobrol, menari, mengabadikan foto dan video, dan saling bersulang dengan gelas di tangan. Ella menyapu ruangan dengan pandangan perlahan.Ada banyak wajah yang dikenalnya. Namun, jauh lebih banyak lagi orang-orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya.Rumah Grace malam itu sudah kehilangan kesan sebagai sebuah rumah. Tempat itu lebih menyerupai pesta liar yang dipenuhi tawa, kebisingan, dan energi anak-anak muda yang seolah tidak akan habis hingga matahari terbit.Hingga matanya menangkap sosok Grace yang sedang mengobrol bersama beberapa tamu.Tanpa ragu, ia menghampiri. "Hai, Grace."Grace segera menoleh. Wajahnya langsung berbinar. "Oh, hai, Ella! Kau datang."Barulah Ella memperhatikan penampilan t
Hari itu, matahari masih bergelantung malas di langit barat, seolah enggan turun meski jarum jam telah menunjukkan waktu sore. Di dalam ruang kerja kepala keluarga Hoffa, dua sosok duduk saling berhadapan dalam keheningan yang terasa berat. Tempat yang lebih sering digunakan untuk urusan penting
"Alice? Mengapa kau di sini?" tanya Alexander sambil melangkah mendekat. Sorot matanya dingin, menyiratkan ketidaksenangan pada sang adik."Hei jangan mendekat. Pakai handukmu dulu yang benar," cegah Alice jijik dan malu."Jawab saja pertanya-"Srak ...!Suara
"Tidak! Dasar mesum!" tolak Ella cepat. Seketika wajahnya memerah, mengingat malem itu. Memalukan, menyakitkan, dan menyenangkan. "Sepertinya kau sering tidur dengan jalang," ujar Ella tiba-tiba. "Siapa yang bilang?" "Aku. Buktinya barusan wanita yang kau bilang bernama Alice itu mengatakan aku j
Selimut menutupi tubuh Ella dari ujung kaki sampai leher. Ini sudah tengah malam dan dirinya mulai mengantuk tapi matanya tidak bisa terpejam. Kejadian di kolam piranha terus terbayang jelas di otaknya. Bagaimana teriakan wanita itu sampai bau darahnya masih membekas, ia ingat jelas. Apa lagi saa







