Share

7. DI Ranjang Tuan Muda

Author: Adelia
last update publish date: 2026-09-17 21:38:55

Dalam satu sentakan kuat yang tak terduga, Nikolai menarik pergelangan tangan Ruby. Udara seakan terhempas dari paru-paru Ruby saat tubuh mungilnya dipaksa jatuh ke atas pangkuan pria itu.

Ia menabrak dada bidang Nikolai yang sekeras karang. Aroma whiskey yang tajam dan cologne maskulin yang pekat langsung menginvasi indera penciumannya.

Tangan besar pria itu merayap naik, merengkuh rahang Ruby dengan cengkeraman posesif yang nyaris menyakitkan. Ibu jarinya mengelus pipi Ruby yang sedingin es.

"Bagus," bisik Nikolai. "Ternyata kau cukup pintar untuk tahu di mana tempatmu."

Belum sempat Ruby menarik napas untuk menjawab, Nikolai menekan tengkuknya dan memagut bibirnya tanpa ampun.

Ciuman itu begitu liar, kasar, dan menuntut. Ruby membelalakkan matanya saat napasnya dirampas paksa. Dadanya bergemuruh hebat, berbenturan dengan dada Nikolai yang naik turun seiring ritme napas pria itu yang memburu.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Ruby meremas kemeja gelap di dada Nikolai. Buku-buku jarinya memutih. Instingnya meronta, mencoba memberikan dorongan sia-sia untuk membebaskan diri dari pagutan yang seolah ingin menelan jiwanya itu.

"Mmph... Tu—an... ngh—"

Sebuah rintihan tertahan lolos dari bibir Ruby di sela-sela napasnya yang dirampas. Namun pria itu justru memanfaatkan celah bibir yang terbuka itu untuk memperdalam ciumannya.

Tangan Nikolai yang lain tidak tinggal diam. Dari pinggang, telapak tangan besar yang membara itu merayap naik dengan berani, menyusuri kurva tubuh Ruby hingga akhirnya menangkup payudaranya dari balik seragam pelayan yang tipis.

Sengatan panas memicu kepanikan yang seketika meledak di kepala Ruby. Dengan mata terpejam erat, ia memajukan rahangnya dan menggigit bibir bawah Nikolai sekuat tenaga.

Rasa anyir darah segar langsung berdesir memenuhi lidah mereka berdua.

"Brengsek!"

Nikolai mengumpat kasar, menyentak kepalanya mundur. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangannya, lalu menatap noda merah di kulitnya itu. 

Umpatan itu membuat aliran darah Ruby seakan membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Sial. Apa yang baru saja ia lakukan? Apakah pria ini akan mencekiknya sekarang? Atau melemparnya ke luar gerbang malam ini juga?

Namun, Nikolai tidak memanggil pengawal.

Pria itu justru bangkit berdiri, membawa Ruby yang masih berada di pangkuannya. sebelum melempar tubuh mungil itu ke atas tempat tidur.

Tubuh Ruby memantul pasrah di atas matras tebal itu. Sebelum ia sempat membalikkan badan atau merangkak mundur, bayangan besar Nikolai sudah menelan seluruh cahaya di atasnya. 

Pria itu naik ke atas ranjang, mengungkungnya. Kedua lengan kekar Nikolai bertumpu di sisi kepala Ruby, mengunci tubuh wanita itu tanpa celah untuk melarikan diri.

"Sepertinya aku lupa memberitahumu satu hal penting," desis Nikolai. Napas hangatnya yang beraroma anggur kini menerpa wajah pucat pasi Ruby, membuat wanita itu refleks memalingkan wajah dengan dada naik-turun tak beraturan.

"Mem… memberitahu apa maksud Anda, T-Tuan?" cicit Ruby, suaranya bergetar parah. Ia menekan punggungnya sedalam mungkin ke bantal, meremas seprai gelap di bawahnya seolah mencari pegangan hidup.

"Di tempat tidur ini," suara Nikolai merendah, berubah menjadi bisikan parau yang mencekik udara di antara mereka. Matanya menatap tepat ke dalam manik mata Ruby. "Kau bukanlah putri bungsu keluarga Sinclair. Dan kau juga bukan pelayanku."

Ruby menahan napas, jantungnya berdetak liar seolah ingin merobek tulang rusuknya saat wajah tampan itu semakin mendekat.

Jari-jari panjang Nikolai terulur perlahan, menyentuh kerah seragam pelayan Ruby. Pria itu mulai melepas kancingnya satu per satu. 

"Kau... adalah Bianca," bisik Nikolai mutlak, seolah sedang menanamkan doktrin itu langsung ke pembuluh darah Ruby.

Pria itu menundukkan wajahnya. Ujung hidungnya menyapu lambat garis rahang Ruby yang menegang, sebelum akhirnya lidah panas Nikolai menjilat pelan daun telinga wanita itu. "Dan apa kau tahu? Bianca adalah penggoda yang sangat handal."

Sengatan basah dan panas di telinganya membuat punggung Ruby melengkung refleks. Bulu kuduknya berdiri. "T-Tuan, kumohon... ah—"

"Dia tahu persis bagaimana cara memuaskanku. Dia tahu kapan harus mendesah, kapan harus melawan... dan kapan harus memohon," lanjut Nikolai. 

Kancing ketiga seragam Ruby terlepas, mengekspos kulit dada bagian atasnya yang putih pucat di bawah tatapan kelaparan Nikolai.

"Sa... saya belum pernah melakukannya..." suara Ruby pecah menjadi rintihan putus asa. Sebuah isakan kecil lolos dari bibirnya.

Ia mengangkat tangannya yang gemetar hebat, menempelkan kedua telapak tangannya di dada bidang Nikolai, mencoba menahan turunnya tubuh besar pria itu. "Saya tidak tahu bagaimana caranya, Tuan. Saya bersumpah."

Pergerakan jemari Nikolai terhenti di udara. Pria itu menegang.

Keheningan yang sangat berat tiba-tiba menguasai ruangan. Nikolai perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah sepasang mata Ruby yang basah oleh air mata.

Keterkejutan melintasi mata legam pria itu selama sekian detik. Belum tersentuh?

Seringai yang jauh lebih berbahaya perlahan terbentuk di sudut bibir Nikolai yang berdarah. Ia melepaskan tangan Ruby dari dadanya dengan mudah, lalu menyingkirkan tangan mungil itu ke sisi kepala Ruby, menguncinya kuat-kuat di atas matras hanya dengan sebelah tangan.

"Belum pernah?" Nikolai mendengus pelan. Ibu jarinya yang bebas kini mengusap bibir Ruby yang membengkak karena ciuman kasarnya tadi.

"Kalau begitu, belajarlah," desis Nikolai tanpa ampun.

Tatapannya meluncur turun bagai bara api, menyapu leher, tulang selangka yang bergetar, hingga belahan dada Ruby yang mengintip pasrah dari balik kemeja pelayannya yang setengah terbuka.

"Karena siapa yang tahu? Aku mungkin akan benar-benar melemparkanmu ke rumah Ivanov malam ini juga... jika kau tidak bisa memuaskanku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Kesepakatan dengan Tuan Muda Arogan   7. DI Ranjang Tuan Muda

    Dalam satu sentakan kuat yang tak terduga, Nikolai menarik pergelangan tangan Ruby. Udara seakan terhempas dari paru-paru Ruby saat tubuh mungilnya dipaksa jatuh ke atas pangkuan pria itu.Ia menabrak dada bidang Nikolai yang sekeras karang. Aroma whiskey yang tajam dan cologne maskulin yang pekat langsung menginvasi indera penciumannya.Tangan besar pria itu merayap naik, merengkuh rahang Ruby dengan cengkeraman posesif yang nyaris menyakitkan. Ibu jarinya mengelus pipi Ruby yang sedingin es."Bagus," bisik Nikolai. "Ternyata kau cukup pintar untuk tahu di mana tempatmu."Belum sempat Ruby menarik napas untuk menjawab, Nikolai menekan tengkuknya dan memagut bibirnya tanpa ampun.Ciuman itu begitu liar, kasar, dan menuntut. Ruby membelalakkan matanya saat napasnya dirampas paksa. Dadanya bergemuruh hebat, berbenturan dengan dada Nikolai yang naik turun seiring ritme napas pria itu yang memburu.Dengan jemari yang gemetar hebat, Ruby meremas kemeja gelap di dada Nikolai. Buku-buku jari

  • Terjerat Kesepakatan dengan Tuan Muda Arogan   6. Pengganti Wanita Lain

    Kata-kata itu bergema di dalam kepala Ruby berulang kali, menggaung dengan nada yang begitu kejam hingga terasa seperti pisau yang menyayat langsung ke ulu hatinya.Pengganti.Dunia Ruby seakan berhenti berputar. Udara dingin di dalam kamar itu tiba-tiba terasa membekukan aliran darahnya. Pria ini… apakah dia bahkan melihat Ruby sebagai manusia?Dorongan adrenalin yang didasari oleh sisa-sisa harga diri keluarga Sinclair tiba-tiba meledak di dalam dada Ruby. Entah dari mana datangnya tenaga itu, kedua tangan Ruby yang sedari tadi gemetar kini mendorong dada bidang Nikolai dengan sekuat tenaga."Tidak!" seru Ruby, suaranya pecah, setengah berteriak.Dorongan itu tidak cukup kuat untuk menyingkirkan tubuh besar sang pewaris klan mafia itu, namun cukup mengejutkan Nikolai hingga cengkeraman pria itu sedikit mengendur. Memanfaatkan celah itu, Ruby meronta keras, menarik pergelangan tangannya yang terkurung dan menggulingkan tubuhnya ke sisi ranjang.Ia bangkit dengan napas tersengal, be

  • Terjerat Kesepakatan dengan Tuan Muda Arogan   5. Layani Aku

    Udara di dalam kamar tidur utama itu seakan tersedot habis. Ruby merasa dadanya sesak, paru-parunya meronta menuntut pasokan oksigen saat kata-kata tajam Nikolai menghantamnya telak.Putri keluarga Sinclair. Pria ini tahu. Pria ini telah menguliti identitasnya hingga tak bersisa."T-tidak, Tuan! Anda salah paham!" Ruby meronta pelan, berusaha melepaskan cengkraman tangan Nikolai di rahangnya, namun tenaga pria itu terlalu kuat. "Demi Tuhan, keluarga saya tidak tahu menahu soal ini! Tidak ada yang mengirim saya ke mari!"Mata Ruby menatap lurus ke dalam manik legam Nikolai. Ia menggigil melihat kilat kemarahan dan kecurigaan yang menyala di sana. Urat-urat di leher pria itu menonjol, seolah ia sudah muak dengan kebohongan yang ia yakini sedang Ruby mainkan."Jangan membual," desis Nikolai dengan nada rendah yang mematikan. "Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan ini, hm? Kau, seorang putri miliarder yang hidup bergelimang harta, lari dari rumah lalu tiba-tiba menyusup ke markas klan Cast

  • Terjerat Kesepakatan dengan Tuan Muda Arogan   4. Siapa yang Mengirimmu?

    Siang harinya, di ruang kerja utama Castellano, atmosfer terasa jauh lebih dingin dari biasanya.Nikolai berdiri menghadap jendela kaca antipeluru, menatap lanskap kota dengan tatapan kosong sekaligus tajam. Ibu jarinya sesekali mengusap luka kecil di bibir bawahnya—bekas gigitan wanita semalam.Suara pintu terbuka menyela pikirannya. Viktor, asisten sekaligus tangan kanannya yang paling terpercaya, masuk membawa sebuah map tebal berwarna hitam."Ini informasi yang Anda minta, Bos. Latar belakang pelayan baru bernama Ruby," ucap Viktor seraya meletakkan map itu di atas meja kerja.Nikolai berbalik, berjalan menghampiri mejanya. Ia membuka map itu dengan raut wajah keras. Matanya menyusuri deretan tulisan di sana, dan seketika dahinya berkerut tajam."Dia putri seorang miliarder?" gumam Nikolai, menatap Viktor dengan sorot menginterogasi."Benar, Bos," angguk Viktor. "Dia putri bungsu keluarga konglomerat di kota ini yang baru saja akan dijodohkan dengan putra sulung keluarga Ivanov. A

  • Terjerat Kesepakatan dengan Tuan Muda Arogan   3. Bukan Bianca

    Sebelum Ruby bisa melayangkan kalimat penolakannya lagi, bibir Nikolai membungkam segala protes yang hendak keluar dari mulut wanita itu.Ciuman itu terjadi begitu tiba-tiba, menuntut, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang begitu dalam. Ada rasa anggur merah yang pekat, bercampur dengan aura bahaya yang menguar kuat dari tubuh sang pewaris Castellano."Mmph— Tuan! Lepashh—" Ruby meronta dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba melepaskan diri dari pagutan liar pria itu.Namun, Nikolai seolah telah kehilangan akal sehatnya. Pria itu menekan pergelangan tangan Ruby semakin kuat ke atas kasur, sementara sebelah tangannya yang lain menahan tengkuk Ruby agar tak bisa menghindar. Ciuman pria itu berubah menjadi tuntutan yang membabi buta, mencari pelampiasan atas luka yang ditorehkan oleh wanita lain."Jangan tinggalkan aku lagi, Bi— kumohon," bisik Nikolai di sela-sela napasnya yang memburu.Kepanikan merayap ke dalam kesadaran Ruby. Jika ia membiar

  • Terjerat Kesepakatan dengan Tuan Muda Arogan   2. Jangan, Tuan

    Jantung Ruby berdegup liar, memompa darah begitu cepat hingga telinganya berdenging. Pecahan gelas kristal yang berserakan di atas karpet tebal itu tak lagi menjadi fokusnya.Seluruh perhatian Ruby tersita pada cengkerman tangan Nikolai yang begitu kuat di pergelangan tangannyaAroma alkohol yang pekat menguar dari napas pria itu, bercampur dengan wangi maskulin yang kini terasa sangat mengintimidasi. Mata legam Nikolai menatapnya lekat, namun pandangan itu sayu dan kosong, seolah menembus pertahanan Ruby dan melihat sosok lain di sana."Bianca—?" suara berat Nikolai kembali mengalun, memanggil nama yang smaa untuk kedua kalinya. Kali ini terdengar lebih parau, menyimpan luka mendalam yang tak kasat mata.Ruby menelan ludah dengan susah payah. Keterkejutannya perlahan digantikan oleh kesadaran yang menghantam.Dia mabuk berat. Dia pasti mengira kalau aku orang lain, batin Ruby menyimpulkan, mencoba mati-matian untuk tetap bersikap tenang.Berbekal sisa-sisa keberaniannya, Ruby berusa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status