MasukDalam satu sentakan kuat yang tak terduga, Nikolai menarik pergelangan tangan Ruby. Udara seakan terhempas dari paru-paru Ruby saat tubuh mungilnya dipaksa jatuh ke atas pangkuan pria itu.
Ia menabrak dada bidang Nikolai yang sekeras karang. Aroma whiskey yang tajam dan cologne maskulin yang pekat langsung menginvasi indera penciumannya.
Tangan besar pria itu merayap naik, merengkuh rahang Ruby dengan cengkeraman posesif yang nyaris menyakitkan. Ibu jarinya mengelus pipi Ruby yang sedingin es.
"Bagus," bisik Nikolai. "Ternyata kau cukup pintar untuk tahu di mana tempatmu."
Belum sempat Ruby menarik napas untuk menjawab, Nikolai menekan tengkuknya dan memagut bibirnya tanpa ampun.
Ciuman itu begitu liar, kasar, dan menuntut. Ruby membelalakkan matanya saat napasnya dirampas paksa. Dadanya bergemuruh hebat, berbenturan dengan dada Nikolai yang naik turun seiring ritme napas pria itu yang memburu.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Ruby meremas kemeja gelap di dada Nikolai. Buku-buku jarinya memutih. Instingnya meronta, mencoba memberikan dorongan sia-sia untuk membebaskan diri dari pagutan yang seolah ingin menelan jiwanya itu.
"Mmph... Tu—an... ngh—"
Sebuah rintihan tertahan lolos dari bibir Ruby di sela-sela napasnya yang dirampas. Namun pria itu justru memanfaatkan celah bibir yang terbuka itu untuk memperdalam ciumannya.
Tangan Nikolai yang lain tidak tinggal diam. Dari pinggang, telapak tangan besar yang membara itu merayap naik dengan berani, menyusuri kurva tubuh Ruby hingga akhirnya menangkup payudaranya dari balik seragam pelayan yang tipis.
Sengatan panas memicu kepanikan yang seketika meledak di kepala Ruby. Dengan mata terpejam erat, ia memajukan rahangnya dan menggigit bibir bawah Nikolai sekuat tenaga.
Rasa anyir darah segar langsung berdesir memenuhi lidah mereka berdua.
"Brengsek!"
Nikolai mengumpat kasar, menyentak kepalanya mundur. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan punggung tangannya, lalu menatap noda merah di kulitnya itu.
Umpatan itu membuat aliran darah Ruby seakan membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Sial. Apa yang baru saja ia lakukan? Apakah pria ini akan mencekiknya sekarang? Atau melemparnya ke luar gerbang malam ini juga?
Namun, Nikolai tidak memanggil pengawal.
Pria itu justru bangkit berdiri, membawa Ruby yang masih berada di pangkuannya. sebelum melempar tubuh mungil itu ke atas tempat tidur.
Tubuh Ruby memantul pasrah di atas matras tebal itu. Sebelum ia sempat membalikkan badan atau merangkak mundur, bayangan besar Nikolai sudah menelan seluruh cahaya di atasnya.
Pria itu naik ke atas ranjang, mengungkungnya. Kedua lengan kekar Nikolai bertumpu di sisi kepala Ruby, mengunci tubuh wanita itu tanpa celah untuk melarikan diri.
"Sepertinya aku lupa memberitahumu satu hal penting," desis Nikolai. Napas hangatnya yang beraroma anggur kini menerpa wajah pucat pasi Ruby, membuat wanita itu refleks memalingkan wajah dengan dada naik-turun tak beraturan.
"Mem… memberitahu apa maksud Anda, T-Tuan?" cicit Ruby, suaranya bergetar parah. Ia menekan punggungnya sedalam mungkin ke bantal, meremas seprai gelap di bawahnya seolah mencari pegangan hidup.
"Di tempat tidur ini," suara Nikolai merendah, berubah menjadi bisikan parau yang mencekik udara di antara mereka. Matanya menatap tepat ke dalam manik mata Ruby. "Kau bukanlah putri bungsu keluarga Sinclair. Dan kau juga bukan pelayanku."
Ruby menahan napas, jantungnya berdetak liar seolah ingin merobek tulang rusuknya saat wajah tampan itu semakin mendekat.
Jari-jari panjang Nikolai terulur perlahan, menyentuh kerah seragam pelayan Ruby. Pria itu mulai melepas kancingnya satu per satu.
"Kau... adalah Bianca," bisik Nikolai mutlak, seolah sedang menanamkan doktrin itu langsung ke pembuluh darah Ruby.
Pria itu menundukkan wajahnya. Ujung hidungnya menyapu lambat garis rahang Ruby yang menegang, sebelum akhirnya lidah panas Nikolai menjilat pelan daun telinga wanita itu. "Dan apa kau tahu? Bianca adalah penggoda yang sangat handal."
Sengatan basah dan panas di telinganya membuat punggung Ruby melengkung refleks. Bulu kuduknya berdiri. "T-Tuan, kumohon... ah—"
"Dia tahu persis bagaimana cara memuaskanku. Dia tahu kapan harus mendesah, kapan harus melawan... dan kapan harus memohon," lanjut Nikolai.
Kancing ketiga seragam Ruby terlepas, mengekspos kulit dada bagian atasnya yang putih pucat di bawah tatapan kelaparan Nikolai.
"Sa... saya belum pernah melakukannya..." suara Ruby pecah menjadi rintihan putus asa. Sebuah isakan kecil lolos dari bibirnya.
Ia mengangkat tangannya yang gemetar hebat, menempelkan kedua telapak tangannya di dada bidang Nikolai, mencoba menahan turunnya tubuh besar pria itu. "Saya tidak tahu bagaimana caranya, Tuan. Saya bersumpah."
Pergerakan jemari Nikolai terhenti di udara. Pria itu menegang.
Keheningan yang sangat berat tiba-tiba menguasai ruangan. Nikolai perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah sepasang mata Ruby yang basah oleh air mata.
Keterkejutan melintasi mata legam pria itu selama sekian detik. Belum tersentuh?
Seringai yang jauh lebih berbahaya perlahan terbentuk di sudut bibir Nikolai yang berdarah. Ia melepaskan tangan Ruby dari dadanya dengan mudah, lalu menyingkirkan tangan mungil itu ke sisi kepala Ruby, menguncinya kuat-kuat di atas matras hanya dengan sebelah tangan.
"Belum pernah?" Nikolai mendengus pelan. Ibu jarinya yang bebas kini mengusap bibir Ruby yang membengkak karena ciuman kasarnya tadi.
"Kalau begitu, belajarlah," desis Nikolai tanpa ampun.
Tatapannya meluncur turun bagai bara api, menyapu leher, tulang selangka yang bergetar, hingga belahan dada Ruby yang mengintip pasrah dari balik kemeja pelayannya yang setengah terbuka.
"Karena siapa yang tahu? Aku mungkin akan benar-benar melemparkanmu ke rumah Ivanov malam ini juga... jika kau tidak bisa memuaskanku."
Ruby menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah ketika jari tengah Nikolai menekan lebih dalam, mengusap titik sensitifnya dengan gerakan lambat dan sengaja. Tubuhnya menegang di antara dinding dingin dan dada bidang pria itu. “Tuan… tunggu—” suaranya serak, masih terasa sisa cairan asin di tenggorokannya.“Tidak,” jawab Nikolai datar. Jari keduanya ikut masuk, meregangkannya perlahan. “Kau sudah basah sekali. Tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu.”Ruby menggeleng, tapi pinggulnya secara tidak sadar mendorong maju, mengejar gesekan itu. Nikolai tertawa pelan, napasnya terasa hangat di telinga Ruby.“Lihat. Bahkan sekarang kau masih menggesekkan diri ke jariku.” Ia menarik jari-jarinya keluar, lalu memasukkan lagi lebih dalam, kali ini dengan tiga jari. “Katakan. Apa kau ingin aku di dalammu, Bianca?”Ruby menunduk, wajahnya terbakar. “Saya… tidak…”“Bohong.” Nikolai menggigit cuping telinganya keras. “Bianca tidak pernah menolakku. Ulangi. Dengan benar.”Ruby terlonjak. Jari-jar
Mata Ruby mulai berkaca-kaca karena rasa penuh di mulutnya. Ia mencoba menahannya, tapi setiap kali ujung kejantanan itu menyentuh bagian belakang tenggorokannya, ia merasa tersedak.Tubuhnya berguncang, membuat Ruby memegang paha Nikolai untuk menahan diri agar tidak jatuh mundur.Tapi Nikolai tidak peduli. Ia menarik kepala Ruby lebih dekat, memaksa hampir seluruh panjang kejantanan itu masuk. Ruby tersedak keras, hidungnya hampir menempel di perut pria itu. Napasnya tersumbat. Detik-detik itu terasa sangat panjang hingga Nikolai menarik keluar sedikit kejantanannya, memberi ruang.“Bernapas,” perintahnya serak. “Lalu masukkan lagi.”Ruby menarik napas kasar, dada naik-turun cepat. Air matanya mengaburkan pandangan. Ia merasa begitu terhina, tapi juga… entah mengapa, ada getaran aneh di perut bawahnya setiap kali Nikolai mengerang pelan karena gerakannya.Ruby membuka mulut lagi. Kali ini lebih patuh mengikuti perintah Nikolai. Lidahnya bergerak di bawah kejantanan itu, mencoba me
Ruby menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering, detak jantungnya bergemuruh kencang di telinga. Perintah itu menggantung di udara, berat dan tak terbantahkan.Gadis itu memandang Nikolai. Mata legam itu tak berkedip, menunggunya. Panas tubuh pria itu masih terasa di kulitnya yang terbuka. Jubah hitam yang tadi Ruby kenakan sudah tergeletak di lantai, meninggalkannya hanya dengan lingerie merah marun yang nyaris tak menutupi apa pun.Ruby belum pernah melakukan ini. Tidak pernah. Bibirnya belum pernah menyentuh kejantanan pria mana pun. Bayangan harus berlutut di depan Nikolai, membuka mulut, dan melakukan itu membuat perutnya bergejolak hebat. Rasa malu, takut, dan sesuatu yang lebih gelap bercampur aduk.Tangannya terkepal di sisi tubuh. Napasnya memburu.Nikolai tidak mengulangi perintahnya. Ia hanya menatap Ruby, rahangnya mengeras. Ibu jarinya masih mengusap pelan tengkuk Ruby.“Aku tidak suka diulangi, Bianca,” bisiknya rendah, serak. “Berlutut.”Nama itu lagi. Bi
Ruby menelan ludah dengan susah payah, membiarkan keheningan yang mencekam menggantung di udara kamar mandi yang beruap itu. Matanya terpaku pada kotak beludru dan gaun tidur sutra di tangan Elena."Secepat ini?" bisik Ruby nyaris tanpa suara. Wajahnya yang semula memerah karena air hangat perlahan memucat.Ia kira setidaknya ia akan punya waktu beberapa hari, atau paling tidak satu malam penuh untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum pria itu manggilnya kembali. Namun, di dunia Castellano, waktu rupanya berjalan sesuai dengan kehendak sang Tuan Muda.Melihat kepanikan yang terpancar dari mata Ruby, Elena menundukkan pandangannya. "Tuan Nikolai masih memiliki pertemuan tertutup dengan beberapa petinggi keluarga di ruang kerja utama malam ini, Nona. Pertemuan itu diperkirakan akan berlangsung cukup alot.""Lalu... kenapa kau membawa pakaian itu sekarang?""Tuan Nikolai memberikan waktu dua jam untuk anda bersiap," jelas Elena dengan nada hati-hati. "Beliau secara khusus memerintahkan ag
Ruby menatap Valentina dengan sorot mata yang menajam. Rasa lelah, sakit fisik, dan penghinaan yang bertubi-tubi sejak pagi membuat sisa-sisa kesabaran di dalam dadanya menguap habis."Berhenti memanggilku Sinclair," desis Ruby dengan nada dingin yang mengejutkan dirinya sendiri. "Aku sudah membuang nama itu. Aku tidak ingin dikaitkan lagi dengan keluarga keparat itu."Mendengar perlawanan kecil itu, Valentina terdiam sejenak sebelum akhirnya mendengus pelan. Sudut bibir wanita berkacamata itu tertarik ke atas, membentuk senyuman meremehkan yang sangat kentara."Luar biasa," cibir Valentina. "Sifatmu berubah begitu cepat setelah menandatangani perjanjian itu. Kemarin kau hanya pelayan menyedihkan yang menangis di sudut dapur, dan sekarang kau sudah mulai berani menggonggong. Apakah tidur di ranjang Tuan Muda membuatmu merasa memiliki kuasa?"Ruby mengerutkan dahinya dalam-dalam. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. "Apa maumu sebenarnya, Valentina? Jika kau hanya datang untuk menghi
Senyum di wajah Edith dan Martha membeku seketika. Keduanya saling bertatapan dengan mata membelalak, mengira pendengaran mereka baru saja bermasalah."Nyonya... apa maksud Anda?" suara Edith bergetar. Ia mencoba tertawa canggung, mengira ini hanyalah lelucon yang salah sasaran. "Anda pasti salah mengerti. Yang harus dihukum itu Ruby, Nyonya. Pelayan baru ini yang—""Apa aku terlihat seperti sedang meminta pendapatmu, Edith?!" bentak Kepala Pelayan. Suaranya membelah udar seperti petir, membuat nyali semua orang di ruangan itu menciut."T-tapi Nyonya!" Martha ikut memprotes panik. Ia melangkah mundur saat menyadari raut wajah atasannya sama sekali tidak sedang bercanda. "Kami hanya menegakkan aturan kedisiplinan! Pelayan pemalas ini yang salah! Kenapa kami yang disuruh berlutut?!"Kepala Pelayan tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia menoleh ke arah dua pelayan pria berbadan tegap yang berjaga di dekat pintu. "Pegang mereka berdua! Paksa mereka berlutut ke lantai. Sekarang!""Tidak!







