LOGINSudut Pandang Rosie:Aku mengundurkan diri pada hari Rabu.Aku sudah memikirkannya selama dua minggu, sejak pagi setelah persidangan, ketika aku terbangun pukul 05.30 setelah tidur tak sampai empat jam. Aku berbaring dalam kegelapan, menghitung-hitung kondisi keuanganku untuk entah yang keempat puluh kalinya, dan selalu sampai pada kesimpulan yang sama. Tanpa penghasilan dari hotel, hitung-hitungan itu tidak masuk akal.Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sebenarnya, kondisi keuanganku sudah lama tidak baik. Aku hanya cukup pandai menutupi kekurangannya agar tidak sampai jatuh ke jurang.Persidangan itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.Bukan kondisi keuanganku. Itu tidak berubah. Yang retak hari itu adalah kemampuanku untuk terus menjaga semuanya tetap terkendali, setelah duduk mengenakan blazer pinjaman sambil mendengarkan kebohongan yang dibuat-buat dan disampaikan dengan bahasa hukum yang begitu rapi.Aku sudah hidup dengan sisa tenaga. Tenaga yang hanya bisa dikeluarkan
Sudut Pandang Aiden:Aku mengeluarkan ponsel. Penyelidikku mengangkatnya pada dering kedua."Aku butuh semuanya sebelum akhir minggu. Semua yang sudah kamu dapatkan dan semua yang masih bisa kamu temukan sampai Jumat. Setiap bagian, sekecil apa pun. Mobil sewaan. Alamat IP. Catatan hotel. Perusahaan cangkang beserta dokumen pendiriannya. Semua catatan komunikasi antara Elena dan wali khusus.""Semuanya harus disusun dengan sangat jelas, sampai-sampai hakim bisa memahami semuanya dalam lima menit tanpa perlu ada yang menjelaskannya," kataku."Beberapa catatan komunikasi membutuhkan panggilan pengadilan atau perintah pengadilan sebelum bisa diperoleh secara resmi," jawabnya."Kalau begitu, kita gunakan apa yang sudah kita punya, tentukan apa yang kemungkinan besar akan terungkap melalui panggilan pengadilan, lalu biarkan Richard tunjukkan ke pengadilan kenapa perintah itu diperlukan." Aku berhenti sejenak. "Apa yang kita punya sekarang?"Dia menyebutkan semuanya. Mobil-mobil sewaan. Alam
Sudut Pandang Aiden:Richard memegang lenganku sebelum aku sempat melangkah jauh ke area parkir."Kasih dia waktu sebentar," katanya.Aku berhenti. Aku tahu dia benar. Aku tahu itu dengan keyakinan mutlak yang sama seperti saat aku mengetahui sebagian besar hal yang sebenarnya enggan kuakui.Rosie butuh menyendiri di dalam mobil. Dia butuh sebelas menit itu, atau berapa lama pun yang diperlukan, tanpa harus menghadapi kehadiranku di tengah semua hal yang sudah dipaksakan untuk dia lalui.Aku berdiri di puncak tangga gedung pengadilan, mengamati mobilnya dari kejauhan.Mesinnya mati. Dari balik kaca depan, aku bisa melihat wajah sampingnya, siluet tubuhnya, kedua tangannya yang bertumpu di setir, dan kepalanya yang sedikit tertunduk.Dia tidak sedang hancur. Tidak ada sesuatu yang dramatis. Dia hanya seorang wanita yang duduk sendirian di dalam mobilnya, terbebani oleh apa yang baru saja terjadi di ruang sidang, terdiam karena ketidakadilan yang harus dia hadapi.Richard masih berbicara
Sudut Pandang Rosie:Aku duduk di meja dengan blazer pinjaman dari Sarah, tetap diam tanpa bergerak sedikit pun.Aku tidak membiarkan sedikit pun gejolak yang mengamuk di dalam diriku terlihat.Aku berada di ruang sidang. Masa depan putriku sedang dipertaruhkan. Aku menolak membiarkan Elena melihat bahwa serangannya berhasil mengenai sasaran.Diana berdiri. Keberatannya jelas, singkat, dan tepat.Pernyataan itu berasal dari pihak ketiga yang tidak memiliki kedudukan dalam persidangan. Isinya sepenuhnya berupa tuduhan yang mencemarkan nama baik dan disamarkan sebagai pengamatan pribadi, diajukan tanpa memberi kesempatan kepada salah satu pihak untuk mempertanyakannya. Pernyataan itu seharusnya dikeluarkan seluruhnya dari perkara.Hakim memandang Diana. Dia mengatakan bahwa dirinya menerima keberatan itu. Dia setuju bahwa pengajuan itu tidak sesuai dengan prosedur dan bahwa dia tidak akan mengakuinya sebagai bukti.Kemudian, dia menambahkan bahwa dia tetap akan mempertimbangkannya sebaga
Sudut Pandang Rosie:Senin itu, aku meminjam blazer milik Sarah.Dia menawarkannya sebelum aku sempat meminta. Rupanya dia sudah melihatku menatap pakaian di lemari dan langsung tahu apa masalahnya.Blazer abu-abu itu sangat cantik. Potongannya rapi dan pas di tubuh, jenis pakaian yang seketika membuat seseorang terlihat lebih meyakinkan dan berwibawa di ruangan tempat keputusan-keputusan penting dibuat.Aku tidak punya pakaian seperti itu. Isi lemariku kebanyakan pakaian untuk mengajar, atasan yang terkena noda cat, dan gaun hijau yang kupakai saat pameran seni. Tidak ada satu pun yang pantas dipakai ke ruang sidang.Senin sore, aku mengambil blazer itu dari kelas Sarah, menggantungkannya di belakang pintu kamar. Tanpa sadar, aku terus meliriknya sambil menyelesaikan persiapan mengajarku.Selasa pagi, aku mengenakannya dan berdiri di depan cermin kamar mandi. Aku terlihat seperti seseorang yang berusaha keras tampak pantas. Aku lalu menguncir rambutku, memakai sepasang anting kecil te
Sudut Pandang Aiden:Richard bilang dia akan menyiapkannya.Setelah dua panggilan telepon itu, aku kembali duduk di meja dapur sambil memikirkan Rosie yang sedang mengajar di kelas paginya. Lokasinya hanya 10 kilometer dari rumahku.Dua hari lalu, nama Rosie muncul di sebuah akun media sosial yang bisa diakses publik, lengkap dengan foto putrinya dan sebuah pertanyaan yang mempertanyakan apakah dia layak menjadi seorang ibu.Akun itu sudah dihapus. Komentar-komentarnya juga sudah tidak ada. Namun, orang-orang yang sempat melihatnya tetap sudah melihatnya. Apalagi lingkungan sekolah itu kecil. Berita seperti ini bisa menyebar dari satu orang ke orang lain tanpa ada yang sadar seberapa jauh akhirnya tersebar.Aku menelepon Rosie. Dia mengangkatnya di sela-sela jam mengajar. Dari seberang telepon, aku bisa mendengar suara-suara dari lorong sekolah, samar-samar bercampur dengan suara orang yang berlalu-lalang."Aku punya kabar terbaru," kataku. "Dari penyelidik. Bukti kita sudah cukup untu







